
Widia masih terpaku di ruang tamu. Terus dipandanginya kertas itu seakan tulisan yang tertera di sana akan berubah. Kenyataan ini sungguh menghempaskan harga dirinya jauh ke dasar jurang. Seandainya saja dulu dia tidak pernah menyebut Rania sebagai perempuan mandul tentu rasa malu dan sesalnya tidak akan sebesar ini.
Berulangkali dia lihat tulisan itu berharap ini hanyalah sebuah kesalahan analisa. Tidak perlu baginya mempertanyakan kebenaran tulisan itu ke rumah sakit yang bersangkutan. Dia tahu Rania bukan tipe perempuan yang suka mengarang cerita. Rania tidak mungkin berbohong. Dia sudah memiliki kehidupan yang bahagia dan sempurna, tidak ada untungnya jika dia mengarang cerita untuk menghancurkan Barra dan keluarganya, toh hidup Barra memang sudah hancur.
"Barra .... Bagaimana jika kamu sampai mengetahui hal ini?" widia meneteskan air matanya.
Benar yang sudah dilakukan Rania. Dia hanya berusaha menjaga perasaan dan harga diri Barra sebagai seorang laki-laki. Dan aku tidak mengetahuinya. Jika saja aku tidak memaksa Barra untuk berpisah dengan Rania, tidak membawa Hanna di kehidupan mereka pasti semuanya masih baik-baik saja. Andai saja aku tidak menyalahkan Rania atas momongan yang tak kunjung mereka miliki, andai aku tidak terlalu menuntut Barra untuk memiliki anak yang harus darah dagingnya sendiri.
Widia terus berandai-andai. Sekarang dia menyadari kesalahannya dan menyesalinya.
Widia ingat lagi waktu itu, waktu dia mempunyai dua orang menantu, keduanya sama-sama membohongi mereka dengan kehamilannya. Tapi satu demi kebaikan mereka dan satu lagi demi keuntungannya sendiri. Dan widia memilih menantu yang salah.
Sesal semakin menyelimuti hatinya. Andai saja ... Andai dulu dia tidak tergiur dengan kenikmatan sesaat dengan laki-laki muda yang hanya menguras uangnya, tentu dia tidak akan memiliki banyak hutang dan membuat Barra terpaksa memilih Hanna.
Sekarang Widia sadar, semua yang terjadi pada Barra adalah salahnya. Dialah ujung pangkal semua masalah ini.
Widia memandangi kertas itu dan menangis sesenggukan. Dia terlalu sering melimpahkan kesalahan pada orang lain hingga tidak sadar jika dia sendirilah sumber kekacauan kehidupan anaknya.
"Barra .... Maafkan ibu ... Semua ini gara-gara ibu ... "
tangis Widia kembali pecah. Untuk beberapa saat dia larut dalam tangisnya.
Widia mengusap air matanya.
"Barra sebentar lagi akan bebas. Bagaimana ini? Apa aku harus memberitahu dia soal ini atau aku menyimpannya sendiri seperti Rania menyembunyikannya selama ini. Jika dia melakukannya untuk menjaga harga diri dan perasaannya Barra, maka aku juga akan melakukannya." Widia melipat kertas itu dan berjalan menuju kamarnya untuk menyembunyikan kertas itu.
"Bahkan Hanna pun tidak akan mengetahuinya. Tapi aku akan tetap meminta anak tidak tahu diri itu untuk mengakui kebohongannya."
__ADS_1
Widia keluar lagi dari kamarnya. Dia mendengar tangisan Alicia. Biasanya dia akan segera berlari dan menggendongnya meski sudah ada Imah. Ingin sekali dia berlari dan menggendong Alicia agar berhenti tangisnya tapi hatinya berkata lain. Alicia bukan cucu kandungnya. Dia marah dan kecewa tapi itu bukan salah Alicia, anak itu tidak tahu apa-apa.
Widia mengabaikan tangisan Alicia dan terus berjalan menuju dapur. Dia hendak membereskan sisa pekerjaannya yang tadi terjeda karena kedatangan Rania.
Ketika dia akan menyentuh piring kotor di wastafel dia kembali teringat kata-kata Rania. Dia adalah ratu di rumah ini. Mana pernah dia mengerjakan pekerjaan seperti ini sebelumnya dan sekarang ini adalah tugasnya. Belum lagi mengepel dan mengurus cucian dan yang lainnya.
