
"Dengarkan aku baik-baik." Dewi mengeluarkan amplop coklat dari dalam tasnya. Kemudian dia membuka lembaran putih berisi hasil analisa sampel sp**** Barra.
"Di sini menunjukkan ada kelainan genetik pada sp**** suamimu. Kelainan ini membuatnya tidak bisa membuahi sel telur yang kamu hasilkan."
"Jadi ...?"
"Jadi mungkin kamu tidak akan bisa hamil dengan Barra. Misalnya kamu tetap ingin melakukan program bayi tabung, kamu perlu mencari donor sp**** yang memenuhi syarat."
"Jadi benar ... bukan aku yang mandul."
"Tapi aku tidak bisa menjamin hasil tes ini seratus persen akurat karena sampel yang kamu berikan tidak memenuhi standar. Dan hasil tes ini hanya berdasarkan sampel yang kamu berikan." Dewi menyerahkan kertas itu pada Rania.
"Kalau kamu ingin mendapatkan hasil yang seratus persen akurat maka diperlukan beberapa kali tes lagi pada sampel yang dikeluarkan dalam kondisi berbeda-beda."
"Tidak ... ini sudah cukup bagiku."
"Kalau begitu aku pergi dulu, ada pasien menunggu ku di rumah sakit." Dewi berdiri hendak meninggalkan Rania. Tapi kemudian Rania mencegahnya setelah membuka pesan di ponselnya.
"Tunggu sebentar ..."
"Apa lagi? Aku buru-buru ini?!"
Rania berdiri kemudian mengambil selfie bersama Dewi.
"Suamimu?" Rania mengangguk.
"Sudah, aku pergi dulu."
Rania mengangguk tanpa memperhatikan Dewi yang sudah pergi. Matanya fokus pada ponselnya.
"Temanku bilang ada yang melihatmu di hotel. Kamu sedang apa di sana?" Begitulah isi pesan Barra.
"Bertemu Dewi, dia sedang seminar di sini." Balas Rania yang disertai dengan mengirimkan fotonya bersama Dewi yang dia ambil tepat sebelum Dewi pergi.
Dulu Barra sangat posesif pada Rania, setiap kegiatan Rania di luar rumah harus dia ambil fotonya dan dikirimkan kepada Barra, termasuk dengan siapa dia pergi. Barra bahkan menghapus semua nomor teman laki-laki Rania dari ponselnya dan Rania sama sekali tidak keberatan waktu itu. Dia anggap itu adalah wujud betapa cintanya Barra terhadapnya. Dan karena saking cintanya pula, Rania mengikuti saja semua itu.
"Oke." Balas Barra yang itu artinya dia tidak keberatan dengan keberadaan Rania di hotel itu.
__ADS_1
Rania menghembuskan nafas lega. Kini dia beralih menatapi kertas putih di depannya. Berulangkali dia baca tulisan di yang tertera di kertas itu walaupun dia tidak mengerti bahasa medis.
"Jadi selama ini .... aku tidak mandul?!" gumam Rania dengan tatapan hampa. Dia terdiam untuk beberapa saat, kemudian dia tertawa sendiri hingga berhenti dan matanya berkaca-kaca, hampir seperti orang gila.
"Selama ini aku dihina dan dicaci dengan alasan yang mereka tidak ketahui?" Rania tertawa tapi dengan air mata yang mengalir di pipinya.
Tiba-tiba ada yang menyambar tangan Rania dan menyeretnya pergi dari tempat itu. Rania mendongak dan melihat siapa yang sedang menarik tangannya. Perasaannya yang sedang kalut membuatnya pasrah saat orang itu menariknya berjalan menuju lift.
"Malik ... apa yang kamu lakukan?" tanya Rania setelah mereka berdua saja di dalam lift. Dia menyandarkan kepalanya di dinding lift dengan wajah putus asa.
"Jangan menangis di tempat umum seperti itu. Setidaknya carilah tempat sepi."
"Aku tidak menangis!"
"Lalu apa ini?" Malik mengusap pipi Rania yang masih basah oleh air mata.
"Kamu mau membawaku kemana?"
"Ke kamarku."
Sampailah mereka di kamar suite presidential yang ditempati Malik. Rania segera duduk di sofa tanpa dipersilakan oleh Malik. Sementara Malik mengambilkan dia minuman untuk menenangkannya.
