
Apa jangan-jangan ... dia istrinya Malik?
Rania sedikit melunak memikirkan kemungkinan itu. Ditatapnya lagi wanita hamil itu.
Malik bilang dia belum menikah. Atau itu hanya mulutnya saja agar aku mau melanjutkan hubungan dengannya?
"Mbak, tolong tenang dulu ... Kita bisa bicara baik-baik. Duduklah," pinta Barra halus.
Wanita itupun menuruti permintaan Barra. Dia duduk tenang walaupun tatapan kemarahan dan kebencian masih terlihat jelas di matanya.
"Mbak ini ke sini mencari siapa? Ada perlu apa?" lanjut Barra.
"Widia!!! Aku mencari Widia!!! Dia kan yang bernama Widia?!!" jawab wanita itu ketus sambil melirik ke arah Rania.
Mata Rania dan Barra saling pandang.
"Apa anda tidak salah?" tanya Barra.
Pada saat yang bersamaan mertua Rania datang dari belakang sambil mengomel tidak jelas.
"Ada apa sih ini ribut sekali? Aku ini mau tidur!! Bisa nggak jangan ganggu. Kalau mau bikin keributan jangan di rumah ini!" teriak mertua Rania.
"Mbak ... Ini Rania istri saya. Dan itu Widia, ibu saya. Apa anda yakin itu Widia yang anda cari? Tolong pastikan anda tidak salah orang sebelum bertindak gegabah seperti tadi," ucap Barra.
"Apa? Itu Widia?!" Wanita itu tidak percaya. "Tidak mungkin! Aku tidak mungkin salah orang." Dia menatap Widia dari kepala hingga ujung kaki dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Ibu ... Apa ibu kenal dengan wanita ini?" tanya Barra kepada ibunya.
Ibunya tampak melongo. "Siapa dia?"
"Apa kalian serius? Dia bernama Widia?!" tanya wanita itu lagi. "Jadi suamiku selingkuh dengan nenek-nenek?!" ucap wanita itu pasrah sambil terus memandang ibunya Barra.
"Hei ... jaga mulutmu perempuan!" seru mertua Rania tidak terima.
__ADS_1
"Widia itu ibu saya. Dan itu orangnya. Mungkin Mbaknya salah orang. Tidak mungkin ibu saya menjalin hubungan dengan suami Anda."
"Rasanya aku kehilangan harga diriku karena harus bersaing dengan nenek-nenek!" ucap wanita itu disertai tawa getir. "Kalau tahu seperti ini lebih baik aku mundur dan menjunjung harga diriku daripada kalah bersaing dengan wanita yang jauh lebih tua dariku." Wanita itu bicara sendiri.
"Apa maksud mbak, suami mbak ini berhubungan dengan ibu saya?" tanya Barra lagi.
Wanita itu mengangguk. "Aku tidak mungkin salah orang. Temanku bilang, kekasih suamiku bernama Widia. Dan selama dua malam aku membuntuti suamiku, mobilnya selalu berhenti di depan rumah ini. Kemudian turun seorang wanita dan masuk ke dalam rumah ini. Tadi malam suamiku tidak pulang, jadi aku kesini karena aku pikir suamiku mungkin di sini. Aku sudah memencet bel tapi tidak ada yang membukakan pintu."
"Jadi tadi malam itu anda yang membunyikan bel?" tanya Rania.
"Ibu ... Apa benar yang dikatakan wanita ini? Ibu punya hubungan dengan suaminya?" tanya Barra tegas.
"Oh ... Jadi kamu istrinya Deni? Baguslah kalau kamu sudah tahu!" jawab mertua Rania acuh.
"Ibu!!! Apa maksud ibu?Jadi yang wanita katakan ini benar? Ibu berhubungan dengan suaminya?!" tanya Barra tidak percaya.
"Sudah aku bilang Barra, Kamu tidak usah ikut campur dengan urusan pribadiku!" bentak Ibunya.
"Dasar perempuan tua tidak tahu diri! Sebaiknya kmu ingat umur nenek lampir! Apa kamu tidak malu? Suamiku bahkan mungkin seusia dengan anakmu ini!" wanita itu menunjuk Barra.
"Memangnya kamu pikir siapa yang membiayai hidupmu dan suamimu? Darimana suamimu mendapatkan uang untuk membelikan tas-tas dan baju yang kamu mau? Bagaimana dia bisa punya uang untuk membelikan kamu mobil? Itu semua uang dariku!!!"
