
Barra terbangun setelah tertidur cukup lama. Untuk sesaat dia tidak bergerak hanya menatap kosong langit-langit kamar itu. Dia masih bingung apa yang harus dilakukannya. Ingin sekali dia menghidupkan ponselnya dan menghubungi ibunya agar bisa merawatnya di sini. Tapi dia tidak berani ambil resiko ada yang mengetahui keberadaannya melalui layanan lokasi di ponselnya.
Masih dengan handuk di tubuhnya Barra mencoba bangun dan ke kamar mandi. Akhirnya dia pakai lagi bajunya yang masih basah itu. Perutnya yang kelaparan memaksanya bangun karena dari kemarin malam dia belum makan.
Barra keluar dari kamarnya. Dengan sedikit was-was dia melangkahkan kakinya berharap tidak ada yang memperhatikan wajahnya yang babak belur. Barra terus melangkah untuk mencari warung makan. Tapi kemudian dia berhenti di sebuah toko pakaian bekas. Dia membeli beberapa baju bekas untuk ganti dan juga sebuah topi untuk menyembunyikan wajahnya. Beruntung masih ada uang tunai di dompetnya sehingga dia tidak perlu ke ATM.
Barra memandangi sekitarnya. Dia sekarang berada di sebuah kawasan kumuh dan padat penduduk di pinggiran kota. Seperti yang diingatnya, dia bisa sampai ke tempat ini karena ada orang yang bisa dia bodohi dengan mengatakan bahwa dia adalah korban perampokan sehingga orang itu tidak menanyakan mengenai luka-luka di tubuh dan wajahnya.
Setelah dia mengganti pakaiannya dengan baju bekas yang baru saja dia beli, Barra melanjutkan niatnya untuk mencari makan. Ini sungguh jauh dari kehidupannya selama ini. Biasanya dia menginap di hotel berbintang, sekarang dia hanya menginap di sebuah penginapan kecil dan kotor. Bahkan kamar kosan miliknya jauh lebih bagus dari kamar yang di sewanya saat ini.
Belum lagi pakaian bekas yang dia pakai sekarang. Barra tidak akan mau memakainya jika keadaannya tidak seperti ini. Langkah kaki Barra berhenti di depan sebuah warung makan. Perutnya yang sudah keroncongan memaksanya masuk tanpa mempedulikan keadaan warung yang terlihat jorok.
Barra makan dengan lahapnya, setelah kenyang dia meminta lagi satu bungkus untuk dibawa ke penginapan agar nanti malam dia tidak perlu keluar lagi untuk mencari makan. Hidup menjadi sangat sulit untuknya.
* * *
Seminggu sudah Barra menjadi seorang buronan. Dia masih bersembunyi di penginapan. Uangnya sudah mulai menipis sementara dai tidak berani mengambil uang di ATM. Sampai sekarang pun dia masih tidak berani menghidupkan ponselnya.
Barra terdiam memandangi pantulan dirinya dari cermin kecil yang tertempel di dinding kamar mandi. Bulu-bulu halus mulai memenuhi wajahnya. Bekas luka dan memar juga mulai tidak terlihat. Tidak ada lagi Barra tampan dan berkharisma, sekarang tinggal sisa-sisa nya saja.
Kemudian dia teringat putri kecilnya yang baru saja lahir. Anak yang sudah sangat lama dia dambakan kehadirannya. Sungguh dia sangat merindukan bayi mungil itu.
Barra berjalan keluar kamar menuju resepsionis penginapan untuk meminjam telepon.
"Halo ... " terdengar suara familiar dari ujung telepon. Barra terdiam sejenak ragu untuk bicara.
"Halo ... " suara itu terdengar lagi.
"Ibu ... "balas Barra pelan.
"Ya ampun Barra, kemana saja kamu?! Semua orang sedang mencari-cari kamu. Apa yang sudah kamu lakukan?Apa kamu baik-baik saja?" Rentetan pertanyaan keluar dari mulut ibunya.
__ADS_1
"Ibu, jangan bicara keras-keras! Ada siapa di rumah?Nanti mereka dengar. Bagaimana kabar ibu? Bagaimana kabar anakku?"
"Kami semua baik. Aku di rumah bersama Imah dan anakmu. Hanna jarang di rumah karena dia sibuk mencari mu. Kamu dimana sekarang? Jangan buat ibu khawatir!"
"Dengar Bu, nanti jika Hanna pulang, tolong katakan padanya untuk tetap di rumah karena aku akan menghubunginya. Hanya dia yang bisa membantuku."
