Balasan Untuk Suamiku

Balasan Untuk Suamiku
Kebenaran


__ADS_3

"Ibu bicara apa?"


"Alicia bukanlah anak kamu! Hanna sudah berbohong selama ini!"


"Apa yang ibu bicarakan?!" Barra masih berusaha memahami maksud ibunya. "Kalau dia bukan anakku lantas anak siapa?!"


"Ibu tidak tahu ... yang jelas dia bukan anakmu." Widia terus terisak.


"Ibu ... Jangan rusak kebahagiaan ku. Aku baru saja keluar dari penjara dan akan memulai hidup baruku. Jangan membuat masalah lagi!" ucap Barra.


"Ibu tidak ingin merusak kebahagiaan mu. Tapi memang itu yang sebenarnya. Kami harus tahu Barra!"


"Aku tahu memang ibu tidak suka cara Hanna memperlakukan ibu. Tapi ibu tidak perlu mengarang cerita seperti itu. Apa belum cukup ibu dulu mengarang cerita untuk memisahkan aku dan Rania?!"


"Tapi Barra ... "


"Cukup Bu!!! Hanna adalah pilihan ibu. Ibu sendiri yang mengenalkan ku pada Hanna. Ibu juga yang memaksa ku untuk memilih Hanna daripada Rania. Sebenarnya apa yang ibu inginkan?!" Barra mulai emosi.


"Ibu hanya tidak terima kamu di bohongi Barra. Ibu mengatakan yang sebenarnya."


"Dulu hidup ku dan Rania baik-baik saja sampai ibu terus mendesak agar aku memiliki anak. Ibu mengarang cerita untuk menjelek-jelekkan Rania di depanku. Dan akhirnya aku membencinya. Setelah itu ibu terlilit hutang dan memaksaku menceraikan Rania agar bisa menikahi Hanna agar bisa melunasi hutang ibu. Sekarang hidupku sudah bahagia bersama Hanna ibu ingin membuat maslah lagi?"


"Jangan salah paham Barra, Ibu tidak berniat seperti itu! Ibu hanya ingin kamu tahu yang sebenarnya!"


"Sebenarnya ibu tidak bisa melihat aku bahagia dengan pasanganku?! Ibu iri jika aku bahagia bersama pasanganku? Ibu merasa terabaikan begitu?"


"Barra! Jagan kata-katamu!!"


"Bagaimana ibu bisa bilang jika Alicia bukan anakku? Apa ibu punya bukti? Siapa yang mengatakan? Jika ibu tidak bisa menjawab pertanyaan ku berarti seperti yang aku katakan tadi, ibu hanya mengarang cerita agar aku berpisah dengan Hanna." Barra mulai memelankan suaranya.


Widia berjalan menuju lemarinya. Dia mengambil kertas yang diberikan oleh Rania waktu itu.


"Ini adalah buktinya." Widia memberikan kertas itu kepada Barra. "Bacalah!"


Barra membuka lipatan kertas itu. Dilihatnya dengan teliti huruf demi huruf yang tertulis di dalamnya.


"Ada kelainan genetik di spe*ma ku?" tanya Barra tidak percaya.


"Kamu mandul Barra. Selama ini bukan Rania yang mandul tapi kamu," ucap Widia pelan.


"Tidak Bu ... ini pasti salah!"


"Itu benar Barra." Widia berusaha meyakinkan.

__ADS_1


"Bagaimana Ibu bisa mendapatkan kertas ini? Siapa yang memberikannya pada ibu?"


"Rania ... Rania yang memberikannya pada Ibu. Kamu bisa lihat tanggal yang tertera di kertas itu. Kapan tes itu dilakukan ada tulisannya."


Barra kembali melihat kertas di tangannya.


"Ini diambil saat kami masih suami istri," gumam Barra. "Kenapa dia menyembunyikan kenyataan ini dariku?! Berarti anak yang dia kandung waktu itu juga bukan anakku?! Dia berkhianat dari ku?!"


"Barra jangan marah padanya. Dia hanya berusaha menutupi kekurangan mu!"


"Menutupi penghianatannya maksud ibu?!" Barra geram. Diremasnya kertas itu.


"Aku akan meminta penjelasan darinya!" Barra berjalan meninggalkan Widia dengan kesal.


"Kamu mau kemana Barra?!! Jangan menyalahkan Rania. Dia melakukannya demi kamu!!!" teriak Widia karena Barra sudah tidak dalam jangkauannya.


"Bagaimana ini? Kenapa Barra justru marah kepada Rania bukannya Hanna?"


* * *


Rania sedang berkutat dengan pekerjaannya di ruangannya. Sesekali sekretaris nya datang memberikan berkas-berkas yang harus dia tanda tangani atau dia periksa lagi.


