
"Bagaimana ini Imah? Aduh .... kumaha ini teh Bu Rania?" Bi Yani terlalu panik hingga aksen daerahnya keluar.
"Kita bawa ke kamar dulu Bi," ajak Imah.
"Bibi teh nggak kuat kalau angkat Ibu naik tangga, kita angkat sampai sofa aja atu."
"Ya udah kita bawa ke sofa aja."
Keduanya ngos-ngosan setelah menggotong tubuh Rania dari depan pintu hingga ke sofa di ruang tamu.
"Terus gimana Bi?" tanya Imah setelah mereka berhasil membaringkan tubuh Rania di sofa.
"Kamu hubungi Pak Barra, bibi akan cari minyak kayu putih untuk menyadarkan Bu Rania."
Bi Yani segera berlari menuju tempat penyimpanan obat-obatan. Imah pun segera mengambil ponselnya dan menghubungi Barra. Berkali-kali dia coba tapi tidak juga tersambung dengan nomor majikannya itu.
"Apa Pak Barra sedang meeting, Ibu Rania pernah bilang kalau Pak Barra di telfon nggak diangkat artinya beliau sedang meeting. Tapi ini kan jam makan siang? Masak masih meeting?" Imah bicara sendiri sambil mondar mandir di depan Rania dibaringkan.
"Gimana Imah? Sudah kamu beri tahu Pak Barra tentang kondisi Bu Rania?" Bi Yani sudah kembali sambil membawa minyak kayu putih di tangannya.
"Nomor Pak Barra tidak bisa dihubungi Bi. Gimana ini? Nanti Pak Barra bisa marah kalau sampai terjadi sesuatu pada Bu Rania tapi beliau tidak diberi tahu."
"Kamu teh coba telfon terus aja," ucap Bi Yani sambil mengoleskan minyak kayu putih di beberapa bagian tubuh Rania.
Beberapa menit kemudian Rania mulai sadar. Dia segera duduk dan memijat kepalanya sendiri.
"Bu Rania sudah merasa lebih baik?" tanya Imah.
Rania hanya mengangguk meskipun wajahnya masih terlihat pucat.
"Kertas tadi mana Mbak? Kalian menyimpannya?"
"Oh ... Ini Bu." Imah menyerahkan kertas pembawa berita buruk itu kepada Rania.
Di buka lagi kertas itu oleh Rania. Dilihatnya berulang-ulang hingga dia hampir hafal isinya. Setiap angka tidak luput dari penglihatannya. Hingga pada tulisan paling bawah dimana tertulis jumlah total dari semua nominal yang tertulis di sana. Dada Rania kembali sesak melihat angka-angka itu. Ditutupnya lagi kertas itu dan diletakkannya di meja.
Baik Bu Yani maupun Imah hanya saling pandang melihat tingkah majikannya ini. Mereka melihat semuanya tadi, jadi mereka mengerti masalah apa yang sedang di hadapi majikannya itu.
Rania menyandarkan kepalanya di sofa.
"Mbak Imah tolong ambilkan aku es krim. Biasanya aku merasa lebih baik setelah makan es krim."
"Baik Bu ..." Imah segera berlari ke dapur mengambil es krim untuk Rania.
"Suamiku sudah dihubungi Bi?" tanya Rania pada Bi Yani yang masih berdiri di sana.
"Sudah Bu, sama Imah tadi tapi tidak tersambung. Udah berkali-kali Imah telfon tapi tetep nggak bisa."
"Bi Yani tolong ambilkan handphone ku di kamar."
__ADS_1
"Baik Bu ..." Bi Yani meninggalkan Rania hendak naik ke lantai dua. Dia berpapasan dengan Imah yang kembali dari dapur membawa es krim.
"Silahkan Bu ..."
"Terima kasih Mbak." Rania memakan es krim itu pelan. Entah senyawa apa yang terkandung di dalamnya tapi perlahan Rania merasa lebih rileks.
"Ibu mau dipanggilkan dokter? Wajah Ibu pucat sekali."
"Aku akan menghubungi temanku saja Bi, biar nanti dia ke rumah."
"Ini Bu ..." Bi Yani sudah kembali dan membawa handphone Rania.
"Terima kasih Bi ..."
Rania segera membuka ponselnya dan menghubungi seseorang. Bukan Barra melainkan Dewi. Kepalanya terasa pusing dan dadanya sesak. Dia ingin memastikan bayi yang dikandungnya baik-baik saja.
"Ada apa?" Suara Dewi tanpa basa basi.
