
Barra melangkahkan kakinya keluar gerbang lapas. Dihirupnya udara kebebasan yang setahun ini tidak bisa dia nikmati.
"Alicia ... Papa pulang," gumam Barra.
Barra melihat sekelilingnya mencari keberadaan Hanna. Dia sudah memberitahu Hanna sebelumnya jika hari ini dia bebas. Tapi dia tidak menemukan Hanna datang untuk menjemputnya.
Sementara di rumahnya Widia tengah sibuk menyiapkan hidangan untuk menyambut kepulangan Barra. Dia memasak semua makanan yang disukai Barra.
Berkali-kali Widia melihat jam dan mulai gelisah.
"Kenapa belum sampai rumah? Apa Hanna sudah berangkat menjemputnya? Ah ... Tapi tadi Hanna sudah aku ingatkan untuk menjemput Barra. Bahkan aku mau ikut saja tidak boleh. Apa mereka mampir ke suatu tempat dulu?" berbagai pertanyaan memenuhi kepala Widia.
"Tunggu saja sebentar lagi, kalau belum datang juga aku akan menjemput Barra naik taksi," gumam Widia.
Setelah satu jam Hanna dan Barra belum juga pulang. Widia sudah sangat gelisah. Berkali-kali diliriknya jam dinding. Tapi yang di tunggu-tunggu tidak datang juga.
Tiba-tiba bel berbunyi. Widia setengah berlari menuju pintu depan dan segera membukanya.
Widia meneteskan air mata melihat putranya berdiri di depan pintu. Ditatapnya sang anak dengan haru. Penampilan Barra terlihat bersih dan rapi dengan badan yang lebih segar dibandingkan terakhir kali mereka bertemu.
"Ibu ..." Barra segera memeluk ibunya dan keduanya larut dalam tangisan. Betapapun jahatnya Widia, dia tetaplah seorang ibu yang menyayangi anaknya.
"Bagaimana kabarmu Barra? Ayo kita masuk. Ibu sudah menyiapkan makanan kesukaanmu."
Barra mengangguk. Sambil merangkul ibunya dia berjalan memasuki rumah.
"Dimana Alicia bu?"
"Dia sedang tidur. Sebaiknya kamu bersihkan badanmu dulu. Lalu kita makan."
"Aku ingin melihat Alicia dulu. Aku sudah rindu sekali dengannya." Barra berlari menuju kamar Alicia tanpa mendengar kata-kata ibunya.
Widia yang melihat Barra begitu semangat untuk melihat Alicia menjadi menjadi kesal. Dia kembali teringat kebohongan Hanna.
Beberapa saat kemudian Barra sudah turun kembali untuk menemui ibunya.
"Ayo kita makan Bu, aku juga sudah rindu masakan ibu. Alicia sedang tidur nyenyak. Aku tidak akan mengganggunya. Tapi aku sudah tidak sabar menunggunya bangun. Aku gemas sekali melihatnya," ucap Barra sambil mengunyah makanannya.
Widia hanya diam mendengarkan Barra mengoceh tentang Alicia.
"Bagaimana kabar ibu?" tanya Barra ketika menyadari ibunya itu lebih banyak diam.
__ADS_1
"Seperti yang kamu lihat. Ibu sekarang seperti pembantu di rumah ini."
"Dimana Hanna? Kenapa dia tidak menjemput ku?"
"Hanna tidak menjemput mu? Lalu bagaimana kamu pulang? Aku sudah memberi tahunya untuk menjemputmu!"
Barra hanya mengangkat bahunya.
"Dia memang keterlaluan Barra. Ibu salah telah memilih dia."
"Ibu bicara apa? Kalau bukan karena dia mungkin sekarang ibu yang di penjara. Dia sudah menolong ibu."
Kata-kata Barra membuat Widia terdiam. Kembali lagi dia teringat kesalahannya. Ini semua karena dirinya.
Kemudian Barra mendengar suara tangisan Alicia.
"Alicia sudah bangun." Tanpa berpikir panjang dia langsung berlari menuju kamar Alicia. Setelah beberapa saat dia turun membawa Alicia dalam gendongannya. Entah bagaimana caranya Alicia terlihat tenang dalam gendongan Barra. Dia terlihat sudah terbiasa dengannya.
"Anak Papa sudah bangun ... Hmmm ... Papa rindu sekali denganmu nak." Barra menciumi pipi gembul Alicia. Widia yang melihat kedekatan Barra dengan Alicia menjadi kasihan.
Dia berhak tahu.
"Barra ... Ibu ingin bicara denganmu."
