Balasan Untuk Suamiku

Balasan Untuk Suamiku
Dia


__ADS_3

Seminggu telah berlalu, tinggal seminggu waktu bagi Barra mengumpulkan uang untuk melunasi hutang ibunya. Baik kos-kosan maupun rumah kontrakan belum ada yang berminat untuk membelinya. Rasanya kepala Barra mau pecah memikirkan dari mana akan mendapatkan uang. Dia sudah berusaha bicara pada rentenir itu agar memberi mereka kelonggaran waktu tapi mereka menolak.


Barra terlihat gelisah. Raut wajahnya sudah tidak seperti kemarin-kemarin yang tampan dan berkharisma, berganti menjadi wajah kusut dan tertekan. Rania kasihan melihat suaminya pontang-panting sendirian. Jika bisa, dia ingin sekali membantu suaminya tapi bagaimana caranya?


Bel rumah kembali berbunyi. Pertama hanya suara bel saja, tapi bel suara bel kedua sudah disertai gedoran dan teriakan.


"Widia ...!!! Widia ...!!! Cepat keluar!!!"


Sudah bisa ditebak siapa yang datang. Tidak ada yang berani membukakan pintu selain Barra. Mau tidak mau Barra pun segera membukakan pintu sebelum teriakan mereka semakin menjadi-jadi.


"Heh ... Kamu anak Widia. Aku kemari hanya ingin memberi peringatan terakhir. Minggu depan jika kalian masih belum melunasi hutang kalian, maka silahkan angkat kaki dari rumah ini sebelum aku usir! Dan Ibumu yang sok-sokan itu akan aku masukkan ke penjara!" ucap seorang laki-laki begitu pintu terbuka. Orang yang sama waktu itu datang lagi, penagih hutang waktu itu.


"Akan aku usahakan!" jawab Barra tegas walaupun hatinya bingung bagaimana caranya.


"Bagus kalau begitu! Harusnya Widia segera mengembalikan uangku waktu aku masih memberikan kelonggaran dulu. Tapi dia terlalu menyepelekan aku! Sekarang dia harus menerima akibatnya!" Orang itu berbalik diikuti beberapa orang di belakangnya, mungkin bawahannya.


Barra semakin frustasi. Dia banting pintu keras-keras untuk melampiaskan kebuntuan pikirannya. Dia bahkan sampai lupa ada masalah lain yang juga menanti penyelesaian darinya, Hanna.


Barra terduduk di sofa di ruang tamu.


"Bagaimana Barra? Apa yang mereka katakan?" Terdengar suara ibunya yang sudah berani keluar setelah sejak tadi bersembunyi di dalam kamarnya.


"Orang itu memberikan peringatan terakhir. Minggu depan kita harus keluar dari rumah ini kalau kita belum bisa membayarnya. Mereka juga akan memasukkan ibu ke penjara," jawab Barra disertai ******* putus asa.


Ibunya yang kini duduk di sampingnya pun terlihat gelisah.


"Kenapa jadi begini sih Bu? Apa dulu ibu tidak berpikir lebih jauh sebelum bertindak? Sekarang kalau ibu menyesal pun kita sudah tidak bisa berbuat apa-apa."


Barra mengambil nafas dalam-dalam.


"Aku sudah menawarkan aset-aset peninggalan ayah rekan-rekanku tapi belum ada yang berminat. Aku juga sudah mengiklankan secara online dengan harga murah tapi tetap saja sulit."


"Jadi kita harus bagaimana Barra? Ibu tidak mau di penjara," balas ibunya memelas.

__ADS_1


"Aku hanya punya beberapa ratus juta di rekening ku. Itu bahkan belum seberapa untuk melunasi hutang ibu."


"Sebaiknya ibu jual semua yang ibu miliki. Perhiasan dan tas-tas ibu yang harganya mahal itu ibu jual saja, juga mobil ibu. Aku tidak mungkin menjual mobilku karena aku membutuhkannya untuk berkerja."


"Emm ... Aku ... Sebenarnya .... Ibu sudah menjual mobil ibu," ucap ibunya gugup.


"Apa???"


"Waktu ibu bilang mobil ibu dipinjam oleh teman ibu, itu ... sebenarnya ibu jual bukan ibu pinjamkan."


"Lalu uangnya ibu gunakan untuk judi? Atau bersenang-senang dengan simpanan ibu itu?!!!" Barra mengusap wajahnya kasar. Dadanya bergemuruh tidak karuan menahan emosi kepada ibunya. Tidak ada kata-kata lagi bisa dia gunakan untuk mengungkapkan apa yang dia rasakan sekarang ini terhadap ibunya.


