Balasan Untuk Suamiku

Balasan Untuk Suamiku
Meminta Maaf


__ADS_3

πŸŽ‰πŸŽ‰


Season 2


Barra POV


Dadaku terasa sangat sakit. Perih dan panas bercampur menjadi satu. Belum lagi rasa nyeri yang luar biasa di hidungku. Aku ingin mengambil air di meja tapi tangan ini terasa lemas sekali. Bahkan aku tidak bisa menjangkau nurse call bell di samping tempat tidurku. Aku tidak bisa berbuat apa-apa.


"Air ... air ...," suaraku lemah sekali hampir tak terdengar.


"Kemana ibu? Kemana Hanna? Kenapa tidak ada yang menemaniku?" gerutu ku dalam hati.


Lalu aku hanya bisa diam dan menatap langit-langit di atas tempatku berbaring. Kuingat-ingat lagi apa yang telah terjadi padaku hingga aku bisa berada di tempat ini dan mendapatkan luka seperti ini.


Bayangan demi bayangan muncul di pikiranku. Aku mulai teringat kejadian sebelum aku tergeletak di tempat ini. Bayangan aku memukuli Rania kemudian Hanna, dan setelah itu perkelahian ku dengan Malik.


Dadaku bergemuruh begitu aku ingat semuanya. Ingin sekali aku kembali menemui orang-orang itu, orang-orang yang telah mengkhianati ku.


Aku belum berakhir! Kalian akan menerima balasanku!


"Aaarghh ...!!!" Aku mengerang saat merasakan tanganku sakit padahal aku hanya sedang mengepalkan tanganku. Malik menghajar ku habis-habisan.


"Suster ... suster ... " Aku berusaha teriak memanggil salah satu suster jaga tapi sepertinya tidak ada yang mendengar. Suaraku terdengar hampir seperti rintihan meskipun aku telah berusaha sekuat tenaga untuk berteriak.


"Aku haus sekali. Sudah berapa lama aku tidak sadar?" tanyaku pada diriku sendiri. Akhirnya aku hanya bisa pasrah menunggu ada orang datang.


* * *


Sementara itu di sebuah lorong menuju ruangan perawatan VVIP, seorang wanita paruh baya tengah duduk di kursi roda beserta seorang perempuan bertubuh berisi mendorong di belakangnya.


"Apa ibu yakin?" tanya Hanna. Sikapnya terhadap Widia sudah jauh lebih sopan daripada sebelumnya.


Hanna sudah memberi tahu Widia apa yang terjadi selama dia di rumah sakit. Bukannya marah karena Malik sudah menghancurkan rumahnya, Widia justru ingin meminta maaf kepada Malik dan Rania. Wanita tua itu benar-benar sudah berubah.


"Ya, kita harus minta maaf pada mereka," jawab Widia mantap.


"Bagaimana jika mereka tidak memaafkan kita?"


"Aku sendiri tidak yakin mereka bisa memaafkan kita, terutama Rania. Apa yang dulu kita lakukan kepadanya sangatlah buruk. Wajar jika dia tidak bisa memaafkan kita. Tapi setidaknya kita sudah mencoba."


Hanna mengangguk. "Siapa tahu aku bisa meminta Malik membatalkan tuntutannya kepada Papa dan mengembalikan semuanya," ujarnya sambil terus berjalan mendorong kursi roda yang di duduki mertuanya.

__ADS_1


"Jangan serakah Hanna. Mereka mau memaafkan kita saja harusnya kita sudah bersyukur."


Hanna tersenyum kecut mendengar balasan Widia.


"Ada orang yang menjaga pintu kamar perawatan Rania. Apa mereka akan mengijinkan kita masuk?" Hanna terlihat ragu melihat dua orang pria berbadan tegap berdiri di depan kamar tempat Rania di rawat.


"Kita coba saja bicara dengan mereka."


Hanna mengangguk. Dia melanjutkan langkahnya sambil mendorong kursi roda Widia.


"Apa kami boleh bertemu dengan Rania dan Tuan Malik?" tanya Widia kepada dua orang penjaga itu.


"Maaf, Tuan Malik dan Nona Rania tidak ingin bertemu siapapun," jawab penjaga itu tegas.


"Kami hanya ingin mengetahui kondisi Rania." Kedua orang itu tidak menggubris kata-kata Widia.


"Setidaknya, tolong tanyakan pada Tuan Malik apakah mereka mau menemui kami," Widia masih berusaha. Siapa yang menyangka, Widia yang dulu sangat sombong sekarang mau memohon dan merendahkan dirinya di depan seorang penjaga.


Kedua orang itu tetap tidak menjawab. Mereka mengacuhkan Hanna dan Widia yang masih berada di tempat mereka.


