Balasan Untuk Suamiku

Balasan Untuk Suamiku
Ruang VVIP


__ADS_3

Rania segera mengalihkan pandangannya.


"Aku ingin milikmu saja. Boleh?"


"Tentu saja." Malik kembali menyuapi Rania.


"Sepertinya rasa tiramisu lebih enak."


"Lagi ... lagi ..." Satu sendok lagi masuk ke mulut Rania.


Sepasang mata yang sejak tadi melihat kearah mereka berdua semakin panas melihat adegan ini. Rania memang sengaja melakukanya, tapi Malik tidak sadar sejak tadi ada mata yang mengawasinya.


Dari sudut matanya Rania tahu Barra sedang berjalan ke arahnya dan Malik.


"Ran ... " sapa Barra. Dia terlihat terpesona dengan penampilan Rania. Dan disaat yang sama dia juga panas melihat dia bersama laki-laki lain. "Siapa dia?"


Rania tidak menjawab pertanyaan Barra. Dia bahkan tidak mau menatap wajah pria itu. Pria yang pernah sangat dicintainya, tapi juga yang paling banyak menyakitinya.


"Malik ... kita pulang sekarang."


"Kamu tidak menghabiskan dessert mu? Bukankah kamu bilang enak?"


"Aku sudah kenyang." Rania berdiri. Dia berlalu begitu saja tanpa menjawab Barra. Tapi Barra tidak tinggal diam, dia menarik tangan Rania hingga Rania tidak bisa melangkah lebih jauh.


"Lepaskan tanganmu!!!" suara mencekam keluar dari mulut Malik. Dia berdiri kemudian meraih tangan Rania yang sedang dipegang oleh Barra.


Malik dan Barra memang belum pernah bertemu sebelumnya. Tapi melihat dari kejadian tadi Malik bisa menyimpulkan bahwa pria di depannya ini adalah Barra, suami Rania.


"Kamu tidak usah ikut campur!" balas Barra. Kedua pria itu saling lempar tatapan permusuhan.


"Malik ... Ayo kita pergi dari sini," ucap Rania sambil menyembunyikan wajahnya dari kedua pria itu.


Rania memang sudah siap untuk bertemu Hanna dan mertuanya, tapi untuk bertemu Barra dia belum siap. Hatinya kembali teriris-iris saat teringat semua perlakuannya padanya, teringat bagaimana dia harus terlunta-lunta di jalanan karena Barra mengusirnya, teringat juga bagaimana sakitnya saat dia harus kehilangan bayinya, bagaimana Barra melangsungkan resepsi mewah, disaat dia sedang dalam masa pemulihannya. Dan Barra bahkan sama sekali tidak menanyakan kabarnya.


Rania berlari meninggalkan kedua pria itu.


"Kamu sudah tidak berhak atas dia! Jauhi dia!!!" ancam Malik.


"Aku masih suaminya secara sah! Kamu yang harus jauhi dia!!!"


"Tidak akan lama lagi!" Malik berlari mengejar Rania ke tempat parkir mobil. Sampai di sana dia menemukan Rania bersandar di mobil sambil menahan air matanya. Direngkuhnya tubuh wanita itu kedalam pelukannya.

__ADS_1


Tidak ada isak tangis, tapi air mata Rania langsung mengalir begitu dia sudah dalam pelukan Malik.


"Kita pulang," ucapnya pelan sambil membukakan pintu mobil untuk Rania.


Selama perjalanan pulang mereka berdua diam. Malik larut dalam pikirannya sendiri. Dia merasa jika Rania masih belum bisa melupakan Barra, karena itu dia tidak mau menjawab pertanyaannya tadi pagi mengenai status hubungan yang mereka jalani sekarang.


Sementara itu Rania juga larut dalam pikirannya sendiri. Rania sangat kecewa. Dia berharap setidaknya Barra menanyakan kabarnya terlebih dahulu, menanyakan bagaimana kandungannya. Bagaimana pun juga pakaian yang dikenakan Rania sekarang menunjukkan kalau perut Rania sudah ramping seperti semula. Tapi Barra bahkan tidak menyadarinya. Apakah ini tandanya dia masih mengharapkannya?


* * *


Handphone Rania berdering.


"Halo ... "


"Halo, selamat siang. Saya asisten bapak Affandi, bisa bicara sebentar?"


"Ya, ada apa?"


"Bapak Affandi ingin bertemu dengan anda. Kapan anda ada waktu?" tanya suara di seberang telfon.


"Kapan saja."


"Oke."


"Terima kasih ... selamat siang." Telepon ditutup.


Rania tersenyum tapi juga berdebar. Apakah ini langkah yang tepat yang dia ambil.


