
Hanna dan Herra berdiri di depan rumah mereka. Rupanya anak buah Malik tidak main-main saat mengusir mereka keluar dari rumah itu. Bahkan mereka tidak memberikan kelonggaran waktu. Herra sempat memohon agar mereka memberikan waktu seminggu untuk bisa mengepak barang-barangnya tapi anak buah Malik tidak mau bernegosiasi.
Kemudian Herra mencoba menghubungi Malik bicara langsung dengannya.
"Halo ..."
"Ada apa Tante?"
"Malik ... Kamu bisa tolong Tante? Ini ada orang-orang dari perusahaan datang untuk menyita rumah Tante dan mobil dan juga yang lainnya. Tolong katakan pada mereka untuk membatalkannya. Kamu adalah pemilik perusahaan, mereka pasti mau mendengarkan kamu."
"Maaf Tante, aku tidak bisa. Aku yang menyuruh mereka melakukannya."
"Apa??? Apa maksudmu Malik???"
"Aku yang menyuruh mereka mengambil semua yang tante miliki sekarang. Aku juga yang menyuruh mereka menjebloskan paman Affandi ke penjara."
"Tapi kenapa Malik? Apa salah suamiku? Bukankah dia sudah banyak berjasa untuk perusahaan mu?!"
"Tante bisa menanyakannya langsung kepada paman Harun apa yang sudah dia lakukan. Aku pasti tidak akan berbuat ini jika paman Harun tidak keterlaluan!"
"Tapi Malik .... " Herra tidak bisa melanjutkan kalimatnya karena Malik sudah menutup teleponnya.
"Papamu pasti sudah membuat kesalahan yang yang sangat besar hingga Malik begitu marah padanya. Dialah yang sudah menyuruh orang-orang ini," ucap Herra kepada Hanna. Malik tidak mungkin membantunya membuat Herra semakin putus asa.
"Jadi sekarang kita miskin Mah?" Hanna terduduk lemas. Ancaman Malik yang selama ini hanya dia anggap sebagai
gertakan ternyata sudah dibuktikan.
"Aku tidak mau miskin Mah, aku tidak bisa hidup miskin ... Bagaimana ini Mah? Kita harus bagaimana?" tangis Hanna pecah.
Dipandanginya koper-koper yang berjajar di depan dan juga damping kiri kanannya. Ini baru sebagian dari pakaian dan barang-barang nya dan Mama nya. Belum lagi sepatu dan tas mereka. Selama ini mereka berdua hanya menghamburkan uang untuk barang-barang seperti itu. Mereka berbelanja seolah uang mereka tidak akan ada habisnya. Tapi dalam hitungan jam saja nasib mereka berubah drastis. Dan barulah mereka sadari barang-barang yang ada di depannya ini tidak ada gunanya.
Sudah tidak bisa ditunda lagi. Hari ini, detik ini juga mereka harus meninggalkan rumah yang sudah mereka tempati selama bertahun-tahun.
"Bagaimana ini Hanna? Kita harus kemana?" tanya Herra putus asa.
__ADS_1
"Kita bisa menginap di hotel untuk sementara Mah, ayo ... " Hanna berdiri dan mengajak Mama nya meninggalkan tempat itu.
"Kita? Memangnya kamu akan ikut bersama Mama?"
"Nanti aku jelaskan sama Mama."
Mereka pun membawa koper-koper mereka semampunya. Ketika mereka akan memasukkan koper mereka ke mobil Hanna, salah satu orang suruhan Malik mencegahnya.
"Maaf Nona Hanna, anda tidak bisa membawa mobil ini. Mobil ini tercatat dibeli menggunakan rekening Bapak Affandi. Semua barang yang dibeli menggunakan rekening Bapak Affandi harus di sita," ucap orang itu.
Hanna terbelalak tidak percaya.
"Apa maksudmu?! Ini mobilku, kalian tidak berhak mengambilnya!!!" bentak Hanna.
"Maaf, memang begitu kenyataannya. Kami juga harus mengambil alih mobil Nona Hanna."
"Heh!!! Kalian jangan seenaknya mengambil punya orang!!! Katakan pada atasan kalian, aku tidak akan menyerahkan mobilku!!" bentak Hanna lagi. Dia tidak peduli ucapan orang itu dan tetap memasukkan koper-kopernya ke dalam bagasi mobilnya.
"Maaf Nona Hanna, jangan melawan atau melakukan perbuatan yang akan merugikan anda sendiri. Kami bisa bertindak kasar jika anda terus membuat ulah!" Salah seorang dari mereka berusaha menghalangi Hanna.
