
Rania sudah benar-benar tidak bisa bernafas, tinggal beberapa detik saja hingga dia terkulai lemas karena kekurangan oksigen. Tapi Barra belum ingin melepaskannya, dia justru melemparkan tubuh Rania ke lantai.
"Kenapa kamu lakukan itu padaku? Jadi selama menjadi istriku kamu berselingkuh dariku?!" tanya Barra sambil berjongkok untuk mendekatkan tubuhnya dengan Rania yang terkulai lemas. Dia menjambak rambut Rania dan memaksanya duduk. Sementara Rania antara sadar dan tidak sadar berusaha melindungi perutnya dengan tangannya. Sambil meringis dia menahan sakit di kepalanya akibat rambutnya yang ditarik oleh Barra.
Rania berusaha tenang dan mengatur nafasnya. Kemudian dengan sekuat tenaga dia berteriak minta tolong. Tapi kemudian Barra membekap mulutnya sebelum ada yang mendengar teriakannya.
"Kenapa kamu sembunyikan kenyataan ini dariku? Kenapa kamu tidak mengatakannya padaku?! Kamu telah membodohi ku!!!" Barra menatap Rania tajam dengan satu tangan menarik rambutnya dan tangan satunya lagi membekap mulut Rania.
"Aku akan melepaskan tanganku asal kamu tidak berteriak!!!" Rajia mengangguk mengikuti perintah Barra.
"Jika kamu berteriak, aku tidak segan-segan menendang perutmu agar kamu kehilangan bayimu untuk yang kedua kalinya!!!" ancam Barra. Rania terus mengangguk menuruti perkataan Barra. Dia tetap memegang erat perutnya.
"Sekarang jawablah pertanyaan ku tadi! Apa alasanmu melakukannya?! Aku merasa seperti orang tolol yang dengan mudah kamu bodohi!!!"
"Aku tidak membodohi mu, aku melakukannya untukmu. Bagaimana perasaanmu jika kamu tahu dirimu lah yang mandul sementara kamu dan ibumu terus mengatakan aku mandul?" balas Rania dengan mata terpejam.
"Seharusnya kamu memberi tahu aku! Aku berhak tahu!!!"
"Waktu itu aku takut kamu akan tetap menceraikan aku." Rania mulai terisak. "Aku takut tidak bisa hidup tanpamu ... Tapi akhirnya kamu malah milih wanita itu dari pada aku!"
Barra yang kesal mendengar jawaban Rania langsung membenturkan kepala Rania ke sudut sofa di sebelahnya. Darah segar mengalir dari kening Rania.
"Jika kamu marah denganku, kenapa kamu tidak marah kepada wanita itu yang jelas-jelas membohongi mu untuk kepentingannya sendiri?!" dengan suara lemah.
Barra kembali menarik rambut Rania. Pertanyaan Rania seperti menuangkan minyak ke dalam bara api. Rania hanya bisa meringis menahan sakit. Dia tidak berani membuka matanya. Barra sudah kehilangan kesadarannya karena dibakar emosi.
"Jika aku tidak bisa memiliki keturunan, maka kamu juga tidak akan memiliki keturunan!!!" Barra berdiri. Dia benar-benar kehilangan akal sehatnya.
Rania menutup matanya rapat-rapat. Dia meringkuk dan mengeratkan tangannya di perutnya untuk melindungi bayi-bayinya.
Tuhan ... Jika aku tidak selamat kali ini, setidaknya selamatkan lah anak-anakku. Rania pasrah.
Dia sudah akan mengayunkan kakinya untuk menendang perut Rania. Tapi tiba-tiba terdengar suara teriakan, bukan teriakan Rania melainkan sekretarisnya. Barra segera menoleh ke arah suara teriakan. Dia kaget karena ada yang melihat aksinya. Sekretaris Rania langsung berlari keluar dari ruangan sambil berteriak-teriak minta tolong.
__ADS_1
Barra menghentikan aksinya. Dia segera bersembunyi begitu mendengar sekretaris Rania berteriak histeris. Sementara di luar ruangan beberapa pegawai mendekati sang sekretaris, mengira sektretaris itu kenapa-kenapa. Saat itulah Barra diam-diam menyelinap keluar dari ruangan Rania.
"Panggil keamanan, polisi cepat! Ada yang menyerang Bu Rania!" teriak sekretaris itu. "Yang lain cepat tolong Bu Rania!!"
Mereka segera melakukan yang diperintahkan oleh sekretaris itu, ada yang memanggil sekuriti, ada yang menelfon polisi dan yang lain masuk ke ruangan Rania untuk menangkap Barra. Tapi mereka tidak menemukan laki-laki yang sudah menyerang Rania. Mereka hanya menemukan Rania tergeletak dilantai dengan darah yang mengalir di keningnya.
