
Beberapa bulan telah berlalu. Dengan mudah Rania menguasai bidangnya di perusahaan. Ini seperti kembali ke dunianya dulu, sebelum menikah. Sekarang dia memiliki rasa percaya diri yang tinggi sehingga tidak memberikan kesempatan orang lain untuk meremehkannya.
Rania sedang berjalan dengan anggun menuju ruangan Affandi. Sampai saat ini Affandi masih pemimpin perusahaan ini. Tanpa mengetuk pintu Rania langsung masuk begitu saja.
"Permisi Pak, saya ingin menyerahkan proposal kerja sama dengan beberapa pusat perbelanjaan untuk promosi produk terbaru kita." Rania meletakkan tumpukan kertas di meja Affandi.
"Tolong segera ditandatangani agar bisa segera dikerjakan," imbuh Rania. Affandi melihat sekilas tumpukan kertas itu.
"Saya permisi Pak," ucapnya seraya berbalik akan meninggalkan ruangan Affandi tapi mata Rania terpaku pada sosok perempuan yang tengah duduk di sofa di dalam ruangan Affandi.
"Hanna?" gumam Rania. Dia sedikit ragu apakah itu Hanna atau bukan karena ukuran tubuhnya yang dua kali lipat dari tubuhnya dulu membuatnya terlihat berbeda.
Rania kembali menoleh ke arah Affandi.
"Rupanya anda sedang ada tamu Pak Affandi, maafkan jika saya mengganggu."
Rania bergegas meninggalkan ruangan Affandi tanpa menyapa Hanna. Sementara Hanna hanya meliriknya sekilas.
Jadi apalagi? Setelah membantu Barra, sekarang apa lagi? Hanna pasti datang untuk minta uang. Tunggu saja sampai aku benar-benar mampu menjalankan perusahaan ini!
"Beruntung sekali dia," ucap Hanna iri. "Jika dia bukan istrinya Malik, pasti dia tidak bisa apa-apa."
"Dia bagus Hanna, kinerja nya bagus. Harusnya Papa dulu tidak memanjakan kamu. Lihat hasilnya, kamu tidak bisa apa-apa selain minta uang."
"Papa kan pemimpin perusahaan? masa anak itu pimpinan perusahaan dibiarkan bekerja?"
"Tapi perusahaan ini bukan milik kita. Papa hanya diberi kepercayaan untuk mengelolanya. Andai saja dulu kamu mau bekerja di perusahaan ini, tentu Papa tidak akan khawatir jika mereka membuang Papa sewaktu-waktu."
"Kamu terlalu sibuk mengejar impianmu menjadi seorang artis. Menjadi artis tidak bisa bertahan selamanya. Mereka hanya melihat penampilan mu, jika penampilan kamu sudah tidak menarik mereka pasti membuang mu! Bagaimana nanti jika mereka sudah membuang Papa dan suamimu masih di penjara? Bagaimana kamu akan mendapatkan uang?"
"Sudahlah Pah, jangan bicarakan itu sekarang! Aku kemari ingin minta uang sama Papa. Aku ingin sedot lemak. Aku sangat tidak percaya diri dengan penampilanku sekarang." Hanna tidak mau mendengar kata-kata Affandi.
"Berhentilah menghamburkan uang Hanna! Kamu bisa berolahraga jika ingin kembali langsing. Tidak selamanya Papa bisa menuruti semua keinginanmu!" Sepertinya Affandi sudah mengetahui apa yang akan dihadapi oleh dirinya dan keluarganya, hanya saja Hanna tidak mau ambil pusing.
"Papa takut sekali sih mereka akan mengambil alih perusahaan ini? Toh sampai saat ini mereka hanya menggertak Papa. Mereka tidak sungguh-sungguh akan mengeluarkan Papa. Mereka membutuhkan Papa untuk menjalankan perusahaan ini. Papa tidak perlu khawatir," ujar Hanna dengan santainya.
"Sebaiknya kamu mulai berpikir lebih dewasa Hanna. Papa menyayangimu, Papa rela memberikan segalanya untukmu. Tapi ada beberapa hal yang tidak bisa selamanya Papa lakukan untukmu."
"Alah ... Papa ini bicara apa sih? Berikan saja aku uang, aku harus ke dokter kecantikan." Hanna benar-benar tidak menggubris omongan Affandi dari tadi.
Affandi tidak bisa menolak permintaan Hanna. Dia segera mengeluarkan cek dan memberikannya.
__ADS_1
Sementara itu di ruangan lain masih di perusahaan yang sama, Rania terlihat pucat. Bukan karena dia bertemu dengan Hanna. Dia sudah tidak peduli dengan wanita itu. Entah kenapa beberapa hari ini dia sering merasa pusing dan berkeringat dingin setelah berdiri cukup lama.