"Haahhhhhh .... !!!" Barra berteriak geram untuk melampiaskan kekesalannya kepada ibunya.


Rania yang sedang berjemur sinar matahari pagi di taman belakang mendengar teriakan Barra heran kenapa sampai berteriak seperti itu. Segera dia berjalan menuju ruangan dimana Barra berada.


"Barra ... kamu kenapa?" tanya Rania. Dia melirik ke arah mertuanya yang tampak gugup di samping Barra.


"Ayo kita ke luar cari udara segar. Biar pikiran kamu lebih rileks," ajak Rania. Aura stress terlihat jelas di wajah Barra membuat dia prihatin atas apa yang menimpa suaminya.


Mereka duduk berdua di sana. Wajah Barra masih terlihat kusut walaupun emosinya sudah mereda.


"Andai saja aku bisa membantumu keluar dari masalah ini ..." gumam Rania.


Barra mendesah pelan. "Ini bukan salahmu Rania. Kamu tidak perlu berpikir sejauh itu. Ini murni kesalahan ibu. Kenapa ibu bisa terjerumus ke dalam hal ini?" kemudian dia memijit-mijit kepalanya yang terasa berat.


Tanpa sepengetahuan Rania dan Barra, ibunya juga pergi dari rumah setelah kepergian mereka.


Hari berikutnya...


Barra sedang bersiap-siap untuk berangkat kerja. Sementara Rania berada di dapur menyiapkan sarapan dan mertuanya di belakang rumah mengurus cucian. Sekarang mereka bekerja sama mengerjakan pekerjaan rumah meskipun dengan komunikasi yang sangat minim. Barra sudah memberhentikan Bi Yani dan Imah karena dia harus menghemat pengeluaran.


Berkali-kali Barra minta maaf kepada Rania karena membuatnya harus mengerjakan pekerjaan rumah lagi, tapi Rania tidak mempermasalahkannya.

__ADS_1


Ibunya Barra juga tidak berani membantah ketika Barra memintanya untuk membantu Rania mengurusi rumah. Barra tidak mengijinkannya Rania mengerjakan semuanya sendiri seperti dulu.


Bel pintu berbunyi.


"Rania ... buka pintunya, ada yang memencet bel," teriak mertuanya dari belakang rumah. Rupanya kebiasaan lama mertuanya memerintah dirinya masih belum hilang walaupun kondisinya sudah berbeda.


Dengan malas Rania mengikuti perintah mertuanya. Dia berjalan menuju pintu depan, tapi sebelumnya dia mengintip melalui jendela siapa yang datang. Setelah dia tahu bukan para penagih hutang, barulah Rania berani membuka pintu.


Tampak seorang gadis cantik berdiri di hadapannya. Penampilannya berkelas dengan barang-barang mahal menempel di tubuhnya. Dilihat sekilas sepertinya usia perempuan ini sedikit lebih muda darinya.


Mata Rania berhenti ketika melihat bagian perut perempuan jitu yang sedikit lebih berisi, jika dibandingkan tubuhnya yang langsing. Rania pikir perempuan itu sama seperti dirinya, sedang hamil muda.


"Nyari siapa mbak? Ada perlu apa?" tanya Rania.


Wanita itu tersenyum walaupun dipaksakan.


"Aku mencari Barra."


"Maaf, ada perlu apa sepagi ini mencari suami saya? Saya yakin anda bukan teman kantornya."


Perempuan itu tertawa mendengar pertanyaan Rania.


"Lebih baik kamu segera panggilkan dia. Biar nanti dia yang menjelaskan ada apa."


"Baiklah ... Silahkan masuk." Rania mempersilahkan perempuan itu masuk. Dengan sopan dia juga mempersilahkan perempuan itu duduk.


"Kalau boleh tahu, nama anda siapa? Biar saya lebih mudah menyampaikan kepada suami saya kalau ada yang sedang mencarinya."


"Hanna ... Namaku Hanna ..." jawab perempuan itu santai.


Rania mencoba mengingat-ingat nama itu. Sepertinya dia pernah mendengar namanya. Sambil berjalan menuju kamarnya untuk memanggil Barra, dia mencoba mengingat siapa Hanna.


Deg!

__ADS_1


Tepat saat akan membuka pintu kamar barulah dia ingat siapa Hanna.


Dia ... ???


__ADS_2