
Rania menghempaskan badannya di tempat tidur. Ini masih terlalu pagi untuk memulai hari dengan pertengkaran. Biasanya dia hanya cukup mendengarkan omelan dan cacian mertuanya, tapi kali ini Barra juga terlibat di dalamnya. Dulu mertuanya hanya memakinya saat Barra tidak berada di rumah. Tapi beberapa tahun terakhir mertuanya sudah berani terang-terangan memarahi dan menghina Rania di depan Barra.
Sejak pertama bertemu dan menjalin hubungan dengan Barra, mertuanya itu memang tidak begitu ramah. Tapi dia juga tidak menunjukkan ketidaksukaannya terhadap Rania. Setelah tahun kedua pernikahannya dengan Barra, dan Rania belum juga hamil barulah mertuanya itu mulai meneror rumah tangga Rania dan Barra.
Dia mencoba memisahkannya dengan Barra, salah satunya dengan mengatakan hal-hal yang buruk tentang Rania agar Barra membencinya. Kadang mertuanya memfitnahnya dengan mengatakan sesuatu yang tidak Rania lakukan. Awalnya Barra sering membela Rania, tapi lama kelamaan mertuanya semakin pintar mengarang cerita dan membuat Barra tidak bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah.
Sejak itu pula Barra perlahan berubah. Kadang dia terpengaruh omongan ibunya dan ikut memarahi Rania, tapi kadang dia seperti pahlawan bagi Rania. Barra menjadi pribadi yang labil dan tidak dewasa. Segala keputusan yang diambilnya dipengaruhi oleh ibunya.
Rania teringat bagaimana Barra dulu sangat perhatian dan pengertian padanya. Barra memperlakukannya seperti dia adalah harta yang paling berharga baginya. Banyak hal manis yang mereka lakukan berdua. Tapi itu dulu ... dulu sekali sebelum mertuanya ikut campur urusan dalam rumah tangga mereka.
Barra mengikuti Rania masuk ke dalam kamar kemudian menatap Rania.
"Kalau kamu menyusul ku hanya untuk menyalahkan ku atas apapun yang ibu katakan padamu, lebih baik aku pergi sekarang." Rania menghembuskan nafas panjang, dia tidak merubah posisinya yang masih berbaring di tempat tidur.
"Aku lelah Barra ... aku benar-benar lelah dengan semua ini. Aku lelah selalu menjadi pelampiasan atas segala kesalahan, baik ibu maupun kamu. Sebenarnya bagaimana perasaan mu kepadaku sekarang? Apa kamu masih mencintaiku seperti dulu?" Kata-kata Rania terdengar pelan dan datar.
Sepertinya dia benar-benar di fase ingin menyerah hingga untuk membela dirinya saja dia terlalu malas. Mata Rania kosong menatap langit-langit kamar mereka berdua.
"Kalau kamu masih mencintai ku, tentu masalah anak ini bukanlah penghalang untuk hubungan kita. Kita akan berusaha mencari solusinya bersama, bukannya memutuskan untuk menceraikan ku dan mencari istri baru. Itu bukan cinta Barra, itu ego."
Barra hanya diam membisu. Tidak ada satupun kata yang keluar dari mulut Rania bisa dia sangkal kebenarannya.
"Aku sudah kehilanganmu Barra, aku kehilangan Barra yang dulu sangat mencintaiku dan selalu mengerti keadaanku."
Barra berjalan mendekati Rania yang masih terbaring di tempat tidur. Dia duduk di samping Rania dan membelai wajahnya. Tatapannya sudah mulai lunak, tidak seperti di bawah tadi saat masih bersama ibunya. Rania tidak mengelak dari sentuhan Barra. Dia memejamkan matanya dan membiarkan Barra membelai wajahnya. Rania sangat menikmatinya. Dia rindu sentuhan lembut Barra yang mungkin tidak akan pernah dia rasakan lagi.
Rania sadar, tidak ada peluang baginya untuk bisa bertahan di sisi Barra karena dia tidak mungkin bisa hamil dalam waktu satu bulan.
"Aku tidak akan menceraikan kamu. Aku sangat mencintaimu."
Rania tersenyum kecut. "Berapa lama kamu akan bertahan dengan kata-katamu itu? Aku yakin besok pagi kamu sudah berubah pikiran lagi. Sudahlah Barra ... jangan melambungkan perasaan ku, sebentar kamu bilang sangat mencintaiku, sebentar kemudian kamu memarahiku, mengata-ngatai aku dan mengancam akan menceraikan aku. Aku tidak bisa memahami emosimu yang naik turun," terang Rania dengan mata yang masih terpejam.
