
"Kamu menyesalinya?"
Rania tidak menjawab.
Suasana berubah menjadi hening seketika. Rania yang tadi larut dalam gelak tawa berubah jadi murung seketika.
Andai waktu bisa diputar kembali.
Kebisuan Rania membuat Barra merasakan rasa bersalah yang luar biasa. Andai saja dulu Rania lebih memilih atasannya, mungkin nasibnya tidak seperti ini. Mungkin dia sekarang sudah hidup bahagia dan memiliki tiga orang anak. Atau mungkin juga dia sudah memiliki jabatan yang mentereng karena suaminya tidak membatasi karirnya, dan kemungkinan-kemungkinan lain yang sekarang memenuhi otak Barra.
Selama ini dia hanya menyalahkannya dan bersikap seolah Rania lah sumber dari segala masalah yang dihadapinya, keturunan yang tak kunjung dimilikinya. Semua itu dia bebankan kepada Rania.
Belum lagi ibunya yang terus-menerus menyuruhnya untuk mencari wanita lain. Itu membuat Barra semakin merasa jika istrinya itu tidak berguna. Padahal, kalau dipikir lagi, Rania lebih memilih dia yang masih belum mapan daripada atasannya yang juga menyukainya.
Betapa bodohnya aku! Dia bisa memilih manajer dari divisi marketing itu daripada aku. Atau jika dia mau, dia bisa meninggalkan aku dan menikah dengan laki-laki lain begitu dia tahu kalau tidak ada yang salah dengan kesuburannya. Mungkin sekarang hidupnya, jauh lebih baik dibandingkan bersamaku. Dengan perlakuan ku dan ibu selama ini? Tentu saja dia menyesal telah memilihku!!
"Ran ... Maafkan aku ... " Suara Barra tercekat. Matanya sudah berkaca-kaca.
"Aku sudah menyadari kesalahanku. Aku tersiksa jika kamu terus seperti ini. Apa kamu tidak bisa memaafkan aku?"
"Kumohon beri aku kesempatan sekali lagi. Aku akan memperbaiki semuanya. Aku akan lebih baik lagi. Aku berjanji padamu. Aku akan mengabulkan keinginanmu. Aku akan menuruti kata-katamu. Kumohon Ran ...."
"Kita tetap akan bercerai. Berikan saja bagianku dan aku tidak akan menganggu hidupmu dan ibu lagi." ucap Rania pelan tanpa melihat ke arah Barra.
"Apa kamu masih ingat ketika kita pergi ke pantai sebulan setelah kita menikah? Aku menggendong mu mengitari pantai karena kamu takut menginjak bulu babi."
"Atau saat aku berhasil membelikan kamu BTS meal untuk makan siang di kantor? Kamu sangat kegirangan sampai memelukku di depan pegawai-pegawai yang lain. Apa kamu masih ingat kejadian itu?" Barra tertawa tapi dengan air mata yang menetes di pipinya.
Rania tidak bergeming. Matanya kosong menatap air sungai yang mengalir jernih.
"Apa tidak ada sedikitpun hal baik yang kamu ingat tentang aku? Aku memang salah Ran ... Tapi apakah sudah tidak ada kebaikan yang bisa kamu lihat dari diriku?"
"Kumohon Ran ... Beri aku kesempatan lagi. Setidaknya demi anak kita?" Tak terhitung berapa kali Barra memohon.
Deg!
Barulah Rania menoleh setelah Barra menyebutkan "anak kita".
__ADS_1
"Aku ingin sendiri dulu. Pergilah!"
"Tapi ... "
"Aku hanya ingin menenangkan pikiranku."
"Baiklah ... nanti telfon aku jika kamu ingin pulang. Aku akan menjemputmu."
* * *
Rania tidak banyak bicara selama perjalanan pulang. Barra yang sejak tadi mengajaknya ngobrol pun hanya di jawab sepatah dua patah kata. Tapi Barra tetap bersikap biasa saja walaupun sudah diacuhkan oleh Rania. Dia bahkan memperlakukan Rania lebih manis lagi.
"Kamu ingin pergi ke tempat lain lagi?"
"Tidak."
"Kita pulang?"
"Aku ingin tidur." Rania memalingkan wajahnya. Dia mencoba memejamkan matanya tapi tidak bisa. Barra tidak berkata-kata lagi dan mereka diam untuk beberapa lama.
"Kita sekalian cari makan siang. Kamu mau makan apa?" Barra masih berusaha mengambil hati Rania.
