Balasan Untuk Suamiku

Balasan Untuk Suamiku
Akhirnya


__ADS_3

Barra mengendarai mobilnya langsung ke rumah Malik dengan amarah memenuhi dadanya. Dia ingin sekali segera menghajar Malik. Rumah itu adalah simbol kesuksesan, kebanggaan sekaligus bukti pencapaiannya selama ini. Dan sekarang semua itu hancur karena Malik. Di dalam pikirannya Malik lah yang salah. Barra tidak bisa melihat alasan kenapa Malik sampai berbuat demikian padanya.


Akhirnya Barra sampai di depan rumah Malik. Gerbang depan dijaga oleh dua orang satpam. Barra bersikap sangat ramah dan berwibawa kepada dua orang satpam tersebut. Dia mengaku jika dia adalah salah satu teman lama Malik dan dia juga mengatakan jika sudah janjian dengannya. Melihat sikapnya yang sangat meyakinkan, kedua orang satpam tersebut percaya saja dan segera membukakan gerbang. Mereka membiarkan mobil Barra masuk.


Barra membanting pintu mobilnya. Dia segera masuk ke dalam rumah yang terlihat sepi. Barra ingin segera bertemu Malik tapi karena rumah Malik terlalu besar dia tidak tahu harus mencari dimana. Akhirnya dia hanya berteriak-teriak memanggil Malik.


"Malik ... !!!" Suara teriakan Barra memenuhi ruangan.


"Keluar kau!!! Jangan cuma sembunyi di dalam rumah mu ini!!!"


Tidak ada sahutan. Rumah Malik memang sangat luas, tidak mungkin Malik bisa mendengar teriakannya. Seperti yang dulu Rania katakan, ini lebih layak disebut istana daripada rumah.


"Malik ...!!!" teriak Barra lagi.


Kali ini seorang pelayan datang setengah berlari menemui Barra.


"Maaf ada perlu apa? Kenapa anda berteriak-teriak?" tanya pelayan tersebut.


"Dimana Malik?!" tanya Barra kasar.


"Bagaimana anda bisa masuk?!" tanya pelayan itu lagi.


"Jangan banyak bicara!!! Cepat panggil majikanmu turun ke sini!!!" bentak Barra.


Melihat ada yang janggal dengan tamunya, pelayan itu langsung pergi dan memanggil majikannya.


"Tuan, di bawah ada orang yang sedang marah-marah mencari Tuan," ucap pelayan tersebut kepada Malik.


"Siapa?" tanya Malik datar.


"Tidak tahu Tuan ... Sepertinya belum pernah kesini sebelumnya."


"Baik, aku akan turun sebentar lagi." Malik menutup kembali pintu kamarnya. Dia menghampiri Rania yang sedang duduk di depan meja riasnya.


"Ada apa? Siapa yang mencari mu?" tanya Rania.

__ADS_1


"Tidak tahu, pelayan itu bilang ada seseorang yang mencari ku di bawah," jawab Malik sambil menenggelamkan hidungnya di leher Rania.


"Aku akan menemui orang itu dulu. Kamu nanti langsung ke bawah kalau sudah selesai." Rania mengangguk.


Malik berjalan santai menuju ruang depan dimana ada tamu sedang menunggunya. Matanya langsung menyipit begitu melihat sosok laki-laki berdiri disana. Laki-laki yang sudah dia tunggu kedatangannya.


Tanpa bicara sepatah katapun Barra menyambut kedatangan Malik. Dia menghampiri Malik dan langsung memukulnya. Malik yang belum siap, tidak dapat menghindari serangan Barra dan terjatuh karena pukulan Barra tepat mengenai perutnya. Malik segera berdiri. Tanpa ragu dia membalas pukulan Barra yang juga tepat mengenakan perutnya.


"Masih punya nyali datang ke rumahku?! Kamu tidak punya malu atau tidak punya otak?!" geram Malik.


"Apa maksudmu menghancurkan rumahku?!"


"Itu adalah balasan karena ku sudah menyakiti istriku."


"Aku berbuat demikian begitu kepada Rania karena ada alasannya. Tidak berarti kamu boleh menghancurkan rumahku untuk membalasnya!!!"


"Lalu aku harus bagaimana? Memukuli istrimu untuk membalas kelakuanmu?!" Malik kembali menyerang Barra. Dia kembali teringat bagaimana dia menemukan Rania tergeletak lemah di lantai kantornya setelah dipukuli oleh Barra.


"Cih ... Laki-laki macam apa yang tega memukuli wanita!!! Apalagi wanita itu sedang hamil?!!" Malik terus berusaha menyerang Barra. Tetapi Barra tidak mau kalah, dia juga berusaha menyerang Malik. Mereka saling pukul dan saling tendang hingga ruangan itu menjadi berantakan.


