
Rania meraih handuknya yang tergeletak di lantai dan berlari kembali ke kamar mandi. Sementara Barra terbaring sambil memejamkan matanya tanpa mengenakan sehelai benangpun. Senyum tersungging di wajahnya setelah dia puas menyalurkan hasratnya kepada Rania.
Sementara itu di kamar mandi, Rania hendak membersihkan tubuhnya lagi. Dia baru saja selesai mandi ketika tadi Barra mengajaknya bercinta. Sekarang dia harus mandi lagi untuk membersihkan tubuhnya dari bekas percintaannya tadi. Rania hampir mengguyur tubuhnya di bawah shower ketika dia merasakan sisa cairan kejantanan Barra menetes di tubuh bagian bawahnya.
Entah dapat ide dari mana, Rania segera mengambil wadah kosong bekas lulur yang ada di dalam kamar mandi. Buru-buru dia cuci dan bersihkan wadah itu kemudian dia kumpulkan cairan kejantanan Barra yang masih melekat di tubuhnya dan menaruhnya di dalam wadah tersebut. Dia mengurungkan niatnya untuk mandi dan hanya membilas beberapa bagian tubuhnya saja.
Dengan tergesa-gesa dia keluar dari kamar mandi dan berpakaian secepat kilat. Tanpa sempat merias wajahnya, Rania langsung menyambar tas dan meletakkan wadah yang berisi cairan kental tadi di dalam tasnya tanpa sepengetahuan Barra. Sementara Barra yang sudah kembali berpakaian terlihat bingung melihat tingkah aneh Rania.
"Kamu mau kemana? Kenapa buru-buru sekali?"
"Aku lupa ada janji dengan Dewi," jawab Rania sekenanya.
"Sepagi ini?"
"Ya." Rania tidak menoleh ke arah Barra. Dia langsung pergi begitu saja meninggalkan Barra yang masih terheran-heran.
Rania menghubungi Dewi lewat telepon sambil mengemudikan mobilnya.
"Halo ... Kamu sedang di rumah sakit atau di rumah?"
"Aku di rumah sakit sekarang. Ada jadwal praktek pagi. Ada apa?"
"Bagus ... Ada sesuatu yang penting. Aku akan segera ke sana."
"Oke."
Rania menutup teleponnya. Dia mengemudikan mobilnya secepat mungkin agar segera sampai di rumah sakit. Dia langsung menuju ruangan Dewi begitu tiba di sana. Tanpa aba-aba dia langsung membuka pintu ruang praktek Dewi.
"Kamu membuatku kaget!" seru Dewi. "Bagaimana kalau tadi aku sedang menangani pasien ku?"
"Maaf ... maaf, tapi aku tidak melihat siapa-siapa di depan," balas Rania. Dia kelihatan terburu-buru sekali.
"Kenapa kamu seperti dikejar setan begitu? Apa yang penting?"
Rania dengan hati-hati mengeluarkan wadah dari dalam tasnya, dan menyerahkannya pada Dewi.
"Apa ini?"
"Jangan pura-pura tidak tahu Dew, tidak usah menguji kesabaran ku!"sungut Rania, dia tahu Dewi sedang menggodanya. Sementara Dewi tertawa geli.
__ADS_1
"Apa yang kamu tertawakan?"
"Kamu yang aku tertawakan! Kamu terlihat tegang sekali. Bagaimana kamu bisa punya ide seperti ini? Ini brilian atau konyol? Kenapa tidak dari dulu?" Dewi tertawa kecil.
Rania terlihat bingung dan merasa bodoh. Setelah lima tahun dan ide ini baru muncul sekarang setelah dia terdesak.
"Tidak usah menertawakan aku. Itu sampel s***** Barra, mungkin baru sekitar tiga puluh menit yang lalu dikeluarkan. Lakukan tes, analisa atau apa saja yang menurutmu perlu dilakukan. Kamu tahu maksudku kan?"
"Sebenarnya ini tidak memenuhi kriteria tapi aku akan coba untuk melakukan tes dan analisa."
Rania terlihat lega. "Terimakasih Dewi, kamu memang penyelamatku."
Dewi tersenyum. "Aku yakin kamu mengambilnya tanpa sepengetahuan suamimu."
"Mau bagaimana lagi?!" Rania mengangkat bahunya.
"Baiklah, nanti aku akan kabari jika hasilnya sudah keluar."
"Berapa lama?" Rania tidak sabar.
"Mungkin dua atau tiga hari."
