Balasan Untuk Suamiku

Balasan Untuk Suamiku
Jus Mangga


__ADS_3

"Rania ... boleh ibu bicara sebentar?" Mertua Rania dengan ragu-ragu memasuki kamar.


Rania segera menoleh, dia tidak menyangka mertuanya yang mengetuk pintu. Sudah lama sekali Rania tidak mendengar mertuanya bicara dengan nada seperti ini.


"Bicara saja Bu, ada apa?" balas Rania datar.


"Tidak bisakah kita bicara berdua saja?"


"Mbak Imah sedang memijit kakiku, ibu bicara saja tidak apa-apa."


"Ibu ingin minta uang lagi. Tidak banyak, sepuluh juta saja."


Rania kecewa mendengar permintaan mertuanya. Dia pikir mertuanya menemuinya untuk meminta maaf atas sikapnya selama ini. Ternyata ini diluar dugaannya. Mertuanya masih punya muka untuk meminta uang darinya.


"Bukankah baru beberapa waktu yang lalu ibu meminta lima juta dariku?"


"Iya ... Tapi aku perlu uang lagi sekarang. Ini penting sekali."


"Maaf Bu, aku tidak punya uang sebanyak itu sekarang," jawab Rania dingin. Seandainya mertuanya itu mau meminta maaf padanya dan mengakui kesalahannya selama ini, mungkin Rania akan memberikan seluruh uangnya yang masih tersisa. Tapi mertuanya tidak merasa bersalah, bahkan tidak ada penyesalan sama sekali.


"Tapi kamu punya kan di rekening mu? Kamu bisa mengambilkannya untukku sebentar?"


"Tidak bisa! Barra bisa memarahiku jika dia tahu aku keluar rumah. Lagi pula aku harus berjaga-jaga untuk biaya persalinanku nanti. Siapa tahu ibu mengusir ku sewaktu-waktu tanpa uang sepeser pun," sindir Rania.


Aku tidak akan diam lagi! Sudah waktunya aku melawan!


Mertua Rania tidak dapat berkata apa-apa. Dia tidak menyangka Rania berani mengatakan itu di depan pembantunya.


Tepat di saat bersamaan Bi Yani, pembantu yang mengurusi pekerjaan rumah datang.


"Maaf Bu, di bawah ada tamu dua orang laki-laki mencari Bu Widia," kata Bi Yani dari depan pintu yang masih terbuka.

__ADS_1


"Bilang saja saya tidak di rumah," balas mertua Rania cepat.


"Maaf Bu, tapi saya sudah terlanjur bilang kalau Bu Widia ada."


"Duh gimana sih Bibi ini? Kenapa tidak bertanya dulu?!" ucap mertua Rania sewot. Dia keluar dari kamar Rania dengan kesal.


"Aku sudah membuang harga diriku tapi perempuan itu tetap tidak mau memberi ku uang!" gerutu mertua Rania sambil menuruni tangga.


Sementara itu di dalam kamar, Rania tetap meminta Mbak Imah memijit kakinya sambil sesekali menyeruput jus semangkanya. Setelah bertahun-tahun menjadi budak di rumah ini, sekarang dia benar-benar sedang menikmati hidupnya. Kapan lagi bisa mendapat perlakuan istimewa seperti ini?


"Jadi sekarang Mbak Imah sudah bercerai dari suami Mbak Imah?" Rania ingin mendengar cerita lebih lanjut dari Mbak Imah. "Ngga apa-apa kan kalau saya nanya-nanya gini?"


"Ngga apa-apa lah Bu, bukan rahasia juga kok. Saya nggak bercerai. Status saya masih istri sah."


"Lah ... kok bisa gitu? Mbak ngga mau gugat cerai? Apa ngga mau diceraikan?"


"Saya ngga mau gugat Bu. Suami saya juga ngga mau menceraikan saya. Kan saya tinggal di rumah suami sama mertua saya. Kalau saya di cerai berarti saya harus pergi dari rumah itu. Terus saya sama anak-anak mau tinggal di mana? Uang untuk ngontrak rumah kan bisa saya pakai untuk bayar sekolah anak-anak." Rania terharu mendengar cerita Mbak Imah.


"Ya itu tadi Bu, kan saya tinggal sama mertua saya. Kalau saya di cerai terus pergi dari rumah itu, yang ngurus ibunya siapa? Makanya saya tetap dijadikan istrinya walaupun hanya status, agar ada yang merawat ibunya, ya mertua saya itu."


"Kok Mbak Imah mau? Itu kan artinya Mbak Imah hanya dimanfaatkan?"


