Balasan Untuk Suamiku

Balasan Untuk Suamiku
Serangan Pagi


__ADS_3

"Mencari siapa Mbak?"


Wanita itu tidak menjawab. Dia justru berjalan dengan langkah cepat mendekati Rania.


"Dasar perempuan tidak tahu diri!!! Pelakor tidak tahu malu!!! Apa sebagai perempuan kamu tidak bisa mengerti perasaan sesama perempuan? Bagaimana rasanya jika kamu sedang hamil tetapi suamimu berhubungan dengan wanita lain?!! Hah??! Apa perasaan mu sebagai perempuan sudah mati?" Wanita itu memberondong Rania dengan berbagai pertanyaan. Dia tampak sangat emosi. Dia semakin mendekat ke arah Rania. Tangannya sudah maju ke depan dan menjambak rambut Rania.


Rania yang tidak tahu apa-apa hanya bisa berteriak kesakitan karena tidak menyangka wanita itu akan melakukan hal ini padanya.


"Hentikan! Lepaskan aku!! Apa maksudmu?" Rania berusaha keras melepaskan tangan wanita itu dari rambutnya. Tapi wanita itu semakin keras menarik rambutnya.


"Lepaskan aku! Mungkin kamu salah orang! Aku benar-benar tidak tahu apa yang kamu bicarakan!" Rania masih mencoba bersabar.


"Tidak usah berpura-pura lagi! Aku sudah tahu semuanya!!" jawab wanita itu.


Rania sudah mencoba bicara baik-baik tapi wanita itu tak mau mendengarkan. Tak kalah emosi Rania pun balas mencakar-cakar tangan yang sedang menjambak rambutnya. Dia bahkan menancapkan kukunya di lengan wanita itu.


Imah yang panik malah berteriak-teriak membuat suasana semakin gaduh.


"Bu Rania ... Ini gimana ini ... Pak Barra ... tolong pak ..." Imah berteriak sekenanya. "Aduh gimana ini?"


Bi Yani yang berada di dapur mendengar teriakan Imah segera berlari mendekat untuk melihat apa yang terjadi.


"Aduh ... Ada apalagi ini teh? " Imah ... Ada apa ini? Kenapa Bu Rania sampai di serang seperti ini?"


"Nggak Tau Bi ... tolong bantu dong ini gimana misahinnya?"


Imah berusaha melerai keduanya. Tapi wanita yang belum diketahui siapa itu justru menarik rambut Rania semakin kuat. Tak mau kalah Rania juga menancapkan kukunya semakin dalam. Mungkin lengan wanita itu sudah berdarah sekarang.


"Aku tidak akan mengalah dasar perempuan murahan!!!" umpat wanita itu yang sepertinya tidak merasakan sakit meskipun lengannya sudah mulai berdarah.


"Aku sudah mencoba bicara baik-baik denganmu tapi kamu tidak mau dengar! Aku tidak tahu siapa kamu, dan apa mau mu! Tapi kalau kamu tidak segera melepaskan rambutku aku pastikan kamu pulang dengan beberapa jahitan di lenganmu!!" Rania tak kalah sengit. Walaupun rasanya rambutnya sudah hampir rontok semua karena terus di tarik oleh wanita itu, tapi dia juga tidak mau mengalah. Dia tidak mau diserang begitu saja tanpa perlawanan padahal dia tidak salah apa-apa.


"Pak Barra ... tolong Pak ... "Teriak Imah semakin keras.

__ADS_1


"Pergi kemana kamu dengan suamiku?!! Sudah berapa lama kalian bersama?!! Mengaku saja!!! Jangan berlagak seperti perempuan baik-baik padahal aslinya kamu hanya perempuan murahan!! Dasar ******!!" geram perempuan itu.


"Aku tidak tahu siapa suamimu! Sudah Aku bilang aku tidak tahu maksudmu!! Lepaskan aku!!" Rania mencoba mendorong perempuan itu tapi setiap kali di dorong rambutnya ditarik semakin keras.


"Jangan pikir karena kamu hamil aku tidak berani menyakiti kamu! Kamu salah. Aku juga sedang hamil jadi aku tidak akan membiarkan perlakuan kamu terhadapku." Akhirnya Rania berhasil menarik rambut wanita itu. Tapi wanita itu seperti tidak merasakan apa-apa padahal Rania sudah menjambak rambutnya dengan kuat.


"Apa??? Kamu juga hamil??? Sungguh keterlaluan!!!"


