Balasan Untuk Suamiku

Balasan Untuk Suamiku
Seblak


__ADS_3

Rania mengambil ponselnya. Dia ingin menghubungi Barra.


"Hallo ... Ada apa sayangku?" Suara Barra dari ujung telepon.


"Apa aku mengganggu?"


"Tentu saja tidak. Katakan kamu ingin apa?"


"Aku ingin makan seblak nanti."


"Seblak? Apa itu?"


"Masa nggak tau seblak sih? Coba nanti kamu cari tahu di internet."


"Iya, nanti aku browsing, habis itu aku belikan sekalian pulang nanti. Ada yang lain?"


"Nggak ada. Itu aja."


"Ya sudah, aku lanjut kerja dulu. Bye." Barra langsung menutup telponnya tanpa sempat Rania menjawab.


"Mungkin dia sedang sibuk," gumam Rania.


Ini sudah waktunya Barra pulang. Jam kantor kantornya adalah jam delapan sampai jam empat sore. Jika dia tidak lembur, mungkin sebelum jam lima dia sudah sampai di rumah. Dan pagi tadi Barra bilang kalau dia tidak lembur, jadi sebentar lagi dia akan sampai di rumah.


Sudah jam lima lebih tapi Barra belum juga sampai rumah. Rania yang sejak tadi menunggu sampai bosan. Dia coba menghubungi Barra lagi tapi tidak diangkat.


Sementara itu di tempat lain di sebuah apartemen, Barra sedang bersitegang dengan Hanna.


"Iya ... Aku sudah berjanji akan menikahi kamu tapi tunggu dulu!"


"Tapi aku harus menunggu berapa lama? Perutku ini tidak mungkin bisa terus-terusan aku sembunyikan!"


"Dengar Hanna, Aku mempunyai seorang istri yang juga sedang hamil. Aku tidak bisa menceraikan dia begitu saja."


"Bukankah waktu itu kamu bilang kalau kamu akan segera bercerai dari istrimu, karena itu aku mau dekat denganmu!"


"Iya ... tapi waktu itu dia belum hamil. Sekarang aku tidak bisa menceraikan dia."

__ADS_1


"Lalu aku bagaimana? Nasib anakmu yang ada di perutku ini bagaimana?!"


"Tunggu dulu ya .. Akan aku pikirkan jalan keluarnya. Kamu sabar saja aku pasti tangguh jawab."


"Bukan tanggung jawab yang aku butuhkan! Kamu tahu kekayaan mama papaku tidak ada apa-apanya dibandingkan uangmu! Aku lebih dari mampu untuk sekedar menghidupi anakku. Yang aku butuhkan adalah status!!" ucap Hanna kemudian pergi meninggalkan Barra dan menuju kamarnya. Tidak lupa dia membanting pintu keras-keras untuk melampiaskan kekesalannya.


Barra berteriak geram. Dia tidak menyangka hubungan singkat yang dia jalin bersama Hanna akan membuahkan hasil. Dan semua ini karena dia menuruti keinginan ibunya.


Barra terduduk lemas di sofa. Di usap-usapnya mukanya dengan kasar menandakan dia sedang kebingungan. Bertahun-tahun dia menantikan kehamilan Rania, dan sekarang orang yang baru beberapa kali berhubungan badan dengannya juga hamil.


Antara senang dan bingung , Barra tidak tahu harus bagaimana. Dia senang akan segera memiliki dua orang anak di waktu yang hampir bersamaan. Tapi dia juga bingung bagaimana caranya memberi tahu Rania. Baru beberapa hari hubungannya dan Rania kembali pulih, sekarang akan renggang lagi, bahkan mungkin tidak akan terselamatkan karena kesalahannya. Sungguh Barra tidak bisa menerimanya.


Andai saja dulu dia tidak mengikut kata-kata ibunya untuk mencari perempuan lain. Andai dulu dia tidak mau dikenalkan pada Hanna, andai dulu dia mengambil keputusan sendiri tanpa selalu dalam pengaruh ibunya, andai ... andai ... andai...


Barra tidak sadar dia sudah lama terduduk di sofa. Dilihatnya jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul tujuh malam. Saking buntu pikirannya sampai dia melupakan Rania. Dia juga lupa tidak menghubunginya dan mengatakan akan pulang terlambat seperti sebelumnya.


Ya, kemarin dia tidak lembur, Hanna meminta untuk bertemu dengannya dan memberitahu kalau dia sedang hamil. Alhasil Barra mengatakan pada Rania kalau dia ada lembur padahal dia sedang bertemu dengan Hanna.


