
Barra sedikit lega mendengar putusan hakim mengenai kasusnya. Jaksa penuntut menuntutnya lima tahun penjara tapi dia hanya dijatuhi hukum satu tahun penjara. Tidak bisa dipungkiri, ini pasti berkat campur tangan Affandi. Dia menggelontorkan uang yang tidak sedikit sebagai jaminan.
Sementara ibunya benar-benar tidak mau menemui Rania untuk meminta suaminya membatalkan tuntutannya. Dia terlalu gengsi untuk meminta bantuan pada Rania.
"Hanna ... berjanjilah untuk menungguku. Aku akan lebih baik setelah keluar dari sini." Kata-kata Barra kemarin dia ucapkan lagi seolah dia benar-benar takut ditinggalkan Hanna.
Hanna tidak menjawab. Dia hanya menatap Barra dengan tatapan hampa. Hanna menemui Barra di selnya setelah sidang selesai sebelum nantinya dipindahkan ke lapas.
"Sering-seringlah membawa Alicia mengunjungi ku nanti," ucap Barra lagi memohon pada Hanna.
"Hanna ... bicaralah ..." Barra terlihat putus asa di balik jeruji besi.
"Satu tahun tidak akan terasa lam Hanna ... Kita pasti bisa melaluinya." Barra mencoba meraih tangan Hanna tapi Hanna menepisnya. Dia masih tidak berkata-kata.
"Hanna ... Aku mohon ... demi Alicia, anak kita ..."
Akhirnya Hanna mengangguk. Hatinya selalu luluh setiap kali Barra menyebut anaknya.
"Aku harus pergi," ucap Hanna meninggalkan Barra.
* * *
"Kamu cantik sekali," goda Malik.
"Malik hentikan!" Rania mencoba menghentikan tangan Malik yang sudah tidak pada tempatnya. "Kalau kamu seperti ini terus aku tidak akan selesai berpakaian!"
"Jangan dandan cantik-cantik, nanti banyak yang melirik mu."
"Mau bagaimana lagi? Aku ini sudah cantik dari lahir!" jawab Rania cuek.
Malik tertawa. "Dasar gadis nakal!"
Akhirnya Rania selesai bersiap-siap meski memakan waktu yang cukup lama karena Malik terus mengganggunya.
"Kamu sudah siap?" tanya Malik sambil memandangi Rania dari pantulan cermin.
Rania udah tidak seperti gadis kecil waktu mereka pertama kali bertemu, tapi wanita dewasa yang terlihat cantik natural.
"Lihatlah, semakin dewasa kamu semakin cantik, dan tubuhmu ... hmm ... aku ingin segera malam lagi." Malik tak henti-hentinya mengagumi penampilan Rania.
__ADS_1
"Aku sedikit gugup." Rania berbalik ke arah Malik.
"Tidak apa-apa. Wajar, kamu sudah lama tidak bekerja. Nanti kamu akan terbiasa lagi. Kalau kamu ragu kamu boleh membatalkannya."
"Tidak, aku sudah bilang aku bersedia kepada Mama, jadi aku harus bisa!"
"Baiklah ... Ayo ..." Malik menggandeng tangan Rania.
Rania akan mulai bekerja hari ini. Setelah Maharani berulang kali membujuknya akhirnya Rania bersedia bekerja di perusahaan mereka. Mungkin sebagai awalan dia akan menempati posisi sebagai direktur pemasaran karena kebetulan kosong. Setelah dia sudah cukup belajar, dia bisa menggantikan Affandi memimpin perusahaan.
Berulang kali Maharani membujuk Rania karena Malik benar-benar tidak tertarik dengan perusahaan. Setelah kaki Maharani lumpuh, Malik tidak pernah berminat untuk menjalankan perusahaan. Dia hanya mengabdikan dirinya untuk dunia kedokteran. Bahkan sebentar lagi dia akan mendirikan rumah sakitnya sendiri.
Sampai di bawah Rania sudah disambut oleh Maharani yang juga sudah berpenampilan rapi di atas kursi rodanya.
"Mama ikut?" tanya Rania.
"Iya sayang ... Mama akan memperkenalkan kamu kepada dewan direksi. Tidak mungkin Malik yang memperkenalkan kamu karena tidak ada yang mengenali anak nakal itu di perusahaan." Maharani menunjuk ke arah Malik.
"Adalah Mah, beberapa masih ada yang mengenali aku." Malik berkilah.
"Bagaimana jika nanti mereka tidak menerima ku? Mereka menerimaku karena aku menantu mama bukan karena kemampuan ku?" tanya Rania ragu.