"Kamu bilang kabarmu baik tadi. Lalu apa ini?" Malik menyerahkan satu botol air mineral kepada Rania kemudian duduk di depannya.
Rania diam saja. Dia tidak tahu harus menangis atau tertawa seperti tadi yang dia lakukan di lobi tanpa sadar. Bertahun-tahun dia diam dihina dan dicaci oleh mertuanya untuk alasan yang belum jelas kebenarannya. Dengan alasan itu pula dia diancam akan diceraikan tanpa diberi harta. Selama ini dia mengabdikan dirinya untuk suami dan mertuanya tapi hanya itu balasan yang diterimanya.
Akhirnya Rania tak kuasa menahan air matanya. Dia menumpahkan rasa sakit hati yang selama bertahun-tahun dia pendam. Dia menyesali lima tahun kebodohannya ditindas dan dihina. Melihat Rania menangis sesenggukan, Malik mendekati dan memeluknya.
"Kamu baik-baik saja?" Rania tidak menjawab. Dia terus menangis dalam pelukan Malik.
"Ya sudah kalau tidak mau bicara."
Rania melepas diri dari pelukan Malik setelah dia merasa tenang. Dia menghapus air matanya dan meraih botol air mineral yang tadi diberikan oleh Malik kepadanya.
"Terima kasih," ucapnya kemudian. "Aku harus pulang." Rania meraih tasnya.
"Tunggulah sebentar, setidaknya sampai matamu tidak terlihat seperti habis menangis."
__ADS_1
Rania mengurungkan niatnya, Malik ada benarnya.
"Selamat ... kamu sudah berhasil mewujudkan cita-cita mu." Rania basa-basi.
"Ada satu yang belum terwujud," balas Malik.
"Bukankah menjadi dokter ortopedi adalah cita-citamu sejak dulu?"
Malik mengangguk. "Tapi ada satu lagi yang belum terwujud."
"Apa itu?"
"Menikah dengan orang yang ku cintai," jawab Malik sambil terus menatap Rania.
"Malik .... sudahlah, aku sudah menikah."
"Tapi aku belum."
"Kamu bisa menemukan wanita lain yang lebih segalanya dibandingkan aku."
"Aku hanya menginginkan kamu." Malik memeluk Rania dari belakang. Rania mencoba melepaskan tangan Malik tapi Malik justru mengencangkan pelukannya.
"Beri aku waktu sebentar ... Aku sangat merindukanmu," bisik Malik.
Rania berhenti berusaha melepaskan tangan Malik dari tubuhnya. Keadaan ini membuat Rania kembali teringat masa lalunya dengan Malik, saat mereka masih sepasang kekasih. Rania tidak sengaja bertemu dengan Malik di sebuah cafe saat mereka berebut tempat duduk kosong. Kejadian lucu yang membuat mereka jadi mengenal satu sama lain kemudian semakin dekat dan akhirnya pacaran.
"Kamu ingat, waktu itu memarahiku karena kamu bilang kursi itu sudah kamu lihat lebih dulu?"
Rania tertawa. "Dan kamu tetap menduduki nya tanpa rasa bersalah, dan mengatakan siapa cepat dia dapat! Kamu keras kepala sekali waktu itu."
"Kamu terus memarahiku dan ngotot bilang kalau melihat kursi itu lebih dulu. Kamu juga galak sekali waktu itu." Malik terkekeh.
Keduanya sama-sama tertawa. Rania kemudian membalikkan badannya hingga kini mereka berdua berhadapan. Malik menatap mata Rania lembut. Dan Rania menyadari tidak ada yang berubah dari tatapan Malik terhadapnya.
Dulu mereka saling mencintai. Tapi ketika Malik melanjutkan kuliahnya di luar negeri untuk mengambil spesialis ortopedi yang dia cita-citakan, Rania memutuskan untuk mengakhiri hubungan mereka. Malik sudah memohon kepada Rania agar menunggunya sampai dia selesai kuliah tapi Rania tidak bersedia. Rania memang mencintai Malik, tapi dia tidak mau menunggu selama itu.
"Aku masih mencintaimu Ran ... sama seperti dulu." Kalimat Malik membuat rasa bersalah muncul di hati Rania. Malik mengecup bibir Rania. Mereka berpisah secara baik-baik jadi wajar kalau rasa cinta itu masih tersisa di hati masing-masing.
__ADS_1