Balasan Untuk Suamiku

Balasan Untuk Suamiku
Kita Akan Membalasnya!


__ADS_3

"Anakku ... Anak kamu!"


Malik melebarkan matanya mendengar kata-kata terakhir Rania.


"Kamu bicara apa Rania?"


"Bayiku ... adalah anak kamu ..." Rania kembali menangis.


"Kamu serius Rania?!!" Rania hanya bisa mengangguk.


"Kenapa kamu tidak mengatakannya padaku?! Kamu juga menyangkal nya waktu itu." Malik terlihat mau marah.


"Maafkan aku ... Maafkan aku ... " Rania hanya bisa menunduk dengan air mata yang tidak berhenti berlinang. "Aku takut Malik .... Aku takut kamu menolaknya. Aku takut kamu tidak percaya. Aku pikir kamu tidak akan peduli."


Malik menahan dirinya. Bagaimanapun juga dia tidak bisa menyalahkan Rania.


"Tentu saja aku peduli jika tahu itu anakku!" Malik menyadari nada suaranya yang mulai meninggi.


"Sudahlah ... Tidak apa-apa," ucapnya pelan.


"Suamiku mandul, dan waktu kita bertemu di hotel itu aku baru mengetahuinya. Kamu melihatku menangis waktu itu."


"Ya ... Aku ingat."


"Aku baru saja menerima hasil analisa spe*ma Barra. Aku menangis karena selama bertahun-tahun mereka menyalahkan aku karena aku belum juga hamil. Bertahun-tahun pula mereka terus menyebutku sebagai perempuan mandul." Rania bercerita sambil sesekali mengusap air matanya.


"Aku bingung. Jika aku bilang padamu ini adalah anakmu, aku takut kamu tidak akan mempercayainya. Tapi kalau aku bilang pada Barra kalau itu adalah anaknya, mungkin itu akan menyelamatkan rumah tangga kami. Jadi aku diam. Aku simpan fakta bahwa suamiku ternyata mandul. Aku relakan selama ini dikatai mandul oleh mereka asal rumah tanggaku selamat."


"Kamu bisa bayangkan, bagaimana rasanya dicaci dan dihina selama bertahun-tahun atas sesuatu yang bukan salahmu?"


"Aku bertahan di sana. Aku pikir karena aku mencintainya ternyata aku salah, bukan cinta tapi kebutuhan, ketergantungan."


"Tapi aku juga berhak tahu Rania, itu darah daging ku."


Mata Malik berkaca-kaca. Kini dia bisa mengerti kenapa perasaannya tidak bisa dijelaskan saat mengetahui Rania keguguran. Dia juga mengerti kenapa rasanya ingin selalu menyentuh Rania, sekedar menyentuh saja, menempelkan kulitnya ke kulit mulus Ranai.


"Maafkan aku ... " untuk kesekian kalinya Rania minta maaf. Malik kembali memeluk Rania. Beban ini terlalu berat untuknya dan tidak perlu menambah bebannya lagi dengan menyalahakan dia.


"Aku yang harus minta maaf padamu. Aku tidak mencari tahu kabarmu. Aku tidak menolong mu saat mereka menyakitimu."


Anakku ... maafkan Papa. Papa tidak tahu.


"Ayo kita pulang. Aku akan mengantarmu ke rumah barumu. Tidak akan ada yang menyakiti kamu lagi."


* * *


Rania dan Barra berdiri di depan sebuah rumah minimalis dua lantai. Rania menatap rumah itu heran.


"Kamu yakin menyuruhku tinggal di sini?"

__ADS_1


"Kenapa memangnya? Kamu tidak suka?"


"Ini terlalu besar. Aku kan tinggal sendirian di sini. Dan pasti sewa kontraknya mahal."


Malik tertawa. "Kamu tidak usah memikirkan itu. Aku sudah membeli rumah ini untukmu. Ayo masuk ..."


Malik terlahir dari keluarga kaya, ditambah sekarang dia menjadi dokter terkenal pasti membeli rumah seperti ini hal yang mudah baginya.


Rania ikut saja, dia masuk ke rumah itu mengikuti Malik. Dalamnya masih kosong belum ada perabotan apapun.


"Aku belum membeli perabotan dan furniture apa-apa. Aku berencana mengajak kamu membeli perabotan bersama agar kamu bisa memilih yang sesuai seleramu, tapi itu setelah kamu pulih tentu saja."


"Tidak perlu Malik, ini sudah lebih dari cukup. Aku kan hanya mengontrak di sini, jadi tidak butuh banyak perabotan. Nanti kalau aku pindah akan susah."