"Sudahlah Bu... mungkin kita bisa menemui mereka lain waktu," bujuk Hanna.


"Tidak, aku ingin bertemu mereka sekarang Hanna, sebelum Tuan Malik berbuat lebih jauh lagi. Kamu tahu apa yang bisa dia lakukan."


"Baiklah ... Baiklah ... ! Aku akan bertanya kepada Tuan Malik, tapi jika beliau tidak ingin bertemu Dengan kalian maka kalian harus segera pergi dari sini!" ucap salah satu penjaga tersebut.


Widia tersenyum lega mendengarnya. Dia mengangguk dan berkali-kali mengucapkan terimakasih kepada orang itu.


Penjaga itupun mengetuk pintu dan setelah mendengar jawaban dari dalam kemudian bergegas masuk ke dalam ruangan. Tak berapa lama penjaga itu keluar.


"Bagaimana, apa mereka mau menemui kami?" tanya Widia antusias sementara Hanna terlihat sungkan.


"Tuan mengijinkan kalian masuk sebentar," jawab penjaga itu sambil membukakan pintu untuk Widia dan Hanna. Mereka berdua segera memasuki ruangan tempat Rania di rawat.


"Tuan Malik... Rania... " sapa Widia.


Rania dan Malik menoleh ke sumber suara.


"Bagaimana keadaanmu Rania?" tanya Widia berbasa-basi sementara Hanna terlihat menundukkan kepalanya.


"Seperti yang kamu lihat aku baik-baik saja. Hanya sedikit kontraksi dan tekanan darah tinggi, selebihnya aku baik. Bagaimana kabarmu Widia, sepertinya kamu sedang kurang baik?" melihat Widia duduk di kursi roda.

__ADS_1


"Aku sudah tua Rania, sudah sakit-sakitan." Widia mengambil nafas sebelum melanjutkan kalimatnya.


o2"Aku kemari ingin meminta maaf pada Tuan Malik dan juga kepadamu atas semuanya. Semua yang telah kami lakukan." Wajah Widia berubah murung.


"Maaf aku terlalu lancang untuk mengatakan ini, tapi apakah tuan Malik berkenan untuk tidak memperpanjang masalah Barra. Kami tahu Barra memang bersalah karena itu kami menerima apa yang dia alami sekarang."


"Tolong kasihanilah kami, aku sudah tua dan tidak sehat. Aku tidak bisa jika Barra harus dipenjara lagi." Mata Widia berkaca-kaca.


"Sekarang aku sudah sadar jika yang kami lakukan selama ini salah dan sangat menyakiti Rania juga tuan Malik."


Rania tidak menjawab. Dia hanya menatap Malik untuk melihat respon suaminya itu atas permintaan maaf Widia.


"Apa itu saja yang ingin kamu katakan? Bagaimana denganmu Hanna? Kamu tidak ingin mengatakan sesuatu pada istriku?" balas Malik dingin.


"A ... aku juga ingin meminta maaf padamu Rania," tergagap Hanna menjawab Malik.


"Sudahlah, aku harus berterima kasih pada kalian. Karena kalian aku jadi bisa bertemu dengan mantan kekasihku dan sekarang menjadi suamiku. Benarkan sayang?" Rania menatap malik mesra. Malik tersenyum.


"I love you," ucap Rania tanpa menghiraukan Widia dan Hanna.


"Dasar gadis nakal!" balas Malik sambil mencubit hidung Rania.


"Tuan Malik, apa aku bisa minta tolong padamu? Bisakah anda membebaskan papaku?" Hanna memberanikan diri bicara.


Wajah Malik menegang mendengar pertanyaan Hanna.


"Bukankah aku sudah cukup baik dengan hanya menjebloskan dia ke penjara. Aku bisa saja membuat kamu dan ibumu menyusulnya."


Widia memegang tangan Hanna, mencegahnya agar tidak bicara lagi. Tapi Hanna tetap memberanikan diri bicara.


"Aku mohon tuan Malik, kami sudah tidak punya apa-apa. Bisakah anda mengembalikan semuanya kepada kami?"


"Kalian ini sekeluarga memang tidak tahu diri rupanya. Aku sudah berbaik hati pada kalian tapi kalian justru meminta lebih!" ucap Malik dingin.


"Keluar dari sini!!!"


###


Maafkan otor yang lama nggak updateπŸ™πŸ™


Season 2 lebih banyak berkisah tentang kehidupan Barra dan keluarganya setelah kehancuran Barra ya reader tercinta... 😘😘

__ADS_1


Update nggak tentu, jadi masukkan ke favorit agar dapat notifikasi.


__ADS_2