Balasan Untuk Suamiku

Balasan Untuk Suamiku
Perang Dingin


__ADS_3

Rania menggeliat dan menoleh ke samping, dia melihat Barra masih tertidur pulas dengan tangannya merangkul perutnya. Hampir setiap malam setelah dirinya terlelap Barra diam-diam menyusul ke kamar dan tidur di sampingnya. Berulangkali Rania mengusirnya tapi dia tetap memaksa.


Mana ada pasangan yang akan bercerai tapi tidur masih berpelukan begini?


Jika dulu Rania akan bergegas bangun kemudian memasak dan membereskan rumah, sekarang tidak lagi. Barra tidak mengijinkannya melakukan pekerjaan apapun. Semuanya sudah dikerjakan oleh pembantu. Bahkan semua kebutuhan Rania sudah disiapkan oleh pelayan khusus untuknya sendiri.


Barra sangat memanjakannya. Sekarang dia tidak hanya posesif, tapi juga overprotektif. Dia tidak ingin membiarkan Rania sendirian dan tidak mau sesuatu terjadi padanya saat tidak ada yang menemani.


Barra menggeliat, membuat Rania segera memalingkan pandangannya ke arah lain. Rania hendak menyingkirkan tangan Barra dari perutnya. Dia ingin ke kamar mandi.


"Kenapa? Kamu ingin muntah? Kamu perlu sesuatu?' Barra langsung terbangun begitu merasakan tangan Rania menyentuh tangannya.


"Aku hanya ingin ke kamar mandi."


"Baiklah ... aku antar." Barra bergegas berdiri hendak memapah Rania.


"Ya ampun Barra, aku hanya akan ke kamar mandi. Aku bisa jalan sendiri!"


"Oh ... ya sudah," ucap Barra dengan wajah kecewa.


* * *


Barra sudah bersiap-siap akan berangkat kerja. Sementara Rania kembali berbaring di tempat tidurnya. Tidak ada lagi kebiasaan menyiapkan baju dan dasi yang serasi. Atau teriakan Barra minta diambilkan kaos kaki. Selain karena Barra sudah melarangnya, Rania sendiri juga malas melakukannya.


"Sayang ... Kamu mau sarapan di bawah atau aku suruh Mbak Imah mengantarkan sarapan mu ke kamar?"


"Barra ... berhenti memanggilku seperti itu."


"Kamu masih istriku, aku bebas memanggilmu sesukaku. Sayang ... bisa bantu aku memakai dasi ini?"


"Aku akan makan di bawah," balas Rania tanpa menghiraukan permintaan Barra. Dia meninggalkan Barra yang masih sibuk merapikan penampilannya.

__ADS_1


Sampai di bawah Rania menemukan mertuanya sudah duduk di meja makan. Tatapan mereka tidak sengaja bertemu membuat mertuanya langsung mengalihkan pandangannya. Sejak malam itu memang sikap mertuanya kepada Rania berubah. Walaupun tatapannya masih menunjukkan tanda ketidaksukaannya tapi perlakuannya terhadap Rania sedikit melunak.


Tidak ada lagi gedoran di pintu menyuruhnya mengerjakan sesuatu, ataupun omelan tentang kerjaannya yang tidak beres apalagi sebutan perempuan mandul yang dulu seringkali diucapkannya. Setiap kali mereka bertemu di meja makan pun mertuanya itu lebih banyak diam.


Rania juga tidak berusaha untuk memperbaiki hubungannya dengan mertuanya. Selama mertuanya itu belum minta maaf padanya dia tidak akan bersikap baik padanya. Perang dingin ini justru lebih bagus menurut Rania, dengan begini mertuanya tidak akan berani untuk meminta uang lagi padanya.


"Mbak Imah masak apa untukku?" tanya Rania pada Mbak Imah, pelayan yang khusus melayaninya. Mbak Imah adalah salah satu orang yang waktu itu mengikuti wawancara bersama agen penyalur PRT. Rania memilihnya karena dia belum begitu berumur jadi kerjanya cekatan. Selain itu dia juga bisa mengendarai motor jika sewaktu-waktu Rania ingin dibelikan sesuatu dia bisa meminta tolong sama Mbak Imah.


"Pak Barra meminta saya memasak sup brokoli dan ikan salmon untuk Ibu," jawab Mbak Imah. Bahkan sekarang menu makanan Rania di buat terpisah dari penghuni rumah yang lain. Semua gizi yang masuk ke perut Rania sangat diperhatikan oleh Barra.