"Kamu bisa ke rumahku sekarang?"
"Kamu sedang tidak sehat?"
"Begitulah ... "
"Baiklah, aku akan mampir sebelum ke rumah sakit. Kirimkan aku alamat mu."
"Oke." Dewi belum pernah berkunjung ke rumahnya sebelumnya, jadi wajar jika dia tidak tahu alamatnya.
"Baik Bu."
"Nanti kalau temanku datang langsung di suruh ke kamarku saja. Di seorang perempuan ... dokter," terang Rania. Dia pun berjalan menuju kamarnya sambil menggenggam kertas pembawa berita buruk itu.
"Baik Bu ..." jawab keduanya bersamaan.
* * *
"Apa yang kamu rasakan?" tanya Dewi sambil meletakkan stetoskop di dada Rania.
"Pusing dan sedikit sesak nafas, tidak bahaya kan?"
"Tidak," jawab Dewi sambil melipat kembali stetoskop dan memasukkannya ke dalam tasnya.
"Ini hanya pengaruh pikiran, bukan karena kehamilan mu bermasalah."
"Syukurlah, aku tidak mau bayiku kenapa-kenapa."
"Tidak, kandungan mu baik-baik saja. Justru kalau kamu banyak pikiran seperti ini maka kandungan kamu bisa kenapa-napa."
"Bagaimana aku tidak banyak pikiran, ada saja masalah di rumah ini ..." belum sempat melanjutkan ceritanya, pintu kamar tiba-tiba terbuka.
__ADS_1
Barra berlari masuk ke dalam kamar.
"Ran ... kamu tidak apa-apa sayang?" Barra yang terlihat panik langsung nyelonong masuk begitu saja tanpa memperhatikan Dewi yang juga ada di sana.
"Kamu sudah pulang? Jam berapa ini?" sambut Rania.
"Kamu pucat sekali. Kamu tidak apa-apa?"
"Aku tidak apa-apa. Ada Dewi yang sudah memeriksa kondisiku." Rania melirik ke arah Dewi yang masih berdiri di sana.
"Oh ... Maaf Dokter Dewi, saya sampai tidak sadar anda di sini."
"Tidak apa-apa Pak Barra," jawab Dewi tersenyum.
"Jadi gimana kondisi istri saya Dok?" Barra bertanya dengan bahasa formal karena dia baru dua kali bertemu, setelah sebelumnya bertemu saat mengantarkan Rania periksa kehamilan.
"Tidak apa-apa Pak, tidak ada yang serius. Hanya perlu dijaga agar Rania tidak banyak pikiran."
"Oh ... gitu ya dok ..."
"Ya sudah, Ran ... aku harus pergi." Dewi menatap Rania. "Saya sudah memberikan resep vitamin untuk Rania, anda bisa menebusnya di apotek," ucapnya kemudian kepada Barra.
"Baik Dok ... terima kasih." Dewi tersenyum lagi kemudian pergi meninggalkan mereka berdua.
Barra kembali mendekat kepada Rania.
"Bagaimana kamu bisa pulang? Ini baru jam dua siang."
"Aku melihat banyak sekali panggilan masuk dari Imah. Lalu aku telfon dia dan dia bilang kamu tadi pingsan. Aku langsung ijin pulang."
"Iya tadi ... Memangnya nomormu kenapa sih? Sulit banget dihubungi?"
"Oh ... mmm ... tadi ada meeting mendadak," jawab Barra gelagapan.
"Di jam makan siang?"
"Iya ... "Bara semakin gelagapan. "Presdir minta harus segera diselesaikan. Karena itu aku matikan ponselku."
"Kamu sungguh-sungguh?"
Barra hanya mengangguk. "Jadi ... kenapa kamu sampai pingsan?"
Rania menunjukkan kertas pembawa berita buruk tadi kepada Barra.
"Apa ini maksudnya?" tanya Barra tidak mengerti. "Apa maksud angka-angka ini?"
"Tadi ada sekitar enam orang datang ke rumah. Mereka bilang akan menyita rumah ini jika ibu tidak segera melunasi hutangnya. Dalam waktu satu bulan hutang itu harus lunas, kalau tidak mereka akan menyita rumah ini dan juga memasukkan ibu ke penjara."
Barra ternganga tidak percaya mendengar cerita Rania.
__ADS_1
"Dan yang tertulis di kertas ini adalah jumlah hutang ibu?"
Rania mengangguk. "Bisa kamu bayangkan? Uang sebanyak itu?"