
"Kamu suka?" Rania mengangguk.
Dia sedang menikmati sate kambing pesanannya sementara Barra duduk di depannya sambil memandangi Rania yang tengah asik makan. Masih memakai kemeja dengan lengan yang sedikit digulung dan dua kancing atasnya terbuka, Rania jadi teringat dulu waktu dia masih bekerja satu kantor dengan Barra. Ketika mereka lembur sampai larut dan semakin malam penampilan Barra semakin berantakan tapi justru itu yang menarik perhatian Rania. Menurutnya Barra tampak seksi dengan penampilan seperti itu.
Selama menjadi istrinya, Rania hampir tidak pernah memperhatikan penampilan Barra sepulang kerja. Dia hanya memastikan suaminya itu berangkat ke kantor dengan pakaian rapi dan terlihat tampan. Setiap kali pulang kerja, Rania menyambut Barra, tapi kemudian dia sibuk melayaninya hingga tidak sempat memperhatikan penampilan berantakan suaminya. Dia menyiapkan air hangat untuk mandi, menghangatkan makan malam, belum lagi setelah makan malam dia harus kembali membereskan dapur.
Tidak ada waktu baginya untuk bisa sekedar memandangi suaminya, atau sebaliknya. Sudah tidak ada momen saling pandang dan mengagumi satu sama lain yang bisa mengingatkan bagaimana mereka dulu bisa jatuh cinta.
Tapi sekarang, mereka duduk berdua dengan Barra yang memperhatikannya makan, memastikan tidak kurang satu apapun. Tentu saja itu membuat Rania kembali berdegup. Walaupun hatinya menyimpan rasa kecewa yang dalam, perhatian berlebih dari Barra ini sudah sedikit menggoyahkan keputusannya.
"Anakku tidak rewel hari ini?" Pertanyaan yang hampir setiap hari ditanyakan oleh Barra.
"Tidak."
Barra tersenyum. "Anak pintar." Pasti saat ini Barra ingin sekali mengelus-elus perut Rania. "Jadi kamu besok ingin jalan kemana?"
"Terserah kamu, yang penting aku keluar rumah."
"Siap ... " Setelah itu Barra celingukan melihat kanan kiri. "Apa ibu belum pulang?"
"Belum. Akhir-akhir ini ibu jarang di rumah."
"Aku ingin bicara padanya tentang hutang yang kamu katakan tadi. Tapi nanti tunggu dia pulang saja."
"Memangnya mobil ibu dimana? Kenapa dia sampai meminjam mobilku?"
"Beberapa waktu yang lalu ibu bilang mobilnya dipinjam temannya yang dari luar kota. Tapi masa iya sampai sekarang belum dikembalikan? Ah ... nanti biar aku tanyakan sekalian pada ibu." Barra seperti bicara sendiri.
* * *
"Kamu sudah siap?"
"Iya ..." Rania terlihat antusias. Hari ini Barra akan mengajaknya keluar untuk menghirup udara segar.
"Kita mau kemana?"
"Nanti kamu tahu sendiri."
__ADS_1
"Baiklah ...."
Mereka menempuh perjalanan yang cukup lama. Bahkan Rania sempat tertidur di dalam mobil. Rania terbangun ketika mobil sudah berhenti.
"Kita sudah sampai?" tanya Rania. Dia mengucek matanya kemudian melihat keluar dari jendela mobil "Aku pasti tertidur lama tadi," gumamnya. Dia mengamati sekeliling kemudian tersenyum.
"Aku tahu tempat ini," katanya sambil menoleh kearah Barra.
"Memangnya dimana ini?"
"Ini gunung tempat kita dulu melakukan outbound bersama teman-teman kantor. Aku benar kan?" Rania bertanya dengan wajah berseri-seri.
"Kamu masih ingat?"
Rania segera turun dari mobil dan berlari menuruni bukit.
"Ran ... hati-hati jangan berlari seperti itu. Awas kandungan mu!" Barra terlihat panik melihat Rania berlari hingga dia mengejarnya layaknya mengejar anak kecil yang baru belajar berjalan.
Rania berhenti begitu dia sampai di tepi kolam kemudian merentangkan tangannya dan berputar sambil memejamkan matanya. Dia menghirup udara pegunungan ini dalam-dalam dan menikmatinya. Belum lagi sinar matahari pagi yang menembus kulitnya membuatnya merasa hangat di tengah sejuknya udara pegunungan.
