
"Bangun gadis nakal."
Malik mengusap pipi Rania sambil tersenyum secerah matahari pagi. Rania hanya membuka matanya sebentar kemudian menutupnya lagi.
Malik yang gemas dengan tingkah Rania justru menciumnya sehingga mau tidak mau Rania terbangun dan memasang wajah cemberutnya.
"Malik ... tak bisakah kamu membiarkan aku tidur dengan tenang?" rengek Rania.
Malik tersenyum. Dia sadar seminggu ini Rania tidak pernah tidur nyenyak karena ulahnya. Setiap malam dia selalu meminta jatahnya lagi dan lagi sehingga wajar Rania sangat ngantuk dan kelelahan.
"Aku ingin mengajakmu ke suatu tempat."
"Kemana?"
"Ikut saja, bangun dan mandi dulu. Atau aku mandikan kamu?"
"Nggak usah, aku mandi sendiri!" Rania menyibakkan selimutnya tapi kemudian menutupnya lagi. Dia lupa jika setiap pagi dia bangun tanpa pakaian.
"Ambilkan handukku," pinta Rania.
Malik hanya tertawa nakal.
"Ambil sendiri di sana." Malik menunjuk kamar mandi.
Bukan karena Malik tidak mau mengambilkan, tapi karena dia ingin melihat Rania melenggang di depannya tanpa sehelai benang.
* * *
"Kenapa kita kemari?" tanya Rania ketika mereka tiba di depan perusahaan Malik.
"Kita akan menemui Affandi."
"Buat apa?"
"Sedikit shock therapy tentu saja." Malik tersenyum.
Rania mengangkat alisnya meminta penjelasan lebih.
"Aku mengancam akan membuangnya dari perusahaan jika dia tidak segera menemukan laki-laki itu. Padahal, jika aku mau aku bisa menemukannya sekarang juga."
"Sebenarnya apa tujuan mu melakukan itu?"
"Agar aku tahu seberapa besar loyalitas Affandi terhadap perusahaan ini. Selain itu agar laki-laki pengecut yang sudah menyakiti mu merasakan kesulitan sama seperti yang kamu alami dulu. Dia mengusir mu dan membuatmu ada di jalanan di tengah malam. Aku ingin dia merasakan seperti yang kamu rasakan. Bahkan lebih buruk. Aku ingin dia merasakan hidup di jalanan dan kelaparan. Aku tidak merasa puas jika dia langsung tertangkap dan masuk penjara. Tidak ada pelajaran yang dia dapat."
Rania hanya mendengarkan Malik berbicara. Dia tidak menyangka Malik berpikiran sejauh itu.
"Ayo masuk."
Malik dan Rania berjalan memasuki gedung bertingkat itu. Sekretaris yang berada di depan ruangan Affandi menundukkan kepalanya dan tersenyum. Malik hendak berjalan melewatinya.
"Maaf ... Bapak Affandi belum datang, ada yang bisa saya bantu?" cegah sekretaris itu.
__ADS_1
"Benarkah?" tanya Malik.
"Jika anda ingin bertemu dengan beliau silahkan menunggu di tempat yang sudah di sediakan. Sekretaris itu menunjuk sederet kursi di seberang mejanya.
"Terima kasih, tapi aku akan menunggu di dalam," tolak Malik. Kemudian di menarik tangan Rania dan berjalan melewati sekretaris itu.
"Maaf Pak, anda tidak boleh masuk begitu saja."
Sekretaris itu masih berusaha mencegahnya tapi Malik mengacuhkannya. Dia tetap masuk ke ruangan Affandi dan sekretaris itu tidak berani berbuat lebih banyak.
Malik terdiam begitu memasuki ruangan itu. Dia mengedarkan pandangannya ke sekeliling menata kembali memori saat sang Papa menempati ruangan ini dulu.
Malik menarik tubuh Rania dan memaksanya duduk di kursi kebesaran Presdir.
"Hei gadis nakal ... Bagaimana kalau kamu mengelola perusahaan ini?" tanya Malik. "Bukankah kamu pernah bilang ingin bekerja?"
Rania tertawa.
"Aku memang ingin bekerja, tapi bukan langsung menjadi Presdir. Perusahaan ini bisa langsung collapse jika tiba-tiba aku yang memimpin," ucapnya kembali tertawa.
Malik tersenyum. "Mana mungkin? Kamu kan pintar. Kamu sudah pernah bekerja sebelumnya."
Ranai berdiri kemudian mendorong tubuh Malik sehingga sekarang Malik lah yang duduk di kursi Presdir dan Rania berdiri di depannya.
"Bagaimana jika suamiku yang tampan ini menjadi Presdir nya dan aku akan menjadi sekretarisnya saja?" goda Rania.
"Kamu tahu aku tidak berminat dengan perusahaan. Aku menawarkannya padamu jika kamu mau, kalau nggak ya nggak apa-apa."
