Balasan Untuk Suamiku

Balasan Untuk Suamiku
Tanggung Jawab


__ADS_3

Kandungan Rania sudah hampir memasuki bulan keempat, meskipun begitu belum terlihat perubahan di tubuh Rania selain payu*aranya yang terlihat lebih besar dari sebelumnya. Selain itu dia lebih mirip wanita yang kekenyangan daripada wanita hamil.


Dua Minggu sudah berlalu. Tinggal dua Minggu lagi sebelum mereka diusir keluar dari rumah itu jika belum juga melunasi hutang ibunya Barra. Setiap hari Barra pulang malam karena harus mencari uang untuk membayar hutang. Dia menawarkan rumah kontrakan dan kos-kosan peninggalan ayahnya ke rekan-rekannya. Tapi menjual aset seperti itu bukanlah hal yang mudah. Pinjaman yang dia ajukan ke perusahaan tempatnya bekerja juga tidak di setujui atasannya.


Barra pontang-panting sendirian mencari uang untuk melunasi hutang ibunya. Sementara ibunya sekarang menurut dengan semua yang Barra katakan. Mungkin memang dia sudah menyadari kesalahannya.


Barra sudah duduk di kamarnya di temani Rania yang berbaring di pangkuannya.


"Maafkan Papa nya nak ... Papa akhir-akhir ini sering mengabaikan kamu dan Mamamu," ucap Barra sambil mengelus-elus perut Rania.


Rania hanya tersenyum. "Dia tidak nakal."


"Kelak dia akan menjadi anak yang pintar dan baik seperti Mama nya," ucap Barra lagi.


"Kamu lelah?" tanya Rania sambil mengelus pipi Barra. Bisa dia lihat suaminya itu sekarang tampak kurus. Beban yang dia pikul memang sangat berat.


"Rasanya aku ingin menyerah. Ini benar-benar berat bagiku." Terdengar nada putus asa dari suaranya. "Tapi asal ada kamu di samping ku, aku pasti bisa melewatinya."


Rania kembali tersenyum.


Suara bel berbunyi. Mata Rania langsung melotot. Sekarang suara bel bagaikan momok menyeramkan baginya. Takut yang memencet bel adalah penagih hutang.


"Kamu di sini saja, biar aku membuka pintu," ucap Barra mengetahui ketakutan istrinya.


Baik Bu Yani maupun Imah sudah mereka suruh pulang. Jadi tidak ada orang lain yang akan membukakan pintu. Barra bergegas turun.


Sampai di bawah Ibunya juga sedang berjalan akan membukakan pintu karena bel tidak berhenti berbunyi. Sepertinya orang yang berada di balik pintu sudah tidak sabar ingin segera di bukakan pintu.


"Ya sudah kalau sudah ada Ibu," Barra berbalik dan hendak berjalan kembali ke kamarnya.


Pintu sudah terbuka,


"Hanna ...?" teriak Ibu Barra senang.


Barra bagaikan disambar petir mendengar ibunya menyebut nama itu. Kakinya langsung terasa lemas tidak bisa melangkah bagaikan tidak bertulang. Dengan takut dia berbalik dan memastikan pendengarannya tidak salah.

__ADS_1


Dan benar, ada Hanna berdiri di depan pintu.


"Hanna ...?"


"Barra ada Tante?" tanya Rania tanpa berbasa-basi. Dari wajahnya terlihat sekali kalau dia sedang kesal. Dia langsung nyelonong masuk tanpa menghiraukan Ibunya Barra yang menyambutnya.


Barra yang masih berdiri di anak tangga bergegas menghampiri Hanna di ruang tamu sebelum dia masuk lebih jauh ke dalam rumah.


"Hanna ..." cegat Barra. "Untuk apa kamu kemari?" tanya Barra pelan agar Rania yang sedang berada di kamar tidak mendengar.


"Untuk apa?? Kamu bilang untuk apa?!! Untuk meminta pertanggungjawaban kamu!!!" jawab Hanna dengan suara yang ditekan.


"Iya aku, tahu. Tapi kamu tidak perlu datang kemari!"


"Mana mungkin aku tidak datang kemari? Sudah dua Minggu kamu tidak menghubungi aku dan juga tidak menanyakan keadaanku! Kamu mencoba untuk menghindari aku? Atau kamu mau lari dari tanggung jawab?!"