Malik tertawa. "Bukankah itu salahmu? Sepertinya Aku harus berterima kasih pada Hanna. Karena dia, Rania bercerai darimu dan aku bisa memiliki dia seutuhnya."


Barra mencengkeram leher Malik dan mendorong tubuhnya hingga membentur tembok.


"Kenapa kamu marah? Kami menyesal sudah kehilangan permata seperti Rania?" tanya Malik masih diiringi tawa. Dia senang sekali melihat Barra terbakar emosi karena kata-katanya. Dia membiarkan saja malik memukulinya.


"Pantas kamu memukuli wanita ternyata pukulan mu hanya seperti ini? Ini tidak ada artinya bagiku." Malik semakin membuat Barra emosi. Jika Barra terus mengikuti emosinya maka energi nya akan cepat habis dan Malik dengan mudah bisa menghajarnya. Barra terus menyerang Malik. Beberapa kali pukulan Barra mengenai wajahnya.


Setelah Malik melihat Barra mulai kehabisan tenaga barulah memulai serangannya. Dia lancarkan pukulan ke wajah dan juga perut Barra.


"Kamu telah membunuh anakku! Kamu harus menerima akibatnya."


"Apa maksudmu?"


"Anak yang dikandung Rania waktu itu adalah anakku! Dan kamu telah membuatku Rania keguguran. Jadi kamu secara tidak langsung telah membunuh anakku!"

__ADS_1


"Jadi dia selingkuh denganmu?" Barra kembali bangkit dan hendak mendaratkan pukulan di wajah Malik. Tapi Malik berhasil menangkisnya. Dia meraih kepala Barra dan membentuknya ke lututnya. Darah segar mengalir dari hidung Barra.


Belum cukup sampai di situ. Malik kemudian melemparkan tubuh Barra sembarangan hingga membuat sofa yang ada di ruangan itu terdorong oleh tubuh Barra. Malik masih belum puas, dia menghampiri tubuh Barra yang masih tergelak dan melanjutkan aksinya. Dia terus memukuli Barra dan menendangi tubuhnya.


"Akhirnya aku bisa membalas mu!"


* * *


Rania terbaring di ranjang rumah sakit. Dia tadi menemukan Malik sedang menghajar Barra habis-habisan hingga wajahnya berlumuran darah. Rania yang shock melihatnya Malik berbuat brutal membuatnya mengalami kontraksi dan tekanan darahnya tinggi. Karena itu dia dilarikan ke rumah sakit. Tapi jika Rania tidak menemukan mereka berdua berkelahi mungkin sekarang Barra sudah mati di tangan Malik.


Rania masih tidak mau bicara kepada Malik. Dia sangat tidak percaya malik bisa berbuat sekejam itu.


"Sayang ... Maafkan aku ..."


Rajia diam membisu, bahkan dia tidak mau melihat wajah Malik.


"Aku sudah menahan diri cukup lama agar tidak menghajarnya. Kamu tahu sendiri kan?"


"Tapi itu tidak lantas membuat mu menjadi monster seperti itu. Bagaimana jika tadi aku tidak turun dan melihat mu? Pasti kamu sudah membunuhnya!"


"Ran ..."


"Aku tahu kamu marah dan tidak terima. Tapi kami tidak perlu mengotori tanganmu! Aku sudah hampir melahirkan Malik. Bagaimana jika dia menuntut mu dan kamu dipenjara? Aku tidak mau melahirkan tanpa suami!"


"Tenanglah ... Dia tidak akan berani menuntut ku. Yang dia lakukan kepadamu juga tidak bisa dimaafkan. Aku juga bisa menuntutnya untuk itu."


Rania masih membuang mukanya dari Malik.


"Sudah dong gadis nakal ... Jangan marah lagi."


"Sudah aku bilang, aku sudah bukan gadis lagi!!!"


"Lihat aku ..."


"Nggak mau ...! Aku nggak mau melihat wajahmu!" Memang wajah Malik juga dipenuhi memar akibat pukulan dari Barra. Tapi tidak separah luka yang di derita Barra.

__ADS_1


Sementara itu di ruangan lain di rumah sakit yang sama, Barra tergeletak lemah. Kondisinya cukup parah. Tiga tulang rusuknya patah, beberapa gigi nya tanggal. Tulang hidungnya juga patah jadi harus dilakukan operasi. Belum lagi jahitan di sudut bibir dan juga pelipisnya. Beruntung tadi Rania muncul berteriak histeris. Itu berhasil membuat Malik menghentikan serangannya yang membabi buta.


__ADS_2