__ADS_1
"Aku harus bagaimana?" tanya Barra. Rania membuka matanya dan menoleh ke arah Barra.
"Kamu tahu harus bagaimana, ini rumah tangga kita. Jangan biarkan orang lain mencampurinya."
"Tapi ibu bukanlah orang lain, dia ibuku."
"Aku tidak pernah menyuruhmu untuk melawan ibumu." Rania kembali memalingkan wajahnya. "Keluarlah sebelum kita bertengkar lagi. Kita tidak pernah menemukan titik temu setiap kali membicarakan ibumu."
* * *
Rania mendapat pesan singkat dari Dewi yang mengatakan jika hasil labnya sudah keluar. Dia sudah membawanya tapi dia tidak berada di rumah sakit karena sedang mengikuti seminar di suatu hotel. Jika Rania sudah tidak sabar, dia bisa menyusul Dewi ke hotel tempatnya mengikuti seminar. Tapi jika Rania mau menunggu, dia bisa menemui Dewi nanti di rumah sakit setelah seminar selesai.
Tapi Rania sudah tidak sabar, jadi dia memutuskan untuk menyusul Dewi ke hotel tempat seminar berlangsung.
"Kamu dimana? Aku di lobi hotel."
"Aku di ruang pertemuan, sebentar lagi selesai. Kamu tunggu saja di sana."
Rania duduk dengan gelisah di dalam lobi. Tak berapa lama. Tak berapa lama Dewi terlihat keluar dari dalam lift bersama beberapa orang yang sepertinya juga dokter. Dewi segera berjalan menuju ke arah Rania. Di belakangnya berjalan seorang laki-laki yang Rania sangat kenal.
"Maaf, aku baru selesai," ucap Dewi menjelaskan. Tapi Rania tidak mendengar kata-kata Dewi. Matanya masih menatap laki-laki yang datang bersama Dewi. Laki-laki itupun balas menatap Rania dengan tatapan hangat.
Dewi yang menyadari kebisuan Rania pun segera menoleh ke belakang dimana mata Rania terfokus.
"Oh ... dari tadi kamu memandangi dia?" seloroh Dewi.
Rania terlihat kikuk setelah mendengar kata-kata Dewi.
"Baiklah ... Rania kenalkan, dia Malik teman sekolahku. Dia dokter spesialis ortopedi yang juga sedang mengikuti seminar di sini. Dan Malik ... dia Rania pasienku yang sekarang juga temanku." Dewi memperkenalkan mereka berdua.
Malik mengulurkan tangannya, Rania menyambut tangan Malik dan kini mereka berjabat tangan.
__ADS_1
"Apa kabar?" tanya Malik.
" Aku baik." Lama keduanya saling pandang dengan tangan yang masih bertautan. Hingga Dewi memecah suasana.
"Helloo ... ada aku di sini." Dewi merusak suasana.
"Aku duluan ya Dew, Bye Ran ... " ucap Malik sebelum meninggalkan mereka berdua.
"Apa kalian sudah saling kenal sebelumnya?"
"Jadi bagaimana hasilnya?" Rania mencoba mengalihkan perhatian Dewi.
"Jawab dulu pertanyaan ku, baru kuberi tahu hasilnya. Kamu tidak bisa membodohi ku."
Rania mengambil nafas dalam-dalam. "Malik adalah mantan kekasihku. Apa jawabanku membuatmu puas?" Mata Dewi melotot mendengar jawaban Rania.
"Kenapa? Apa yang salah?" tanya Rania.
"Kamu putus dari Malik yang hampir sempurna dan menikah dengan Barra yang plin plan dan tidak berpendirian?!"
Rania mendengus kesal. " Dia suamiku Dew."
"Well ... aku mengatakan yang sebenarnya. Suamimu itu plin plan dan tidak punya pendirian. Kamu juga setuju kan?" Rania tidak akan menang berdebat dengan Dewi.
"Jadi, bagaimana hasilnya?"
"Kita duduk dulu di sana." Dewi menunjuk sofa yang kosong. Rania mengangguk.
" Aku hanya akan menjelaskan sebentar kepadamu karena aku ada jadwal praktek sore."
"Baiklah."
__ADS_1