
Rania tidak bisa berkata-kata. Tatapan tajam dari Barra sangat menakutkan baginya. Bukan niatnya juga untuk memuntahkan makanan itu. Hanya saja entah kenapa dia sangat merasa mual mencium aroma masakan mertuanya.
"Bukan begitu ... Barra ... Aku tidak bermaksud ..." Rania terbata-bata.
"Berarti selama ini ibu tidak mengada-ada dengan ceritanya. Kamu sama sekali tidak menghormatinya!!" ucap Barra berapi-api. "Sebenci itukah kamu sama ibu?! Kamu sudah sangat keterlaluan!!!" Barra menghempaskan tangan Rania dengan kasar hingga membuatnya tersungkur.
"Barra ... dengarkan penjelasan ku dulu ..."
"Tidak ada yang perlu dijelaskan. Aku sudah melihatnya sendiri!!" Barra berlalu meninggalkan Rania dengan merah padam karena amarah.
Mertuanya mendekati Rania yang masih terdiam di depan wastafel setelah kepergian Barra.
"Sepandai-pandainya tupai melompat, suatu saat pasti jatuh juga!" Ejek mertuanya lagi. "Sepandai-pandainya kamu merayu anakku, pasti dia akan lebih percaya sama ibunya." Mertua Rania terlihat sangat bahagia melihat Rania dimarahi habis-habisan oleh Barra.
Rania sangat malas untuk membalas kata-kata mertuanya, dia berjalan meninggalkan mertuanya sendirian.
Di dalam kamar Rania bertanya-tanya apa yang salah dengan dirinya. Rasanya mual dan sedikit pusing. Dia juga tidak berkeinginan untuk mengerjakan pekerjaan rumah seperti biasanya. Dia hanya ingin berbaring dan bermalas-malasan saja.
"Mungkin aku cuma masuk angin. Kalau aku tidur sebentar pasti pusing ini akan hilang," gumamnya. Akhirnya dia kembali terlelap hingga dia mendengar suara pintu kamarnya digedor oleh mertuanya.
"Rania ... !!! Apa yang kamu lakukan di dalam. Kerjakan tugas-tugas mu!! terdengar suara teriakan mertuanya dari balik pintu. Mau tidak mau Rania bangun, tapi rasa pusing dan malasnya belum juga hilang meskipun dia sudah beristirahat.
"Aku sedang tidak enak badan Bu ... " balas Rania dari dalam kamar.
"Tidak usah berpura-pura denganku! Cepat bersihkan rumah!" Tapi Rania tidak bergeming. Dia kembali memejamkan matanya tidak peduli suara mertuanya yang terus berteriak dari balik pintu.
"Lihat saja, aku akan mengadukan sikapmu ini pada Barra!!" ancam mertuanya. Rania tetap tidak peduli.
* * *
"Ada apa Bu?" tanya Barra tergesa-gesa. Dia baru saja sampai di rumah setelah ibunya menelfon dirinya.
"Ini tentang istrimu itu. Dia bikin ulah lagi!"
Barra mendesah kesal. "Bukankah setiap hari ibu bertengkar dengannya? Lalu apa yang penting?!""
"Tapi kali ini beda, dia benar-benar keterlaluan! Dia sama sekali tidak keluar kamar setelah kepergianmu. Dia bahkan tidak mau membereskan rumah."
__ADS_1
"Dengar Bu ... Pekerjaanku banyak sekali di kantor kalau masalah sepele begini ibu menyuruhku pulang, itu artinya aku hanya buang-buang waktu saja!" Barra menahan diri emosinya. Dia pulang setelah ibunya menelfon dan menyuruhnya pulang secepatnya. Barra pikir ada sesuatu yang sangat penting hingga dia terpaksa meluangkan waktunya untuk pulang di sela-sela kesibukannya.
"Ya sudah kalau kamu tidak percaya. Sana lihat sendiri kelakuan istrimu itu!"
Barra mengikuti kata-kata ibunya. Dengan wajah penuh emosi dia berjalan menuju kamarnya kemudian membuka pintu kamar dengan kasar.
"Rania, apa lagi yang kamu lakukan! Aku sudah benar-benar bosan setiap hari menghadapi pertengkaran mu dan ibu! Ini terakhir kalinya aku memperingatkan kamu. Turuti saja apa perkataan ibu!" teriak Barra dari ambang pintu. Tapi Rania tidak merespon kata-katanya. Kemarahan Barra pagi tadi karena Rania berani memuntahkan masakan ibunya di depan matanya belum sirna, sekarang semakin ditambah kesal karena Rania mengacuhkannya. Dia berjalan mendekat dan hampir membentaknya lagi.
