
Mobil sudah memasuki garasi tapi Rania masih tertidur. Barra sengaja tidak membangunkannya. Dengan sigap langsung meraih tubuh Rania dan menggendongnya menuju kamar.
Rania membuka matanya. Tapi dia tidak bereaksi apapun dan menikmati saja perlakuan Barra ini. Sampai di kamar Barra langsung membaringkan tubuhnya di tempat tidur.
"Kamu ingin melanjutkan tidur?" tanyanya.
Rania hanya mengangguk dan memejamkan matanya lagi. Barra mengecup keningnya kemudian membiarkannya tidur dengan tenang. Setelah itu dia juga ikut berbaring di samping Rania.
Barra berusaha memejamkan matanya tapi tidak bisa. Dia tidak terbiasa tidur siang karena selalu bekerja. Akhirnya dia memeluk Rania. Tangannya menerobos masuk ke dalam pakaian yang sedang dikenakan Rania kemudian mengelus-elus perut istrinya itu. Sesuatu yang sangat dia idam-idamkan.
Rania menggeliat merasakan geli di perutnya.
"Barra, jangan menggangguku," ucap Rania masih memejamkan matanya.
Tapi Barra tetap melakukannya. Dia terus mengelus perut Rania bahkan semakin lama semakin ke bawah.
"Barra ...! Singkirkan tanganmu ... Aku mau tidur!" Rania mencoba menyingkirkan tangan Barra dari perutnya tapi dia kalah cepat. Tangan Barra sudah mencapai bagian tubuhnya yang paling disukainya, bagian paling sensitifnya.
Dan bisa dibayangkan apa yang terjadi selanjutnya.
* * *
Wajah Rania tampak cemberut. Dia menunjuk bajunya yang berserakan di lantai karena ulah Barra. Barra segera memunguti baju itu dan memakaikannya ke tubuh Rania.
"Maaf kan aku ya sayang ... Sudah mengganggu tidur siang mu," ucap Barra. Tapi Rania tidak menjawab.
Dia hanya mendengus kesal. Wajahnya yang cemberut membuat Barra semakin gemas dan kembali mengecup bibir itu berkali-kali. Bibir yang selama beberapa Minggu ini tidak dia ciumi.
"Ah ... Sudah cukup!" Rania menggeleng-gelengkan kepalanya saat Barra kembali akan mengecup bibirnya.
"Habisnya aku kangen banget sama kamu. Sudah beberapa Minggu aku tidak menyentuh tubuhmu."
"Sekarang aku mau tidur. Sana pergi ... Jangan ganggu aku lagi."
"Iya ... iya ... aku akan meninggalkan kamu agar kamu bisa tidur dengan tenang." Barra mengecup kening Rania kemudian meninggalkan dia di kamar kemudian dia turun menuju ruang keluarga. Dia menyalakan televisi dan menonton siaran sepak bola kesukaan.
Belum lama dia dia menyaksikan siaran bola tersebut Rania menyusulnya kemudian duduk di sampingnya. Tanpa berkata apa-apa, dia langsung meraih remote dan mengganti saluran sepak bola yang sedang di tonton Barra dengan drama Korea kesukaannya.
Barra yang hendak marah karena siaran favoritnya diganggu langsung tidak berkutik.
Mata Rania melotot. "Apa? Mau marah?"
__ADS_1
"Engga kok ... " Barra memaksakan dirinya tersenyum. "Kamu ngga jadi tidur siang."
"Ngga jadi! Tadi ada yang gangguin, jadinya sekarang aku ngga bisa tidur!" jawabnya sewot.
"Ya sudah ... Aku temani kamu nonton drama Korea."
Saat tengah serius menyaksikan drama, mertua Rania muncul entah dari mana.
"Kalian sudah pulang?" tanyanya yang sekilas terlihat kaget melihat Barra dan Rania duduk berdua di sana.
"Sudah sejak tadi ... Ibu mau kemana?" balas Barra. Sementara Rania diam dan terlihat acuh dengan mertuanya.
"Aku mau keluar bersama teman-teman ku sebentar," jawab Ibu Barra sambil berjalan terburu-buru seperti menghindari Barra.
"Tunggu sebentar Bu, aku mau bicara." Barra menyusul ibunya yang sudah hampir mencapai pintu depan.
"Nanti saja, itu taksi online ibu sudah menunggu di depan," jawab ibunya setengah berteriak karena dia mempercepat langkahnya agar tidak tersusul oleh Barra.
