Balasan Untuk Suamiku

Balasan Untuk Suamiku
Drama Es Buah


__ADS_3

"Kamu serius ingin makan sate kambing lagi?" tanya Barra sedikit ragu. Pasalnya dia tidak yakin Rania tidak akan berubah pikiran setelah mereka tiba di warung sate kambing.


"Kenapa? Nggak mau antar?" Nada pertanyaan Rania sudah mulai menyeramkan bagi Barra.


Sebenarnya yang berubah itu hormon apa sih? Kenapa dia jadi galak begini?


"Tentu saja aku mau ngantar kamu. Kita cari warung sate kambing sekarang." Barra kembali menutup pintu mobil. Dia geleng-geleng tidak habis pikir dengan mood istrinya sebentar ingin makan ini, sebentar ingin makan itu.


_Di warung makan_


Rania sudah menghabiskan sate kambing di depannya. Barra senang melihat istrinya itu makan dengan lahap dan tidak memuntahkannya lagi.


"Kamu mau lagi?"


"Sudah cukup ... Tapi aku ingin ini lagi untuk besok sarapan."


Baru selesai makan sudah memikirkan untuk besok sarapan?


"Ya sudah ... Aku akan pesan lagi untuk di bawa pulang."


Rania mengangguk.


"Habis ini kita kemana?"


"Pulang. Memangnya mau kemana?"


"Kamu tidak ingin pergi ke tempat lain?" Barra memastikan. Dia tidak ingin nanti ketika sudah sampai rumah Rania meminta di antar ke tempat lain lagi.


"Aku malas, ingin tidur saja."


Barra bernafas lega. "Ya sudah kalau begitu."


Baru saja Barra menghidupkan mobilnya, Rania sudah menghentikannya.


"Kita cari es buah dulu ya ...."


"...???"


* * *


Rania sudah mengganti bajunya dengan baju tidur, Barra pun demikian. Mereka berdua sudah sama-sama di tempat tidur sekarang.


"Aku ingin dipeluk," ucap Rania manja. Dengan senang hati Barra memeluknya.


Sudah hampir jam dua belas malam tapi Rania belum bisa memejamkan matanya. Aroma tubuh maskulin Barra yang dulu seperti obat bius yang bisa membuatnya langsung terlelap, kini tidak berpengaruh apa-apa. Sementara Barra sudah mendengkur di sampingnya.


Rania terus berguling ke kiri dan ke kanan mencari posisi yang paling nyaman agar dia bisa segera tertidur. Tapi tidak juga berhasil. Dia masih kepikiran es buah yang tadi tidak dia dapatkan. Barra sudah mengantarnya hingga mengelilingi kota, tapi mereka tidak menemukan penjual es buah yang masih buka jam sepuluh malam.

__ADS_1


Akhirnya Barra terbangun karena Rania sejak tadi terus bergerak dan mengganggu tidurnya.


"Ran ... Kamu kenapa ngga tidur-tidur?" tanya Barra malas.


"Aku ngga bisa tidur."


"Kenapa ngga bisa tidur? Apa kamu tidak enak badan?"


"Aku kepikiran es buah," jawab Rania.


Barra langsung duduk begitu Rania menyebutkan es buah.


"Aku sudah janji akan membawakan kamu es buah besok sepulang kerja. Kita juga sudah berputar-putar tadi, tapi kan sudah malam, mana ada penjual es buah yang masih buka? Besok ya, besok aku janji akan bawakan sepulang kerja," rayu Barra.


Jam dua belas malam dan dia ingin es buah? Ini sudah merepotkan, bagaimana jika dia ngidam yang lain lagi? Jadi begini rasanya, ya males ya seneng. Males nurutin tapi kok ngga tega, tapi seneng juga sih.


Tapi aku inginnya sekarang." Mata Rania berkaca-kaca.


Barra mengambil nafas dalam-dalam. Ini sudah mulai menguji kesabarannya.


"Tapi mau cari kemana lagi sayang? Ini sudah jam dua belas malam."


"Ya udah, tidur lagi aja." Rania kembali menarik selimutnya, kemudian tidur memunggungi Barra.


"Besok ya .. besok aku bawain sepulang kerja ... "


"Ran ... jangan marah dong, aku janji besok aku belikan."


Rania masih membisu.


"Ran ... " Tidak ada jawaban. Kemudian samar-samar dia mendengar suara dengkuran halus dari sebelahnya.


