
Rania sudah sampai di rumah sakit. Dia bermaksud untuk memeriksakan kondisinya yang dirasa tidak fit seperti biasanya. Saat sedang menunggu antrian di depan ruangan dokter umum, Dewi lewat di depannya dan menyapanya.
"Kamu sedang apa di sini? Siapa yang sakit?" tanya Dewi.
"Aku ingin memeriksa kondisi ku, aku merasa tidak enak badan sejak tadi pagi. Jam praktek mu sudah selesai?" Rania balik bertanya.
Dewi mengangguk. "Aku tunggu di ruangan ku. Kita bisa ngobrol sambil ngopi nanti setelah kamu selesai."
"Oke ... " Kemudian Dewi berlalu dari hadapan Rania.
Setelah beberapa lama, akhirnya nama Rania dipanggil untuk masuk ke ruang pemeriksaan.
* * *
Rania berjalan dengan tergesa-gesa menuju ruangan Dewi.
"Astaga ... !! Kamu selalu mengagetkan aku! Ketuk pintu dulu bisa ngga?!" gerutu Dewi setelah tiba-tiba Rania masuk ke ruangannya. "Sudah selesai? Jadi kamu sakit apa?" tanyanya kemudian.
Rania mengeluarkan kertas dari dalam tasnya. "Aku hamil," kata Rania dengan wajah pucat pasi. Setelah lima tahun akhirnya yang dia hamil seperti yang sudah dia impikan. Tapi bukannya bahagia dia justru bingung.
"Apa?? Bagaimana bisa?!" Dewi tidak percaya mendengarnya.
"Mungkin ini mukjizat seperti yang kamu katakan waktu itu. Hanya mukjizat yang bisa menolong ku."
Dewi justru tertawa. "Aku percaya Tuhan dan aku juga percaya mukjizat itu ada. Tapi untuk kasus mu aku tidak akan percaya begitu saja."
Rania terdiam.
"Jadi katakan padaku siapa ayah dari janin yang kamu kandung?"
"Apa maksudmu?"
"Ayolah Ran ... kita berdua sama-sama tahu tidak mungkin suamimu adalah ayah dari anak yang kamu kandung."
Rania tampak berpikir. "Tidak mungkin!!"
"Tidak mungkin apa?"
"Bagaimana bisa? Aku harus bagaimana?" Rania panik.
"Hei ... kamu kenapa? Tenanglah dulu ... "
__ADS_1
"Aku hanya sekali melakukannya. Tidak mungkin ini anaknya ..." Rania bicara sendiri dengan wajah kebingungan.
"Dia siapa? Bicaralah yang jelas!"
"Kamu benar Dew, mungkin ini bukan anak suamiku!" Rania menatap Dewi dalam kebingungan. "Bagaimana kalau mereka sampai tahu?"
"Oh ... Habislah aku! Mereka pasti akan membuang ku!" Kemudian dia terkulai lemas di depan Dewi.
"Tidak usah beri tahu mereka kalau begitu. Gampang kan?" Dewi meraih Bahu Rania dan membantunya berdiri.
"Kenapa kamu jadi lemah seperti ini? Aku ingat saat pertama kali kamu datang kesini. Kamu kuat, sangat optimis dan juga memancarkan aura positif." Dewi berkata dengan lembut untuk menenangkannya.
"Tapi aku melakukan kesalahan Dewi ... aku telah selingkuh dengan pria lain. Aku bahkan tidak pantas untuk membela diri."
"Siapa bilang?! Tentu saja kamu pantas. Lihat perlakuan mertua dan suamimu kepadamu selama ini. Kamu juga tidak pantas mendapat perlakuan seperti itu. Tapi mereka tetap melakukannya. Jangan pasrah seperti itu! Mana Rania yang dulu selalu penuh semangat?"
"Entahlah Dew ... "
"Lihat kan? Bahkan perlakuan mereka kepadamu sudah mengubah kepribadian mu. Apa kamu terlalu takut Barra akan menceraikan kamu? Apa kamu begitu mencintainya?"
Rania diam untuk beberapa saat.
"Aku bukannya takut kehilangan dia. Sebenarnya aku malu mengakuinya, tapi aku ... aku terlanjur bergantung secara finansial kepadanya. Lima tahun Dew ... lima tahun aku hidup dari uang yang dia berikan. Aku sudah menggantungkan hidupku kepadanya. Jika tiba-tiba dia menceraikan aku ... aku belum siap. Kamu tahu aku hanya punya beberapa juta saja di rekening ku. Itu bahkan tidak cukup untuk mengontrak rumah."
