
Hanna menutup teleponnya. Dia baru saja melaporkan keberadaan Barra kepada polisi agar segera menangkapnya.
"Brengsek kamu Barra!! Aku memang istrimu tapi kamu tidak boleh memaksaku!"
Tadinya dia menemui Barra untuk membicarakan langkah yang akan dia ambil. Dia ingin secara baik-baik meminta Barra untuk menyerahkan dirinya kepada polisi. Dengan begitu mungkin hukumannya bisa dikurangi. Tapi Barra malah memaksanya untuk berhubungan badan di tempat kumuh seperti itu, membuat Hanna merasa terhina. Dia terbiasa dengan kemewahan, sehingga dia merasa tempat seperti itu tidak pantas untuknya. Dia marah atas perlakuan Barra padanya karena itu dia langsung melaporkan keberadaannya.
Tak lama berselang, Hanna melihat mobil polisi datang dari arah berlawanan dari tempatnya sekarang. Itu pasti polisi yang baru saja dia hubungi.
Sementara itu Barra kembali ke kamar penginapannya setelah tidak berhasil mengejar Hanna. Dia kesal karena Hanna tidak memberinya uang dan berencana kabur dari penginapan ini karena sudah tidak punya uang untuk membayar biaya sewanya.
Barra sudah hampir merebahkan tubuhnya di kasur saat sayup-sayup dia dengar suara sirine. Entah kenapa perasaannya tidak enak. Jantungnya berdetak kencang seakan dia tahu sirine itu sedang mencarinya. Barra membuka pintu kamarnya untuk dan menengok keluar melalui jendela penginapan. Dia melihat mobil polisi sudah berhenti tepat di depan penginapan.
Tanpa berpikir panjang Barra langsung lari melalui pintu belakang sebelum ada yang menyadarinya.
* * *
Barra berjongkok sambil mengatur nafasnya yang ngos-ngosan, entah sudah berapa lama dia berlari. Dia berlari secepat yang dia bisa untuk untuk mengindari polisi. Tidak ada yang yang sempat dia bawa dari penginapan selain baju kumal yang menempel di tubuhnya.
Setelah nafasnya kembali teratur dia melanjutkan langkahnya meski tanpa tujuan. Barra sangat kehausan dan kelaparan sementara dia tidak punya uang sepeser pun di sakunya. Ini juga sudah lewat tengah malam, tidak ada satupun warung yang masih buka untuk sekedar minta-minta. Dia terus melangkahkan kakinya. Setidaknya dia harus menemukan tempat untuk bermalam. Dengan langkah sempoyongan dia berusaha terus berjalan.
Barra tak sengaja melihat kran air di depan sebuah toko yang sudah tutup. Dengan cepat dia membuka kran air itu dan menadahkan mulutnya di bawah kran. Dia meminum langsung air dari kran itu sampai dia merasa puas. Setidaknya, untuk sementara rasa laparnya hilang.
Setelah meminum air tersebut barra merasa lebih baik. Dia menengok ke kiri kanan mencari tempat yang mungkin bisa dia gunakan untuk tidur malam ini. Barra mendekat ke sebuah emperan toko. Dia melihat ke sekeliling untuk memastikan tidak ada cctv di atasnya barulah dia merebahkan tubuhnya di emperan toko tersebut tanpa alas apupun. Meski dia merasa badannya sangat lelah dia tidak bisa memejamkan matanya. Rasa was-was jika tiba-tiba polisi datang menghampirinya membuatnya terjaga.
Barra benar-benar merasa tersiksa. Dipikirnya lagi apa yang sudah dilaluinya. Rasanya dia tidak bisa lebih lama lagi hidup dalam pelarian. Mungkin penjara lebih baik daripada di jalanan. Toh hidupnya juga sudah berantakan sekarang, apalagi yang bisa dia lakukan?
Barra memantapkan hatinya. Besok pagi dia akan menyerahkan dirinya ke polisi.
* * *
Barra duduk termenung di balik jeruji besi. Dia diam saja ketika mendengar sirine mendekat ke arahnya dini hari tadi karena sudah tidak punya tenaga untuk berlari. Akhirnya dia pasrah saja ketika polisi membekuknya dan membawanya ke kantor polisi.