Kemudian setelah dia melihat istrinya itu dari dekat barulah dia sadar ada yang berbeda dengan istrinya. Wajahnya terlihat pucat. Barra semakin mendekatkan dirinya.
"Tidak panas," gumam Barra.
Rania terbangun setelah merasakan sentuhan di keningnya. Dia melihat sekilas dari sudut matanya kemudian memejamkan matanya lagi.
"Apa kamu sakit?" kata-kata Barra melunak.
Rania tersenyum sinis masih dengan mata terpejam.
"Apa peduli mu? Sebentar lagi aku bukan lagi istrimu, tidak perlu mengkhawatirkan aku."
"Ayo aku antar ke dokter."
"Jangan begitu Rania, aku masih suamimu."
"Bukankah itu hanya statusnya saja? Kalau kamu masih merasa suamiku, kamu pasti tidak akan menghabiskan malam bersama wanita lain!"
"Apa yang kamu bicarakan?"
"Apa kamu masih mencintaiku?" Rania masih memejamkan matanya.
Barra diam tidak menjawab.
"Sudah berapa lama kamu bersamanya?" Barra masih tidak menjawab.
"Aku tidak akan bersikap seolah-olah aku tidak tahu apa-apa. Jika itu pilihanmu maka lakukan saja. Aku tidak akan mengemis cinta kepadamu! Pergilah!" ucap Rania dengan tenang.
Setelah dia mendengar suara pintu tertutup barulah dia membuka matanya. Air matanya mengalir deras setelah kepergian Barra. Sakit sekali perasannya tapi dia berusaha kuat di depan Barra.
__ADS_1
"Apa aku perempuan munafik?" tanya Rania pada dirinya sendiri. Dia menyadari dia juga telah melakukan kesalahan, tapi dia tidak pernah berniat untuk mengkhianati Barra.
* * *
"Benarkan apa yang ibu bilang? Istrimu itu hanya mengaku tidak enak badan agar bisa malas-malasan di kamar," sambut ibunya begitu melihat Barra turun.
"Dia memang sedang sakit," jawab Barra pendek.
"Kamu percaya begitu saja??"
"Sudahlah Bu ... jangan ganggu dia untuk kali ini saja. Bisakah ibu tidak membuat keributan?"
"Apa maksudmu?! Apa kamu mau bilang ibu yang membuat keributan?! Kamu berani mengatakan itu pada ibumu ini?!"
Barra menahan kekesalannya. Ibunya tidak pernah mau kalah dan juga tidak mau disalahkan.
"Sebaiknya aku kembali ke kantor." Barra bergegas meninggalkan ibunya.
Sementara itu di kamar, Rania bangun kemudian membersihkan badannya. Setelah itu dia turun ke dapur untuk mengisi perutnya yang kosong karena sejak pagi belum makan.
Mertuanya yang tidak sengaja melihatnya makan segera memberikan komentar pedas kepadanya.
"Benar-benar seperti benalu ya kamu di rumah ini. Ngga mau ngapa-ngapain taunya makan!"
Rania tidak menjawab. Dia terus memakan roti di tangannya setelah itu meminum habis segelas susu. Dia harus mempunyai cukup tenaga untuk bisa mengendarai mobil sampai rumah sakit. Mertuanya semakin geram dengan tingkah Rania.
"Hei ... apa selain mandul sekarang kamu juga tuli?! Kenapa tidak menjawab ku?!"
"Jika aku menjawab ibu, nanti ibu akan bilang kalau aku sudah berani melawan ibu. Bukankah seperti itu biasanya?!" sindir Rania.
Mertuanya mendelik tidak percaya. "Kamu berani melawan ku?!"
"Lihat kan, ibu baru saja mengatakannya."
Mertuanya terlihat salah tingkah.
"Menjawab atau tidak menjawab, aku akan tetap salah di mata ibu. Jadi apa bedanya?" Rania bangkit dari duduknya.
__ADS_1
"Selama ini aku diam saja dengan perlakuan ibu yang selalu menghinaku dan memarahiku. Itu bukan karena aku takut, tapi karena aku menghormatimu sebagai orang yang melahirkan suamiku. Tapi karena ibu tidak bisa melihat ketulusanku mengabdikan diri untukmu dan juga anakmu, maka tidak ada gunanya aku menghormatimu." Kemudian Rania melangkah meninggalkan mertuanya.