Barra tersenyum melihat tingkah Rania. Sudah lama sekali dia tidak melihat istrinya itu seperti ini, lepas tidak ada beban.
"Dari mana kamu dapat ide membawaku ke sini?"
"Hmmm ... Sebenarnya aku tidak punya ide akan mengajakmu kemana dan tempat ini terlintas begitu saja di pikiranku."
"Aku hampir lupa kita pernah ke tempat seperti ini." Rania berjalan memutari kolam sambil memandangi ikan koi yang jumlahnya tidak terhitung banyaknya.
"Kamu ingat sungai itu?" Rania menunjuk ke sungai yang tak jauh dari kolam ikan. Ada sungai kecil yang arusnya tidak begitu deras. Dalamnya mungkin hanya sebatas lutut orang dewasa dan airnya sangat jernih.
"Kita pernah lomba tarik tambang di sungai ini. Aku dan team ku di sisi ini, sedangkan kamu dan team kamu di sebelah sana." Rania menunjuk sisi seberang sungai.
"Team kamu kalah. Dan hanya kamu sendiri yang tidak tercebur ke sungai. Kamu curang, karena begitu pemimpin team kamu tercebur sungai, kamu yang berada diposisi paling belakang langsung melepaskan tambangnya," sambung Barra sambil tertawa.
Rania ikut tertawa mendengar cerita Barra. "Tapi kemudian kalian bersama-sama mendorongku hingga akhirnya aku juga jatuh ke sungai." Rania kembali tergelak.
"Dan kamu ingat? Lomba menangkap ikan? Kamu sampai marah-marah karena tidak bisa menangkap ikan satupun. Bahkan sampai terbawa ke kantor, seminggu lamanya kamu uring-uringan gara-gara itu."
__ADS_1
Barra jadi salah tingkah. Dan Rania kembali tergelak. Dia tertawa sampai wajahnya memerah.
"Aku bukan uring-uringan karena itu!"
"Ayolah ... tidak usah menyangkalnya. Kamu pasti malu kan karena semua orang dari divisi mu bisa menangkap ikan? Sedangkan kamu seekor pun tidak."
Barra menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Sebenarnya dia senang melihat Rania seperti ini, tapi dia juga salah tingkah karena Rania terus mengejeknya.
"Ayo kita duduk di sana."
Rania mengikuti di belakangnya dengan wajah yang masih merah karena menahan tawa. Kemudian mereka berdua duduk di bawah pohon besar di dekat kolam dan hanya beralaskan rumput hijau.
"Sebenarnya aku uring-uringan bukan karena tidak bisa menangkap ikan."
"Baiklah. Lalu kenapa?" Rania kembali menahan tawa. Dia yakin Barra hanya sedang membela dirinya sendiri.
"Malam sebelumnya aku melihat kamu makan berdua dengan manajer divisi marketing. Jadi aku tidak konsentrasi waktu lomba menangkap ikan itu."
"Maksudmu Pak Fahri?" Rania kembali tertawa, bahkan lebih keras dari yang tadi. "Ini bukan alasanmu untuk membela diri kan?" Rania masih tertawa. Sepertinya dia sangat menikmatinya.
"Dia atasanku dan kami satu team, tentu saja aku makan malam dengannya. Kami makan malam bersama satu team waktu itu. Hanya saja aku datang terlalu cepat, kemudian Pak Fahri. Baru setelah itu yang lain juga datang. Mungkin yang kamu lihat waktu anak-anak yang lain belum datang."
"Lalu kamu melampiaskan kemarahannya kepada bawahan mu?"
Barra kembali menggaruk-garuk kepalanya.
"Memangnya mereka membicarakan aku?"
"Tidak hanya mereka, tapi seluruh kantor. Hanya saja setahu mereka kamu uring-uringan karena tidak mendapatkan ikan."
"Jadi kamu cemburu sama Pak Fahri?" Rania kembali tergelak dalam tawa. Untuk sesaat dia lupa semua masalahnya, dia juga lupa hubungannya dengan Barra yang sedang tidak baik-baik saja.
"Aku sedang mendekatimu waktu itu, dan kamu terlihat dekat dengan pria lain yang jabatannya lebih tinggi dan juga jauh lebih mapan dariku. Jelas peluang ku sangat kecil," jawab Barra bersungut-sungut.
"Tapi akhirnya aku memilih kamu," ucap Rania yang kemudian membuat wajahnya berubah menjadi sendu dalam sekejap. Barra menyadari itu.
"Kamu menyesalinya?"
__ADS_1
Rania tidak menjawab.