Balasan Untuk Suamiku

Balasan Untuk Suamiku
Wajah-wajah Garang


__ADS_3

Seminggu sudah berlalu sejak pertengkaran terakhir Barra dan ibunya. Ibu Barra tidak mengurangi kebiasaan pulang malamnya walaupun Barra sudah mengingatkannya. Begitu Barra berangkat kerja maka, ibunya juga segera pergi meninggalkan rumah. Rania tidak pernah mempermasalahkan itu, dia justru menikmatinya. Semakin jarang mertuanya berada di rumah, berarti semakin jarang pula dia bertemu dengannya dan potensi konflik mereka berdua juga berkurang.


Sementara itu, Rania rasakan Barra sedang memendam masalah berat. Dia memang tidak menceritakan masalah yang sedang dihadapinya kepada Rania tapi, Rania bisa merasakan itu. Setiap kali di rumah, Barra kebanyakan termenung dan menyendiri walaupun tidak mengurangi perhatian dan kasih sayangnya kepada Rania. Seakan-akan tubuhnya ada di sisinya tapi pikirannya entah kemana.


Rania terus kepikiran Barra. Kemudian dia meraih handphone-nya.


"Kamu sibuk?"


"Sedikit. Kamu ingin sesuatu?"


" Aku ingin telfon. ganggu?"


Tak berselang satu menit handphone Rania berdering. Justru Barra yang menelfon nya.


"Apa jika aku menghubungi kamu berarti aku menginginkan sesuatu? Atau aku harus ingin sesuatu?"


Barra tertawa di ujung telfonnya.


"Bukan begitu ... Aku hanya ingin memastikan jika tidak ada satupun keinginan kamu yang tidak aku penuhi. Jadi ... ada apa sayangku? Kamu sudah merindukan aku? Atau kamu memang menginginkan sesuatu?"


"Hari ini kamu tidak lembur kan?"


"Sepertinya tidak, tapi tidak tahu juga kalau nanti tiba-tiba Presdir mengajak meeting. Kenapa memangnya?"


"Nanti malam aku ingin makan di luar. Kamu mau kan?"


"Boleh. Kamu ingin makan apa?"


"Mmm ... aku pikirkan dulu. Nanti aku kabari lagi."


"Ya sudah. Bye ... "


Rania menutup teleponnya tepat saat Mbak Imah mengetuk pintu kamarnya.


"Masuk Mbak ..." seru Rania.


"Makan siang sudah siap Bu Rania."

__ADS_1


Rania mengangguk. "Jus semangkanya juga udah?"


"Jus semangka?" Imah heran. "Kan Ibu tadi minta jus stroberi?"


"Benarkah...? Ya sudah, stroberi nggak apa-apa. Bi Yani dipanggil juga Mbak. Kita makan bersama-sama."


"Baik Bu Rania."


Suasana terasa tenang di rumah ini. Hanya ada Rania dan kedua pembantu rumah tangganya di meja makan. Rania memang sengaja mengajak mereka berdua makan bersama saat di rumah hanya ada dirinya.


Diselingi obrolan ringan antara Rania dan kedua pembantunya, kadang membicarakan anak, kadang membicarakan hidup, tak jarang juga membicarakan artis, makan siang mereka terasa hangat. Bahkan lebih hangat dibandingkan saat Rania makan bersama Barra dan mertuanya. Entah karena mereka sama-sama wanita, atau karena mereka benar-benar tulus kepada Rania, tapi dua orang pelayan ini justru membuat Rania merasa nyaman.


Di tengah asyik nya mereka makan sambil ngobrol, terdengar suara bel berbunyi yang juga diiringi suara gedoran di pintu depan. Mereka bertiga saling pandang karena tidak biasa. Itu sudah bukan ketukan pintu untuk tamu normal, bahkan sekarang sudah diiringi teriakan yang terdengar dari tempat mereka bertiga duduk.


"Widia ... cepat keluar! Kami mau menagih hutang!!!"


Teriakan itu sangat keras dan terdengar jelas dari ruang makan.


Mereka bertiga saling pandang.


"Bu saya tidak mau membuka pintu ... takut .... suaranya menyeramkan sekali," rengek Imah.


Mendengar suara teriakan lagi, ketiganya mulai takut.


"Widia ...!!! Cepat keluar atau aku dobrak!!!" Masih disertai gedoran di pintu yang menurut mereka terdengar semakin keras, dan membuat mereka semakin ketakutan.