"Iya, tapi kamu dimana sekarang?"
Barra sudah menutup teleponnya. Dia akan kembali ke kamarnya tapi suara perutnya mencegahnya. Dia membelokkan langkahnya keluar penginapan untuk mencari makan. Di dompetnya tinggal selembar uang berwarna hijau. Tidak mungkin dia bisa bertahan lebih lama lagi jika dia tidak mengambil uang di ATM tapi dia takut. Belum lagi jika dia harus membayar sewa penginapan untuk seminggu ke depan kalau tidak ingin di usir dari penginapan itu.
Barra berjalan menuju warung makan yang akhir-akhir ini menjadi tempat paling bersahabat dengannya. Bagaimana tidak, makanan di warung itu menjadi satu-satunya yang bisa dia beli dengan sisa uangnya. Barra kembali ke penginapan membawa kantung plastik berisi sebungkus nasi. Setengah untuk makan siang dan setengah lagi sisanya untuk makan malamnya nanti. Sekarang tidak ada lagi sisa uang di dalam dompetnya.
Seorang pegawai penginapan menghentikan langkahnya ketika dia baru saja masuk penginapan.
"Maaf Pak, saya mau mengingatkan jika hari ini adalah hari terakhir Bapak menginap di sini. Jika Bapak masih ingin menginap di sini maka bapak silahkan membayar dulu biaya sewa untuk seminggu ke depan," ucap pegawai itu dengan aksen daerah yang kental.
"Aku masih bisa di sini sampai nanti malam kan?"
"Kalau begitu tunggu sampai nanti malam." Barra berlalu pergi.
* * *
Hanna berjalan sendirian di sebuah gang sempit. Dia memakai jaket besar yang menutupi hampir seluruh tubuhnya dan juga mengenakan masker agar tidak ada yang mengenalinya. Beberapa kali dia menengok ke kiri dan kanan untuk memastikan tidak ada yang mengikutinya.
Tadi Barra menghubunginya dan mengatakan agar menemuinya di tempat ini. Tiba-tiba ada yang menarik lengan Hanna dan menutup mulutnya. Orang itu lalu menempelkan tubuh Hanna ke dinding sebuah bangunan. Hanna yang ketakutan berusaha meronta.
"Hanna ... tenanglah! Ini aku ... Barra," bisik Barra.
Kemudian Hanna menatap laki-laki yang sudah menarik tangannya.
"Barra ...?" Hanna menatap tidak percaya. "Kenapa kamu jadi seperti ini?" Mata Hanna melotot melihat penampilan Barra sekarang. "Ya Tuhan!!! apa yang sudah terjadi padamu?!!"
__ADS_1
"Sssttt ... jangan keras-keras. Aku kangen sekali padamu." Barra ingin memeluk Hanna tapi dia mendorong tubuhnya.
"Jangan menyentuh ku! Lihat badan dan pakaianmu kotor seperti itu." Hanna mengusap-usap pakaiannya yang terkena sentuhan barra jijik seperti terkena kotoran.
"Kenapa kamu meminta aku ke tempat seperti ini?"
"Hanna, aku rindu sekali denganmu."
"Kamu sudah menghancurkan hidupku. Apa yang sudah kamu lakukan?!"
"Bagaimana si kecil? Bagai putriku? Apa dia nakal? Apa Dia merindukan Papa nya?" tanya Barra semangat. Barulah Hanna tersentuh dengan pertanyaan yang barra ajukan.
"Ya ... dia baik-baik saja. Sering menangis kalau malam. Mungkin karena tidak ada kamu yang biasa menggendongnya."
"Aku ingin sekali melihatnya. Aku sangat merindukannya." Mata Barra berbinar begitu membicarakan bayi yang dia pikir adalah anaknya.
"Tunggu dulu Barra, lihat kondisimu sekarang! Kamu seorang buronan polisi saat ini!"
"Bantu aku Hanna, hanya kamu yang bisa membantuku."
"Apa yang bisa aku lakukan?"
"Apa saja, yang penting aku bisa bebas."
"Akan aku pikirkan caranya. Aku harus pergi sekarang. Jangan sampai ada yang curiga aku menemui mu di sini." Hanna berbalik dan hendak meninggalkan Barra.
"Hanna ... tunggu!"
"Apa lagi?"
"Beri aku uang tunai. Aku harus membayar penginapan dan membeli makanan."
__ADS_1
Hanna mendengus kesal tapi tetap mengeluarkan uang dari dompetnya dan menyerahkannya pada Barra.