"Aku sedang sibuk Hanna, aku tidak bermaksud seperti itu."


"Hanna ... Kenapa kamu marah-marah?" tanya ibunya Barra sambil berjalan mendekat. "Datang-datang sudah marah-marah, memangnya ada masalah apa sayang?" Ibunya Barra bersikap ramah.


"Aku hamil Tante! Aku mengandung anak Barra. Dan aku kemari untuk meminta pertanggungjawaban darinya!"


"Apa?? Kamu hamil Hanna?" Di luar dugaan, Ibunya Barra terlihat senang mendengar berita ini.


"Barra ... Bagaimana mungkin kamu menyembunyikan berita ini dari ibu? Ini artinya ibu akan punya dua cucu secara bersamaan!" Ibu Barra terlihat semakin girang.


"Itu jika dia menikahi ku Tante. Dan aku tidak mau menikah siri! Aku mau menikah secara sah di mata hukum! Anak yang aku kandung harus punya ayah!"


"Barra cepat kamu nikahi Hanna. Jangan buang-buang waktu lagi."


"Lalu bagaimana dengan Rania Bu?!"


"Kamu bicarakan saja dulu padanya, mungkin dia bisa mengerti."


"Heii .... Aku tidak mau dengar rapat keluarga di sini! Aku tunggu keputusanmu secepatnya. Kalau tidak Papa ku akan bertindak!"

__ADS_1


"Iya Hanna ... sabar ya, Tante pastikan Barra akan segera menikahi kamu."


Hanna langsung pergi begitu saja tanpa pamit.


Barra melemparkan tubuhnya ke sofa setelah kepergian Hanna. Akhir-akhir ini pikirannya terfokus dengan masalah ibunya, hingga dia lupa masalah lain yang tak kalah penting.


"Kamu sudah lama tahu dia hamil?" tanya ibunya sambil berjalan mendekat.


"Mungkin sekitar sebulan yang lalu."


"Lalu apa tindakan kamu?"


"Entahlah Bu ... aku sendiri pusing harus bagaimana."


"Sebaiknya kamu nikahi dia. Papa nya adalah seseorang yang berpengaruh dan dikenal publik. Dia juga cukup kaya. Mungkin bisa membantu kita."


"Apa maksud ibu?" tanya Barra tidak mengerti.


"Ya kamu nikahi saja dia, kamu bisa manfaatkan kekuasan Papa nya untuk menyelamatkan kita, rumah kita, harta kita."


"Ibu jangan membuat masalah lagi! Aku sudah cukup pusing dengan masalah yang ibu timbulkan! Apa ibu tidak memikirkan Rania?!"


"Tapi ini mungkin satu-satunya solusi untuk masalah kita. Kamu pikirkan itu!! Jadi kita tidak perlu repot-repot menjual rumah dan semua harta kita yang lain!"


"Enteng sekali ibu mengatakannya?! Masalah ini kan ibu yang buat? Kenapa harus Rania yang dikorbankan?!"


"Jadi kamu mau mengorbankan ibu? Apa kamu tega kepada ibu? Apa kamu tega melihat ibu di penjara?"


"Bukankah memang seharusnya begitu Bu? Ibu yang membuat kesalahan, harusnya ibu yang bertanggung jawab agar ibu bisa menyadari kesalahan ibu!"


"Barra ... Aku sudah minta maaf dan mengaku salah! Apa itu belum cukup?! Ibu hanya memberikan solusi yang lebih mudah. Lagian mau tidak mau kamu tetap harus menikahi Hanna. Kamu juga dengar sendiri kan tadi kalau kamu tidak menikahinya dia akan menyuruh Papa nya bertindak?"


Barra semakin frustasi mendengar ocehan ibunya.


"Papa nya seorang pejabat Barra, bagaimana jika dia menuntut kamu dan juga memasukkan kamu ke penjara?! Pikirkan semua kemungkinannya Barra! Jangan hanya memikirkan cinta mu pada Rania!"

__ADS_1


"Barra ... Siapa yang datang tadi? Kenapa kamu tidak langsung kembali ke kamar?" Tiba-tiba terdengar suara Rania yang rasanya membuat jantung Barra seperti mau copot. Dari pertanyaannya sepertinya Rania tidak mendengar apa-apa yang membuat hati Barra menjadi lega. Tapi dia juga tidak bisa menyembunyikan hal ini lebih lama lagi dari Rania.


__ADS_2