Balasan Untuk Suamiku

Balasan Untuk Suamiku
Ku Beri Satu Kesempatan


__ADS_3

"Sudah puas makan rujaknya?" Rania mengangguk.


"Mau dibungkus untuk dibawa pulang dan dimakan di rumah? Siapa tahu kamu menginginkannya lagi nanti."


"Tidak ... sudah cukup," jawab Rania masih dengan wajah sumringah. Barra sampai heran dengan perubahan raut wajah Rania ini. Tadi di dalam mobil murung sekali, sekarang sudah beda lagi.


Cuma makan rujak es krim saja efeknya bisa sebahagia itu. Besok-besok ku belikan rujak es krim saja kalau dia murung lagi. Heehhhh ... kenapa aku sampai lupa kalau moodnya selalu jadi lebih baik setelah makan es krim!


"Kita pulang sekarang," ucap Rania enteng sambil mengembalikan mangkuk rujak ke abang penjualnya.


"Kamu yakin tidak ingin yang lain lagi?" tanya Barra memastikan.


"Tidak!" jawab Rania mantab sambil berjalan meninggalkan Barra yang masih berdiri di depan gerobak rujak.


"Berapa Bang?"


"Dua puluh ribu Pak."


"Ini kok tulisannya sepuluh ribu satu mangkuk?" Barra menunjuk ke tulisan yang lebih mirip coretan-coretan yang tertera di bagian depan gerobak.


"Kan istrinya bapak tadi makan dua mangkuk?!" jawab si Abang penjual rujak sedikit ngegas.


"Hah ...?!" Barra menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. "Pantas saja dia tidak ingin satu lagi untuk dibungkus dan dibawa pulang, rupanya sudah makan dua porsi di sini," gumam Barra.


Barra berjalan kembali ke mobilnya setelah membayar rujak yang tadi Rania makan. Sambil tersenyum-senyum dia terus berjalan.


Jadi seperti ini rasanya menuruti istri ngidam? Sebentar murung sebentar ceria. Sekarang ingin ini, belum juga dituruti sudah ingin itu. Pasti akan lebih dramatis lagi jika kondisi kami tidak seperti ini. Oke, aku tidak akan menyerah! Aku akan berusaha lebih keras lagi untuk meraih kembali cintamu. Kita tidak akan berpisah Rania ... Aku ingin menghadapi ngidam yang lebih ekstrim daripada ini!!!


Barra tersenyum lebar. Dia memantapkan langkahnya menuju mobil dan bersiap untuk menghadapi perubahan mood wanita yang tengah dia perjuangkan agar tetap menjadi istrinya itu.


"Barra ... Aku ingin bicara." Baru juga Barra menutup pintu mobil.


"Kamu ingin sesuatu lagi?" Dia sudah berpikir Rania menginginkan hal lain lagi.


"Aku sudah mengambil keputusan."


Barra menghentikan tangannya yang hendak menyalakan mobil. Dia tahu akan kemana pembicaraan ini. Perasaannya tidak enak. Perjuangannya belum berakhir tapi Rania sudah membuat keputusan. Sepertinya dia sudah benar-benar tidak ada kesempatan untuk kembali bersama Rania.


"Aku akan memberimu kesempatan. Satu kali! Kita tidak akan bercerai."

__ADS_1


Barra menoleh ke arah Rania. Mulutnya ternganga tidak percaya.


"Kamu serius? Aku tidak salah dengar kan? Berarti kamu sudah memaafkan aku?"


Rania tersenyum. "Tapi hanya satu kali ini. Jika kamu membuat kesalahan lagi, maka aku tidak akan berpikir dua kali untuk bercerai darimu!"


Barra langsung memeluk Rania erat.


Terima kasih ... Terima kasih sudah memberiku kesempatan, istriku! Aku takut sekali kehilanganmu." Dia menciumi kening Rania dan terlihat girang sekali, seperti baru saja menyatakan cinta dan cintanya diterima.


Terima kasih rujak es krim! Kamu menyelamatkan hidupku!


Barra melepaskan pelukannya. Dia segera turun dari mobil dan berlari kembali kepada Abang penjual rujak es krim.


"Ini Bang, sebagai ucapan terima kasih!!" Barra memberikan beberapa lembar uang kertas berwarna merah kepada Abang penjual rujak. Sementara si Abang melongo kebingungan tidak tahu maksudnya.