"Bu Rania .... " teriak sekretarisnya sambil berlari menghampiri Rania. "Panggil ambulans, cepat!!" teriak sekretaris Rania.
"Bagaimana ini ...? Ibu bertahan ya ... " ucap sekretarisnya panik.
"Aku tidak apa-apa, terima kasih sudah menolongku," ucap Rania lemah sambil terus memejamkan matanya. Dia masih dalam posisi tergeletak di lantai sambil menahan sakit di kepalanya. Sekretarisnya tidak berani melakukan apa-apa karena takut jika Rania gegar otak atau ada luka dalam lainnya.
"Tadi Pak Malik menelfon saya meminta untuk melihat keadaan Bu Rania. Beliau khawatir karena bu Rania tidak mengangkat telfon dari beliau," cerita sekretarisnya untuk membuat Rania tetap terjaga.
Rania tersenyum mendengar jawaban sekretarisnya.
"Pak Malik sedang dalam perjalanan kemari. Tadi beliau sudah dalam perjalanan ketika menelfon saya."
Rania kembali tersenyum, masih dengan mata terpejam.
Selang beberapa menit Malik datang.
"Rania ... " Malik berlari menghampiri tubuh Rania. "Kamu terluka sayang ... " Mendengar suara yang sangat dia tunggu-tunggu barulah Rania membuka matanya.
Rania tersenyum melihat Malik sudah berada di sisinya.
* * *
Barra mengemudikan mobilnya dengan kecepatan penuh. Dia sedang mencari keberadaan Hanna. Sejak tadi Hanna tidak kunjung mengangkat telfon darinya.
Akhirnya Barra mengemudikan mobilnya kembali ke rumahnya. Dia menemukan mobil Hanna sudah berada di garasi. Dengan cepat Barra melangkahkan kakinya memasuki rumah. Dia langsung menuju kamarnya.
Sampai di dalam kamar Barra menemukan Hanna sedang duduk di sofa di dalam kamarnya sambil memainkan ponsel. Dengan kasar Barra merebut ponsel Hanna dan membantingnya hingga pecah menjadi beberapa bagian.
__ADS_1
Hanna yang kaget langsung berteriak kepada Barra.
"Apa maksudmu?!! Kenapa kamu banting handphone ku?!" tanyanya sambil memunguti handphone-nya yang sudah pecah tidak terselamatkan.
Barra mencengkeram lengan Hanna kasar.
"Sejak tadi aku menelfon mu tapi kamu abaikan. Padahal kamu sedang memegang ponselmu!"
"Tidak perlu membantingnya jika hanya gara-gara aku tidak mengangkat telponmu! Aku bisa menjelaskannya! Cuma masalah sepele tidak perlu sampai membanting handphone!!!" bentak Hanna.
Barra mengayunkan tangannya dengan kasar ke pipi Hanna.
"Plakkk!" satu tamparan mendarat di pipi Hanna.
"Kenapa kamu menamparku?!!" bentak Hanna lagi.
"Katakan apakah Alicia adalah anakku?" tanya Barra dengan nada yang menyeramkan.
"Apa maksudmu? Tentu saja Alicia anakmu!" jawab Hanna sedikit gelagapan. Dia tidak menyangka Barra akan menanyakan pertanyaan itu. Tidak seperti tadi yang berani membalas Barra dengan bentakan, sekarang Hanna terlihat salah tingkah.
"Jawab dengan jujur, apa Alicia adalah anak kandung ku?!!" Barra menatap Hanna dengan tatapan tajam dan menakutkan.
"Dia anakmu Barra. Alicia anakmu! Kenapa kamu tanyakan itu?!" Barra menampar pipi Hanna lagi.
"Plakkk!"
Kali ini Hanna diam saja tidak berani membentak Barra seperti itu sebelumnya.
"Pertanyaan terkahir dariku, apakah Alicia anak kandungku?!" Barra berbisik di telinga Hanna yang terdengar sangat menakutkan bagi Hanna.
Tapi Hanna tetap pada pendiriannya. Jawabannya tidak berubah. "Alicia adalah anakmu!" jawab Hanna sedikit takut. Mendengar jawaban Hanna, satu tamparan mendarat lagi di pipi Hanna.
"Susah cukup Barra. Apa mau mu?! Alicia adalah anakmu!" Hanna mundur menjauh dari Barra. Tapi Barra terus mengikutinya hingga akhirnya dia terjepit di tembok.
__ADS_1
"Masih berani berbohong padaku?!" Barra meraih leher Hanna yang kini tubuhnya bersandar di tembok.
"Aku baru saja mengetahui jika ternyata selama ini aku mandul! Apa sekarang ku masih akan mengatakan jika Alicia adalah anakku?!!"