Balasan Untuk Suamiku

Balasan Untuk Suamiku
Separuh Nyawa


__ADS_3

Rania terbaring lemah di sebuah kamar perawatan VIP rumah sakit. Malik dengan setia menemani di samping tempat tidur masih mengenakan baju tidurnya.


Rania pingsan tak lama setelah Malik datang dan memeluknya. Saat hendak mengangkatnya tubuhnya dan memindahkannya ke dalam mobil Malik melihat ada darah di paha Rania, barulah dia sadar apa yang sedang dialami Rania, dia pendarahan.


Sampai di rumah sakit Rania mengalami pendarahan hebat hingga kandungannya tidak bisa diselamatkan.


"Apa yang sudah mereka lakukan padamu? Bagaimana kamu bisa bertahan di rumah itu? Dini hari mengusir mu keluar rumah? Mereka ini manusia macam apa sampai tidak punya perasaan seperti itu?" Malik merenungi nasib Rania sambil terus memandangi wajahnya. Dia sedang tertidur lelap.


Malik tidak tahu bagaimana caranya memberi tahu Rania jika dia sudah kehilangan bayinya. Dari cerita Dewi dia tahu kalau Rania sudah lama menantikan bayi ini.


"Suami macam apa yang tega mengusir istrinya yang sedang hamil? Bagaimana bisa mertuamu membiarkan anak laki-lakinya berbuat seperti ini kepada istrinya? Bagaimana mereka memperlakukan kamu sebelumnya jika kamu hamil saja mereka tega berbuat seperti ini padamu?" Malik mendesah.


"Kenapa kamu tidak cerita kepadaku? Harusnya aku membawamu keluar dari neraka itu. Aaarghh ...!!! Kenapa aku tidak mencari tahu kabarmu sejak dulu?!" Malik geram.


Malik meninggalkan ruangan ruangan itu dan meninggalkan Rania sendiri. Dia merasa menyesal karena tidak bisa melindungi Rania. Dan bayi itu, entah kenapa dia merasa sedih, seperti dia lah yang kehilangan.


Malik kembali ke kamar setelah dia membersihkan dirinya dan mengganti baju. Dia mendapati Rania sudah terbangun sambil meringis kesakitan.


"Ran ... Kamu sudah bangun?" Malik segera mendekat.


"Malik ... Aw ... Perutku sakit sekali. Kenapa rasanya aku seperti sedang menstruasi? Kandungan ku tidak apa-apa kan?" tanya Rania dengan mata berkaca-kaca. Sepertinya dia sudah bisa menduga apa yang terjadi pada kandungannya.


"Ran ... Kamu sabar ya ... kamu kehilangan bayimu."


"Tidak Malik ... Tidak mungkin!!!" Rania langsung histeris. Malik memeluknya dan mencoba menenangkannya.


"Kamu harus bisa menerima kenyataan Rania ... "


"Tapi aku sudah sangat menantikannya. Dia alasanku bertahan!" Malik terus memeluk Rania sampai dia lebih tenang.


"Maafkan Mama nak ... Maafkan mama yang sudah egois karena hanya memikirkan kepentingan Mama," tangis pilu Rania masih dalam pelukan Malik.


"Bagaimana aku bisa keguguran? Selama ini kandungan ku baik-baik saja. Tidak pernah ada keluhan," tanyanya sambil melepaskan tangan Malik.


"Kamu kelelahan juga stress." Malik menghela nafas. "Katakan, berapa lama kamu berjalan kaki? Dari rumahmu sampai tempat aku menemukanmu? Itu lima kilometer lebih Rania. Kamu juga menggendong tas ransel yang cukup berat, belum lagi koper mu, ditambah hati dan pikiranmu yang sedang kacau, itu menyebabkan janin mu tidak bisa bertahan."


Rania kembali terisak. "Harusnya aku membuang harga diriku! Harusnya aku mengemis saja pada mereka agar diijinkan untuk tinggal, pasti aku tidak akan kehilangan anakku."

__ADS_1


"Ran ... Apa yang sudah mereka lakukan padamu? Manusia macam apa mereka? Kenapa kamu mau bertahan di rumah itu bersama mereka?!"


Rania tidak menjawab.


"Aku tidak tahu bagaimana mereka memperlakukan kamu setiap harinya, tapi dengan melihat ini saja aku sudah tahu mereka tidak bersikap baik padamu!"


Rania tetap membisu. Keduanya diam untuk beberapa saat.


"Sekarang aku tidak punya apa-apa, juga tidak punya siapa-siapa." Tatapan Rania kosong.


"Kamu punya aku! Setelah ini kamu akan tinggal bersamaku!"


"Tidak ... Aku masih sah menjadi istri Barra. Mereka akan menjadikan itu alasan untuk menyerangku nanti."