"Ini apa Pak?"


"Sudah ... terima saja. Saya lagi seneng nih!"


"Oh ... gitu ya pak. Semoga aja senengnya pas lewat depan gerobak rujak saya terus. Saya doain senengnya sering-sering deh pak!" jawab abangnya sambil mengipas-ngipaskan uang itu ke udara.


"Kamu habis ngapain?"


"Bilang terima kasih ke Abang penjual rujak. Karena makan rujaknya kamu jadi berubah pikiran dan mau tetap bersamaku." Barra mencubit pipi Rania. Sekarang dia sudah kembali berani menyentuh tubuh istrinya itu.


"Kalau mau bilang terima kasih bukan sama Abang penjual rujak itu!"


"Lantas sama siapa aku harus berterima kasih?"


"Sama perempuan yang tadi gendong bayi di rumah makanlah!"


"Kok dia? Bukan sama rujak es krim? Bukankah kamu berubah pikiran setelah makan rujak es krim?"


"Bukan ...! Aku berubah pikiran karena melihat perempuan tadi. Aku kasihan melihatnya tadi pas menggendong bayi sendirian, sebelum suaminya datang. Aku membayangkan diriku juga seperti itu nanti setelah berpisah denganmu. Jadi memikirkan kembali keputusan ku." Rania kembali murung.


"Kita balik ke rumah makan tadi lagi! Siapa tahu mereka belum pergi. Aku ingin berterima kasih sama mereka," lanjut Rania.


"Aku juga harus berterima kasih padanya. Ke ujung dunia pun kita cari mereka!" jawab Barra dengan semangat berlebihan.

__ADS_1


Selama perjalanan dia tidak mau melepaskan tangan Rania sebentar saja. Senyum juga tidak lepas dari wajahnya seperti ABG yang baru saja jadian.


"Aku sangat merindukanmu." Barra menciumi tangan Rania yang dia pegang dengan tangan kirinya. Sementara tangan kanannya memegang kemudi mobil. Rania hanya membalasnya dengan senyuman.


Akhirnya mereka sampai di Rumah makan yang tadi. Mereka berdua segera masuk dan mencari perempuan itu di dalam.


"Itu mereka!" seru Rania senang.


Mereka berdua segera mendekati pasangan suami istri tersebut. Tampaknya sang suami baru selesai makan, sementara istrinya duduk di sampingnya sambil menutup bagian depan tubuhnya dengan kain hingga bayi dalam gendongannya tidak terlihat dari depan.


"Hai Mbak ... Gimana? Sudah lancar ASI-nya?" tanya Rania berbasa-basi setelah dia menyadari perempuan itu sedang menyusui bayinya.


"Oh ... Ibu yang tadi," balas perempuan itu. "Ini sudah mulai keluar lagi Bu ASI-nya."


"Syukurlah kalau begitu." Rania memperhatikan meja di depan mereka. Hanya ada satu piring kotor di depan mereka.


"Boleh kamu duduk?" Rania minta ijin terlebih dahulu.


"Silahkan Bu. Kami sudah selesai kok."


Rania segera duduk, tapi dia meminta Barra untuk berdiri agak menjauh demi menjaga kenyamanan perempuan itu menyusui bayinya. Walaupun sudah ditutup dengan kain, itu bisa saja membuatnya tidak nyaman.


* * *


Rania kembali diam selama perjalanan pulang. Tatapannya kembali kosong seperti sebelumnya.


Jika memang harus begini, akan aku lanjutkan. Akan aku lupakan dendam itu. Mungkin dia benar-benar sudah berubah. Akan aku simpan rahasia ini. Mulai sekarang ini adalah anak Barra, dan aku tidak perlu merasa bersalah untuk itu. Jalani saja, selama aku tidak kekurangan apapun dan hidup anakku terjamin, maka aku akan bertahan.


"Sayang ... kenapa kamu melamun?"


"Hah ... tadi kamu bilang apa?"


"Kenapa kamu melamun? Apa ada hal lain yang kamu inginkan atau mengganggu pikiranmu?"


"Oh ... Aku hanya ngantuk saja," Rania mencari alasan.


"Ya sudah ... kamu tidur saja."


Rania mengangguk. "Bangunkan aku jika kamu melihat Abang siomay dipinggir jalan."

__ADS_1


Barra "...?"


__ADS_2