"Dia cantik ya Bu? Tentu saja, kan Hanna cantik dan aku juga tampan." Barra bicara sendiri.
"Ayo Papa temani kamu main."
Barra membawa Alicia pergi dari ruangan itu. Sementara Widia hanya bisa melihat mereka tanpa bisa berkata-kata.
Tak berselang lama Hanna muncul. Dia melihat Widia dengan malas dan terus berjalan tanpa menghiraukannya.
"Berhenti kamu perempuan licik!" cegah Widia. "Darimana saja kamu? Kenapa kamu tidak menjemput Barra tadi?"
"Oh ... Aku lupa. Dia sudah pulang?" tanya Hanna cuek.
"Kaktu enteng sekali bilang kamu lupa menjemputnya!"
"Ya memang aku lupa, mau bagaimana lagi?!" Hanna terus berjalan meninggalkan Widia. Dia berjalan mencari sumber suara Barra dan Alicia yang terdengar sedang tertawa. Hanna menemukan mereka berdua di ruang keluarga.
"Alicia Mama pulang," sapa Hanna. Bocah kecil itu langsung menoleh ke arah mama nya dan tertawa. Dia sedang berada di atas punggung Barra. Mereka sedang bermain kuda-kudaan sepertinya.
__ADS_1
"Lihat ... Mama sudah pulang." Barra menurunkan Alicia dari atas punggungnya.
Alicia mendekati mereka berdua.
"Kamu sudah pulang?" tanya Hanna basa basi.
"Kenapa tidak menjemput ku?" tanya Barra dingin.
"Aku ada pekerjaan tadi. Kamu tahu kan aku harus mencari uang sekarang?"
Barra menjadi merasa bersalah mendengar jawaban Hanna, padahal Hanna hanya mengarang cerita. Dia tidak pernah bekerja karena selama Barra di penjara dia mendapat uang dari Affandi.
Affandi berani mengiriminya uang karena dia merasa kesepakatannya dengan Malik dan Hanna hanyalah gertakan belaka, seperti yang dikatakan Hanna.
"Maafkan aku ... aku akan bekerja setelah ini. Pasti ada perusahaan yang mau menerimaku." Barra memeluk Hanna.
"Kamu merindukan ku?" tanya Barra. Hanna mengangguk tidak yakin. Kemudian Alicia menarik-narik tangan Barra mengajaknya bermain lagi.
"Anak Papa ingin bermain lagi?" tanya Barra. Anak kecil itu hanya menganggukkan kepalanya.
"Ajak Mama untuk bermain bersama kita," ucap Barra. Alicia yang belum bisa bicara mengerti maksud perkataan Barra. Kemudian dia menarik-narik tangan Hanna.
"Mama ikut bermain?" Alicia mengangguk. "Baiklah ..." Kemudian Hanna bergabung bersama mereka. Mereka benar-benar terlihat seperti keluarga yang bahagia.
Widia yang melihat kebersamaan ini dari tempatnya berdiri jadi terharu. Dia tidak ingin merusak kebahagiaan yang sedang di rasakan oleh Barra. Tapi dia juga tidak terima jika Barra terus dibohongi oleh Hanna.
* * *
"Ibu ... kemarin ibu bilang ingin bicara denganku? Apa yang ingin ibu bicarakan?" Barra mendatangi ibunya di kamarnya.
"Dimana Hanna?"
"Pergi, dia bilang ada pekerjaan. Apa ibu ingin membicarakan masalah Hanna? Dia tidak bersikap baik pada ibu?"
"Dia tidak pernah bersikap baik pada ibu. Dia tidak pernah menghormati ibu. Beda sekali dengan Rania. Ibu menyesal Barra. Ibu menyesal telah membuat hidupmu berantakan. Semua ini salah ibu." Widia bicara dengan mata berkaca-kaca. Tampak sekali penyesalan di wajahnya.
"Sudahlah Bu, sudah terjadi. Aku sudah bisa menerimanya. Lagi pula, jika tidak begini, aku tidak akan memiliki Alicia. Aku merasa bahagia Bu ... Alicia adalah hidupku sekarang. Aku akan menjadi lebih baik demi Alicia," balas Barra.
Widia semakin merasa bersalah.
"Maafkan ibu Barra ... Tapi Alicia bukanlah anakmu ..." ucap Widia sambil meneteskan air mata. Dia tahu kata-katanya ini akan melukai perasaan Barra.
__ADS_1
"Kamu mungkin akan sulit mempercayainya tapi itu benar. Alicia bukanlah anak kandung mu."
"Ibu bicara apa?"