
Barra sedang memasak seblak di dapur sementara Rania duduk di meja makan menunggunya. Beruntung tadi dia sudah meminta Imah menyiapkan semuanya sehingga dia tinggal memasaknya saja.
"Kamu tadi meeting lagi?"
"Tidak," jawab Barra singkat. "Eh .. maksudku iya ...." koreksi Barra . "Sayang ... ini aku bikin yang nggak pedas ya, makanan pedas nggak bagus untuk kandungan kamu." Barra mengalihkan pembicaraan.
"Masa seblak nggak pedes? Nggak enak dong,"
"Oke ... tapi pedes dikit aja ya..."
Tak berselang lama seblak buatan Barra pun jadi. Dia membawanya ke hadapan Rania kemudian dia duduk di kursi sebelahnya.
Rania tersenyum cerah melihat seblak buatan suaminya tersaji di hadapannya.
"Aku makan ya ..." mengambil satu sendok kemudian meniupnya pelan karena masih panas, setelah itu baru memasukkannya ke dalam mulutnya.
"Bagaimana rasanya?" tanya Barra penasaran.
"Mmm ... " Rania tampak berpikir sebentar. "Sebenarnya ini tidak enak ... tapi aku sangat ingin makan seblak dan aku juga kelaparan dari tadi siang belum makan. Jadi ya ... nggak apa-apalah dari pada anakku nanti ileran."
"Kenapa tadi tidak makan? Kasihan kan anak kita?" tanyanya sambil menyisihkan rambut yang menutupi sebagian pipi Rania.
"Karena menunggu ini." Rania menunjuk seblak di depannya. "Kamu sudah berjanji akan membawakan ini sepulang kerja. Tapi kamu malah lembur lagi dan nggak ngasih tahu dulu."
Hati Barra berdesir mendengar penjelasan Rania. Dia sampai menahan lapar karena menunggunya pulang, tapi dia justru menemui Hanna.
"Memangnya ada proyek besar apa, kok sampai dua hari berturut-turut meeting dadakan terus?" tanya Rania sambil terus memakan seblak nya.
"Oh ... itu mau ada investor asing menanamkan modal, jadi kami harus menyiapkan presentasi yang terbaik," Barra mengarang cerita.
"Kalau tidak enak tidak usah di makan Ran ... nanti kamu sakit perut."
__ADS_1
"Nggak apa-apa, aku doyan kok." Masih terus mengunyah seblak nya. "Sudah sejak tadi siang aku menginginkannya."
"Aku akan membuatkan susu untukmu." Barra beranjak dari duduknya kembali menuju pantry. Sebenarnya dia hanya ingin menyembunyikan rasa bersalahnya karena telah membohongi Rania.
"Barra ... mana susu nya?" Suara Rania mengagetkan Barra yang sedang melamun di samping dispenser.
"Kenapa kamu kesini? Biar aku saja yang membereskan piring kotornya." Barra meraih piring kotor dari tangan Rania.
"Kamu sedang ada pikiran? kok melamun lagi?"
"Eh ... Aku sedang memikirkan investor asing itu. Ini proyek besar, kalau sampai gagal karirku yang dipertaruhkan," Barra berbohong lagi.
Rania tersenyum. "Tenang saja ... kamu kan pintar dan sudah berpengalaman, pasti ini tidak akan sulit," hiburnya. Tapi bukannya terhibur, rasa bersalah Barra justru semakin memenuhi relung hatinya.
"Maafkan aku ya ... Nggak bisa ngertiin kamu. Udah capek-capek kerja pulang masih harus meladeni aku, harusnya kan sebaliknya." Rania memeluk Barra dari belakang karena dia sedang menghadap wastafel hendak mencuci piring bekas seblak Rania.
Berkali-kali Barra mengumpat dalam hatinya, menyesali kesalahannya. Bagaimana jadinya jika Rania tahu kehamilan Hanna. Dia pasti akan meninggalkannya tanpa bisa diberi penjelasan lagi. Dia tidak bisa melepaskan istri yang sangat pengertian ini. Istri yang telah bersabar di sisinya selama lima tahun di tengah hinaan dan cacian dari orang-orang sekitarnya, termasuk dirinya sendiri dan ibunya.
Barra berbalik hingga posisi mereka sekarang saling berhadapan. Rania mengalungkan tangannya ke leher Barra sementara Barra meletakkan tangannya di pinggul Rania.
Barra mendesah kesal. "Itu pasti ibu! Dari mana sih jam segini baru pulang?!"
Barra melepaskan tangannya dari Rania dan berjalan menuju pintu depan untuk menyambut ibunya dengan interogasi.
