
Dewi melongo melihat interaksi kedua orang di depannya. Rania memang sudah memberi tahunya kalau Malik adalah mantan pacarnya, tapi mereka berdua ini terlihat seperti orang yang sedang jatuh cinta, bukan orang yang sudah putus cinta.
"Hallooo .... Aku masih di sini." Dewi mencari perhatian mereka berdua. "Malik kamu kesini karena ingin bertemu denganku tapi kenapa justru dia yang kamu sapa lebih dulu?" Dewi menunjuk ke arah Rania.
"Maaf ... Maaf ... Habisnya ada yang mencuri perhatian ku." Melirik ke arah Rania.
Malik membuka tasnya dan mengeluarkan berkas-berkas yang akan dia serahkan pada Dewi kemudian menjelaskan beberapa hal padanya.
"Kamu sudah mengerti kan?" tanya Barra mengakhiri penjelasannya. Dewi mengangguk.
Perhatian Malik kembali kepada Rania. Entah kenapa dia semakin terpesona dengan Rania yang dia rasa memancarkan aura yang berbeda.
"Berapa bulan tidak bertemu, kamu semakin cantik."
"Maliki Sudahlah! Jangan merayu ku."
"Ehm ... ehm ..." Dewi berdehem. "Dia sedang hamil Malik, jangan menggoda wanita hamil!" pancing Dewi.
"Benarkah?"
"Sudah mau empat bulan," jawab Rania salah tingkah. Ingin sekali Rania menghambur ke pelukan Malik. Dia sangat ingin menikmati aroma mint dari tubuh Malik yang sejak tadi mengganggu konsentrasinya.
"Kamu sudah kembali ke kota ini lagi?"
"Iya, urusanku di Bandung sudah selesai, jadi aku tinggal di kota ini mulai dari sekarang."
"Oke ... Baik ... Lebih baik aku pergi sekarang dari pada aku menjadi aku menyaksikan sinetron CLBK." Dewi megemasi barang-barangnya.
"Jangan ngaco Dew."
"Jodoh tidak ada yang tahu kan? Jangan lupa hubungi aku kalau kamu perlu suatu." Rania mengangguk. Kemudian Dewi berlalu dari hadapan mereka.
"Jadi ... Bagaimana kabarmu?" Malik mengusap pipi Rania gemas. Dia tidak tahu kenapa dia ingin sekali menyentuh wanita ini dan tangannya seperti reflek saja melakukannya. Begitu juga Rania, dia sangat menikmati sentuhan dari tangan Malik.
"Aku baik.
"Bayi mu itu ... Apa mungkin ... ?"
"Jangan berpikir macam-macam, aku punya suami."
"Kita melakukannya empat bulan yang lalu kan?"
__ADS_1
"Stop, jangan di bahas lagi. Aku harus pulang. Taksiku sudah datang." Rupanya Rania sudah memesan taksi online.
"Kamu naik taksi? Aku akan mengantarmu!"
"Kalau kamu mengantarku, suamiku bisa marah."
Tapi kemudian Rania memikirkan kembali tawaran Malik. Rania ingin melihat bagaimana reaksi Barra jika melihat dia pulang diantar Malik.
"Setelah aku pikir-pikir, boleh deh kamu ngantar aku pulang."
Kita lihat Barra, bagaimana reaksimua jika melihat aku diantar pulang oleh laki-laki lain. Aku tahu kamu sangat cemburuan.
"Oke, kamu cancel taksi mu, aku akan ke depan ngasih uang ganti rugi."
Selama di mobil mereka banyak mengobrol, tapi Rania tidak sedikitpun menyinggung masalah rumah tangganya. Hingga tidak terasa mereka sudah sampai di depan rumah Barra.
Rania ragu untuk turun.
"Kenapa? Ada masalah apa?" tanya Malik.
"Malik ... boleh aku memeluk mu?" tanya Rania sambil menundukkan wajahnya. Akhirnya dia mengatakannya. Dia sangat ingin berada di dalam dekapan Malik dan menciumi aroma tubuhnya. Ini seperti bukan keinginannya tapi Rania tidak tahan untuk tidak melakukannya.
"Apa kamu sangat merindukan aku?" goda Malik. Tanpa menunggu jawaban dari Rania, Malik segera memeluk Rania. Dan entah kenapa Rania sangat merasa nyaman. Dia puaskan untuk menghirup aroma tubuh Malik seperti menghirup oksigen murni yang jarang dia dapatkan. Lama Rania berada dalam dekapan Malik hingga dia hampir terlelap dibuatnya.