"Kita temui bertiga ya Bi, Mbak?" pinta Rania.


"Itu orang nagih hutang ... gimana Bu? Apa kita ngumpet aja bu?" Bu Yani yang sudah paruh baya terlihat ketakutan.


"Nggak apa-apa, Bu kita temui. Nanti kalau mereka dobrak beneran terus nemuin kita di dalam, malah kita kena marah mereka."


"Baik Bu ..."


"Ayo ngga apa-apa, kita temui mereka," tenang Rania.


Rania kemudian berjalan menuju pintu depan diiringi kedua pelayannya. Dibukanya pintu yang sejak tadi digedor dengan kasar oleh orang-orang itu.

__ADS_1


Rania benar-benar terkejut melihat orang-orang yang berdiri di balik pintu. Ada enam orang laki-laki berbadan tinggi besar dan berwajah garang menunggu di sana.


"Maaf, ada perlu apa?" tanya Rania berusaha bersikap tenang dan menyembunyikan rasa takutnya.


"Dimana Widia?" tanya salah seorang dari mereka dengan nada yang tidak bersahabat.


"Mertuaku sedang tidak ada di rumah."


"Dimana?!"


"Saya tidak tahu."


"Dengar!!! Aku kesini untuk memberi peringatan. Rumah ini akan kami sita jika Widia tidak melunasi hutangnya dalam satu bulan. Kalau dia berusaha bersembunyi dan mengelak untuk membayar hutangnya, maka selain menyita rumah ini maka kami juga akan menjebloskan dia ke penjara. Kamu katakan itu padanya!!!"


Jantung Rania seperti berhenti berdetak mendengar penjelasan laki-laki itu.


"Rumah ini akan di sita?" tanya Rania tidak percaya. "Berapa hutang mertuaku sampai harus menyita rumah ini?"


"Berapa?!!" ledek laki-laki itu.


Laki-laki itu kemudian melemparkan kertas ke arah Rania, dan dengan sedikit gemetar Rania menangkapnya.


"Itu adalah rincian hutang mertuamu. Bahkan menjual rumah ini saja belum cukup untuk melunasinya!" ucap laki-laki itu sinis. Kemudian dia melihat ke arah Rania dan memandangnya dengan tatapan menelanjangi.


"Mungkin kalau kamu mau bekerja di tempat kami, dalam tiga tahun hutang itu bisa lunas," terang laki-laki itu disertai tawa oleh teman-temannya yang berdiri di belakangnya.


"Kamu cantik dan tubuhmu juga mmm ... mantab, pasti kamu akan jadi primadona di sana," lanjut laki-laki itu disertai tatapan mesum kepada Rania. Laki-laki itu terus melihat Rania dari kepala sampai ujung kaki.


"Pergi kalian dari sini!" gertak Rania. Dia merasa sudah dilecehkan sebagai wanita. Sementara Bi Yani dan Mbak Imah bersembunyi di belakang Rania karena ketakutan. Mereka bahkan tidak berani mengangkat wajah mereka karena takut melihat wajah-wajah garang di depan mereka.


"Baiklah ... Jangan lupa sampaikan apa yang aku katakan tadi pada Widia! Dan ingat juga cantik ... kalau kamu ingin rumah ini tidak di sita, kamu bisa bekerja kepada kami." Nada bicara laki-laki itu sudah tidak sangar seperti tadi, tapi ganjen seperti Om-om sedang mencari mangsa.


"Jangan harap!!!" umpat Rania. Dia tahu pekerjaan apa yang dimaksud oleh laki-laki itu.


"Baiklah kami pergi, jangan lupa pertimbangkan tawaranku tadi cantik!" Laki-laki itu pergi dari hadapan Rania diikuti ke-lima teman atau mungkin bawahannya. Wajah Rania merah padam mendengar kata-kata laki-laki itu.


Barulah setelah ke-enam laki-laki itu tidak terlihat, Rania membuka kertas yang dipegangnya. Dibacanya tulisan yang tertera di kertas itu yang kebanyakan tertulis tanggal dan nominal, hingga paling bawah tertera jumlah akhir. Rania merasa sesak nafas kemudian pandangannya berkunang-kunang setelah melihat jumlah akhir yang tertera di kertas itu.

__ADS_1


Tubuhnya terasa lemas hingga dia terkulai tidak berdaya.


"Bu ... Bu Rania ... Ibu tidak apa-apa?" Kalimat itu yang terakhir di dengar Rania.


__ADS_2