"Ini sudah tidak wajar!!" gumam Barra geram. Ibunya terus-terusan pulang malam padahal dia hanya main-main di luar, bukan karena ada kegiatan penting.
"Jadi sebenarnya apa yang ibu lakukan di luaran sana? Apa ibu pergi ke klub malam? Masa iya ada klub malam untuk orang-orang seusia ibu?"
Rania hanya memandangi Barra yang mulutnya terus komat-kamit menggerutu atas kelakuan ibunya. Dia tidak mengikuti Barra menemui ibunya, tidak ada gunanya. Dia tidak ingin terlibat pertengkaran ibu dan anak itu karena mungkin mertuanya akan menuduhnya sebagai pemicunya.
Rania kembali ke meja makan sambil membawa segelas susu hangat di tangannya. Samar-samar dia masih bisa mendengar percakapan Barra dengan ibunya.
__ADS_1
"Sebenarnya ibu dari mana sih? Kenapa setiap malam pulang larut begini?"
"Sudah ku bilang, aku pergi bersama teman-temanku," jawab ibunya santai.
"Jangan berbohong Bu ... mana ada jam segini orang-orang seusia ibu masih keluyuran!"
"Jaga bicaramu Barra! Ibu tidak keluyuran!"
"Lalu ini apa? Masih mending sekarang baru jam dua belas. Kemarin ibu pulang jam dua pagi! Apa itu masuk akal untuk wanita seusia ibu?! Ibu ini janda, jadi jaga kehormatan dan harga diri ibu!!" Barra mulai meninggikan suaranya.
"Katakan ibu pergi kemana sampai selarut ini?"
"Aku juga butuh hiburan Barra. Aku kesepian! Jangan terus mengajari aku caranya menjaga harga diri! Aku sudah menjadi janda sejak kamu SMA! Apa itu belum cukup?!"
Memang benar apa yang dikatakan ibunya. Selama ini ibunya lah yang merawat Barra sendirian. Sejak ayahnya meninggal, Ibunya tidak menikah lagi. Dan setahu Barra, ibunya itu juga tidak pernah menjalin hubungan dengan pria lain. Selama ini ibunya membiayai hidupnya dari aset-aset yang ditinggalkan ayahnya, ada beberapa ruko yang disewakan dan juga rumah kontrakan. Dari situlah Ibunya membiayai hidup mereka berdua selama ini.
Barra tidak bisa menyalahkan ibunya jika dia merasa kesepian. Sudah bertahun-tahun ibunya hidup sendiri tanpa belaian seorang pria. Sebagai seorang laki-laki dewasa Barra paham betul apa yang dibutuhkan ibunya.
"Duduklah Bu ... kita bicara baik-baik."
"Apa yang ingin kamu bicarakan? Tidak ada yang perlu dibicarakan," jawab ibunya ketus.
"Duduk Bu!!!" ucap Barra tegas. Akhirnya ibunya itu menuruti kata-kata Barra.
"Aku tidak keberatan jika ibu ingin menjalin hubungan dengan seorang laki-laki. Aku bisa terima itu, aku memahaminya. Tapi ibu tidak perlu pulang larut terus seperti ini, tidak baik. Jalani lah hubungan yang wajar Bu. Carilah orang yang menurut ibu tepat untuk ibu. Ingat usia ibu, ibu ini sudah tidak muda lagi. Aku tidak ingin ada suara sumbang di lingkungan kita karena kebiasaan Ibu pulang larut. Tetangga-tetangga kita bisa berpikiran macam-macam."
"Aku sudah melunasi hutang ibu yang tiga ratus juta, masih seratus juta lagi di Bu Sandy karena aku belum sempat mengurusnya. Aku harap lain kali ibu bicara padaku kalau membutuhkan uang. Aku tidak ingin menanggung malu jika sampai orang yang meminjamkan uang kepada ibu menagih ke kantor."
Ibunya menatap sinis ke arah Barra.
"Sudah selesai kamu bicara? Sudah puas? Apa karena kamu sudah melunasi hutangku lantas kamu merasa bisa seenaknya menceramahi aku?! Aku ini Ibumu Barra!! Apa karena kamu sudah bisa menghasilkan uang sendiri lantas kamu bisa mengatur ibumu, memberi tahu mana yang baik dan mana yang tidak baik? Jangan kurang ajar pada ibumu Barra!!"
__ADS_1
"Bu ... jangan salah sangka ..."
"Dengar Barra ... Aku menjalin hubungan dengan siapapun itu adalah privasiku! Kamu tidak berhak mencampurinya!!!"