Akhirnya Rania melepaskan pelukan Malik.
"Sudah cukup, aku sudah lega."
Malik mengernyitkan alisnya tidak mengerti maksud perkataan Rania. Menurutnya ada yang aneh dengan sikap Rania terhadapnya.
"Terima kasih. Kamu mau turun dulu?"
"Boleh?"
"Waktu itu kamu bilang ingin merebutku dari suamiku kan?" goda Rania.
"Oh ... tentu saja." Malik sudah melepaskan sabuk pengamannya. "Aku tidak takut kalau kamu sudah memberiku ijin."
Rania tertawa. "Aku tidak sungguh-sungguh. Jangan turun, aku tidak mau ada perang besar nanti."
Malik tampak kecewa.
__ADS_1
"Misalnya aku bercerai dari suamiku, apakah kamu benar-benar akan menerimaku walaupun dengan keadaanku yang sedang hamil seperti ini?"
"Kenapa kamu meragukan aku? Bahkan sampai sekarang aku belum menikah karena mencarimu."
"Aku masuk dulu." Rania turun dari mobil. Malik mengangguk dari dalam mobil kemudian menghidupkan mesin mobilnya dan pergi.
Rumah tampak sepi. Rania tidak menemukan siapapun di dalam rumah.
Kemana mereka? batin Rania.
Rania langsung menuju kamarnya. Dia mengganti pakaiannya dengan pakaian tidur dan langsung tertidur. Mungkin pengaruh aroma tubuh Malik yang membuatnya rileks hingga dia langsung bisa tertidur.
Rania tengah tertidur lelap saat Barra menarik tangannya dengan kasar.
"Bangun kamu Ran!!! Kamu tadi bersama siapa?!! Siapa yang mengantarkan kamu pulang?" bentak Barra kepada Rania. Terlihat sekali saat ini Barra tengah emosi.
Rania yang baru saja bangun masih ling-lung dan tidak tahu maksud Barra.
"Kamu bicara apa Barra? Aku tidak tahu maksudmu?"
Barra mengeluarkan ponselnya. Dia menunjukkan beberapa foto, saat tadi di dalam restoran Malik mencubit dan mengelus pipinya, juga beberapa foto di dalam mobil ketika dia berada dalam pelukan Malik.
Rania tersenyum melihat foto-foto itu.
"Kenapa?"
"Kenapa kamu bilang?!! Kamu masih sah sebagai istriku tapi kamu sudah bermain dengan laki-laki lain. Padahal kamu juga sedang hamil. Kamu sungguh tidak tahu malu!!!" Barra kembali membentak Rania.
Tapi Rania malah tertawa. "Aku, bermain dengan laki-laki lain? Kamu juga masih sah sebagai suamiku tapi akan menikah dengan perempuan lain. Jadi siapa yang tidak tahu malu?!" Rania merasa menjadi orang paling munafik di dunia saat mengatakannya mengingat dia juga hamil dengan laki-laki lain.
"Apa kamu selingkuh dengan laki-laki itu? Jangan-jangan benar kata Hanna, anak itu bukanlah anakku. Tapi anakmu dengan laki-laki itu!"
"Cukup Barra. Hentikan omong kosong ini! Apa foto-foto itu dia juga yang mengirimkannya? Apa kamu lebih percaya wanita yang baru saja kamu kenal daripada aku yang sudah menjadi istri mu selama lima tahun? Apa kamu yakin anak yang dikandungnya adalah anakmu?!"
"Aku tidak mau dengar kata-kata mu lagi. Sebaiknya kamu segera pergi dari rumah ini! Aku tidak sudi punya istri yang bermain dengan laki-laki lain!" Barra mengambil koper yang sudah Rania siapkan siang tadi.
Dengan kasar dia menarik tangan Rania dan menyeretnya turun. Di ruang tamu Rania melihat mertuanya dan Hanna menyaksikan ini semua sambil tersenyum penuh kemenangan.
Rania pasrah melihat Barra begitu kalap. Sampai di depan pintu Barra langsung mendorong Rania keluar hingga Rania tersungkur dan terjatuh persis seperti adegan yang ada di sinetron-sinetron. Barra membanting pintu kemudian menguncinya dari dalam. Dia meninggalkan Rania diluar bersama koper dan barang-barangnya.
"Barra ... Apa kamu harus melakukan ini padaku?!" Rania langsung berdiri mencoba membuka pintu.
__ADS_1
"Barra ...!!! Barra ...!!!" panggil Rania. "Setidaknya ambilkan ponselku agar aku bisa memanggil taksi!!!"