Balasan Untuk Suamiku

Balasan Untuk Suamiku
Sensitif


__ADS_3

"Temani aku makan. Aku belum makan sejak tadi siang," pinta Barra.


Barra belum sempat makan karena tadi sibuk mencarikan mangga untuknya. Sebenarnya Rania malas, tapi melihat penampilan Barra yang kusut dan berantakan dia jadi kasihan.


"Aku sudah makan, jadi aku hanya menemani saja."


Barra tersenyum. "Terima kasih."


Mereka berjalan menuju ruang makan. Rania secara tidak sadar langsung menyiapkan piring dan mengambilkan nasi untuk Barra. Kebiasaannya melayani suaminya itu selama bertahun-tahun tidak bisa hilang begitu saja.


"Tidak perlu Ran, aku bisa ambil sendiri. Kamu duduklah. Aku hanya ingin ditemani makan. Itu saja." Barra segera mengambil piring dari tangan Rania dan menyuruhnya duduk.


"Apa masih sering muntah?"


"Kadang-kadang."


"Kapan jadwal periksa? Aku akan mengantarmu."


"Masih lama ...Tidak perlu. Aku bisa pergi sendiri. Biasanya aku juga pergi sendiri kan?" sindir Rania.


Barra diam. Suasana terasa aneh.


Jika Rania hamil saat keadaan mereka masih mesra-mesranya dulu, mungkin saat ini Rania sudah merengek minta ini itu, pusing minta sesuatu yang hangat, atau kakinya pegal minta dipijit, minta dibelikan sesuatu yang manis, atau ingin makan es krim durian kesukaannya. Tapi kondisinya sudah berbeda.


"Apa kamu ingin sesuatu lagi? Aku bisa mencarikannya besok sepulang kerja. Kamu tinggal bilang saja padaku."


"Aku bisa minta Mbak Imah mencarikannya. Jadi kamu ngga perlu capek-capek."


"Ran ... "


"Selesaikan saja makan mu!"


Barra tidak jadi melanjutkan kalimatnya. Rania di depannya ini sudah bukan Rania yang dulu. Rania sekarang adalah Rania yang dingin dan acuh.


"Dimana Ibu? Biasanya dia ribut jika mendengar aku pulang?" Barra mencoba mencairkan suasana.


"Aku tidak tahu. Tadi ada orang mencarinya. Sejak itu ibu tidak kelihatan."


"Kamu tahu siapa yang mencari ibu?"


Rania hanya mengangkat bahunya.


"Ran ... Apa kamu masih belum memaafkan aku?"

__ADS_1


"Aku sudah ngantuk. Aku mau tidur duluan." Rania bergegas pergi tanpa menjawab pertanyaan Barra. Laki-laki itu hanya bisa menatap kepergian Rania. Baginya itu berarti dia belum memaafkannya.


Aku akan tetap berusaha Ran ... Demi anak kita!


Barra masih menyelesaikan makannya ketika mendengar pintu depan di buka. Sepertinya itu ibunya yang baru pulang. Barra berdiri dan berjalan ke ruang depan untuk memastikannya.


"Ibu dari mana jam segini baru pulang?" sambut Barra.


"Oh ... itu ... Ibu habis arisan bersama teman-teman ibu," jawab ibunya sedikit gelagapan.


"Sampai jam segini?"


"Biasalah ... ibu-ibu kalau sudah berkumpul suka lupa waktu." Ibunya mencoba mencari alasan.


Barra tidak mengatakan apa-apa lagi. Dia berjalan menaiki tangga menuju kamarnya dan Rania. Sampai di kamar dia melihat Rania sudah memejamkan matanya walaupun dia tahu Rania sebenarnya belum tidur.


Dulu ... Rania pasti menunggunya pulang dan menyambutnya. Kemudian menyiapkan air panas untuknya mandi setelah itu menemaninya makan malam sambil mendengarkan keluhan dan ceritanya. Sekarang? Rania bahkan meninggalkan dia di meja makan sendirian. Baru sekarang Barra merasakan kehilangan perhatian itu. Dulu Rania pasti memaksa walaupun Barra sudah melarangnya.


Seperti ketika waktu itu Rania sedang tidak enak badan. Dia tetap memaksa untuk meladeni segala keperluan Barra meskipun Barra sudah melarangnya. Dan sebagai gantinya dia meminta Barra untuk memijit kakinya sampai dia tertidur.