"Aku tidak takut kehilangan Barra, untuk apa takut kehilangan orang yang sudah tidak menginginkan kita? Aku hanya takut kehilangan uangnya." Rania tertawa getir mendengar kata-katanya sendiri.
"Kenapa dulu aku begitu bodoh, mau saja menuruti kata-katanya untuk berhenti bekerja. Jika tahu akan seperti ini jadinya, pasti aku lebih memilih karir daripada rumah tangga."
"Dia bahkan sudah mempunyai wanita lain untuk menggantikan posisi ku." Walaupun tidak ada air mata, Dewi tahu temannya itu sedang merasakan sakit hati yang luar biasa.
"Lalu untuk apa kamu merasa bersalah sudah selingkuh dari dia? Anggap saja itu balasan untuk suamimu."
Rania menatap Dewi dalam. Kata-katanya barusan seperti mengena di hatinya.
"Mungkin kamu benar. Lalu bagaimana dengan bayi ini?" Rania mengelus perutnya sendiri.
"Kamu bisa memberitahu ayah dari bayi di perutmu itu. Mungkin dia mau bertanggungjawab. Atau mungkin ini sedikit jahat, tapi mungkin kamu tidak perlu memberi suamimu. Toh dia belum tahu kondisinya yang sebenarnya kan?"
"Akan aku pikirkan. Aku pulang dulu." Rania berdiri.
"Kenapa buru-buru pulang? Ayo temani aku ngopi dulu biar kamu ngga stress seperti itu."
__ADS_1
"Aku malas Dew, rasanya ingin tidur saja."
"Kamu pikir jika kamu pulang sekarang mertuamu akan membiarkan kamu istirahat dengan tenang?"
" Oke ... Oke ... kamu selalu benar. Baiklah ... aku ikut denganmu." Rania mengalah dan mengikuti kemauan Dewi.
"Nah ... gitu dong jangan sibuk ngurusin rumah terus, sekali-kali keluar biar pikiran kamu fresh," canda Dewi.
"Apa aku boleh minum kopi?"
" Mmm ... sesekali bolehlah." Kemudian mereka berdua tertawa bersamaan.
"Kehamilan ini sudah kamu nantikan sejak lama. Nikmatilah ... ! Jangan membebani pikiranmu dengan masalah lain yang tidak akan ada habisnya. Nanti kamu bisa stress dan itu akan berdampak buruk bagi kandungan mu. Kamu mengerti maksudku kan?"
Rania mengangguk. "Siap dokter Dewi."
"Ayo kita ke kafe sekarang."
* * *
Rania pulang ke rumah saat waktunya makan malam. Dia sengaja menyamakan jam pulangnya dengan jam makan malam di rumah. Mertuanya pasti akan membuat masalah dengannya nanti dan Rania sudah menyimpan rencana untuk membalasnya.
Obrolannya dengan Dewi sewaktu di cafe tadi benar-benar telah membuka jalan pikirannya. Dan sekarang dia siap untuk menghadapi semuanya dan menerima resikonya.
Dewi masuk ke dalam rumah setelah memarkirkan mobilnya. Mobil Barra sudah ada di garasi yang artinya dia juga sudah pulang. Rania langsung memasuki rumah dan menuju ruang makan. Dia tahu pasti sekarang ini mertuanya dan Barra pasti sedang makan malam.
"Lihat sendiri kan Barra? Istrimu itu tidak sakit. Dia hanya pura-pura. Buktinya dia keluyuran sampai jam segini baru pulang," ucap mertuanya begitu melihat Rania memasuki ruang makan. Dia sudah memulai perang.
" Dari mana kamu? Bukankah kamu sedang sakit?" tanya Barra dingin.
"Aku habis dari rumah sakit. Bukankah aku sudah bilang aku akan ke dokter sendiri?"
"Kalau kamu memang sakit kenapa kamu baru pulang sekarang? Harusnya kamu istirahat di rumah! Ibu bilang kamu pergi sejak tadi siang dan sekarang sudah jam berapa?! Kamu kemana saja hah?!" bentak Barra.
Tapi Rania sudah tidak merasa takut. Dia mengeluarkan testpack dan juga kertas putih hasil pemeriksaannya tadi di rumah sakit dan melemparkannya tepat mengenai wajah Barra.
Barra meraih kertas itu dengan penuh amarah. "Apa-apaan ini?!"
"Itu adalah hasil pemeriksaan ku tadi siang! Bacalah sendiri!"
"Jangan percaya pada perempuan mandul itu Barra! Dia pasti hanya membuat alasan!"
__ADS_1
Barra membaca kertas itu tapi kemudian menunjukkan ekspresi bingung. "Apa maksudnya ini?"