"Bu kiriman makan siang dari rumah."


"Terima kasih," ucapnya sambil menerima kotak makan dari sekretarisnya.


Dia segera membereskan mejanya dan pindah ke sofa untuk makan siang. Dia sudah hafal urutannya. Mertuanya mengirimkan makan siang, kemudian memberitahu Malik jika makan siang sudah terkirim. Kemudian Malik akan melakukan panggilan video untuk memastikan Rania memakan makan siangnya. Setiap hari begitu.


Rania sudah berada di posisinya. Sebentar lagi pasti ada panggilan video masuk dari Malik. Dan benar, tidak sampai lima menit handphone Rania berdering.


"Kamu sudah makan?" tanya Malik dari balik meja prakteknya.


Rania tersenyum sambil menunjukkan sendoknya yang penuh makanan.


"Kamu sudah makan Dok?" Rania balik bertanya.


"Sebentar lagi, Aku harus keluar untuk mendapatkan makan siang. Sementara kamu enak sekali Mama tiap hari mengirimi kamu makanan." Malik pura-pura cemberut.


"Apa kamu iri?" Rania tertawa.


"Aku harus jujur, kamu dan calon anak kita telah merebut semua perhatian Mama. Aku sama sekali tidak dianggap anak sekarang."


Rania kembali tertawa. Kali ini lebih keras.

__ADS_1


"Mau bagaimana lagi? Aku memang lebih menggemaskan untuk dianggap anak daripada kamu!"


"Jangan sampai kecapekan ... " Malik belum selesai bicara saat melihat pandangan Rania teralihkan.


"Ada siapa? Apa ada tamu penting?" tanya Malik yang melihat Rania kebingungan.


"Bu ... di luar ada tamu ingin bertemu. Dia memaksa sekali," ucap sekretarisnya pelan, dia terlihat ketakutan.


"Aku tutup teleponnya. Ada tamu. Nanti aku hubungi lagi." Rania buru-buru menutup teleponnya Rania menunggu jawaban Malik.


"Siapa?" tanya Rania kepada sekretarisnya.


"Tidak tahu Bu," jawabnya.


Tapi kemudian seorang laki-laki masuk dengan wajah yang terlihat emosi.


"Saya sudah memintanya untuk menunggu di luar Bu."


"Tidak apa-apa. Kamu boleh pergi." Rania mengangguk kepada sekretarisnya, kemudian dia meninggalkan ruangan Rania.


"Barra ... Kamu sudah bebas?" tanya Rania sedikit takut. Dia ingat yang terakhir Barra lakukan padanya. Dia tidak menyangka Barra akan berani menemuinya di kantornya.


"Ada perlu apa kemari?!" tanya Rania lagi. Barra tidak menjawab. Dia hanya menatap Rania penuh kemarahan.


Dia membuka kertas yang tadi sudah dia remas hingga tidak berbentuk.


"Apa ini?! Katakan apa maksud semua ini?!" suara Barra terdengar pelan tapi menakutkan.


"Oh ... Ibu sudah memberi tahu mu? Duduklah ... Kita bicarakan ini baik-baik," ajak Rania menyembunyikan rasa takutnya.


Tapi Barra tidak bergeming. Dia melangkahkan kakinya maju semakin mendekati Rania.


"Jelaskan padaku sejelas-jelasnya! Apa maksud semua ini? Jika aku mandul lalu anak yang kamu kandung waktu itu anak siapa?!" gertak Barra.


"Aku melakukan tes itu tanpa sepengetahuan mu. Anak itu memang bukan anakmu. Aku tahu aku salah, tapi aku tidak pernah berniat untuk mengkhianati kamu."


"Kamu ingat akan menceraikan aku dalam waktu satu bulan jika aku tidak segera hamil? Bagaimana aku bisa hamil jika ternyata kamu yang mandul Barra?! Dan kamu tidak mau mengusahakan apapun karena merasa dirimu sehat?! Kamu bebankan semuanya padaku seolah semua itu adalah salahku. Dan lihatlah apa hasilnya?"


Barra meraih leher Rania kemudian mendorong tubuhnya hingga menyentuh tembok dan mencekiknya.


"Tetap saja kamu berkhianat! Katakan semua itu tidak benar!"


"Itu kebenaran nya Barra. Kamu mandul Barra dan aku hamil dengan laki-laki lain," ucap Rania. Barra semakin menguatkan cekikan nya di leher Rania hingga dia batuk-batuk.

__ADS_1


"Barra lepaskan tanganmu! Aku tidak bisa bernafas," ucap Rania terbata. Dia sudah hampir kehabisan nafas sementara Barra masih terus mencekiknya.


__ADS_2