"Sebaiknya Nona keluarkan koper itu dari mobil Nona. Mobil ini harus dikembalikan ke perusahaan!"
"Aku tidak mau!!! mobil ini adalah mobilku!!! Kalian tidak berhak mengambilnya!!!" Hanna kembali berteriak hingga membuat yang lain melihatnya.
Kemudian seorang lagi datang mendekati mereka. Tanpa basi basi orang itu langsung mengambil koper-koper yang sudah berada di dalam bagasi dan melemparkannya. Kemudian dia juga merebut paksa kunci mobil dari tangan Hanna.
"Hei ... Apa-apaan kamu?!!" Hanna menarik tangan orang yang telah melemparkan kopernya. Dia berusaha mengambil kembali kunci mobilnya.
"Segera pergi dari sini atau aku akan melemparkan kamu ke jalanan seperti aku melempar kamu koper-koper itu!!!" bentak orang itu.
"Tidak usah membuang waktu dengan bersikap lunak pada mereka!" ucap orang itu kepada temannya yang sejak tadi menghadapi Hanna dan Herra. Kemudian dia berlalu meninggalkan mereka.
"Sudahlah Hanna, tidak usah melawan lagi! Mereka bisa berbuat kasar padamu!" bujuk Hera.
"Mau berbuat jahat apa lagi Mah?! Lihat yang sudah aku alami hari ini?!" Hanna menunjuk wajahnya yang babak belur dihajar Barra tadi. "Apa lagi yang harus aku takutkan?" Hanna hendak menghampiri orang yang telah melemparkan koper-kopernya tapi Herra menahannya.
__ADS_1
"Hanna ...! sudah cukup! Kita tidak akan menang melawan mereka!" Herra menarik tangan Hanna.
"Lepaskan aku Mah! Jangan halangi aku! Aku ingin mengambil kembali hakku!" Hanna berusaha melepaskan tangan Herra.
"Sudah cukup Hanna!!!" bentak Herra akhirnya. Jika dia tetep menuruti Hanna maka urusan ini tidak anak selesai-selesai dan justru Hanna yang mungkin akan celaka.
"Ayo kita pergi dari sini!" Kembali Herra menarik tangan Hanna menjauh dari orang-orang itu. "Mau kamu berteriak bagaimana pun itu tidak akan merubah keadaan. Mereka tetap akan mengambil rumah ini."
"Bagaimana kita akan membawa koper ini Mah?" tanya Hanna yang akhirnya menyerah. "Barang-barang kita ini tidak sedikit."
"Bawa yang kita bisa saja. Lainnya kita ambil lagi jika sudah punya tempat tinggal." Herra mengumpulkan beberapa koper yang harus dibawa.
"Bagaimana jika untuk sementara Mama tinggal di rumahmu?" Hanna diam.
"Sampai Mama mendapatkan tempat tinggal?" imbuh Herra yang melihat Hanna ragu untuk menjawab.
"Aku sedang kabur dari Barra, mana mungkin aku mengajak Mama tinggal di rumahku?"
"Kabur?"
"Lihat wajahku Mah, lihat yang sudah dia lakukan padaku. Apa aku masih bisa tinggal bersamanya?"
"Ini perbuatannya?" tanya Herra tidak percaya. "Mana mungkin dia bisa setega ini pada kamu sayang?"
"Lebih baik kita menginap di hotel, aku akan menelfon taksi," ucap Hanna mengalihkan pertanyaan Mama nya.
* * *
Hanna berdiri terpaku di tempatnya. Sebelumnya dia berusaha keras keluar dari rumah ini dan bertekad tidak akan kembali lagi. Tapi nasib berkata lain. Hanna dan Herra harus menelan malu setelah tadi dia ditolak di hotel karena baik kartu debit maupun kartu kredit yang mereka miliki tidak bisa digunakan. Dan semua uang yang mereka miliki telah dibekukan. Mau tidak mau dia membawa Mama dan anaknya kembali ke rumah ini, rumah Barra.
Mereka masih berdiri di seberang jalan setelah turun dari taksi. Sejak tadi Hanna ragu untuk kembali ke rumah ini tapi dia tidak punya pilihan.
"Tidak ada pilihan lain Hanna. Sementara kita tinggal di sini dulu. Mama yakin dia tidak akan berbuat kasar padamu selama ada Mama," bujuk Herra.
Dengan berat hati akhirnya Hanna mau melangkahkan kakinya. Dibantu oleh Imah yang masih menggendong Alicia, mereka menyeret koper-koper mereka masuk.
__ADS_1
"Besok Mama akan menjual semua perhiasan Mama yang masih tersisa dan uangnya bisa kita gunakan untuk mencari tempat tinggal," ucap Herra.