Andai saja "dulu" itu bisa diputar kembali. Aku akan berusaha lebih baik. Aku akan menuruti semua keinginan mu. Aku akan menikmati setiap detik kamu merengek minta perhatianku.


Barra menyandarkan tubuhnya di pintu sambil terus memandangi wajah Rania. Ingin sekali dia menyusulnya ke tempat tidur dan memeluknya seperti yang sering dia lakukan dulu. Mengganggu tidurnya sampai dia terbangun dan mengomel kemudian mengajaknya melakukan adegan panas seperti di film-film dewasa yang sering mereka tonton. Setelah itu mengobrol membicarakan hal yang tidak jelas di bawah selimut.


"Dulu Barra ... dulu ... Kamu sia-siakan dia. " Berkali-kali Barra mengingatkan dirinya sendiri. Apa yang dialaminya sekarang adalah hasil dari ketidakmampuannya menjadi pemimpin rumah tangga.


"Tapi ini belum terlambat. Aku masih bisa meraih kembali hatinya."


Barra segera menuju kamar mandi dan membersihkan dirinya. Setelah selesai semuanya dia berbaring di samping Rania.


"Aku tahu kamu belum tidur," ucap Barra. Posisi Rania saat ini memunggunginya sehingga dia seakan-akan sedang bicara sendiri.


Rania tidak menjawab. Dia tetap memejamkan matanya.


"Ingin aku pijit?" Masih tidak ada jawaban.


"Kamu biasanya suka sekali jika aku mau memijit kakimu."


"Mbak Imah sudah memijit kakiku siang tadi." Akhirnya Rania mengeluarkan suara masih dengan mata terpejam. Begini saja sudah membuat hati Barra bahagia.


"Ah ... sebaiknya aku pecat saja mbak Imah."


Rania segera membuka matanya dan berbalik. Dia melotot ke arah Barra untuk meminta penjelasan.

__ADS_1


"Kenapa?"


"Karena dia sudah mengambil alih semua tugasku," jawab Barra santai. "Kamu tidak mau aku pijit, kamu juga tidak ingin meminta sesuatu dariku. Semuanya sudah dilakukan Mbak Imah."


Rania diam. "Aku tidak mau merepotkan kamu."


"Ran ... aku tidak merasa repot. Aku ini suamimu. Aku tidak merasa repot sama sekali. Aku justru senang."


" Aku sudah terlalu lama bergantung padamu. Nanti jika kita sudah berpisah aku tidak akan bisa hidup mandiri."


Barra mendesah. "Kita tidak akan berpisah. Aku tidak mau berpisah darimu dan anak kita."


"Itu kata-katamu sekarang. Kita tunggu saja sampai ibu berkata sesuatu tentangku dan kamu pasti akan segera mengancam untuk menceraikan aku lagi!" Rania meraih lagi selimutnya dan akan kembali berbaring.


Tapi Barra menarik tangannya. "Itu dulu Ran ... Sebelum aku menyadari kesalahanku. Aku sudah berubah. Aku sudah tahu kesalahanku."


"Aku juga sudah berubah Barra!"


"Kumohon Ran ... beri aku kesempatan."


Rania tidak menjawab.


"Baiklah kalau begitu." Barra meraih ponselnya dari atas nakas.


"Kamu ingin menelfon siapa?"


"Agen penyalur PRT."


"Untuk apa?"


"Memberi tahu kalau Mbak Imah besok sudah tidak perlu bekerja untuk kita lagi. Aku juga akan memberikan gajinya selama sebulan walaupun baru beberapa hari bekerja di sini."


"Kamu tidak bisa begitu!"


"Tentu saja aku bisa!"


"Kasihan dia Barra, dia tulang punggung keluarganya." Rania jadi teringat cerita hidup Mbak Imah. Mata Rania jadi berkaca-kaca kemudian menetes bulir bening di pipinya.


Barra bingung sendiri. Tadi niatnya hanya ingin mengancam Rania agar dia bisa sedikit ada celah untuk mendekatinya.


"Hei ... Kenapa kamu menangis? Ya sudah ... aku tidak akan melakukannya. Tapi kamu juga harus berjanji untuk bilang padaku jika kamu ingin sesuatu."


Rania mengangguk. Barra memeluknya dan Rania tidak menolak.

__ADS_1


Kenapa aku jadi cengeng begini sih? Perubahan hormon ini membuatku jadi sangat sensitif dan aku tidak menyukainya.


__ADS_2