Rania segera membereskan meja kerjanya. Dia akan memeriksakan kondisinya ke dokter, ditemani Malik tentu saja.
Di rumah sakit ...
"Masih ada berapa pasien sus?" tanya Malik kepada asistennya.
"Tadi pasien terkahir Dok," jawab sang suster sambil membereskan berkas-berkas milik pasien.
"Dokter kok nikahnya ngga undang-undang sih? Saya juga taunya beberapa hari yang lalu. Main rahasia-rahasiaan segala kaya artis," tanya sang asisten yang sudah terbiasa dengan Malik.
"Bukannya nggak undang-undang, tapi memang nggak ada acara apa-apa. Hanya keluarga dekat saja."
"Tau nggak sih Dok, teman-teman saya sesama perawat pada sedih waktu tahu dokter sudah menikah."
"Karena tidak diundang?" tanya Malik polos.
"Bukan Dok, karena patah hati berjamaah," jawab sang suster sambil cengengesan. "Dokter Malik kan dokter kesayangan perawat-perawat di rumah sakit ini," imbuh si perawat.
"Saya ngantar berkas-berkas ini ke bagian administrasi dulu ya dok." Malik mengangguk.
"Dokter ... pasien cantik dan yang waktu itu datang lagi," ucap sang perawat tidak menggebu.
"Yang mana Sus?"
"Yang itu lho Dok, yang saya lihat dia sama dokter lagi pelukan waktu itu."
"Oh ... itu. Dia cantik ya Sus?" tanya Malik sambil senyum-senyum.
"Dia cocok lho sama Dokter Malik, tapi sayang Dokter sudah menikah."
"Dah, suruh masuk aja. Kasihan nunggu lama."
"Dok, jangan kasih harapan palsu. Bilang terus terang kalau dokter sudah menikah. Kasihan kan cantik-cantik jadi korban php," ucap si perawat somplak.
Kemudian si perawat memanggil pasien yang dia bilang cantik tadi.
Rania bergegas masuk setelah si perawat memanggilnya.
...Malik langsung berdiri menyambut Rania. Tanpa berkata apa-apa dia langsung memeluknya dan mencium Rania di depan asistennya. Dan tanpa malu-malu Rania membalas pelukan dan ciuman Malik sementara sang perawat hanya bengong dan hampir meneteskan liurnya melihat adegan di depannya....
__ADS_1
"Suster, pasien cantik ini istriku, Rania. Jadi jangan berpikir macam-macam ya ..."
Rania tersenyum kepada perawat tersebut, sang suster membalasnya dengan senyuman kikuk.
"Saya permisi dulu Dok, daripada pikiran halu saya kemana-mana," ucap sang perawat dengan wajah memerah.
"Kamu kenapa sayang? Kamu sedikit pucat. Apa kamu tidak enak badan?" tanya Malik khawatir.
"Tidak tahu, akhir-akhir ini aku sering pusing jika berdiri agak lama disertai keringat berlebihan," jawab Rania sambil bergelayut manja di dada Malik.
Malik meraba dahi Rania. "Tidak demam." Malik segera membawa Rania ke ruangan dokter umum di rumah sakit tersebut.
"Dokter Santi, saya ganggu sebentar. Sudah tidak ada pasien kan?" tanya Malik tergesa.
"Nggak ada, masuk saja," balas Santi yang adalah seorang dokter umum. Dia sudah pernah bertemu Rania saat pesta pernikahan dulu.
"Sayang katakan keluhan mu pada Dokter Santi."
Rania menuruti kata-kata Malik. Dia menceritakan apa yang dirasakannya akhir-akhir ini.
Setelah mendengar keluhan yang dirasakan Rania, Santi meminta Rania berbaring untuk memeriksanya.
"Malik, istrimu tidak kenapa-kenapa. Kalau mau tahu lebih pastinya, silahkan beli testpack," ucap Santi sambil tersenyum.
Malik paham maksud rekan sejawatnya itu.
"Beneran San?"Malik tidak percaya.
"Kamu kan juga seorang dokter, masa istrinya hamil sampai nggak tahu? Saking keenakan apa gimana sih?" goda Santi.
Bergegas Malik menghampiri Rania yang masih terbaring. Diciuminya seluruh wajah Rania dengan girang tanpa mempedulikan Santi.
"Ehm ... ehm ... Aku ada disini loh." Santi mengingatkan Malik jika mereka masih berada di ruangannya.
Malik hanya tersenyum sementara Rania seperti orang linglung karena masih tidak percaya.
"Sayang, ayo kita pulang. Kita harus memberitahu Mama." Malik menarik tangan Rania.
"Makasih ya San," ucap Malik sambil buru-buru mengajak Rania keluar ruangan.
"Makasih Dok," ucap Rania sambil berjalan karena Malik sudah menarik tangannya.
__ADS_1