"Tapi aku tidak bisa menjamin hasilnya akan akurat. Seperti yang aku bilang tadi, sampel ini tidak memenuhi kriteria."
"Tidak apa-apa, setidaknya aku sudah mencoba," jawab Rania pelan dan terlihat putus asa.
Dewi menatap temannya itu iba. Walaupun dia terlihat kuat tapi Dewi tahu dia menderita. Dewi sering menggodanya hanya untuk mengendurkan ketegangan yang sering terlihat di wajah Rania. Dia menepuk pundak Rania.
"Kamu bisa melewatinya. Jangan menyerah!"
"Sampa jumpa."
Dewi mengangguk. "Akan aku kabari secepatnya begitu hasil tesnya keluar." Rania sudah hilang di balik pintu.
* * *
Sampai di rumah Rania disambut dengan tatapan dingin oleh Barra. Tapi Rania tidak heran, Barra pasti sudah mendengar ibunya mengomel dan mulutnya tidak berhenti mengatakan keburukan Rania.
"Sudah selesai bertemu dengan Dewi?" tanya Barra dingin. "Ibu sibuk mengurus rumah sejak tadi dan kamu justru pergi?!"
__ADS_1
"Sudahlah Barra, tidak usah mulai lagi! Aku yang membereskan rumah sejak pagi tadi. Aku pergi karena rumah sudah beres. Tidak usah mengada-ada."
Barra terdiam mendengar balasan dari Rania. "Dari dulu juga akulah yang mengurus rumah ini, dari membersihkan rumah sampai mengurus semua tagihan, aku melakukannya sendiri. Kenapa sekarang kamu pura-pura buta dan mengatakan ibu yang mengurusnya?"
Seperti mendapat tamparan, Barra semakin terdiam. Dia tidak menyangka Rania berani membalas kata-katanya. Dia sendiri tahu, Rania adalah perempuan rajin dan selalu mengerjakan pekerjaan rumah dengan tangannya sendiri. Entah kenapa akhir-akhir ini Barra semakin mudah terpengaruh omongan ibunya yang semakin gencar menjelekkan Rania di depannya.
"Jadi bagaimana hasil pertemuan mu dengan Dewi?" kali ini Barra mengalah. Dia mengganti topik pembicaraan.
"Dia menyarankan agar kita mengambil program bayi tabung." Rania mulai pintar berbohong kepada Barra.
"Apa itu akan berhasil?"
"Tidak seratus persen, tapi ada kemungkinan berhasil."
"Apa kamu yakin mau melakukan prosedur ini?"
"Aku bersedia melakukan apapun asal bisa hamil. Masalahnya ada di kamu Barra, apa kamu mau melakukan prosedur bayi tabung?"
"Apa ibu tidak salah dengar?" Mertua Rania tiba-tiba saja muncul di antara mereka. Rania heran entah muncul dari mana Mak lampir ini.
"Tidak usah buang-buang uangmu untuk hal yang tidak ada hasilnya."
Rania memutar bola matanya malas. Dia tahu akan berakhir seperti apa pembicaraan ini nanti.
"Kenapa kamu masih mau melakukan program kehamilan? Program bayi tabung itu membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Buang-buang uang saja! Jawaban dari masalahmu itu cuma satu, yaitu ganti istri!"
Rania terlihat tidak peduli dengan omongan mertuanya. Dia sudah menduga kata-kata itu akan keluar dari mulut mertuanya.
"Cukup ibu ... ibu menyinggung perasaan Rania." Barra mencoba membela istrinya.
"Barra ...! Apa sekarang kamu berani kepada ibumu?"
"Bukan begitu Bu ... tapi ibu juga harus menjaga perasaan Rania," Barra dengan pelan mencoba memberi penjelasan pada ibunya.
"Menjaga perasaannya? Apa kamu tidak ingin menjaga perasaan ibu?! Jadi perempuan mandul itu lebih penting daripada ibu?" Barra mulai bingung. "Sekarang perempuan mandul itu membuatmu berani sama ibu? Dia sengaja membuat kita bertengkar!"
Barra melihat ke arah Rania yang sejak tadi tidak memperlihatkan ekspresi apa-apa.
"Apa benar apa yang dikatakan ibu?"
__ADS_1
"Aku diam dan tidak mengatakan sepatah katapun sejak ibu datang. Dewasalah Barra! Harusnya kamu bisa menilai mana yang benar dan mana yang mengada-ada!" Rania berlalu dari hadapan Barra dan mertuanya.