Barra menghentikan langkahnya karena ibunya sudah tidak kelihatan.
"Taksi online? Memangnya mobil ibu belum dikembalikan?" gumam Barra. Kemudian dia berjalan menuju garasi. Hanya ada mobilnya di sana. Mobil ibunya dan mobil Rania juga tidak ada. "Aneh!" pikirnya.
Tidak berlama-lama, dia kembali menuju ruang tengah dimana istrinya berada. Sampai di sana dia dikejutkan dengan Rania yang sedang duduk sambil terus menyeka air matanya.
Tapi Rania tidak menjawab. Air matanya terus mengalir bahkan dia mulai terisak.
Duh ... kenapa lagi ini?
"Kamu ingin sesuatu?" Rania menggeleng menanggapi pertanyaan Barra, tapi matanya terus menatap lurus ke depan. "Apa ibu menyakiti perasaan mu?" Rania menggeleng lagi. Barra yang kebingungan tidak tahu harus bagaimana karena Rania tetap tidak menjawab dan juga tidak mau menatapnya.
"Lalu kamu kenapa? Katakan padaku jangan bikin aku bingung." Barra mulai panik.
"Berisik banget sih!!! Aku lagi nonton itu kasihan!" ucap Rania tanpa mengalihkan pandangannya dari televisi.
"Nonton apa?" Barra tidak mengerti maksud Rania. Setelah itu dia mengikuti arah pandangan Rania barulah dia mengerti kenapa Rania menangis.
Barra mendengus kesal. Rasanya dia ingin membenturkan kepalanya sendiri ke tembok merasakan emosi labil Rania.
Hatiku sudah tak karuan melihat dia nangis, takut jika dia marah lagi padaku.Ternyata dia menangis karena nonton drama Korea?!
Barra menjambak rambutnya sendiri karena gemas dengan tingkah Rania.
__ADS_1
Malam harinya, Barra dan Rania hanya makan malam berdua. Ibunya belum pulang, sedangkan Bi Yani dan Mbak Imah libur karena Barra libur kerja. Jadi Barra akan mengajak Rania makan malam di luar.
"Kamu ingin apa untuk makan malam?"
"Aku ingin beef steak," jawab Rania mantab.
"Siap Nyonya Danendra." Kemudian Barra menghidupkan mobilnya dan mereka berangkat.
"Kamu tahu ... jika waktu hamil lebih suka makan daging kemungkinan anaknya laki-laki."
"Ah ... Siapa bilang?"
"Teman-teman ku yang bilang. Terus kalau lebih suka makan sayur dan buah, kemungkinan besar anaknya perempuan,"
"Ngga ada, itu cuma hoax." Rania tidak percaya.
"Ya sudah kalau tidak percaya. Ngga apa-apa. Kalau menurut kamu, anak kita laki-laki atau perempuan?"
"Ngga tau sih, sama saja buatku."
"Kok sama saja? Terus nanti kita bikin kamar bayinya gimana?"
"Kan masih nanti? masih lama ini lahirannya."
"Kamu jadi ingin kamar warna peach jika anak kita perempuan? atau merah jika laki-laki?"
Rania menoleh dan tersenyum. "Iya. Kita akan mewujudkannya."
Barra juga membalasnya dengan senyuman. Impian mereka akan terwujud. Barra menggenggam tangan Rania erat sambil mengemudikan mobilnya. Dia tersenyum penuh kemenangan karena berhasil mempertahankan Rania di sisinya.
Setelah beberapa lama akhirnya mereka tiba di restoran steak favorit Rania.
"Kita sudah sampai. Ayo kita turun." Barra membuka sabuk pengamannya dan turun lebih dulu. Kemudian dia berlari ke sisi mobil yang lain untuk membukakan pintu agar Rania turun.
"Silahkan Ratuku, kita sudah sampai," ucap Barra setelah dia membukakan pintu mobil untuk Rania.
Tapi Rania tidak langsung turun. Dia hanya melihat ke arah restoran itu sebentar dan terlihat ragu.
"Ada apa sayang?" tanya Barra mulai khawatir. Dia takut jika Rania tiba-tiba tidak enak badan atau mual lagi.
"Setelah aku pikir-pikir, aku ingin makan sate kambing lagi," ucap Rania tanpa rasa berdosa.
__ADS_1
" ...??? "