Balasan Untuk Suamiku

Balasan Untuk Suamiku
Dia atau Aku?


__ADS_3

Dia ... ???


"Ada yang mencari mu di bawah." Rania mencoba bersikap biasa.


"Siapa sayang?" tanya Barra santai sambil berdiri di depan cermin membenarkan dasinya. "Tolong dong ..." Barra menunjuk dasi yang sedari tadi dia rasa tidak pas.


Rania berjalan mendekat. Dia benarkan dasi yang dipakai Barra seperti biasanya.


"Siapa yang pagi-pagi sudah mencari aku?" tanya Barra sambil mencoba menciumi Rania.


"Hentikan Barra! Aku tidak bisa membenahi dasi mu kalau kamu terus begini."


"Tapi aku rindu sekali menggoda mu seperti ini," Barra kembali mencoba mencium bibir Rania. "Kenapa kamu cemberut seperti itu?" tanya Barra melihat Rania tidak merespon rayuannya.


"Aku sudah bilang ada yang mencari mu di bawah."


"Hmmm .... Memangnya siapa yang mencari ku sampai bisa membuat kamu cemberut seperti ini?" tanya Barra masih santai menggoda Rania.


"Seseorang bernama ... " Rania sengaja menghentikan kalimatnya.


"Siapa?" Barra mengangkat alisnya.


"Hanna!" jawab Rania tenang.


Barra langsung menegang, wajahnya pucat pasi. Rania berlagak seolah-olah tidak mengetahui perubahan raut wajah Barra.


"Kamu sudah rapi, ayo kita turun dan temui wanita bernama Hanna itu." Rania menepuk-nepuk jas Barra seakan-akan sedang membersihkan kotoran yang menempel di jas itu.


Barra masih membeku.


"Kamu kenapa? Sakit?" tanya Rania santai.


"Ti ... tidak," jawab Barra gelagapan.


"Kalau begitu ayo kita turun, kasihan wanita itu sudah menunggumu cukup lama."


Barra seperti tidak bisa menggerakkan tubuhnya yang terasa kaku. Rasanya seperti ada perang besar yang sudah menunggunya di bawah dan dia tidak punya senjata apa-apa untuk menghadapinya.


"Hei ... ayo ... kenapa masih berdiri di situ," ucap Rania yang sudah hampir sampai di pintu kamar sementara Barra masih di tempatnya berdiri.


Melihat gelagat Barra yang aneh ini Rania yakin ada sesuatu yang disembunyikan.


"Cepatlah ... Kenapa masih diam begitu? Apa kamu ingin wanita itu menyusul mu ke sini?" ucap Rania tidak sabar.


"I ... iya ... Aku segera turun."

__ADS_1


Rania kembali turun ke ruang tamu. Tidak disangka mertuanya sudah menemani wanita itu dan mereka terlihat akrab.


"Mana Barra?" tanya mertuanya.


"Dia masih bersiap-siap, sebentar lagi turun. Aku akan menyiapkan sarapan untuk Barra," ucap Rania seraya melangkahkan kakinya menuju dapur.


"Kamu mau kemana? Tunggu di sini saja. Aku juga ingin bicara denganmu. Nah ... itu Barra," ucap Hanna.


Terlihat Barra berjalan pelan memasuki ruang tamu. Wajahnya tampak kaku sekali. Sementara Rania sedang menduga-duga apa maksud mereka menahannya bersama mereka.


"Nanti kamu akan tahu." Hanna dan mertua Rania saling melemparkan lirikan dan tersenyum tipis.


Apa yang mereka rencanakan?


Dengan ragu-ragu Barra berjalan mendekati mereka. Dan disambut dengan senyum manis oleh Hanna.


"Sini Barra ..." Hanna menepuk tempat kosong di sebelahnya agar Barra duduk di sana. Dengan sedikit kikuk Barra menuruti perintah Hanna walaupun sekilas dia melirik Rania terlebih dahulu. Rania diam saja dan mengikuti permainan Hanna.


"Kamu juga duduk Rania ... Namamu Rania kan? Duduklah." Belum apa-apa Hanna sudah berani memerintah orang seenaknya. Rania mengikuti saja tanpa berlama-lama agar drama ini cepat selesai.


"Jadi Barra sayang ... Apa kamu sudah memberi tahu istrimu?" tanya Hanna.


Barra tampak semakin pucat mendengar pertanyaan Hanna. Di tatapnya Hanna dengan tatapan memohon agar dia tidak mengatakannya sekarang.


"Kamu diam saja, jadi aku yakin kamu belum bicara padanya," Hanna tersenyum sinis. "Baiklah, lebih baik aku yang memberi tahu dia, kalau aku menunggumu pasti kamu tidak akan pernah memberi tahunya!"