__ADS_1
Setelah diperbolehkan untuk menghubungi seseorang, Pertama kali yang dia hubungi adalah Hanna. Hanya dia satu-satunya yang bisa menolongnya, mencarikan pengacara dan mengurus semuanya. Dia tidak tahu bahwa Hanna lah yang memberitahu polisi mengenai tempat persembunyiannya sebelumnya, tapi itu tidak ada artinya.
Waktu berjalan lambat sekali di sini. Satu detik terasa seperti satu jam.
"Barra Danendra, ada tamu untukmu!" ucap seorang petugas sambil membuka pintu selnya. Barra langsung berdiri. Secercah harapan terlihat di matanya berpikir yang menemuinya adalah Hanna, malaikat penolongnya.
"Ibu ...?" ucap Barra tertahan. Ternyata yang menemuinya adalah ibunya, bukan Hanna.
Ibunya tertegun melihat penampilan anak kesayangannya itu.
"Barra? Ya Tuhan ... lihat dirimu nak, Apa yang terjadi padamu? Kemana saja kamu? Apa yang sudah kamu lakukan?" Rentetan pertanyaan khas ibu-ibu keluar dari mulut ibunya. Dia terus memandangi putranya itu kasihan.
"Lihat tubuhmu Barra ... wajahmu ... " Ibunya tidak kuasa menahan air matanya. Barra adalah anak kesayangannya. Dia berikan yang terbaik selama hidupnya. Dan Barra yang ada di depannya saat ini sungguh memprihatinkan.
"Apa Hanna memberi tahu ibu jika aku disini?"
"Iya ... "
"Kenapa dia tidak datang? Apa si kecil sedang sakit?"
"Ibu ... tolong aku Bu ... Tolong ibu meminta Rania agar membujuk suaminya untuk mencabut tuntutannya padaku!"
"Apa? Ibu harus menemuinya dan meminta tolong? Yang benar saja Barra! Ibu tidak bisa melihatmu seperti ini tapi jangan minta ibu memohon padanya."
"Tolong aku Bu, mungkin itu bisa berhasil," bujuk Barra.
"Tidak mungkin Barra! Dimana harga diri ibu? Mintalah apapun pada ibu tapi jangan minta ibu memohon padanya."
"Sudahlah Bu, buang harga diri ibu demi aku!"
Widia terdiam. Dia teringat apa yang sudah dilakukannya pada Rania, semua kata, cacian dan hinaan yang pernah keluar dari mulutnya. Bagaimana mungkin sekarang dia datang dan memohon untuk untuk putranya yang sudah menyia-nyiakannya.
__ADS_1
"Kita lihat dulu apa yang Hanna dan Papa nya bisa lakukan untukmu."
"Aku tetap akan dipenjara Bu jika mereka tidak mencabut tuntutannya. Aku akan di sini dalam waktu yang lama."
"Tuan Affandi pasti bisa menolong mu keluar dari sini."
* * *
Rania duduk bersandar di dada bidang Malik. Mereka sedang menikmati pemandangan pantai dari balkon hotel tempat mereka menginap sekarang. Mereka sedang berbulan madu karena Malik ingin segera punya anak dari Rania.
"Laki-laki itu sudah ditangkap. Apa kamu lebih tenang sekarang?" tanya Malik sambil terus membenamkan hidungnya di leher Rania.
"Kira-kira berapa lama hukumannya?"
"Entahlah, aku tidak mengerti masalah hukum. Kita serahkan kepada pengacara saja."
"Apa itu artinya aku sudah boleh keluar rumah lagi?" balas Rania mendongak agar bisa melihat wajah Malik.
"Kamu boleh kemana saja yang kamu suka. Asal tidak menemui laki-laki lain."
"Memangnya aku mau ketemu siapa? Kamu tahu sendiri aku tidak punya teman laki-laki?!"
Malik tertawa.
"Kenapa tertawa?"
"Memangnya ada laki-laki yang mau berteman dengan gadis galak seperti kamu?" ejek Malik.
"Aku tidak galak!" balas Rania sambil melotot.
"Itu apa melotot begitu kalau bukan galak namanya?!"
__ADS_1
"Ini tidak melotot! Mataku memang bulat seperti ini!" Rania tidak terima.
Terserah ... yang jelas mata bulatmu yang aku anggap melotot itu selalu membuat hatiku berdebar, membuatku selalu terbayang-bayang saat aku di tinggal di luar negeri dulu.