"Jangan terserah, biasanya perempuan ngidam suka minta yang aneh-aneh. Katakan kamu ingin makan apa?"
"Nasi Padang boleh."
Barra terkekeh mendengar jawaban Rania. "Itu bukan sesuatu yang aneh. Nasi Padang ada dimana-mana."
"Kenapa kamu ingin sekali aku minta yang aneh-aneh?"
"Entahlah ... Aku sering mendengar teman-teman ku menceritakan istri mereka ngidam dan bagaimana repotnya mereka menuruti permintaan istri mereka itu. Membangunkan tengah malam meminta dibelikan ini itu, setelah mereka susah payah mendapatkannya eh ... ditinggal tidur gitu aja sama istrinya." Barra bercerita dengan semangat.
"Lalu?"
"Lima tahun aku menantikan kamu hamil. Aku juga ingin merasakan repotnya menuruti permintaan istri yang sedang ngidam."
"Aku ingin dibangunkan tengah malam karena kamu merengek minta sesuatu yang sulit aku temukan, aku ingin melihat kamu ngambek sampai matamu berkaca-kaca karena aku tidak mendapatkan sesuatu yang kamu inginkan itu. Aku juga ingin kamu tanpa sadar segera memelukku dengan senyum lebar dan mata berbinar karena berhasil mendapatkan apa yang kamu mau, seperti BTS meal waktu itu." Suara Barra mulai pelan.
__ADS_1
Dengan terbata-bata dia melanjutkan ceritanya. Seperti ada bongkahan batu besar yang mengganjal di tenggorokannya yang menyebabkan suaranya semakin lama semakin berat dan serak.
"Aku ingin ketika teman-teman kantor bercerita bagaimana perjuangan mereka menghadapi kerewelan istri mereka saat ngidam, aku juga punya ceritaku sendiri." Untuk kesekian kalinya, Barra kembali meneteskan air mata.
"Aku ingin sekali dengan bangga aku bercerita kepada mereka jika aku juga merasakan seperti yang mereka rasakan. Sudah lama sekali aku menantikan momen itu." Barra menepi kemudian menghentikan mobilnya. Dia mengusap air matanya.
"Mungkin bagi orang lain itu hanyalah hal sepele, tapi aku ... aku benar-benar sudah menantikannya," ucapnya sambil menatap Rania.
Untuk kali ini Rania benar-benar tersentuh dengan cerita Barra. Jujur dia tidak pernah berpikir sejauh itu. Ketika dia sadar matanya juga mulai berkaca-kaca, dia kembali memalingkan mukanya dari Barra.
Barra mengambil nafas dalam.
"Sudahlah ... Kita lanjutkan lagi perjalanannya," ucapnya setelah dia merasa lebih tenang.
Keduanya kembali terdiam. Tak berapa lama mereka berhenti di sebuah rumah makan masakan Padang.
"Ayo kita makan dulu." Barra membukakan pintu mobil untuk Rania. "Kamu tadi ingin nasi Padang kan? Kita sudah sampai."
Rania turun dari mobil dan bersama Barra memasuki rumah makan tersebut. Dengan sigap Barra mengambilkan piring dan nasi untuk Rania. Rania tidak menolak pelayanan dari Barra, bahkan dia sudah mulai menikmatinya.
"Mau makan pakai apa?" Barra menawarkan semua lauk yang ada tapi Rania hanya menunjuk ke telur balado.
"Ini saja?"
"Iya."
"Tapi kamu bilang ingin makan nasi Padang?"
"Aku hanya ingin mencium aroma khas rumah makan Padang," jawab Rania sambil berlalu. Sementara Barra hanya terbengong-bengong melihat tingkah Rania.
Barra mengambil makanan untuknya sendiri kemudian menyusul Rania. Kini mereka duduk berhadapan.
"Makan yang banyak, biar kamu dan anak kita sehat." Rania tidak menjawab.
Saat mereka tengah asik menikmati makanan masing-masing, masuklah seorang perempuan muda menggendong bayi yang masih sangat kecil, mungkin belum genap sebulan.
Perempuan itu tampak mengedarkan pandangannya mencari tempat duduk yang kosong. Kedatangan perempuan itu mencuri perhatian Rania yang secara tidak sengaja melihatnya memasuki rumah makan. Dia menghentikan makannya dan justru fokus memperhatikan perempuan itu.
__ADS_1
"Ran ... Kamu kenapa?" tanya Barra. "Kamu kenal dia?" Dia mengerti setelah mengikuti arah pandangan Rania.
"Tidak ... Tidak apa-apa." Rania kembali memakan makanannya.