Balasan Untuk Suamiku

Balasan Untuk Suamiku
Cari Sampai Ketemu!


__ADS_3

Malik dan Rania kembali ke tempat pesta berlangsung. Mereka bersikap biasa saja seperti tidak ada sesuatu yang terjadi. Para tamu pasti mengira jika mereka menghilang hanya untuk berganti pakaian tadi.


"Kalian dari mana?" bisik Dewi mendekati mereka berdua.


"Ceritanya panjang," balas Malik sambil menyapa lagi tamu-tamunya. Acara berlangsung lancar seperti sebelumnya. Dan Malik sama sekali tidak melepaskan tangan Rania sampai acara berakhir. Tidak ada yang tahu jika di luar pesta Malik mengerahkan seluruh anak buahnya untuk mencari Barra.


* * *


Rania masih terlelap tanpa busana di atas tempat tidur. Malik membenahi selimut untuk menutup tubuh polos istrinya itu setelah semalaman dia memuaskan hasratnya yang selama ini dia tahan.


Kemudian dia meraih ponselnya dan berjalan menuju kamar mandi.


"Bagaimana?"


"Belum ditemukan Tuan. Kami sudah mencarinya ke rumahnya tapi dia tidak pulang semalam."


"Cari lagi sampai ketemu!" Malik menutup teleponnya.


Tidak bisa dipungkiri, saat ini dia sangat marah. Dia masih tidak terima melihat Barra berani berbuat kurang ajar pada Rania. Selama ini dia tidak ikut campur urusan masa lalu Rania dengannya karena Rania tidak mengijinkannya. Tapi sekarang Malik sudah tidak bisa tinggal diam lagi.


Malik membersihkan dirinya kemudian berpakaian. Dia menghampiri Rania dan mengecup keningnya. Dipandanginya wajah wanita yang selama ini telah mengisi hatinya.


"Aku akan pergi sebentar."


Rania tidak menjawab karena dia masih terlelap.


* * *


Malik berdiri di depan sebuah gedung pencakar langit. Di pandanginya gedung bertingkat itu, gedung milik almarhum Papa nya. Untuk sesaat dia mematung karena teringat kenangan saat masih anak-anak dulu, dia sering ikut Papa nya ke kantor ini. Tapi itu dulu ... dulu sekali ketika keluarganya masih utuh.

__ADS_1


Malik tidak pernah menjejakkan kakinya di perusahaan ini setelah Papa nya meninggal. Jadi wajar saja jika hampir tidak ada yang mengenalinya kecuali orang-orang yang telah lama bekerja di sana dan juga petinggi-petinggi perusahaan.


"Maaf pak, Anda belum membuat janji. Tuan affandi sedang ada tamu penting, anda tidak bisa masuk sekarang," cegah sekretaris Affandi yang melihat Malik berjalan melewati mejanya tanpa berkata apa-apa. Jelas sekretaris itu tidak mengetahui siapa Malik.


Malik tidak menggubris perkataan sekretaris itu. Dia tetap melangkahkan kakinya menuju ruangan Affandi dan langsung masuk begitu saja.


Affandi yang sedang ada tamu kaget melihat Malik tiba-tiba berada di ruangannya. Dia tahu pasti ada yang tidak beres dan langsung meminta tamunya untuk pergi.


"Tuan Malik, ada apa? Tidak biasanya anda mengunjungi kantor?" Malik segera duduk.


"Maaf Pak, saya sudah berusaha mencegah nya tapi ... " sekretaris itu tidak melanjutkan kalimatnya karena Affandi sudah mengibaskan tangannya menyuruhnya pergi.


"Duduklah paman, aku ingin bicara sebentar." Malik meminta Affandi untuk duduk. Dia tidak bicara formal seperti biasanya karena mereka hanya berdua di dalam ruangan.


"Ada apa nak? Apa yang bisa Paman bantu?"


"Paman tahu kenapa aku membatalkan undangan untuk keluarga paman di hari pernikahan ku?" tanya Malik tanpa basa-basi.


"Beberapa waktu yang lalu, Barra, menantu paman mengganggu istriku."


"Dan tadi malam, dia mencoba berbuat kurang ajar lagi pada istriku saat pesta tengah berlangsung," cerita Malik.


"Tidak mungkin!!!" ucap Affandi tidak percaya.