"Memangnya kamu mau pindah kemana? Ini rumahmu. Aku sudah memberikannya untukmu."


"Malik ... tidak perlu begitu."


"Ya ... aku harus begitu. Untuk wanita yang sudah pernah mengandung anakku, dan akan lagi."


"Apa maksudnya?"


"Kamu akan mengandung anakku lagi suatu saat nanti. Kamu harus memberiku anak lagi!"


Rania tidak menjawab.


Rania bergegas membuka pintu yang dimaksud Malik. Berbeda dengan ruang tamu dan ruangan lain yang masih kosong tidak ada perabotan apapun, kamar Rania sudah terisi penuh. Kasur, lemari, TV, AC semuanya sudah lengkap. Rania terpana di buatnya. Memang tidak sebagus kamarnya dulu bersama Barra tapi ini sudah diluar bayangannya.


Dia pikir akan tinggal di kamar kos yang sempit, pengap dan gerah, tapi dia justru mendapatkan sebuah rumah baru.


"Semoga kamu senang," ucap Malik.


"Terima kasih Malik. Aku sangat senang." Rania sangat menghargai usaha Malik untuk membuatnya nyaman.


"Kalau kamu tidak suka, kamu bisa mendekor ulang kamarmu."


"Tidak ... ini sudah cukup."


"Aku harus pergi sekarang. Aku ada praktek malam."


Rania mengangguk. Dia masih minim bicara.


"Beri tahu aku kalau kamu butuh sesuatu. Aku sudah mengisi saldo e-wallet mu , jadi kalau kamu ingin sesuatu kamu bisa pesan online saja tidak usah masak. Lagian kamu juga belum punya kompor."


Rani kembali mengangguk. "Terima kasih."


Di sebuah ruangan di rumah sakit...


"Apa kamu tahu?" tanya Malik.

__ADS_1


"Tahu apa?"


"Suami Rania mandul?"


"Aku tidak bisa menjawab. Itu melanggar kode etik."


"Aku tidak bertanya kepada seorang dokter. Aku bertanya kepada seorang teman." Tatap lurus Malik kepada Dewi.


Dewi mengambil nafas dalam. "Baiklah ... Kamu menang. Apa yang ingin kamu ketahui?"


"Benar suami Rania mandul?"


"Benar. Aku yang memeriksa sampelnya walaupun tidak seratus persen akurat."


"Kamu tahu dengan siapa Rania berhubungan? Kamu tahu siapa ayah dari bayi yang dikandungnya?"


"Aku tidak tahu soal itu. Rania tidak cerita padaku. Dia hanya bilang kalau melakukan itu sekali saja dan hanya laki-laki itu yang berhubungan dengannya selain suaminya."


Malik mengusap-usap wajahnya kasar. "Jadi benar!"


"Benar apa? Ada Apa?"


"Rania keguguran. Dan dia baru memberi tahu aku kalau anak yang dia kandung adalah anakku!"


"Apa???" Dewi memekik tidak percaya.


"Rania keguguran dan itu adalah anakmu?!"


"Bagaimana bisa?! Dimana dia sekarang?! Kenapa kamu tidak memberi tahu aku?!" Pertanyaan bertubi-tubi dari Dewi.


"Aku sudah mencarikan tempat tinggal untuknya. Kamu coba temui dia dan hibur dia. Aku agak khawatir dengan kesehatan ... Kamu tahu lah ... dia sangat tertekan dan jadi murung. Aku khawatir dia depresi."


"Aku akan menjenguknya sepulang dari sini."


"Bagaimana dengan suaminya?! Apa kamu mengenalnya? Bagaimana dia bisa setega itu mengusir Rania keluar rumah padahal sudah lewat tengah malam."


"Mereka mengusir nya? Yang benar saja? Apa saja yang sudah aku lewatkan dalam dua hari ini?"


"Katakan apa yang kamu tahu tentang keluarga suami Rania."


Lalu Dewi menceritakan semua yang diketahuinya.


"Terakhir kami bertemu dia bilang suaminya akan menikah dengan wanita yang mengaku hamil anaknya."


Malik tersenyum sinis mendengar keseluruhan cerita Dewi. "Rania ... bagaimana kamu bisa jatuh ke pelukan laki-laki pengecut seperti itu," gumam Barra geram.


"Rania harus membalas semua perlakuan mereka kepadanya selama ini. Mereka tidak boleh hidup bahagia setelah membuat Rania menderita dan aku kehilangan calon anakku!!"


"Mereka akan hancur!! Kita akan membalasnya!"

__ADS_1


__ADS_2