
Malam harinya Rania janjian untuk makan malam di luar dengan Dewi karena dia membutuhkan teman untuk bercerita. Rania sudah bersiap-siap dan akan segera berangkat. Melewati ruang tengah, Rania acuh saja walaupun di sana ada Hanna dan mertuanya. Mereka tampak tengah sibuk memilih sesuatu yang Rania pikir adalah desain kartu undangan pernikahan Hanna dan Barra.
Rania terus saja melewati mereka tanpa mengucapkan sepatah katapun.
"Hei ... Rania ... Mana menurutmu yang lebih bagus?" Hanna menghentikan langkah Rania dan menyodorkan dua contoh kartu undangan kepadanya. Tidak ada nada sindiran atau lirikan iblis seperti berniat jahat di baliknya.
Kalau dilihat dari sikapnya, Hanna benar-benar tidak bermaksud untuk menyinggung perasaannya. Wanita ini murni menanyakan pendapat kepada Rania. Dia hanya seperti gadis kecil yang sedang sangat bahagia karena akan merayakan pesta ulang tahunnya. Tapi hati orang siapa yang tahu?
"Memangnya aku peduli?! jawab Rania sinis.
"Kenapa kamu kasar sekali? Aku bertanya baik-baik kepadamu?"
"Kamu ... bertanya baik-baik? Kepada istri sah dari laki-laki yang akan kamu nikahi?" Rania menghela nafas. "Lalu aku harus jawab apa? Apa kamu tidak sekalian menjadikan aku Bridesmaid mu??" Rania semakin sengit.
"Hei ... Aku kan cuma bertanya? Kenapa kamu nyolot begitu?" Hanna tidak terima.
Rania mendekatkan bibirnya ke telinga Hanna. "Dengar pelakor kecil ...!!! Aku tidak masalah jika Barra lebih memilih mu dari pada aku. Tapi nanti pasti akan aku buktikan kalau anak yang kamu kandung itu bukanlah anak Barra!"
Hanna tampak membelalakkan matanya. "Jangan bicara sembarangan, aku bisa menuntut kamu dengan pasal pencemaran nama baik!"
Rania tertawa keras-keras. "Kamu yakin? Aku juga bisa menuntut mu dengan pasal perzinaan kalau begitu. Bagaimana? Kamu mau?"
Wajah Hanna berubah merah padam menahan marah.
Jangan macam-macam denganku. Lihat saja ... Aku akan menyingkirkan kamu sebelum kamu bisa melakukannya.
"Hei ... kenapa kalian ini? Rania apa yang kamu lakukan pada Hanna?" Mertua Rania tiba-tiba menyela mereka.
"Tanya saja sama calon menantu kesayangan ibu."
"Hanna ... kamu kenapa sayang? Apa dia membuat masalah denganmu?"
"Aku mencoba bersikap baik padanya, tapi dia malah memancing keributan."
"Aku harus pergi, aku terlalu bosan menghadapi drama seperti ini." Rania berjalan acuh melewati mereka berdua.
* * *
Di sebuah restoran...
Hanna sedang duduk sendirian menunggu Dewi. Sudah telat sepuluh menit tapi Rania masih setia menunggu. Dia bisa memaklumi jika Dewi terlambat karena profesinya sebagai seorang dokter.
Tak lama kemudian Dewi tiba.."Hai ... Kamu sudah lama?" tanya Dewi yang langsung duduk di kursi tepat berhadapan dengan Rania.
"Lumayan ... Aku sudah memesankan makanan untukmu. Biasanya kan?"
"Iya ... Terima kasih ... " Langsung melahap makanan di depannya.
__ADS_1
"Sepertinya kamu buru-buru?"
"Besok aku ada seminar di luar kota. Nanti jam sepuluh malam aku berangkat diantar suamiku."
"Kalau begitu kamu harus pulang sekarang. Nanti kamu terburu-buru."
"Tidak apa-apa, semuanya sudah dibereskan pembantuku di rumah. Aku masih ada waktu kalau hanya untuk ngobrol denganmu, selain itu aku juga janjian dengan seseorang di sini."
"Jadi, ada apa? Kita sudah lama tidak ngobrol, sejak kamu hamil. Ku akui dia sangat memanjakan kamu." Dewi mulai bicara sambil terus mengunyah makanannya.
"Kamu pasti akan segera menarik kata-kata mu jika aku cerita apa yang ku alami sekarang."
"Ada apa lagi?"
"Barra akan menikah dengan wanita lain."
Dewi tersedak makanannya mendengar kata-kata Rania.
"Lalu kamu?"
"Dia akan menceraikan aku secepatnya. Wanita itu sudah memilih gaun, cincin dan semuanya. Tinggal menghitung hari saja sepertinya."
"Bagaimana bisa? Maksudku bukankah jika kamu hamil dia tidak akan menceraikan kamu?!"
"Ku beri tahu sesuatu, mungkin akan membuat mu tertawa."
"Wanita itu juga m ngaku hamil anak Barra!"
Dan benar, Dewi tertawa mendengar kalimat terkahir Rania.