"Itu benar Paman. Apa Paman Harun tahu dimana dia berada sekarang?"


"Aku tidak tahu ... " Affandi bergegas mengambil handphone-nya yang tergeletak dia atas meja kerjanya. "Aku akan menghubungi Hanna untuk menanyakannya."


"Aku sudah menyuruh orang-orang ku ke sana. Dia tidak ada di rumah!"

__ADS_1


Affandi terlihat kebingungan karena dia memang tidak tahu apa-apa.


"Aku ingin paman menemukan menantu Paman secepatnya! Cari dia sampai ketemu dan seret dia ke penjara! Jika aku sampai tahu keluarga Paman berusaha menyembunyikannya, maka aku akan mengambil alih perusahaan ini dan tidak segan-segan melemparkan keluarga Paman ke jalanan!" ucap Malik dingin.


Sekali lagi Affandi di buat terkejut oleh kata-kata Malik.


"Jangan terburu-buru membuat keputusan Nak ... Kita bisa bicarakan ini baik-baik," Affandi mencoba bernegosiasi.


"Paman sudah lama mengabdikan diri untuk perusahaan ini. Dan soal apa yang sudah Barra lakukan, itu tidak ada sangkut pautnya denganku."


"Aku tahu itu Paman. Aku juga sangat menghargai dan berterima kasih atas pengabdian Paman selama ini. Tapi itu tidak akan merubah apapun."


"Kami juga berperan banyak atas kemajuan perusahaan ini. Kamu juga tahu kan Aku dan almarhum Papa kamu dulu sangat dekat?" balas Affandi.


"Memang benar ... Karena itu aku masih bersikap lunak meski tahu berapa banyak dana perusahaan yang Paman gunakan untuk kepentingan Paman sendiri."


Affandi langsung menegang. Kalimat Malik seperti pisau tajam yang langsung menusuk jantungnya. Dia tidak menduga Malik yang selama ini tidak peduli terhadap perusahaan bisa mengetahui kebusukannya.


"Kabari aku secepatnya! Aku akan mengawasi mu, Paman!!!" ucap Malik tajam sambil berjalan meninggalkan ruangan Affandi.


Affandi tidak bisa berkata apa-apa lagi. Dia raih ponsel dari sakunya dan segera menghubungi Hanna.


Sementara itu ...


Di sebuah kamar di suatu penginapan kecil, Barra tergeletak lemas. Tubuhnya penuh lebam dan luka akibat pukulan dan tendangan dari Malik semalam. Dia sendiri menyesali perbuatannya karena terlalu nekat. Dia hanya mengikuti nafsu dan amarahnya hingga tidak memikirkan akibatnya. Sekarang dia harus menyembunyikan dirinya karena tidak mungkin kembali ke rumah dengan kondisinya saat ini.


Barra merutuki kebodohannya. Jika Malik sampai melaporkannya ke polisi pasti karirnya hancur. Perusahaannya pasti akan memecatnya. Dan tidak ada lagi yang bisa dia banggakan.


Semalam, waktu Malik sibuk menyematkan Rania, antara sadar dan tidak sadar dia merangkak dan bersembunyi di semak-semak. Baru setelah penjaga menyebar, dia menyelinap keluar meski dengan menahan sakit. Beruntung ada menolongnya dan memberikan tumpangan. Barra berkata kepada orang itu jika dirinya adalah korban perampokan sehingga orang itu bersedia menolongnya.

__ADS_1


Barra mendiamkan saja luka-lukanya. Tubuhnya terasa kaku akibat semua luka-luka itu. Belum lagi mata yang hampir tidak bisa melihat karena bengkak akibat pukulan Malik yang bertubi-tubi dan tanpa ampun.


Susah payah Barra menuju kamar mandi. Dia mengguyur tubuhnya dengan air untuk membersihkan darah yang menempel di tubuhnya yang kini sudah mengering. Setelah itu dia mencuci seluruh pakaiannya yang juga terkena noda darah dari luka-lukanya. Selesai dengan itu semua, Barra kembali ke tempat tidur dan merebahkan tubuhnya yang hanya berbalut handuk di bagaian bawahnya. Barra tidak punya baju ganti dan penginapan ini jelas tidak memiliki layanan apapun selain handuk yang dipakainya.


__ADS_2