Balasan Untuk Suamiku

Balasan Untuk Suamiku
Nafsu dan Amarah


__ADS_3

Rania berjalan menyusuri jalan setapak hingga akhirnya dia berhenti di ujung taman. Sebenarnya dia bukan ingin ke toilet. Dia hanya ingin menyendiri sejenak. Bertemu orang banyak dan tidak dia kenal membuatnya merasa tidak nyaman.


Dipandanginya taman itu takjub. Rumah Malik sangatlah luas begitu pula tamannya. Rania sedikit menjauh dari keramaian pesta, meski begitu suara alunan musik masih terdengar dari tempatnya sekarang.


Rania sudah mendapatkan kembali ketenangannya. Dia berdiri dan berniat kembali ke tempat pesta berlangsung. Tapi tiba-tiba saja seseorang membekapnya dari belakang dan menyeret tubuhnya. Rania tidak bisa berteriak karena mulutnya ditutup.


Rania di bawa ke semak-semak yang lumayan jauh dari tempat acara berlangsung. Setelah itu tubuhnya di dorong hingga jatuh dan tergeletak di tanah.


"Barra ... Apa yang kamu lakukan?" Rania ketakutan. Barra terlihat berbeda dari biasanya. Dia seperti dikuasai nafsu dan amarah secara bersamaan.


Belum sempat Rania membuka mulutnya lagi, Barra sudah menindihnya dan ******* bibirnya kasar hingga Rania tidak bisa berteriak. Dengan sekuat tenaga Rania mencoba mendorong tubuh Barra tapi tenaganya tidak ada apa-apanya dibandingkan Barra. Akhirnya Rania menggigit bibir Barra sekuat-kuatnya hingga dia bisa merasakan darah keluar dari bibir Barra. Barulah Barra melepaskan ciumannya.


Belum sempat berteriak Barra kembali membekap mulut Rania dengan tangannya sementara tangan satunya lagi memegang kedua tangan Rania ke atas. Rania benar-benar tidak bisa berbuat apa-apa.


"Kamu tahu sayang ... Aku lihat kamu semakin cantik. Tubuhmu juga semakin seksi. Aku jadi tidak bisa menahan diriku saat melihat mu. Aku tidak rela tubuh indah ini menjadi milik laki-laki itu," bisik Barra yang terdengar begitu menyeramkan di telinga Rania. "Kamu akan tetap menjadi milikku!"


Rania hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya mendengar kata-kata Barra karena tangan Barra masih membekapnya. Betapa hati Rania meronta berharap Malik segera menemukannya atau siapa saja yang bisa menyelamatkannya.


Pada saat yang bersamaan Malik mencari Rania ke kamar tapi tidak menemukannya. Dia masih santai karena berpikir mungkin Rania hanya sedang ke toilet.


"Gadis nakal ... Apa kamu di dalam?" teriak Malik dari luar toilet. Tapi tidak ada sahutan. Malik membuka pintu toilet tapi tidak juga menemukan Rania di dalam.


"Kemana dia?" gumam Malik kemudian berjalan kembali ke bawah. Dia bertanya kepada beberapa pelayan yang dijumpainya tapi tidak satupun ada yang melihat Rania memasuki rumah. Malik semakin khawatir. Dia kembali ke tempat pesta dan bertanya kepada Dewi apakah Rania sudah kembali, tapi Dewi pun belum melihat Rania sejak pamit ke belakang tadi.


"Coba kamu cari ke ujung taman, dia tadi berjalan ke sana. Aku bantu cari!" ujar Dewi. Mereka berdua berdiri agak menjauh dari tamu-tamu yang lain.

__ADS_1


"Tidak usah Dew, kamu di sini saja temani Mama dan mertuaku. Jangan sampai mereka tahu Rania menghilang nanti mereka khawatir."


"Baiklah."


"Tolong cari alasan kalau ada yang mencari aku atau Rania. Dan jangan sampai tamu-tamu mengetahui hal ini."


Dewi mengangguk. "Bergegaslah!"