"Dan sekarang itu bagai buah simalakama untukmu? Kalau kamu katakan Barra mandul, mereka juga akan mempertanyakan siapa ayah dari bayi yang kamu kandung?" ucap Dewi dengan nada mengejek setelah tawanya reda.
Rania hanya cemberut mendengar ejekan Dewi. Mereka membicarakan ini seperti sedang menggosipkan artis. Rania tidak terlihat sedih sama sekali. Dia santai saja menceritakan apa yang sedang dialaminya.
"Dan kamu masih tinggal di rumah itu padahal suamimu sebentar lagi akan menikah? Kenapa sih kamu masih mau bertahan tinggal di rumah itu? Kalau aku jadi kamu mungkin aku sudah minggat dari kemarin-kemarin."
"Aku tidak akan pergi dari rumah itu sebelum mereka mengembalikan mobilku! Mertuaku menjadikan mobilku sebagai jaminan hutang. Dan sekarang mobil itu entah di mana."
"Seperti yang dulu aku bilang, kamu terlalu bodoh! Itu cuma mobil, kamu bisa beli lagi nanti!"
"Hei ... Aku tidak bodoh! Aku realistis! Aku bisa menjual mobil itu untuk modal hidupku setelah bercerai darinya. Aku harus mencari tempat tinggal dan menyiapkan biaya bersalin. Memangnya aku akan mendapatkan duit dari mana selain dari mobilku itu?"
"Mereka benar-benar tidak memberimu harta gono gini ya?"
"Boro-boro, harta gono gini. Mobilku bisa kembali aja udah sukur-sukur! Barra hampir bangkrut, karena itu dia menikahi wanita itu."
"Bagaimana kalau kamu mencari pekerjaan?"
__ADS_1
"Dengan perut yang sakin membuncit? Mana ada perusahaan yang mau mempekerjakan aku? Tidak ada perusahaan yang mau rugi menerima pegawai yang baru beberapa bulan bekerja sudah mengajukan cuti karena melahirkan. Sudah ku bilang tadi, aku ini realistis!"
"Ya sudah kalau begitu, terserah kamu saja. Tapi kalau kamu butuh tempat tinggal sementara kamu bisa menginap di rumahku."
Rania mengangguk. "Terima kasih, akan aku pikirkan."
"Sepertinya kamu tidak merasa sedih?"
"Aku sudah tidak seperti dulu."
"Baguslah, jadi aku tidak perlu menyanyikan lagu 'Ku menangiiiissss .... " Keduanya sama-sama tertawa.
"Nggak usah lebay!!"
Dewi terlihat celingukan melihat ke kanan kiri.
"Kamu kenapa? Mencari siapa?"
"Temanku yang tadi aku bilang. Dia akan menyusul ku kesini. Dia mau memberikan berkas-berkas yang aku gunakan untuk seminar besok."
"Temanmu?"
"Iya ... " Dewi tersenyum tidak jelas. "Bagaimana dengan ayah dari anakmu itu? Kamu akan memberi tahu dia? Bukankah kamu akan bercerai dari Barra?"
"Entahlah ... Aku takut."
"Takut apa?"
"Tidak tahu, takut saja. Takut dia tidak menerimanya, takut dia berpikir aku hanya memanfaatkan dia, takut dia beranggapan aku hanya menggunakan dia sebagai pelarian karena telah di buang oleh suamiku." Raut wajah Rania berubah murung.
"Apa aku mengenalnya?"
Rania tidak menjawab, hanya mengangkat bahunya.
"Oh ... Itu temanku sudah datang." Dewi menunjuk pintu masuk dengan wajah berseri seperti sedang melihat artis. "Dari dulu dia memang tampan," gumamnya.
Rania ikut menoleh.
Seketika jantungnya berdebar-debar. Seperti ada ratusan kupu-kupu berterbangan di dalam hatinya. Dan tanpa dia sadari wajahnya merona.
"Malik ...!" Dewi melambaikan tangan pada laki-laki tampan yang sedang mengedarkan pandangan mencari seseorang itu.
Malik berjalan mendekati mereka.
"Hai ..." Mata Malik langsung tertuju pada Rania. Dan tanpa basa basi dia langsung mencubit pipi Rania tanpa malu.
Wajah Rania semakin merah. Dia seperti sedang jatuh cinta lagi. Malik langsung duduk di sebelah Rania. Harum aroma mint dari tubuh Malik tercium di hidung Rania. Rasanya dia menemukan ketenangan setelah mencium aroma ini. Ingin sekali Rania memeluk Malik dan mencium aroma tubuhnya dalam-dalam.
__ADS_1
Perasaan apa ini? Apa ini jawaban kenapa aku tidak bisa tidur pulas walaupun sudah mencium aroma maskulin Barra yang biasanya bagaikan bius untukku? Sedangkan dia, dari jarak ini saja rasanya aku langsung ingin merebahkan diriku di pelukannya dan tertidur lelap. Apa kamu merasakan kehadiran ayahmu nak? Apakah ini yang dinamakan ikatan batin antara ayah dan anak? Ah ... Paling juga karena pengaruh hormon! Lagi-lagi hormon yang disalahkan.