Rania mengangguk.
"Kamu dengar gadis nakal? Percaya diri! Itu kuncinya."
"Lagian gadis kecil ... nantinya perusahaan itu akan menjadi milikmu. Mau tidak mau kamu harus belajar menjalankannya mulai dari sekarang. Kamu tahu sendiri kan anak nakal itu tidak mau melanjutkan perusahaan Papa nya," menunjuk ke arah Malik lagi sementara Malik hanya senyum-senyum.
"Kalau tidak mau jangan dipaksa Mah."
"Maaf ya sayang ... tapi Mama memaksa, jadi kamu harus mau!" jawab Maharani tegas tapi diiringi senyuman.
"Sayang kan, menggaji Affandi mahal-mahal sementara anaknya sudah menghancurkan hidupmu? Lebih baik uang untuk menggaji Affandi kita gunakan untuk donasi. Lebih bermanfaat bukan?"
Kata-kata Maharani menjadi cambuk bagi Rania untuk semakin mantab bekerja di perusahaan mereka.
"Tapi ... sampai kamu merasa sudah cukup mampu menjalankan perusahaan, kita jangan pecat Affandi dulu. Dia cukup pintar. Belajar lah darinya apa yang bisa dipelajari. Dia sudah cukup sukses menjalankan perusahaan selama ini," imbuh Maharani.
Ranai hanya mengangguk.
__ADS_1
"Baiklah, kita berangkat setelah sarapan."
* * *
Di perusahaan ...
Kasak kusuk telah tersebar di kalangan pegawai. Akan ada rapat direksi pagi ini, mungkin akan ada perombakan besar-besaran. Semua petinggi-petinggi perusahaan juga sudah berkumpul di depan ruang meeting.
Kemudian masuklah seorang wanita yang duduk di kursi roda di dorong oleh seorang pelayan bersama wanita cantik bak barbie hidup berjalan di sisi kirinya dan seorang pria luar biasa tampan di sisi kanannya.
Ada beberapa yang melongo melihat kedatangan orang-orang ini tapi ada juga yang tersenyum lebar menyambutnya.
"Apa kabar nyonya Hammani? Senang melihat anda kembali," sambut ramah salah seorang di ruangan itu.
Maharani tersenyum. " Aku baik-baik saja Tuan, seperti yang anda lihat," balas Maharani.
"Apa dia Malik?" tanya orang itu lagi. Maharani mengangguk. "Lihatlah dirimu Malik, kamu benar-benar fotokopi ayahmu," ucap orang itu lagi. "Lama sekali aku tidak melihat mu."
Malik tersenyum. "Apa kabar Paman?"
"Bisa kita mulai sekarang?" tanya Maharani.
"Iya ... silahkan ... " Tentu saja semua orang segan terhadap Maharani. Dia adalah owner perusahaan dan seluruh saham adalah miliknya.
Setelah semuanya berada di posisi masing-masing, Maharani segera memulai rapat direksi. Dia mengumumkan jika dia menyerahkan 50% saham miliknya kepada Rania, 40% kepada Malik, dan hanya menyisakan 10% persen untuk dirinya. Dan mulai hari itu Rania akan berkerja di perusahaan.
Semua orang menyambut antusias apa yang baru saja Maharani sampaikan kecuali Affandi. Memang dia tidak menunjukkan ketidaksukaannya, tapi wajahnya datar-datar saja tidak seperti yang lainnya.
Setelah memperkenalkan Rania kepada anggota direksi, Maharani dan Malik membawa Rania ke ruangan yang nantinya akan menjadi ruangannya.
"Mah ... Apa mamak nggak berlebihan memberikan 50 persen saham Mama untukku?"
"Tentu saja tidak, bahkan Mama akan memberikan 10 persen sisanya jika kamu hamil nanti. Untuk hadiah cucu ku tentu saja."
Rania terharu. Belum apa-apa mertuanya ini sudah melimpahkan harta yang tidak tanggung-tanggung jumlahnya.
"Terima kasih Mah ..." Rania memeluk erat Maharani.
"Sebenarnya yang anak Mama itu aku atau dia sih Mah?" Malik cemburu dengan kedekatan Mamanya dengan Rania.
__ADS_1
Tapi dia hanya menggoda Rania saja karena dia tahu Mamanya menganggap Rania seperti anaknya sendiri. Rania mengingatkan Mamanya pada putrinya yang sudah meninggal, saudari kembarnya Malik yang meninggal karena kecelakaan bersama Papa nya.