
Rania tertawa getir melihat Widia tidak menyesal atas yang sudah dia lakukan padanya sedikitpun. "Apa hatimu terbuat dari batu?"
"Cepat pergi dari sini!!!" Widia kembali mengusir Rania.
"Apa belum cukup kamu membuat Barra di penjara? Semuanya gara-gara kamu! Barra kehilangan karirnya dan kebebasannya! Untung dia menikahi Hanna, jadi ada yang bisa menolongnya!"
"Kamu masih sama Widia ... Kamu masih menyalahkan semua yang terjadi pada anakmu kepadaku! Tidak bisakah kamu lihat jika semuanya adalah salahnya sendiri?!" balas Rania.
"Dengan perlakuannya padamu selama ini kamu masih menganggap Barra beruntung karena menikah dengan Hanna? Apa Hanna sebaik itu di matamu? Apa kamu tidak ingat, ketika aku masih menjadi menantu mu akulah yang menyiapkan semuanya. Aku menyiapkan segala keperluan mu dan Barra!! Kamu bahkan tidak pernah mengerjakan pekerjaan rumah selain karena aku hamil waktu itu. Kamu adalah ratu di rumah ini! Tapi lihatlah dirimu sekarang, dia memperlakukan kamu tidak lebih seperti pelayan! Dan kamu masih bisa membanggakannya di depanku?!" Rania mengambil nafas agar tidak terbawa emosi.
"Aku memang tidak punya uang Widia, tapi setidaknya dulu aku menghormatimu mertuaku."
Widia terdiam mendengarkan Rania bicara. Apa yang dikatakan Rania memang ada benarnya.
"Apa kamu tahu? Hanna menjebak Barra agar bertanggung jawab atas anak itu," lanjut Rania. "Alicia, anak yang selama ini kamu anggap cucu mu bukalah anak Barra!!! Barra itu mandul!!!"
"Tidak usah mengada-ada! Tidak mungkin Barra mandul!" bantah Widia.
"Alicia adalah anaknya dan kamu juga pernah mengandung anaknya! Kamu hanya sakit hati karena dia lebih memilih Hanna dari pada dirimu. Karena itu kamu mengarang cerita ini!" Widia tidak percaya begitu saja.
Rania mengeluarkan kertas itu dan melemparkannya ke wajah Widia. Akhirnya keinginan ini terlaksana juga.
"Baca itu Widia! Itu adalah hasil analisa spe*ma Barra. Aku melakukannya secara diam-diam dulu. Barra mandul Widia! Kamu harus tahu itu!"
Widia membuka kertas itu dan membacanya.
"Ini dia tidak mungkin! Kamu pasti merekayasa ini!"
"Di situ tertera tanggal dan bulannya! Kamu bisa melihatnya sendiri!" balas Rania ketus. Widia kembali membaca tulisan di kertas itu.
__ADS_1
"Ada kelainan genetik pada spe*ma Barra, jadi dia tidak mungkin punya anak! Dan Alicia jelas bukan anak Barra!"
"Kalau Alicia bukan anak Barra, berarti bayi yang kamu kandung waktu itu juga bukan anak Barra!"
"Benar ... Aku memang hamil dengan laki-laki lain!"
Widia terlihat shock. "Berarti kamu berkhianat dari Barra?!"
"Aku tidak berniat melakukannya. Itu sebuah ketidaksengajaan yang telah merubah hidupku. Seandainya saja ... kamu tidak membawa perempuan lain ke rumah ini ... "
"Ternyata kamu sama saja!"
"Aku berkorban Widia! Aku berkorban demi kebahagiaan kita semua!!! Betapa aku berusaha membuat keluarga ini tetap utuh. Aku menutupi kekurangan mu dari Barra, aku menutupi kekurangan Barra dari semua orang agar dia tidak kehilangan mukanya. Aku menjaga perasaannya agar dia tidak tercoreng harga dirinya sebagai laki-laki! Tapi kalian terus mengatai aku perempuan mandul padahal kalian tidak tahu yang sebenarnya!!!"
"Dan lihat balasan kalian?! Apa pengorbananku belum cukup?!"
Widia terpaku mendengar balasan Rania.
"Tatap aku Widia! Apa aku terlihat sedang berbohong padamu?"
"Aku masih tidak percaya!"
