Balasan Untuk Suamiku

Balasan Untuk Suamiku
Cukup Untuk Hari Ini!


__ADS_3

Malik dan Rania masih bergumul di bawah selimut, mengulangi kejadian waktu itu yang telah merubah hidup keduanya.


Rania ingin bangun tapi Malik menahannya.


"Aku ingin membersihkan badanku!" rengek Rania.


"Nanti saja, aku masih ingin begini bersamamu." Malik semakin mengeratkan lengannya di tubuh Rania. Akhirnya Rania pasrah. Dia menuruti keinginan Malik untuk tetap berbaring di sampingnya tanpa busana.


"Malik ... Sebenarnya bagaimana hubunganmu dengan Affandi?"


"Kenapa memangnya?"


"Aneh saja. Kadang kamu memanggilnya paman, tapi kadang memanggilnya tuan. Kalian seperti terlihat dekat, tapi juga terlihat berjarak," tanya Rania sambil memainkan rambut Malik. Wajah Malik bersembunyi di dada Rania sehingga kepalanya berada tepat di bawah wajah Rania.


"Aku tidak tahu. Kami dulu dekat, dia sangat setia pada Papa. Tapi sekarang aku ragu dengannya. Orang bisa berubah, apalagi ketika mereka memegang uang."


Malik mendongakkan kepalanya.


"Aku ingin bersikap tegas padanya, tapi aku juga tidak tega. Apa yang terjadi padamu adalah ulah laki-laki brengsek itu - Malik tidak mau menyebut nama Barra - dan Hanna. Paman Harun tidak tahu menahu tapi dia juga harus terkena akibatnya. Sebenarnya itu sedikit tidak adil menurutku. Kesalahannya hanyalah satu, dia terlalu memanjakan anaknya." Malik kembali menyembunyikan wajahnya di dada Rania.


"Apa dia benar-benar menyelewengkannya dana perusahaan?"


Malik diam lagi.


"Apa aku sudah cerita padamu jika dia memberi ku cek waktu itu. Cukup banyak nominalnya," ucap Rania.


"Benarkah? Kapan?"


"Waktu kita bertemu di restoran itu. Aku bilang aku sedang membuat kesepakatan dengannya. Tapi aku tidak berniat mencairkan cek itu, aku masih menyimpannya."


"Oh ... Jadi dia menggunakan uangku untuk menyuap istriku?" Malik tertawa.


"Waktu itu dia belum tahu kalau kita punya hubungan. Dan aku juga belum tahu kalau perusahaan itu milikmu."

__ADS_1


"Itu milikmu kalau kamu mau," Malik kembali mendaratkan bibirnya di dada Rania dan membubuhkan tanda merah di sana.


"Malik ... hentikan!!! Sudah cukup untuk hari ini!"


* * *


Hanna menemui Affandi di kantornya.


"Bagaimana? Dia sudah menghubungimu?" tanya Affandi.


Hanna hanya mengangguk pelan.


"Aku harus bagaimana Pah?"


"Terserah kamu sayang. Papa ikuti saja keinginanmu."


"Aku tidak mau hidup miskin. Tapi aku juga ingin putriku tetap bersama Papa nya. Kemungkinan berapa lama jika nanti dia dipenjara?"


"Papa tidak tahu. Lebih baik kamu pikirkan baik-baik sebelum membuat keputusan."


"Jika dia mau menyerahkan diri, dan dipenjara maka papa akan tetap di posisi ini. Tapi kalau dia tetap bersembunyi mungkin Malik akan segera mengambil alih perusahaan dan kamu tahu apa itu artinya."


"Dia meminta kembali semua aset dari perusahaan?" tanya Hanna.


"Dia ingin menghukum kamu melalui Papa."


Hanna diam, menimbang-nimbang perkataan Papa nya.


"Apa yang dia takutkan? Karirnya sudah hancur sekarang. Perusahaan tempatnya bekerja pasti sudah memecatnya. Apa yang dia dapatkan jika dia tetap bersembunyi?" tanya Affandi.


"Jika dia dipenjara, Malik tidak akan meminta perusahaan ini. Dan mungkin secara diam-diam Papa bisa meminta kenalan Papa untuk memberikan dia posisi di salah satu perusahaan mereka."


"Tapi Pah, bagaimana aku mencukupi kebutuhan ku selama Barra dipenjara? Aku tidak tidak punya uang. Papa harus memberiku uang bulanan seperti dulu."

__ADS_1


"Akan Papa usahakan."


* * *


Hanna sudah kembali ke rumahnya. Sampai di rumah dia menemukan anaknya sedang di gendong oleh sang mertua karena hari ini Imah tidak datang.