"Ya ampun ... Rania!" Barra segera berdiri dan meraih tas kerjanya. Dia mencari ponselnya yang tadi dia letakkan di dalam tas. Barra mengambil handphonenya itu dan membukanya. Benar ada beberapa panggilan masuk dari Rania.


"Dia tadi minta dibelikan apa ya? Aku sampai lupa!" Barra berpikir keras.


Sebenarnya, Barra tidak begitu tertarik dengan Hanna, bukannya dia tidak cantik tapi Barra sebenarnya sangat mencintai Rania. Hanya saja waktu itu pikiran Barra sedang kalut, ibunya terus menyuruhnya menceraikan Rania dan menikah dengan perempuan lain agar segera bisa punya anak. Selain itu hubungannya yang sedang renggang dengan Rania membuatnya tidak bisa menyalurkan hasrat se***alnya. Lalu dijadikan lah Hanna sebagai pelampiasannya. Tapi tak disangka sekarang Hanna juga hamil, yang diyakini Barra adalah anaknya.


Sampai di rumah sudah hampir jam delapan malam. Barra segera masuk dan mencari Rania di ruang makan. Hanya ada Bi Yani di sana sedang membereskan meja makan.


"Rania dimana Bi?" tanya Barra.


"Di kamarnya Pak, sama Imah," jawab Bu Yani sopan.


"Dia sudah makan?"


"Belum Pak Barra. Ini makanan yang saya masak masih utuh belum ada yang makan." Tangan Bi Yani menunjuk ke meja makan yang sedang dia bereskan.


"Memangnya Ibu juga tidak makan?" tanya Barra lagi.


"Ibu Widia belum pulang Pak."

__ADS_1


Barra mendesah pelan. "Ya sudah." Kemudian dia bergegas menuju kamarnya dimana Rania berada.


Tepat saat dia akan memasuki kamar, Mbak Imah keluar dari kamar hingga mereka berdua hampir bertabrakan.


"Maaf Pak Barra, saya tidak tahu kalau Pak Barra mau masuk kamar."


Barra hanya mengangguk. "Mana Rania?"


"Itu ... Ibu baru saja tidur. Tapi belum makan malam karena dari tadi nungguin Pak Barra katanya mau dibelikan seblak."


Barra kembali mengusap wajahnya gusar. Gara-gara menghadapi kerewelan Hanna dia jadi lupa apa yang diminta Rania.


"Jadi dia belum makan malam?"


"Belum Pak, tadi mau saya belikan seblak ngga boleh, saya masakin juga ngga mau. Katanya takut nanti kalau Pak Barra pulang bawain seblak ngga ada yang makan, seperti es buah waktu itu. Bu Rania dari tadi cemas mikirin Bapak soalnya Bapak ditelpon beberapa kali tidak diangkat," terang Mbak Imah.


Rasa bersalah semakin memenuhi hati Barra.


"Ya sudah, Mbak Imah sekarang siapkan bumbu dan bahan-bahan buat bikin seblak. Nanti di taruh di kulkas aja. Kalau sewaktu-waktu istriku ingin, aku bisa tinggal masak. Setelah itu Mbak Imah boleh pulang."


"Baik Pak."


Barra bergegas masuk ke kamar. Dihampirinya istrinya yang sedang terlelap itu. Dipandanginya wajahnya hingga dia hampir meneteskan air mata karena teringat Hanna. Bagaimana bisa dia menjelaskan kepada Rania jika ada perempuan lain di luar sana yang juga sedang mengandung anaknya.


Barra ingin sekali menyentuh pipi Rania tapi takut itu akan membangunkannya.


Setelah selesai mandi Barra langsung menyusul Rania ke tempat tidur. Dengan pelan dia merebahkan tubuhnya di samping Rania sambil membuka ponselnya mencari tahu makanan seperti apa yang namanya seblak itu dan bagaimana cara masaknya. Untuk berjaga-jaga iika Rania menagihnya nanti jika dia terbangun.


Setelah dia paham, barulah dia tutup ponselnya kemudian dia ciumi Rania dengan berani. Di kecupnya seluruh wajah Rania tanpa ada yang terlewat sedikitpun.


Merasakan ciuman di seluruh wajahnya, Rania membuka matanya.


"Kamu sudah pulang?" tanyanya.


Barra hanya membalasnya dengan ciuman.


"Mana seblak ku?" tanya Rania.

__ADS_1


Aku benar kan?


__ADS_2