"Bagaimana Rania dulu bisa mengerjakan semua ini dan aku masih terus-menerus memarahinya, mengatakan jika perkejaan nya tidak ada yang beres, dia tidak becus, dia tidak berguna dan makian-makian ku yang lain. Kenapa dia mau saja bertahan dan mengerjakan semua ini?"
Widia mendengar pintu depan dibuka, pasti Hanna. Widia menghentikan lagi pekerjaannya. Dia berjalan ke depan. Dengan hati yang panas dia menghampiri Hanna dan langsung menamparnya.
"Katakan ... Siapa ayah dari Alicia?!" bentak Widia.
Hanna yang baru saja datang kaget karena tidak menyangka Widia akan menamparnya.
"Apa-apaan kamu?!" Berani-beraninya menamparku?!" bentak Hanna sambil memegangi pipinya.
"Aku tidak tahu apa maksudmu! Lepaskan tanganku!" Hanna mencoba melepaskan cengkeraman tangan Widia.
"Jujur saja! Aku sudah tahu semuanya! Alicia bukanlah anak Barra! Dia adalah hasil hubungan gelapmu dengan laki-laki lain dan Barra hanya kamu jadikan sebagai kambing hitam!"
Hanna mencoba mendorong Widia dan hendak mengabaikannya. Rapi Widia tetap memegang tangan Hanna sehingga dia tidak bisa kemana-mana. Meskipun sudah paruh baya tapi tenaga Widia masih prima karena dia terbiasa berolah raga di gym.
"Perempuan licik, jelaskan padaku sekarang! Apa maksudmu mengatakan kepada semua orang jika Alicia adalah anak Barra padahal kamu tahu yang sebenarnya!!! Dia bukan anak Barra!!!"
"Sudah aku katakan aku tidak tahu apa maksudmu! Jangan memaksa ku lagi!" Hanna tetap mengelak. "Kamu berani menuduhku seperti itu, apa kamu punya bukti?! Bagaimana kamu bisa mengatakan hal itu jika kamu tidak punya bukti apa-apa?!"
Widia gelagapan mendengar balasan Hanna. Dia tidak mungkin mengatakan jika Barra mandul pada Hanna.
__ADS_1
"Kamu tidak punya bukti kan? Kamu hanya asal bicara?!" Gantian Hanna mendorong tubuh Widia.
"Aku tidak asal bicara! Lihat saja semakin hari Alicia semakin tidak mirip dengan Barra. Aku sudah curiga sebelumnya!"
"Seorang anak kandung tidak harus mirip dengan ayahnya Widia! Bisa juga dia mirip denganku! Itu alasan konyol untuk memfitnahku!"
"Aku tetap yakin itu bukan anak Barra. Aku akan memberi tahu Barra yang sebenarnya! Dia harus tahu wanita yang dinikahinya telah membohonginya selama ini!"
"Alicia adalah anak Barra sampai kapanpun!" teriak Hanna.
"Awas kalau kamu sampai berani bicara yang tidak-tidak tentang Alicia kepada Barra. Aku pastikan hidup kamu semakin menderita!" ucap Hanna dengan mata melotot penuh ancaman.
"Aku tidak takut Hanna. Barra memang harus tahu yang sebenarnya!"
"Barra tidak akan percaya kalau kamu tidak punya bukti. Dia sangat menyayangi Alicia!" Hanna melangkah meninggalkan Widia yang hanya bisa diam.
"Aku tetap akan mengatakannya! Dia pasti lebih percaya omonganku, ibunya daripada pelacur sepertimu!" teriak Widia kepada Hanna yang sudah mulai menjauh.
Hanna berbalik mendengar Widia menyebutnya pelacur. Dia melangkah dengan emosi menghampiri Widia kemudian menamparnya.
"Plakk!!"
"Sekali lagi kamu menyebutku pelacur maka aku tidak hanya akan menamparmu!!!" ancam Hanna. Gantian Widia yang memegangi pipinya.
Widia tidak terima Hanna yang usianya jauh dibawahnya menamparnya. Dia balik menampar Hanna.
Dan Hanna tidak percaya Widia menamparnya untuk yang kedua kalinya. Dia lalu mendorong tubuh Widia sekuat tenaga hingga widia jatuh dan kepala bagian belakangnya terbentur lantai.
__ADS_1
Melihat Widia jatuh Hanna segera pergi tanpa mempedulikan Widia yang tidak sadarkan diri.