Ditengoknya wajah Rania, dan ternyata dia sudah terlelap.


Kesabaran ku sudah mencapai ubun-ubun, eh ... dia nya terlelap. Sekarang kalau ditanya lagi, aku lebih memilih menghadapi investor asing yang rewel daripada istri rewel.


Barra mengacak-acak rambutnya frustasi. Dia sudah terlanjur bangun dan sekarang Rania terlelap.


Sore harinya sepulang kerja,


Seperti yang telah dia janjikan, Barra pulang membawa es buah yang diinginkan Rania. Dengan semangat dia membawa es buah itu ke ruang makan karena Rania sedang berada di sana.


"Sayang ... ini es buah yang kamu minta tadi malam."


Rania menoleh sebentar kemudian fokus kembali ke salad buah di depannya.


"Aku kan pengennya tadi malam. Sekarang udah ngga pengen lagi," jawabnya polos sambil terus memakan salad buahnya.

__ADS_1


"...???" Barra tidak bisa mengungkapkan perasaannya sekarang. Rasanya ingin terkulai lemas dilantai begitu saja.


"Jangan bengong gitu ... sini makan salad biar kamu sehat." Rania menarik tangan Barra agar duduk di sampingnya.


"Aku makan es buah saja," jawab Barra tertekan.


* * *


Kehamilan Rania sudah memasuki bulan ketiga. Kehidupan Rania bisa dibilang hampir sempurna. Suami yang menyayanginya dan mertua yang sudah tidak pernah mengganggunya lagi membuat dia merasa bahagia. Dia sadar mertuanya sekarang jarang di rumah tapi dia tidak mau pusing-pusing memikirkannya. Yang penting perhatian Barra sudah sepenuhnya untuknya. Hidup Rania benar-benar bahagia sekarang.


Dia nikmati saja sikap Barra yang sedikit berlebihan saat memperlakukannya. Dia tidak pernah keluar rumah tanpa Barra, pun dia juga tidak pernah mengerjakan apapun di rumah. Hingga dia tidak sadar sampai sekarang mobilnya belum kembali.


Rania sedang menonton drama Korea seperti biasanya, kemudian ada notifikasi pesan masuk di ponselnya.


"Dari Barra, pasti mau tanya nanti dibelikan apa," gumam Rania senang. Dibacanya pesan dari Barra.


"Aku ada lembur, jadi pulangnya agak malam. Nanti misalnya kamu telfon tapi aku tidak mengangkat, berarti aku sedang meeting."


Rania sedikit kecewa tapi tidak apa-apa.


"Oke. See you." balas Rania yang juga di bubuhi beberapa emoticon love.


Barra membalasnya dengan mengirimkan emoticon love yang tak kalah banyaknya hingga membuat Rania senyum-senyum sendiri.


"Ibu ngga apa-apa?" tanya Mbak Imah yang baru saja muncul dari depan.


"Ngga apa-apa mbak, ada siapa di depan?" tanya Rania yang tadi mendengar bel berbunyi.


"Itu ... Ada yang nyari Bu Widia lagi."


Rania menghembuskan nafasnya malas. "Apa ibu tidak bilang mau pergi kemana?"


"Tidak Bu ... "


"Ya sudah, akan aku temui." Rania sendiri tidak habis pikir kenapa akhir-akhir ini sering sekali ada yang mencari ibu mertuanya.


Rania berjalan menuju ruang tamu. Di sana ada seorang perempuan yang mungkin seusia dengan ibu mertuanya.


"Tante ... " sapa Rania ramah. Rania merasa kenal perempuan itu karena dia pernah melihatnya saat mertuanya mengadakan arisan di rumah.


"Oh hai ... kamu menantunya Widia kan?"


"Iya ... Ada apa Tante? Kenapa sampai nyari ibu ke rumah? Biasanya kan sudah janjian."


"Gini ... Widia pinjem uang sama tante seratus juta, sebagai jaminannya dia meninggalkan mobil HRV di rumah. Dia bilang cuma seminggu tapi ini udah hampir dua Minggu. Tante juga lagi butuh duit nih sekarang. Kamu bisa bantu Tante ngga?"


Bagai di sambar petir, Rania tidak menyangka ternyata mobilnya bukan di bawa ke bengkel melainkan di jadikan jaminan hutang oleh mertuanya.

__ADS_1


__ADS_2