Malik segera menghubungi keamanan dan menyuruh mereka menyebar mencari Rania. Malik sendiri berjalan menyusuri taman untuk mencari Rania seperti yang dikatakan Dewi tadi.


Sampai di ujung taman Malik terdiam. Suara lantunan musik masih sayup-sayup terdengar tapi ada suara lain yang juga terdengar di telinga Malik.


Malik melangkah pelan mendengarkan dari mana sumber suar berasal. Diikutinya sumber suara itu hingga akhirnya matanya menemukan Barra sedang menindih istrinya.


Malik segera menarik tubuh laki-laki itu. Tanpa berkata apa-apa dia langsung menghajar Barra tanpa ampun. Barra pun tidak tinggal diam. Dia mencoba membalas serangan Malik.


"Malik ..." panggil Rania pelan. Barulah Malik sadar dan menghentikan tendangannya ke tubuh Barra. Dia segera menghampiri Rania dan menutup tubuh Rania dengan jas nya karena gaun Rania sudah berantakan akibat ulah Barra.


"Kamu tidak apa-apa kan?" Rania langsung terisak di pelukan Malik. Dengan segera Malik menggendong tubuh Rania dan membawanya ke dalam rumah sebelum ada yang melihatnya.


Rania masih terus terisak dalam gendongan Malik. Bahkan di hari bahagianya, Barra masih berusaha merusaknya.


"Sssttt ... Tidak apa-apa. Kamu aman sekarang. Dia tidak akan bisa menyentuh mu lagi. Aku sudah mengajarnya." Malik menenangkan Rania.


Sampai di dalam kamar Malik mendudukkan Rania di sofa. Dia meminta Rania melepas semua pakaiannya untuk mencari jika ada luka di tubuhnya. Setelah memastikan semua baik-baik saja, barulah Malik mengijinkan Rania membersihkan dirinya.

__ADS_1


"Kenapa ada darah di bibir mu sayang?"


"Dia tadi mencoba mencium ku, lalu aku gigit bibirnya. Ini darahnya bukan darahku," terang Rania setelah dia reda dari tangisnya.


Rania ingin masuk ke kamar mandi tapi dia ragu. Dia masih takut jika tiba-tiba Barra muncul lagi seperti tadi.


"Kamu takut?" tanya Malik. Rania mengangguk.


"Ingin aku temani mandi?" tanya Malik. Rania kembali mengangguk.


"Dengan senang hati ..." jawab Malik.


Mereka berdua memasuki kamar mandi. Tadinya Malik hanya ingin menemani Rania mandi karena dia masih ketakutan. Tapi melihat tubuh Rania yang basah dan tanpa sehelai kain pun membuat Malik gerah dan ikutan mandi.


"Aku juga harus membersihkan badanku kan? Ada darahnya menempel di tubuhku," terang Malik kepada Rania yang menatapnya dengan tatapan aneh.


Setelah selesai mandi keduanya keduanya kembali berpakaian. Untung Malik membelikan beberapa gaun untuk Rania sehingga dia bisa menggantikan gaunnya yang tadi rusak dengan gaun lain.


"Malik ... Aku tidak ingin turun. Aku takut."


"Tidak apa-apa sayang, aku akan berada di sampingmu tidak akan membiarkan kamu sendirian. Kamu tidak usah takut." Malik mencoba meyakinkan.


"Kamu sudah menyuruh orang untuk mengamankan dia kan?" tanya Rania.


Karena terlalu sibuk meneliti tubuh Rania dan juga menemaninya mandi, dia sampai lupa untuk menyuruh orang-orangnya mengamankan Barra. Malik segera meraih handphone-nya dan menghubungi orang kepercayaannya untuk mengamankan Barra yang tadi dia tinggalkan dalam posisi tergeletak tidak sadar di semak-semak taman.

__ADS_1


Tapi orang kepercayaannya itu tidak menemukan Barra di sana. Sepertinya dia berhasil melarikan diri.


Malik tampak kesal. Dia salah karena mengabaikan Barra. Dia pikir laki-laki itu sudah pingsan karena sudah babak belur dia hajar dan tidak akan bisa kemana-mana tapi ternyata dia salah.


__ADS_2