
Akhirnya Barra membawa Widia ke rumah sakit karena dia tidak juga sadar dari pingsan. Dan di sinilah akhirnya. Widia sudah sadar tapi dia tidak bisa menggerakkan sebagian tubuhnya. Widia mengalami stroke sebelah, dimana hanya separuh bagian tubuhnya bisa digerakkan dan sebagian lagi mati rasa dan tidak bisa digerakkan.
"Aku kenapa?" tanya Widia kepada Barra yang setia menunggunya.
"Ibu tidak apa-apa. Ibu akan segera sembuh," jawab Barra pendek.
"Tapi kenapa tubuh ibu sebelah kiri tidak bisa digerakkan?"
"Tidak apa-apa bu, tidak usah memikirkan itu. Ibu nanti akan sembuh."
Widia diam mendengar jawaban Barra.
"Bagaimana Hanna? Apa yang sudah kamu lakukan padanya?" tanya ibunya lagi.
Barra seperti dibangunkan dari mimpi. Tadi dia lupa soal Hanna karena sibuk mengurus ibunya. Dia bahkan tidak sadar jika mobil Hanna tadi sudah tidak ada di garasi.
"Tidak apa-apa Bu, Dia pantas mendapatkannya," jawab Barra dingin.
"Jangan begitu Barra. Tidak ada orang yang pantas diperlakukan seperti itu, nanti kamu menyesal."
"Tidak Bu, dia memang pantas untuk diperlakukan demikian. Pembohong seperti itu tidak pantas dikasih hati."
"Ibu juga tidak menyukainya. Jujur ibu menyesal sudah membuatmu menikah dengannya. Tapi itu tidak lantas membuatmu boleh menyiksanya."
__ADS_1
"Ibu menyesal kenapa ibu dulu bisa sebegitu kejam pada Rania. Padahal dia adalah menantu yang luar biasa. Ibu menyesal Barra. Ibu menyesal telah berbuat jahat kepada orang lain. Jangan sampai kamu menyesal seperti yang ibu rasakan sekarang."
"Rania dan Hanna berbeda Bu. Jangan ibu samakan."
"Tapi sekarang istrimu adalah Hanna. Dia memang bukan istri dan menantu yang baik tapi kamu tidak boleh menyiksanya seperti itu. Bagaimana jika dia melaporkan kamu ke polisi? Ibu tidak bisa jika kamu dipenjara lagi. Lihat kondisi ibu sekarang, jika kamu dipenjara siapa yang akan mengurus ibu?" air mata Widia menetes.
Barra terdiam mendengarkan ibunya bicara.
"Perbaiki hubungan mu dengan Hanna. Pelan-pelan dia pasti akan menjadi lebih baik. Ingat kondisimu sekarang Barra. Kamu sudah bukan direktur lagi. Kamu tidak punya pekerjaan. Dan kamu juga tidak bisa memiliki keturunan. Jika kamu sampai bercerai dari Hanna, wanita mana lagi yang mau menjadi istrimu? Apalagi jika mereka tahu kamu mandul."
"Hentikan ibu! Jangan bicara lagi!"
"Ibu hanya mengingatkan kamu. Ibu ingin menjadi orang baik sekarang. Ibu benar-benar menyesal dengan sikap ibu dulu. Apa lagi sikap ibu pada Rania. Hampir setiap hari ibu menyebutnya perempuan mandul. Dengan sombongnya ibu bilang jika anak ibu tidak mungkin mandul, anak ibu sejak kecil sehat dan tidak sakit-sakitan. Dan lihat sekarang bagaimana karma datang menunjukkan wujudnya?"
Barra kembali terdiam. Bukan karena memikirkan perkataan ibunya, tapi memikirkan kenyataan bahwa dirinya mandul. Dia kecewa dan marah pada dirinya sendiri tapi dia melampiaskan kemarahannya kepada orang-orang yang berhubungan dengannya.
Widia tidak tahu jika Barra sudah menganiaya Rania terlebih dahulu sebelum menghajar Hanna.
"Tidurlah Bu. Aku akan keluar mencari udara segar."
"Barra ... minta maaf lah pada Hanna. Jangan sampai dia membuatmu dipenjara. Kasihanilah Ibu ... Ibu tidak hidup sendiri dengan kondisi ibu seperti ini. Ibu membutuhkan kamu nak ..."