"Ya sudah ... kita pikirkan itu nanti. Yang penting sekarang kamu harus pulih dulu."


"Aku ingin sendiri ..."


Malik mengangguk. "Aku akan keluar dulu. Nanti aku akan kembali lagi."


"Malik ... " panggil Rania.


"Terima kasih sudah ada untukku."


Rania kembali meneteskan air mata setelah kepergian Malik. Kehilangan suami? mungkin sudah dia siapkan hatinya untuk itu. Kehilangan anak? tidak pernah terlintas dalam pikirannya. Tapi sekarang dia benar-benar kehilangan janin yang dia kandung. Ini sebuah pukulan besar bagi Rania.


* * *


Sudah dua hari Rania di rawat di rumah sakit. Selama itu pula Barra tidak menghubunginya dan menanyakan keadaannya. Rania benar-benar sakit hati. Seandainya Barra memang sudah tidak menginginkannya paling tidak, seharusnya dia menanyakan bagaimana kandungannya, calon anaknya. Karena setahu Barra itu adalah anaknya.


Hari ini saatnya dia pulang. Tidak ada senyum di wajah Rania sejak dua hari terakhir. Wajahnya terus murung bahkan dia sedikit sekali bicara. Malik yang terus setia mendampinginya sampai merasa khawatir dengan kondisi psikis Rania.


Malik tahu ini tidak mudah bagi Rania. Diusir dari rumah oleh suaminya, kemudian kehilangan bayinya dan setelah itu ditinggal menikah ketika dia sedang sangat membutuhkan dukungan. Mana ada wanita kuat menghadapinya?


"Malik ... " panggil Rania pelan.


Malik yang sedang membantunya mengemasi barang-barangnya menoleh.

__ADS_1


"Hmm ... Ada apa Ran ...?" Dia mendekatinya.


"Mau kah kamu mengantarku mencari tempat tinggal? Kos atau mungkin kontrakan setelah ini?" tanya Rania pelan.


"Aku masih punya beberapa juta, masih bisa aku gunakan untuk mengontrak rumah. Setelah itu aku akan mencari kerja. Karena sekarang aku ... " Suara Rania tercekat.


".... aku sudah tidak hamil ... " Rania menghentikan kalimatnya. Sekuat hati dia mencoba menahan air matanya agar tidak menetes saat mengatakannya.


" ... aku akan mencari kerja. Mungkin ada perusahaan yang mau menerimaku," lanjutnya.


Barra menatap wanita pujaannya itu iba.


"Kamu tidak perlu memikirkan itu. Aku sudah mencarikan tempat tinggal untukmu karena kamu tidak mau tinggal bersamaku. Dan soal bekerja ... aku tidak akan mengijinkan kamu bekerja sampai kondisimu benar-benar pulih."


"Terima kasih Malik. Aku banyak merepotkan kamu," jawab Rania sambil menundukkan kepalanya. Dia menyembunyikan matanya yang sedang berkaca-kaca.


Malik menghampiri wanita yang sedang rapuh itu, dipeluknya erat. Rania pasrah. Memang yang sedang dia butuhkan saat ini adalah tempat bersandar.


"Menangislah ... Tidak apa-apa. Ini tidak mudah bagimu. Keluarkan saja yang kamu rasakan," ucap Malik sambil membelai rambut panjang Rania.


Rania pun tidak tahan. Akhirnya dia menumpahkan tangisannya di dada Malik.


Malik mengajak Rania duduk. Diusapnya sisa air matanya yang masih membekas di pipi Rania. Dipandanginya wanita itu. Matanya sampai hampir bengkak karena dua hari ini hampir tidak berhenti menangis.


"Mana gadisku yang galak dulu? Mana mata yang sering melotot padaku jika aku melarangnya makan yang manis-manis? Mana gadisku yang sering mengomel jika aku belajar sampai lupa makan? Kembalilah gadisku ... kembalilah menjadi gadisku yang galak seperti dulu."


"Banyak hal berubah Malik."


"Ya ... Dan lihat apa yang mereka lakukan hingga membuat gadisku ini menjadi berubah seperti ini?"


"Aku sudah bukan gadis lagi."


"Bagiku kamu tetap gadisku. Gadisku yang galak. Dan aku ingin membuat kamu kembali menjadi gadis galak itu. Mandiri, percaya diri dan tidak takut apapun. Lanjutkan hidupmu! Jangan buang waktumu untuk menyesali yang sudah terjadi!"


"Aku sudah tidak punya semangat hidup. Separuh nyawaku sudah hilang ... "


"Maksudmu suamimu?" Rania menggeleng.

__ADS_1


"Anakku ... Anak kamu!"


__ADS_2