"Ya sudah, bolehlah ... "


Tanpa menunggu Barra turun, Rania langsung mengambil makan sendiri. Dia juga tidak menyapa mertuanya terlebih dahulu.


Mertuanya hanya diam saja. Dia tidak mengomel seperti biasanya. Mungkin dulu jika Rania melakukan hal seperti ini, pasti dia sudah habis diomeli mertuanya. Tapi sekarang mertuanya itu tidak berani berulah. Rania mau bertingkah seperti apapun mertuanya itu tidak berani berkomentar.


"Sayang ... Kamu tidak menungguku dulu?" tanya Barra begitu sampai di meja makan.


"Aku sudah lapar," jawab Rania acuh.


"Aku sudah selesai." Rania berdiri setelah menghabiskan susunya. "Mbak ... nanti siang tolong buatkan aku jus mangga ya," ucap Rania kepada Mbak Imah.


"Tapi Bu ... baru tidak musim mangga, saya nyari mangga dimana?"


"Iyakah? padahal aku pengen banget jus mangga. Ya sudah Mbak, jus semangka aja, nanti diantar ke kamar ya ..." Rania pergi meninggalkan ruang makan tanpa mengucapkan apa-apa pada Barra atau mertuanya.


Mertua Rania menatap sinis kepergian Rania. "Apa kamu tidak berlebihan memperlakukannya?"


Barra diam. Menjawab ibunya sama saja memperpanjang masalah.


"Dia memang sedang hamil, tapi kamu tidak perlu juga memanjakannya sampai seperti itu. Ini berlebihan menurut ibu!"

__ADS_1


Barra masih diam.


"Kenapa kamu diam saja? Ibu sedang bicara denganmu!"


"Aku sedang menebus kesalahanku Bu. Jika dia tidak memaafkan ku maka aku tidak akan bisa bertemu anakku karena dia akan membawanya pergi. Apa ibu mau?!"


"Ya tidak juga."


"Kalau begitu sebaiknya ibu mulai bersikap baik padanya atau nanti dia tidak akan mengijinkan ibu menggendong cucu ibu!" ancam Barra.


Siang harinya seperti yang sudah Rania minta, mbak Imah mengantarkan jus semangka ke kamarnya. Setelah itu Rania memintanya untuk memijit badannya.


"Dulu ... aku yang mengerjakan semua pekerjaan di rumah ini. Tapi sekarang aku tidak mengerjakan pekerjaan apa-apa, hanya tiduran dan mainan handphone tapi badanku malah terasa capek banget, bawaannya lemes terus."


"Memang begitu kan Bu, orang kalau udah biasa kerja terus ngga mengerjakan apa-apa badannya justru pada pegal-pegal. Di tambah lagi Ibu sekarang sedang hamil dan sering muntah, pasti lemes."


"Mbak Imah dulu waktu hamil juga gini rasanya?"


"Waktu hamil pertama sih gitu Bu, ngga nafsu makan terus lemes. Pengen dimanjain terus sama suami. Tapi waktu hamil kedua sudah ngga bisa manja-manja lagi. Pusing, lemes saya tahan. Kan saya harus kerja demi memenuhi kebutuhan hidup."


"Memang suami Mbak Imah kemana?"


"Suami saya kabur sama perempuan lain waktu kehamilan saya memasuki usia dua bulan."


"Mbak Imah ngga nyoba nyari gitu dimana suaminya?"


"Sekali dua kali saya cari. Tapi setelah itu ngga pernah lagi. Kalau suami saya sampai pergi sama perempuan lain berarti itu sudah diinginkannya. Saya cari pun kalau dia lebih memilih bersama wanita itu terus saya mau apa? mau gimana? Ya sudah saya pasrah saja."


"Kan suami Mbak Imah punya kewajiban biayain anak-anak?"


"Ngga ada bedanya Bu, toh selama menikah saya juga ikut nyari duit buat mencukupi kebutuhan hidup. Duit suami saya pasti sebagian sudah dikasih ke perempuan itu. Lagian duit suami saya berapa sih Bu, beda sama suami ibu."

__ADS_1


Tiba-tiba ada yang mengetuk pintu kamar, membuat obrolan Rania dan Mbak Imah terjeda.


"Masuk ... " Rania langsung menyuruh masuk. Dia pikir itu adalah Bi Yani, pembantu yang satunya lagi.


__ADS_2