Barra tidak menjawab kata-kata ibunya. Dia tetap berlalu meninggalkan ibunya yang masih menangis menyesali sikapnya dulu.
__ADS_1
Barra duduk termenung di kursi panjang di lorong rumah sakit. Dia memikirkan bagaimana tadi bisa kehilangan kewarasan dan melukai dua orang sekaligus. Omongan ibunya ada benarnya. Jika dia bercerai dengan Hanna, apa masih ada wanita yang mau menjadi istrinya. Apalagi sekarang dia bukan siapa-siapa dan juga memiliki kekurangan.
Barra menghembus nafas panjang. Hidupnya sudah benar-benar berantakan. Akhirnya dia berdiri. Dia memutuskan untuk menemui Hanna, setidaknya meyakinkan Hanna agar tidak melaporkan perbuatannya ke kantor polisi atau kepada Papa nya. Bagaimana mertuanya itu bisa memaafkan dia jika dia tahu setelah menyembunyikan dirinya di ruangannya, Barra justru menghajar putrinya.
Barra akan meminta maaf pada Hanna dan mengakui ini hanyalah sebuah kekhilafan sesaat, dia hanya terbawa emosi. Memohon padanya agar dia tidak melaporkan perbuatannya kepada Papa nya ataupun kepada polisi, mungkin Hanna akan memaafkannya.
Barra memikirkan nasib ibunya jika dia dipenjara lagi dan Hanna sudah bukan lagi menjadi istrinya. Siapa yang akan merawat ibunya? Sementara dia sudah tidak punya uang untuk menyewa perawat untuk mengurus ibunya. Satu-satunya pemasukannya sekarang hanyalah dari uang kontrakan dan kos-kosan. Melihat kondisi ibunya seperti ini pasti uang itu tidak cukup untuk hidup dan biaya pengobatan ibunya. Ibunya harus menjalani terapi agar bisa pulih seperti semula dan itu membutuhkan biaya yang tidak sedikit.
Tapi bagaimana dengan Rania dan suaminya? Apa mereka juga akan memaafkannya? Sekarang untuk bertemu dengan Rania saja dia sudah tidak punya muka, apalagi jika dia harus meminta maaf padanya. Bagaimana mungkin dia yang sebelumnya datang dengan penuh amarah kembali lagi untuk mengemis maaf. Sekarang dia hanyalah remah-remah di hadapan Rania dan suaminya.
Barra memukul-mukul setir mobilnya karena kesal karena menemukan cara yang tepat untuk meminta maaf pada Rania.
Barra mengurangi kecepatan mobilnya. Dia sudah akan sampai di rumahnya. Tetapi dari kejauhan dia melihat rumahnya banyak orang, tapi bukan polisi, setidaknya mereka tidak mengenakan seragam polisi.
"Siapa mereka? Apa yang mereka lakukan? Apa mereka orang-orang Papa atau orang-orang suruhan Rania?" gumam Barra. Dia tidak berani mendekat hanya mengamati orang-orang itu dari dalam mobilnya di kejauhan. Orang-orang itu terus mengetuk pintu, dan ada yang terus memencet bel dan ada pula yang mengitari rumahnya.
"Tidak ada yang membukakan pintu. Apakah tidak ada orang di rumah? Apa mereka pergi ... "
"Ah .... Sial!!! Mereka sudah pergi sebelum aku pergi! Tadi mobil Hanna sudah tidak ada waktu aku akan membawa ibu ke rumah sakit. Jadi mereka diam-diam menyelinap saat aku sedang merawat ibu?!" Barra terus bicara sendiri.
"Sial ... sial ... sial!!! Hanna pasti sudah mengatakan ini pada papa nya!!!"
Barra tidak tahu jika saat ini papa mertuanya, Harun Affandi sudah mendekam di penjara.
__ADS_1
"Aku harus segera pergi dari sini!" Barra mengendarai mobilnya meninggalkan tempat itu. Dia mengurungkan niatnya untuk meminta maaf pada Hanna.
"Aku harus bersembunyi. Aku akan menemani ibu. Tidak ada yang tahu jika aku pergi ke rumah sakit." Barra mengendarai mobilnya kembali ke rumah sakit.