Malik menggelengkan kepalanya. "Tidak, aku tidak pernah berminat dengan perusahaan ini," jawab Malik tegas.
Kemudian Rania duduk di meja di depan Malik.
"Aku bisa menjadi sekretaris yang nakal kalau kamu mau," ucap Rania sambil melepaskan beberapa kancing bajunya hingga belahan dadanya terlihat.
"Ran ... Jangan menggoda ku," ucap Malik yang mulai tidak fokus.
"Atau seperti ini?" tanya Rania sambil mengangkat sedikit roknya hingga paha mulusnya terlihat. Malik tidak bisa menolak pemandangan ini. Meski setiap malam dia menikmati tubuh Rania, tetap saja dia tidak bisa menolak godaannya.
Ingin sekali dia terkam Rania dan melucuti pakaiannya sekarang juga.
"Gadis nakal, kamu membangunkan aku!" ucap Malik yang nafasnya mulai memburu.
Melihat Malik sudah hampir on, Rania segera turun dari meja berlari menjauh. Setelah jauh dari jangkauan Malik dia membenahi pakaiannya dan tertawa keras-keras karena berhasil mengerjai Malik.
"Rasain!!! Siapa suruh tadi pagi mengerjai aku!" ledek Rania. Malik yang merasa di kerjai oleh Rania pun mengejarnya hingga terjadilah adegan kejar-kejaran seperti anak kecil di dalam ruangan Presdir itu.
"Awas kamu kalau sampai tertangkap!" kesal Malik. Tapi Rania justru tertawa semakin keras. Tapi aksi kekanakan pengantin baru ini langsung berhenti ketika ada seseorang membuka pintu.
"Maaf Tuan Malik," ucap Affandi yang baru saja masuk. Dia terlihat kikuk dan hendak keluar lagi dari ruangannya.
Malik langsung merubah mimik wajahnya datar begitu melihat Affandi.
__ADS_1
"Masuklah Paman, aku ingin bicara!"
Affandi mengangguk. "Selamat pagi Nona Rania," sapa Affandi.
"Selamat atas pernikahannya. Maaf, waktu itu saya tidak tahu jika anda punya hubungan spesial dengan Tuan Malik."
Rania hanya mengangguk. Kemudian mereka bertiga duduk di sofa yang ada di dalam ruangan itu.
"Jadi, bagaimana hasil pencarian Paman? Sudah ada kemajuan?" tanya Malik dengan wajah datar.
"Beri aku waktu satu Minggu lagi," balas Affandi.
"Paman belum dapat info apa-apa?"
"Belum. Dia belum menghubungi Hanna atau ibunya."
"Ya sudah kalau begitu. Kami akan pergi. Aku kemari hanya untuk menanyakan itu."
"Tadi aku sudah menawarkan istriku untuk mengelola perusahaan ini, tapi dia menolak. Mungkin nanti jika dia berubah pikiran aku akan meminta Paman untuk mengajarinya sedikit demi sedikit. Bolehkan Paman?" sindir Malik.
Affandi yang mengerti maksud perkataan Malik pun hanya bisa mengangguk. Dia tahu ini adalah cara halus Malik untuk mengeluarkan dia dari perusahaan.
"Sayang, apa kamu mau memikirkan lagi tawaranku tadi?" tanya Malik kepada Rania.
"Iya ... nanti aku pikirkan lagi."
"Ya sudah, ayo kita pergi." Malik berdiri. Diikuti Rania yang juga akan melangkahkan kakinya tapi dia urungkan.
"Tuan Affandi ..."
"Ya Nona Rania," jawab Affandi.
"Anda tidak memberi tahu siapapun soal rahasia Barra kan?"
"Saya menepati perjanjian kita Nona. Saya tidak boleh mengatakan rahasia itu kepada siapapun. Saya juga tidak boleh memberi batuan dalam bentuk apapun kepada Hanna, Barra dan ibunya dan anda tidak akan membawakan masalah ini ke media. Begitu kan?"
Rania mengangguk. "Bagus ... Terima kasih."
"Sampai jumpa Paman. Aku tunggu kabar secepatnya." Ayo sayang ...." Malik menggandeng tangan Rania.
Kemudian keduanya meninggalkan gedung itu.
Malik mengendarai mobilnya ke arah jalan yang tidak seharusnya.
"Kita mau kemana lagi?" tanya polos Rania.
"Kita lihat saja dimana nanti mobil ini berhenti," jawab Malik diiringi seringai nakal. Dan benar saja, mobil Malik berhenti di tempat parkir sebuah hotel berbintang, hotel tempat mereka melakukan perbuatan terlarang waktu itu.
Rania mendengus.
"Siapa suruh menggodaku tadi. Sekarang kamu harus membayar akibatnya. Kita ulangi waktu itu, siapa tahu kamu langsung hamil lagi." Seringai nakal kembali terlihat di wajah Malik.
__ADS_1