"Hah ... tidak mungkin!!! Suamiku tidak mungkin seperti itu. Suamiku adalah seorang pengusaha. Dia tidak mungkin mau menjadi simpanan seorang nenek-nenek!"
"Pengusaha kamu bilang? Pengusaha apa?! Dia itu hanya pengangguran! Selama ini dia hanya numpang hidup dariku!"
Mendengar perdebatan ini Barra dan Rania seperti mendapatkan sedikit penjelasan kenapa ibunya sampai memiliki banyak hutang.
"Suamimu itu orang yang tidak bertanggung jawab! Lihat sekarang setelah aku banyak hutang dia main kabur begitu saja!!"
"Maaf, sekali lagi Maafkan aku. Tadi aku pikir kamulah yang bernama Widia, jadi aku langsung saja menyerang kamu tanpa penjelasan. Sekali lagi Maafkan aku," ucap wanita itu tulus kepada Rania tanpa menghiraukan Widia yang masih berteriak-teriak tidak jelas kepadanya.
"Lebih baik aku pergi sekarang ... permisi ..." ucap wanita itu sambil menganggukkan kepala kepada Rania dan Barra.
__ADS_1
"Mbak ... tunggu sebentar. Tolong jelaskan pada kami dulu." Barra berusaha mencegah wanita itu pergi.
"Maaf, sekali lagi maaf. Saya tidak akan mengungkitnya lagi. Lebih baik saya kehilangan suami daripada kehilangan harga diri!" Wanita itu berlalu dari hadapan Barra dan Rania tanpa bisa dicegah.
"Biarkan wanita itu pergi! Ganggu orang tidur saja!!" Widia hendak berjalan kembali menuju kamarnya.
"Tunggu Bu!! Kita perlu bicara!"
"Bicara apa sih? Nanti saja, Aku ingin tidur!!"
* * *
Barra dan Rania duduk di bangku di sebuah taman. Mereka baru saja menemui Bu Sandy untuk mencari tahu informasi mengenai ibu mereka.
Seperti yang sudah mereka duga sebelumnya, wanita hamil yang tadi pagi mendatangi rumah mereka tidak berbohong. Ibu mereka memang menjalin hubungan dengan suami wanita itu. Tidak hanya itu saja, ibunya juga membiayai hidup laki-laki itu dan istrinya tanpa sepengetahuan sang istri. Dia menuruti semua keinginannya.
Masih menurut Bu Sandy, ibunya bertemu laki-laki itu disebuah tempat judi. Kemudian mereka menjalin hubungan, bahkan ketika ibunya tahu laki-laki itu sudah beristri, dia tetap melanjutkan hubungan mereka. Laki-laki itu gila judi, demikian juga ibunya Barra. Tidak jarang mereka pulang pergi ke Singapura dalam sehari hanya untuk bermain judi. Jadi selain untuk "memelihara" kesayangannya, mungkin ibunya memiliki banyak hutang karena kalah judi.
Barra menghembuskan nafas kasar.
"Bagaimana bisa Ibu menjalin hubungan dengan laki-laki yang jauh lebih muda darinya? Dia hanya seusia dengan ku, anaknya! Aku malu sekali!" Barra menundukkan kepalanya.
Rania yang duduk di sampingnya hanya bisa diam. Dengan setia dia mendampingi Barra mencari tahu segala hal mengenai tingkah laku ibunya di luar rumah. Dia sendiri heran bagaimana bisa mertuanya seperti itu.
"Terus hutang-hutang itu? Bagaimana bisa aku melunasinya. Bahkan dengan menjual rumah dan semua yang aku miliki pun hutang itu belum bisa lunas."
Barra semakin frustasi.
"Maafkan aku Ran ... Aku belum bisa menebus mobilmu dari Bu Sandy. Aku harus mengumpulkan uang agar rumah kita tidak disita."
"Kamu tahu sendiri, ibu tidak bisa diajak bicara baik-baik dan menjelaskan semuanya."
Rania menatap suaminya itu.
__ADS_1
Miris sekali, dulu kalian mengancam aku akan diceraikan tanpa harta jika tidak hamil dalam waktu satu bulan. Sekarang kalian terancam akan kehilangan rumah jika tidak bisa membayar hutang dalam waktu satu bulan.