"Hanna ... Kamu dari mana saja? Ibu capek mengurus rumah dan masih harus menjaga si Kecil. Rania dulu tidak pernah kelayapan sendiri seperti kamu! Dia selalu mengurus rumah dan menyiapkan semua sendirian!" Mertuanya sudah mulai berani mengomelinya.


"Aku mencari anak laki-laki mu yang sangat ibu banggakan itu! Dan tolong jangan samakan aku dengan mantan menantu mu!" jawab Hanna sambil meraih anaknya dari gendongan mertuanya.


"Dia saja yang terlalu bodoh karena mau kalian jadikan babu! Dan aku juga terlalu bodoh karena mau melunasi hutang-hutang kalian! Sekarang Papa ku tidak mau memberiku uang lagi gara-gara kalian!" balas Hanna tak sewot.


"Tapi selama ini kamu mengambil semua gaji Barra setiap bulannya dan itu tidak sedikit! Rania yang hanya diberi jatah setengah dari gaji Barra saja bisa menggunakannya untuk sebulan, bahkan masih punya sisa. Dan kamu hanya untuk dirimu sendiri saja kurang!"


"Jangan samakan aku dengan perempuan itu!!!" Hanna mulai geram.


"Aku tidak pernah melakukan pekerjaan rumah sebelumnya. Dan sekarang aku tidak lebih dari seorang pelayan di rumah ini! Aku pikir aku benar karena telah mengenalkan Barra denganmu tapi ternyata aku salah! Harusnya aku biarkan saja Barra bersama Rania, toh ternyata dia tidak mandul seperti yang aku pikirkan!" balas mertuanya tak kalah sewotnya.


"Kalau ibu menyesal sudah mengenalkan aku dengan anakmu, ibu boleh meminta Rania kembali kepada anakmu!!! Aku berani jamin dia pasti tidak akan sudi kembali ke rumah ini karena dia sekarang sedang sangat bahagia bersama suami barunya yang kaya raya, Bukan rongsokan seperti Barra!"


"Memangnya ibu tahu sekarang Barra ada dimana? Kenapa dia tidak ada kabar? Dia sekarang buronan polisi karena telah mencoba mengacaukan pesta pernikahan mantan istrinya!!! Ibu sadar sekarang? Anakmu menjadi seorang buronan! Dan tidak ada yang bisa dibanggakan dari seorang buronan!"


Mertuanya menganga tidak percaya. "Jangan asal bicara! Dia pasti sedang sibuk karena itu tidak bisa memberi kabar!" Mertuanya mencoba mengelak.


"Memangnya apa yang dia katakan ketika terakhir kali dia menelpon ibu?" Sekarang Widia diam tidak bisa menjawab.


"Kalau ibu sangat menyesal karena Barra telah menikah denganku, ibu bisa mengembalikan uang yang telah aku gunakan untuk melunasi hutang-hutang ibu dan aku akan keluar dari rumah Ini!! Tapi kalau ibu tidak bisa mengembalikannya, lebih baik ibu diam dan lakukan saja apa yang aku perintahkan!!! Jangan harap ibu bisa menghabiskan uangku lagi!!!"


Hanna berlalu dari hadapan mertuanya dengan wajah masam karena menganggap seolah-olah dialah yang paling buruk dari semua penghuni rumah ini.


Hanna melangkahkan kakinya menaiki tangga. Tangannya menggendong erat bayinya yang sekarang menjadi prioritas hidupnya. Dia sudah lupa dengan segala kemewahan dan pesta yang identik dengan artis sosial media. Terlebih lagi ukuran tubuhnya yang membengkak setelah melahirkan membuatnya tidak percaya diri untuk mengikuti acara-acara semacam itu.


Hanna meletakkan bayinya di tempat tidurnya. Sejak Barra tidak berada di rumah, dia membawa bayinya tidur satu ranjang dengannya.

__ADS_1


Setelah bayi mungil itu terlelap, Hanna meraih ponselnya dan menunggu Barra menghubunginya. Dipandanginya foto pernikahan yang sekarang menjadi foto layar handphone-nya. Memang bukan pernikahan tanpa cinta, tapi setidaknya anaknya punya ayah, hanya itu tujuan awalnya menikah.


Tapi dia tidak menyangka kalau hidupnya akan serumit ini setelah menikah. Masalah demi masalah terus datang dan semua itu berawal dari dirinya sendiri. Sekarang dia harus berpikir matang-matang sebelum membuat keputusan.!!


__ADS_2