Tepat pukul 7 malam Rania sudah berada di restoran yang dijanjikan. Mengenakan dress malam yang anggun dan berkelas, Rania terlihat percaya diri, tidak seperti istri yang sudah disia-siakan suaminya. Jauh dari kata lusuh seperti ketika dia masih menjadi istri Barra.


Rania sudah disambut oleh pelayan di depan pintu untuk menanyakan reservasi. Dia langsung di bawa ke ruang VVIP. Rania tahu Affandi bukanlah orang sembarangan jadi tidak mungkin dia diajak untuk bertemu di restoran biasa.


Sebelum memasuki ruangan, Rania terlebih dahulu mengirim pesan kepada Malik.


Aku berada di ruangan VVIP restoran X menemui Affandi. Cari aku jika nomorku tidak bisa dihubungi.


Rania tidak ingin teledor. Dia memberi tahu Malik untuk berjaga-jaga seandainya Affandi melakukan hal-hal diluar dugaannya.


Rania mempersiapkan mentalnya. Dia tidak tahu apa-apa tentang Affandi selain yang dia dengar dari media massa. Mereka menggambarkan Affandi adalah sosok yang angkuh dan tidak bisa diajak negosiasi.


Rania memasuki ruangan. Seorang pria dewasa yang belum terlalu tua menyambutnya. Persis seperti yang Rania lihat di televisi, Harun Affandi.

__ADS_1


Pria itu berdiri dan menjabat tangan Rania.


"Apa kabar? Saya Harun Affandi," sambut pria itu. Jauh dari apa yang digambarkan oleh media, Affandi tampak ramah. Dia juga tidak terlihat canggung maupun menjaga jarak.


"Saya Rania," balas Rania melemparkan senyum. Affandi menyambutnya dengan ramah, jadi dia juga membalasnya dengan ramah.


"Silahkan duduk ..."


"Terima kasih." Rania duduk di tempat yang sudah disiapkan. Berbagai macam makanan sudah tersaji di depannya.


"Jadi ... Apa yang ingin anda bicarakan?" tanya Affandi langsung ke intinya.


"Saya ingin membicarakan mengenai status pernikahan saya, anak anda, dan menantu anda, atau lebih tepatnya suami saya."


"Ya ... memang saya terkejut ketika sekretaris saya menyampaikan pesan anda. Memang saya tidak tahu menahu tentang suami Hanna, tapi saya juga tidak bisa percaya begitu saja dengan kata-kata anda."


"Ini ... " Rania mengeluarkan beberapa bukti dari dalam tasnya. "Itu adalah, foto pernikahan saya dengan Barra, menantu anda saat ini. Dan ini adalah akta nikah dan juga buku nikah kami. Semuanya asli. Kami masih sah sebagai suami istri."


Affandi melihat-lihat semua bukti yang dibawa oleh Rania dan menelitinya satu persatu. Dia menyerahkan kepada asistennya untuk diperiksa keasliannya.


Setelah beberapa saat assitennya mengembalikan semua dokumen itu sambil mengangguk.


"Oke ... Jadi apa yang anda inginkan sebenarnya?" tanya Affandi sambil melipat tangannya di atas meja.


"Saya kemari untuk membicarakan masalah ini secara baik-baik, mmm ... bisa dibilang secara kekeluargaan. Saya tahu anda orang yang punya pengaruh besar di kota ini. Berita buruk sedikit saja mengenai anda dan keluarga anda bisa mempengaruhi nama baik anda, apalagi jika beritanya adalah anak anda telah hamil di luar nikah dan merebut suami orang."


"Itu pun belum seberapa." Rania kembali mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya. Selembar kertas yang telah menjungkirbalikkan hidupnya, kertas hasil analisa sp*rma Barra.


"Barra, menantu anda dan juga suami saya terbukti mandul." Rania menyerahkan kertas itu pada Affandi.


Affandi membaca kertas itu dan tercengang.


"Jadi bisa anda simpulkan? Anak siapa yang dikandung putri anda?"


Affandi benar-benar tidak menyangka akan menemukan fakta yang mengejutkan tentang putrinya. Tadinya dia berpikir jika istri Barra ini hanya ingin memanfaatkan momen ini untuk meminta uang darinya. Tidak berpikir jika Rania memberikan bukti-bukti yang nyata dan tidak terbantahkan.


📢📢📢


Dear readers,


author mohon kasih like, komen dan vote nya ya... 🙏🙏 Author mohon maaf karena sedikit update. "Novel Balasan Untuk Suamiku" turun tiga level karena jumlah dukungan yang berkurang. Jadi Author mohon terus kasih dukungan biar author semangat up bab baru. Buat yang sudah setia membaca dan ngasih like, author sangat berterima kasih atas dukungannya 😘😘

__ADS_1


__ADS_2