Balasan Untuk Suamiku

Balasan Untuk Suamiku
Mulai Menebus Kesalahan


__ADS_3

Barra menyaksikan sendiri Rania sedang menghapus air matanya. Sakit hatinya melihatnya karena dia yang menyebabkan semua ini. Dia berjalan mendekati Rania lalu duduk bersimpuh di depannya. Di tatapnya mata bulat istrinya itu. Mata yang dulu selalu menatapnya dengan tatapan hangat, mata yang yang dulu sering berkedip centil menggodanya. Mata yang dulu sering melotot saat mengomelinya karena meletakkan handuk basah di atas kasur, atau meletakkan pasta gigi tidak di tempatnya.


Barra menatap mata itu dalam-dalam. Baru dia sadari sudah lama sekali dia tidak melihat tatapan hangat itu. Dia terlalu sibuk mengikuti egonya dan keinginan ibunya hingga melupakan bidadari yang dulu menjadi ratu di hatinya.


"Maafkan aku ... Kamu harus menderita karena sikapku dan keegoisan ku." Tanpa terasa Barra meneteskan air matanya.


Rania meraup wajah Barra dengan kedua telapak tangannya. Dipandanginya wajah laki-laki yang masih menjadi suaminya itu. Wajah tampan dan berwibawa yang dulu mencuri perhatiannya. Auranya yang tegas dan kharisma yang selalu membuatnya terpikat. Tapi ternyata itu hanya penampilannya di kantor. Di dalam rumah, dia hanyalah seorang anak yang sangat tunduk sama ibunya. Tidak berkutik begitu sang ibu sudah mengeluarkan satu kalimat saja.


"Aku tidak pernah memintamu menjadi anak durhaka. Aku tidak pernah menyuruhmu melawan Ibumu. Hanya saja, mungkin cerita kita akan berbeda jika kita tinggal terpisah dengan ibu. Caciannya kepadaku selama ini sudah mengendap di dasar hatiku."


"Dulu ... aku sangat bahagia ketika kamu membelaku di depan ibu. Bukan karena aku senang melihatmu bertengkar dengannya, tapi karena pembelaan mu itu berarti aku juga memiliki posisi penting dalam hidupmu. Aku merasa aku juga berharga untukmu. Tapi lama-lama kamu berubah. Setiap kali ibu menghinaku kamu juga ikut menghinaku. Kamu sudah tidak pernah membelaku bahkan tidak pernah mau mendengarkan penjelasan ku. Aku merasa sudah kehilangan Barra yang dulu, Barra ku." Baru saja Rania menyeka air matanya sekarang air mata itu sudah menetes lagi di pipinya.


"Tidak bisakah kita memulainya dari awal lagi? Jika kamu ingin kita tinggal terpisah dari ibu, kita bisa pindah rumah. Atau kalau kamu mau kita bisa tinggal di apartemen. Kamu mau kan?"


Rania menggeleng. "Sudah terlambat ... Sekarang aku hanya ingin kita bercerai dan aku menginginkan hak ku dan juga anakku. Sudah itu saja! Aku sudah tidak punya mimpi yang muluk tentang rumah tangga yang bahagia dengan anak-anak berlarian di halaman. Itu mimpi yang tidak akan pernah terwujud." Rania kembali menyeka air matanya.


"Kita masih bisa mewujudkannya. Ku mohon tetaplah bersamaku!"


"Keputusanku sudah bulat."


"Aku tetap tidak akan menceraikan kamu!"


"Sudahlah ... Pembicaraan ini tidak akan berakhir kemana-mana dan tidak akan merubah keputusanku."


"Baiklah ... Jika itu keputusanmu. Setidaknya tunggu sampai anak kita lahir baru aku akan mengurus semuanya." Barra berdiri dan meninggalkan Rania.


Dia sengaja mengulur waktu untuk menceraikan Rania agar dia berubah pikiran. Ini adalah cara yang paling mungkin dia lakukan untuk membuat Rania tetap di sisinya.


"Anakku akan ikut bersamaku," ucap Rania sebelum Barra keluar dari kamar.


"Jangan egois Ran, dia anakku juga." Barra menghentikan langkah.


"Kamu bisa menikah lagi dan mempunyai anak dari istrimu nanti. Kamu sudah menghabiskan malam bersamanya kan? Pasti tidak akan sulit."

__ADS_1


"Rania ... Kumohon jangan mulai lagi. Aku tidak pernah menginginkannya. Aku hanya menuruti permintaan ibu. Aku tidak mencintai perempuan itu."


"Tidak ada bedanya bagiku."


Barra melanjutkan langkahnya keluar dari kamar. Sesal memenuhi hatinya tapi itu tidak akan merubah apapun.