"Terserah...!!! Kamu boleh percaya atau tidak. Kalau kamu masih punya uang, aku sarankan untuk melakukan tes DNA. Tapi melihat penampilanmu sekarang ini ..." Rania menatap Widia dari ujung kepala hingga ujung kaki. " ... aku yakin kamu tidak punya sepeserpun."
"Atau kamu bisa menanyakannya langsung pada Hanna. Lihat apa jawabannya. Aku berkata jujur padamu. Aku juga mengakui jika aku melakukan kesalahan karena telah berhubungan dengan pria lain. Tapi aku sama sekali tidak pernah berniat untuk berkhianat dari Barra. Aku mengakui kesalahanku Widia."
"Kalau memang semua yang kamu katakan ini benar adanya, lalu kenapa baru sekarang kamu bicara?" suara Widia mulai melunak walaupun masih terdengar ketus.
Kembali Rania mengambil nafas dalam.
__ADS_1
"Tadinya aku berpikir untuk menyembunyikan kenyataan ini. Jika aku hamil, Barra tidak akan menceraikan aku. Kami akan tetap menjadi pasangan suami istri yang bahagia. Aku juga tidak akan memberi tahu siapapun tentang rahasia Barra. Tidak akan ada yang tahu jika anakku bukanlah anak Barra. Aku akan menyimpan rahasia ini rapat-rapat dan hidup kami akan sempurna setelahnya. Tapi kamu justru membawa Hanna diantara kami."
Entah apa yang ada dipikiran Widia sekarang tapi dia diam saja mendengar Rania bicara.
"Aku tidak ingin melihatnya kecewa. Kamu tahu aku dulu sangat mencintainya. Apa kamu bisa bayangkan bagaimana reaksinya jika dia tahu selama ini dialah yang mandul? Atau bagaimana perasaanmu sekarang ketika mengetahui kenyataan ini? Bagaimana Widia .... Bagaimana perasaanmu sekarang?!"
"Bagaimana kamu akan menarik semua cacian dan hinaan yang dulu kamu lontarkan untukku? Apa kamu tidak malu terus-menerus menyebutku perempuan mandul sementara yang mandul adalah anakmu sendiri?!"
Widia menundukkan kepalanya, "Jadi Alicia bukan cucu ku? Aku tidak mungkin mempunyai keturunan dari Barra?" Dia masih tidak percaya. Wajahnya yang mulai keriput membuatnya semakin terlihat menyedihkan.
"Aku kemari hanya ingin memberi tahu itu. Aku senang telah melakukannya. Aku sudah mempunyai kehidupan yang bahagia. Punya suami yang kaya raya, mertua yang menyayangiku seperti anaknya sendiri dan calon bayi kembar yang ada di perutku. Hidupku sangat sempurna sekarang."
"Usia kehamilanku sekarang sama persis dengan ketika aku kehilangan bayiku. Karena itu aku datang sekarang. Aku ingin kamu mengingatnya Widia. Malam kalian mengusir ku dan menyebabkan aku kehilangan bayiku. Bayi yang menjadi bukti bahwa aku tidak mandul!"
Widia terduduk lemas di sofa tepat di depan Rania.
"Roda terus berputar Widia. Dulu aku menderita bersama kalian dan sekarang aku mendapatkan kebahagiaan lebih dari yang bisa aku bayangkan."
"Aku pergi Widia, semua yang ingin aku katakan sudah aku katakan. Terserah kamu mau percaya atau tidak." Rania berdiri dan hendak meninggalkan Widia yang masih terpaku menatap kertas itu.
"Kamu boleh menyimpan kertas itu kalau kamu mau. Aku sudah tidak membutuhkannya. Kalau kamu masih ragu, kamu !juga boleh mengecek keaslian surat itu di rumah sakit tempat analisa itu dilakukan, disitu tertera nama dan alamat rumah sakitnya."
"Sampai jumpa Widia." Rania berjalan meninggalkan Widia yang sepertinya tidak mendengarkan kata-kata Rania.
Setelah keluar dari rumah itu Rania kembali menoleh ke belakang. Dilihatnya lagi rumah itu untuk yang terakhir kalinya dengan mata berkaca-kaca.
"Saatnya berdamai dengan masa lalu," gumam Rania. "Tidak akan ada lagi tangisan karena kesedihan tidak selamanya menjadi kesedihan." Kemudian Rania memasuki mobilnya.
"Kita pulang Pak," ucap Rania kepada supirnya yang sejak tadi setia menunggunya.
__ADS_1
"Baik Bu."