"Ya ngga apa-apa sih Bu, mertua saya sudah saya anggap seperti ibu sendiri. Dia baik banget sama saya dan anak-anak. Mungkin karena menyadari kesalahan anaknya. Begitu mertua saya tahu suami saya punya perempuan lain, dia langsung ngusir suami saya dari rumah. Padahal kalau dipikir-pikir, suami saya kan anak kandungnya. Tapi mertua saya malah lebih membela saya."


"Mbak Imah sabar banget ya, beruntung punya mertua yang baik dan sayang sama Mbak Imah." Rania mengamati wanita yang usianya terpaut cukup banyak dengannya. Penampilannya sangat polos khas perempuan-perempuan desa. Tidak ada sentuhan make up sama sekali. Baju-bajunya juga sangat sederhana.


"Iya juga sih Bu."


Rania termenung setelah mendengar keseluruhan cerita Bu Imah. Apa nasibnya nanti akan seperti Mbak Imah? Rela menjalani hubungan yang tidak jelas karena ketergantungan ekonomi?


Tidak, aku akan tetap bercerai! Tidak ada jaminan mereka tidak membuang ku setelah aku melahirkan nanti. Tidak ada jaminan juga mereka tidak merebut hak asuh anakku karena aku tidak mampu secara finansial. Belum lagi jika mereka tahu ini bukan anak Barra. Jadi apa nasibku nanti? Aku harus mencari pekerjaan setelah melahirkan!

__ADS_1


"Maaf Bu, Kalau boleh bertanya ... kenapa Bu Rania tadi bilang kalau Ibu Widia bisa mengusir ibu sewaktu-waktu? maaf kalau saya ingin tahu."


"Oh ... itu. Anggap saja hubungan kami ngga begitu baik Mbak. Aku ngga seberuntung Mbak Imah yang mendapatkan mertua yang sayang sama menantunya. Mbak Imah lihat sendiri kan tadi bagaimana sikapnya?"


Mbak Imah hanya manggut-manggut tidak berani bertanya lebih jauh.


Rania sudah malam tapi Barry belum juga pulang.Tapi Rania tidak khawatir seperti biasanya. Di juga tidak menanyakan keberadaannya.


"Mbak, temani aku nonton televisi di ruang tengah," ucap Rania. Saat ini hanya Mbak Imah yang menemaninya di rumah Mbak Imah baru boleh pulang setelah Barra pulang. Jika Barra libur kerja maka Mbak Imah juga libur. Sementara mertuanya tidak kelihatan sejak Bi Yani mengatakan ada tamu untuknya siang tadi. Setelah dipikir-pikir ada benarnya Barra membayar orang yang secara khusus melayaninya. Dia jadi tidak kesepian.


Terdengar suara mobil memasuki halaman. Tak berselang lama Barra memasuki rumah.


"Sayang ... maaf aku pulang telat. Aku mencari buah mangga kemana-mana tapi tidak menemukan satupun. Pedagang buah yang aku temui bilang ini memang belum musim mangga."


Rania menoleh. Dia tidak menyangka Barra mau melakukan itu untuknya, mencari buah mangga agar dia bisa minum jus mangga.


"Apa kamu masih ingin jus mangga?" tanya Barra. Dia terlihat kusut sambil membawa kantong plastik di tangan kirinya.


"Barra ... kamu tidak perlu repot-repot begitu. Aku bisa minum jus yang lain." Jauh di lubuk hatinya Rania merasa bersalah kepada Barra.


"Tidak ada yang repot istriku dan calon anakku." Sekali lagi hati nurani Rania bergejolak. Rasa bersalahnya semakin dalam mendengar Barra dengan bangganya menyebut 'anakku'.


Barra ... Seandainya saja kamu tahu ini bukan anakmu.


"Tapi aku membelikan kamu jus mangga dalam kemasan siap minum jika kamu benar-benar menginginkannya." Barra menyodorkan kantung plastik yang dia bawa kepada Rania.


"Terima kasih. Aku mau meminumnya." Rania segera menerima kantung plastik tersebut.


"Kamu beli banyak sekali." Rania meminum satu kotak jus mangga seperti sudah seharian tidak minum air. Ini hanyalah cara Rania menutupi rasa bersalahnya, juga untuk menghargai usaha Barra yang telah berusaha memenuhi keinginannya.


"Mbak, yang lain tolong dimasukkan kulkas. Aku akan meminumnya besok siang. Kamu boleh pulang setelah itu."

__ADS_1


"Baik Bu Rania, Saya permisi."


__ADS_2