Harusnya aku mengikuti keinginan mu untuk memeriksakan diriku. Tapi aku terlalu takut. Ketika kamu bilang tidak ada yang salah dengan reproduksi mu, aku takut ada yang salah denganku. Karena itu aku tidak pernah mau untuk ke dokter bersamamu. Aku takut mengetahui jika ternyata akulah yang bermasalah. Maafkan aku karena sudah menjadi pengecut. Maafkan aku karena membiarkan kamu menanggung semua itu sendirian.


Barra menyandarkan kepalanya di pintu, meratapi sikapnya selama ini. Tiba-tiba terdengar suara bel berbunyi.


"Kemana ibu? Kenapa tidak membukakan pintu?" Barra turun dan membuka pintu setelah sebelumnya membersihkan wajahnya dari sisa air mata terlebih dahulu.


"Selamat siang Pak Barra, saya dari Yayasan penyalur PRT mengantarkan pembantu yang akan bekerja di rumah Pak Barra. Saya mengajak lima orang, nanti Pak Barra bisa menyeleksi yang sesuai dengan kriteria yang Pak Barra inginkan." Seorang wanita menyapa Barra dan menyampaikan maksudnya begitu Barra membuka pintu.


Barra mempersilakan orang-orang itu masuk.


"Sebentar, aku panggil istriku dulu." Barra kembali ke kamarnya untuk menemui Rania.


"Sayang ... Apa kamu kuat untuk turun ke bawah? Ada tamu untukmu." Barra mencoba bersikap biasa saja, bahkan lebih manis dari biasanya.


"Bukankah aku sudah bilang kalau kita akan menggunakan jasa pembantu untuk mengurus rumah. Aku tidak mau kamu kecapekan. Aku sudah meminta mereka mencarikan dua orang. Satu untuk mengurus rumah dan satu lagi untuk melayani mu, khusus melayani kamu."


"Apa itu tidak berlebihan?"


"Tidak ... bahkan harusnya aku melakukan itu sejak dulu. Ayo ... turunlah. Pilihlah yang sesuai dengan kriteria mu."


"Terserah kamu saja," balas Rania malas.


"Jangan terserah aku. Dia yang akan melayanimu jadi harus yang bisa membuatmu nyaman. Dan aku tidak tahu yang seperti apa."


"Aku malas sekali untuk jalan."


Barra langsung membopong tubuh Rania tanpa persetujuannya.

__ADS_1


"Barra ... apa yang kamu lakukan?"


"Kamu bilang kamu malas berjalan. Jadi aku menggendong mu." Dia membawanya menuruni tangga dan mendudukkannya di sofa di hadapan calon pembantunya.


Agen wanita itu kemudian memberikan berkas yang berisi data dari lima orang tersebut. Rania membacanya satu persatu dan mencocokkan dengan orangnya. Setelah itu mewawancarai mereka satu persatu secara terpisah.


"Terima kasih Bu, Kami akan merundingkannya dulu. Akan kami kabari secepatnya keputusan kami," ucap Rania setelah selesai semuanya.


"Terima kasih. Bu Rania dan Pak Barra kami permisi dulu."


"Bagaimana sayang ... Apa kamu sudah memilih yang mana orangnya?"


"Aku suka yang ini untuk melayaniku. Dan ini untuk mengurus rumah, sepertinya dia orang yang rajin." Rania menunjukkan dua lembar foto.


"Baiklah, kalau itu pilihanmu. Aku ikut saja. Aku akan menghubungi yayasan agar mereka bisa segera mulai bekerja."


"Barra ... apa ini tidak berlebihan?"


"Tidak jangan katakan itu lagi. Ini salah satu caraku untuk menebus kesalahanku. Sekarang, berhubung kamu sudah di bawah, bagaimana kalau kamu makan siang sekalian?"


"Aku masih malas."


"Kamu harus makan. Aku akan menyiapkannya." Barra menggendong Rania lagi dan membawanya menuju ruang makan.


"Barra, turunkan aku. Aku bisa jalan sendiri!" Rania terus memberontak. Tapi Barra tidak menghiraukannya. Kemudian dia meletakkan tubuh Rania di kursi.


"Kamu mau makan apa?"


"Aku tidak ingin makan."


"Tapi kamu harus. Aku memaksa."


"Baiklah .. aku ingin makan sesuatu yang hangat dan berkuah juga segelas susu vanila hangat."

__ADS_1


"Siap Nyonya Danendra." Barra mengangkat tangannya hormat kepada Rania sambil tersenyum. Mau tidak mau Rania tersenyum melihat tingkah Barra.


Ini manis sekali, sangat manis. Jangan terus bersikap begini padaku. Aku bisa goyah.


__ADS_2