"Pak Barra ... Pak ... cepat turun Pak. Ini Bu Rania ada yang nyerang!" teriak Bu Yani yang membuat suasana bukannya semakin tenang tapi semakin gaduh. Tidak ada tanda-tanda Barra akan turun. Akhirnya Imah berlari ke atas untuk menyusul Barra di kamarnya.


Barra yang sedang mandi tidak begitu mendengar teriakan-teriakan dari lantai bawah. Dia mendengar pintu kamarnya diketuk secara membabi buta setelah keluar dari kamar mandi.


"Pak Barra ... Pak Barra ... "teriak Imah dari balik pintu.


Barra mendesah "Ada apalagi sih, pagi-pagi sudah ribut?" Barra membuka pintu setelah dia selesai berpakaian.


"Ada apa sih Mbak?" tanya Barra gusar.


Tanpa berkata apa-apa lagi Barra langsung berlari secepat kilat menuju ruang tamu.


Segera dia pegang tubuh Rania dan dengan paksa melepaskan tangan wanita itu dari rambut Rania. Barra pun melepaskan cengkeraman tangan Rania di salah satu lengan wanita itu.


Sementara itu...


Di dalam kamarnya, mertua Rania tampak terganggu tidurnya. Beberapa kali dia mengernyitkan dahinya. Ditutupnya telinganya menggunakan Bantal karena mendengar keributan dari luar. Dari kamarnya keributan itu terdengar jelas sekali karena ruang tamu dan kamarnya sama-sama terletak di lantai bawah.


"Huhhhh .... berisik amat sih!!!" Nggak tau apa kalau aku baru aja tidur." gerutunya.


Widia kembali menutup telinganya menggunakan bantal tapi suara keributan di luar masih terdengar jelas olehnya.


"Nggak bisa didiamkan lagi!!!" Widia bangun dari tidurnya dan membuka pintu kamarnya. Dia baru tidur jam lima pagi dan sekarang jam delapan pagi, dia harus bangun karena suara ribut-ribut. Rasanya dia ingin melahap siapa saja yang membuat keributan hingga tidur paginya terganggu.


Kembali ke ruang tamu ...

__ADS_1


Barra sudah berhasil memisahkan kedua wanita yang sedang cakar-cakaran itu. Barra memegangi Rania sementara Imah dan Bi Yani memegangi wanita hamil itu.


Barra berusaha menenangkan Rania. Dia melihat sekujur tubuh Rania memastikan tidak ada luka yang serius selain beberapa bekas cakaran di tangan Rania.


"Ran ... tenangkan dirimu. Siapa wanita itu?" tanya Barra. "Kamu mengenal dia?"


"Tidak. Tiba-tiba saja dia menyerangku tanpa sebab yang jelas. Aku balas dong ... Aku hanya membela diri," jawab Rania sengit dengan mata yang masih melotot ke arah wanita itu.


Sementara wanita itu terus mengumpat dan memaki tidak jelas ke arah Rania, seperti tidak terkendali. Dia masih berusaha maju untuk menyerang Rania tapi di tahan oleh Imah dan Bi Yani.


Rania pun demikian. Dia juga terpancing umpatan wanita itu dan masih ingin meladeninya.


"Ran ... Ingat kandungan kamu. Kenapa kamu jadi bersikap bar-bar seperti ini sih?! Jangan terpancing emosi!"


"Nggak tau!! Mungkin pengaruh hormon!!!!" Lagi-lagi hormon yang disalahkan.


Barra menatap kearah perempuan itu. "Mbak ... Mbak Ini siapa? Jika ada masalah tolong dibicarakan baik-baik. Jangan tiba-tiba asal serang begini."


"Kamu siapanya perempuan murahan ini?!" tanya Wanita itu sadis. Rania yang tidak terima disebut sebagai perempuan murahan langsung mengeluarkan taringnya lagi.


"Mbak tolong jangan bicara sembarangan. Dia ini istri saya!" tegas Barra.


"Apa??? Jadi kamu sudah punya suami tapi masih menggoda suamiku?! Jadi sebutan apa yang pantas untuk kamu pelakor? tukang selingkuh? wanita murahan? Mana yang kamu suka hah?!" pertanyaan wanita itu semakin sadis.


Rania hampir terpancing emosi lagi, tapi Barra menenangkannya.


"Ran ... jangan terpancing emosi. Coba kamu ingat baik-baik apa kamu punya masalah sama orang lain."


"Aku tidak kenal dia Barra! Dia bilang aku merebut suaminya. Mana mungkin aku berhubungan dengan suami orang?" Rania balik bertanya.


Deg!


Apa jangan-jangan ... dia istrinya Malik?

__ADS_1


__ADS_2