"Begini Rania, namaku Hanna. Aku hamil dan aku kesini meminta pertanggungjawaban dari Barra untuk menikah aku."


Ingin sekali Rania tertawa keras-keras mendengar ucapan Hanna.


Oh ... Barra kamu sedang dibohongi dan lihatlah wajahmu sampai seperti mayat hidup gara-gara kebohongannya.


Rania tetap tenang. Dia sudah mendengar Barra pernah menghabiskan malam bersama wanita ini, jadi dia tidak terkejut sama sekali.


Hanna dan mertua Rania tampak keheranan melihat sikap Rania yang terlihat biasa saja. Sementara Barra melihatnya dengan tatapan memelas.


"Lalu?" tanya Rania datar.


"Aku ingin Barra menikahi ku. Dan aku ingin menikah secara resmi di mata hukum."


"Tapi aku tidak mau di madu!"


"Terserah. Yang jelas aku ingin dia menikahi aku secara sah di depan hukum."


"Kenapa kamu tidak menuntut laki-laki yang menghamili kamu saja. Aku yakin itu bukan anak Barra."

__ADS_1


"Hei ...!!! Jaga kata-kata mu! Aku bisa menuntut kamu atas hal itu!!!"


"Rania!!!" bentak mertuanya. "Jangan bicara macam-macam!! Orang tua Hanna adalah orang yang berpengaruh, dia bisa melakukan apa saja padamu!!"


"Oh ... Begitu?" balas Rania sinis.


"Bagaimana Barra, karena istrimu tidak mau dimadu jadi kamu harus memilih antara dia atau aku?!" tanya Hanna dengan suara manja yang dibuat-buat.


Barra sejak tadi diam membisu. Dia sudah memperkirakan suatu saat hal ini pasti terjadi. Dan sekarang sudah tidak bisa dia hindari lagi.


"Apa jawabanmu Barra?!" Kamu pilih dia atau aku?!" tanya Rania menanti jawaban.


"Berikan jawabanmu secepatnya Barra. Kami menunggu jawabanmu," ucap Hanna masih dengan suara manja yang dibuat-buat. "Pikirkan juga masa depanmu, kalau kamu tidak mau menikahi aku, mmm ... mungkin papaku bisa bertindak," ancam Hanna.


"Oh ...Aku lupa ... Papaku juga bisa membantu kalian menyelesaikan masalah hutang-hutang kalian. Jadi kalian tidak perlu menjual rumah ini."


Barra menoleh ke arah Hanna dan menatapnya minta penjelasan.


"Ibumu memberi tahu aku kemarin," ucap Hanna santai.


Barra beralih menatap ibunya.


"Aku hanya ingin membantumu Barra. Aku tidak mau jika harus menjual aset-aset kita," kilah ibunya.


"Pikirkan kata-kata Hanna baik-baik Barra! Ini menyangkut masa depan kita berdua. Kamu tidak perlu repot-repot menjual aset-aset kita. Yang jelas ibu juga tidak jadi dipenjara. Ibu mohon Barra, pikirkan ibumu ini." Ibunya mulai ikut campur urusan pribadi Barra lagi.


Barra masih diam membisu tapi matanya tidak bisa lepas dari Rania. Tatapannya memohon agar Rania bisa mengerti keadaannya.


"Tidak perlu menatap ku seperti itu Barra, aku menunggu jawabanmu! Kamu pilih dia atau aku."


Barra bingung sendiri.


"Kamu juga akan punya anak dari Hanna, jadi tidak perlu khawatir jika Rania membawa anakmu. Kamu masih punya seorang anak lagi!" Kata-kata ibunya kembali memprovokasi Barra.


Semua yang ibunya katakan ada benarnya. Jika dia bertahan dengan Rania, dia tidak bisa melunasi hutang ibunya. Rumah ini juga di sita dan dia tidak punya apa-apa lagi. Selain itu ibunya juga dipenjara dan itu pasti akan mempengaruhi karirnya.


"Apa keputusanmu Barra?"


"Ran ... Maafkan aku ... Aku ..."


"Cukup Barra, tidak usah dilanjutkan! Aku sudah tahu keputusanmu!"


"Ran ... Aku mohon mengertilah ... Aku harus memikirkan nasib ..." Rania menghentikan perkataan Barra dengan mengangkat telapak tangannya di depan Barra.


"Tidak perlu dijelaskan, Aku mengerti! Sangat mengerti!!!"

__ADS_1


"Jadi kamu mengerti Rania, maka kamu harus segera angkat kaki dari rumah ini! Akhirnya Barra, aku memilih pilihan yang tepat," seru ibunya lega. "Ibu sena?ng sekali ibu tidak jadi dipenjara."


__ADS_2