
Hari cepat sekali berlalu. Tidak terasa usia kandungan Rania sudah memasuki bulan kelima. Rania merasa perbedaan dengan kehamilannya yang dulu. Tentu saja karena dia sedang mengandung bayi kembar. Di usia kehamilan empat bulan perutnya sudah membuncit seperti hamil tujuh bulan.
Kondisi kehamilannya sangat sehat. Tidak ada drama ngidam dan muntah setiap paginya karena itu dia tetap pergi bekerja seperti sebelumnya tapi dengan pengawasan ketat dari Malik. Memang Rania menjadi sedikit lebih manja tapi itu bukan masalah bagi Malik. Dia justru sangat menikmatinya. Rengekan minta ini itu sudah pasti dituruti oleh Malik.
Dia tidak diijinkan membawa mobil sendiri. Harus ada sopir yang mengantarkan atau Malik sendiri yang mengantar kemana pun dia inginkan. Bagi Rania itu tidak masalah selama dia diijinkan melakukan apa yang diinginkannya.
Usia kandungannya saat ini sama persis dengan usia kehamilannya saat dia diusir dari rumah Barra dulu. Dan itu mengingatkannya akan sesuatu.
Rania meraih tasnya dan bergegas pulang. Dia ingin mengambil kertas yang dulu menjungkirbalikkan hidupnya. Dia ingat masih menyimpan kertas itu.
Sampai di rumah dia langsung mencari kertas itu yang dia simpan bersama barang-barang berharganya karena Rania menganggap kertas itu sangat berharga baginya. Sekarang lah saatnya dia memberi tahu mantan mertuanya jika anak tercintanya ternyata mandul.
Rania meraih handphone-nya dan menghubungi Malik.
"Halo ..."
"Aku akan pergi menjenguk Hanna dan ibunya Barra. Boleh kan?"
"Mau apa? Apa dia sakit?"
"Tidak, Aku hanya ingin melakukan sesuatu yang bisa membuat hatiku senang."
"Apa bertemu mereka membuat hatimu bahagia?"
"Bukan seperti itu ... Aku ingin memberi tahunya jika anak laki-laki kesayangannya ternyata mandul dan cucu yang sangat dia banggakan sekarang ini bukanlah anak Barra. Bolehkan?"
"Kamu yakin akan melakukannya?"
"Iya, memangnya kenapa?"
"Tidak apa-apa. Kamu kan baik hati, aku tidak yakin kamu sanggup melakukannya."
Rania tertawa. "Aku sanggup. Aku sudah menunggu lama. Inilah saatnya."
"Terserah kamu gadis nakal. Asal kamu bahagia."
"Terima kasih."
__ADS_1
"Ingat ... jangan pergi sendirian!" ucap Malik sebelum menutup teleponnya.
"Dasar bawel!!" gerutu Rania sambil menutup teleponnya.
Rania tersenyum setelah menutup teleponnya. Dia berjalan menuju garasi dan meminta sopir mengantarnya ke rumah Barra. Rania tersenyum membayangkan bagaimana reaksi Widia saat mengetahui jika Barra mandul dan Alicia bukanlah cucunya.
Setelah hampir satu jam perjalanan Rania sampai ke rumahnya dulu. Rumah yang penuh dengan kenangan. Rania berdiri di depan rumah tersebut dan memandanginya. Rumah itu terasa aneh tidak seperti dulu saat dia masih tinggal di sana. Pohon-pohon di taman depan banyak yang layu dan tidak terawat.
Rania memantapkan langkahnya memasuki halaman. Dengan kertas itu di dalam tasnya dia yakin akan membongkar semua sekarang. Memberikan apa yang seharusnya mereka dapatkan.
Rania memencet bel. Cukup lama sampai akhirnya ada yang membukakan pintu.
"Widia?!"
Rania kaget melihat Widia. Penampilannya terlihat jauh berbeda dengan dulu sewaktu masih menjadi mertua. Dia hanya mengenakan daster dan hampir seluruh rambutnya sudah terlihat memutih. Belum lagi wajahnya yang terlihat banyak kerutan. Ini benar-benar sangat jauh dibandingkan Widia yang dulu.
Dulu dia rutin mewarnai rambutnya hingga tidak sehelai uban terlihat. Selain itu dia juga rutin melakukan perawatan untuk wajahnya sehingga di usianya yang tidak muda wajahnya tetap terlihat segar. Dan soal daster, Widia tidak pernah mau memakai baju tidak bermerk meskipun itu di dalam rumah.
Penampilan Widia sekarang membuat Rania berpikir apakah dulu dirinya juga seperti itu saat masih menjadi menantu di rumah ini, mengenakan daster lusuh dan wajah yang tidak terurus.
"Mau apa kamu datang ke sini?" tanya Widia sinis. Dia memperhatikan penampilan Rania dari ujung kepala hingga ujung kaki. Widia yang gila merk tentu bisa mengetahui bahwa semua yang menempel pada tubuh Rania adalah barang-barang mahal dan bermerek.
"Katakan apa yang sebenarnya kamu inginkan?" tanya Widia dingin. "Kamu pasti punya maksud tersembunyi!"
"Aku datang jauh-jauh dan begini sambutan mu? Sangat tidak sopan jika kamu tidak memintaku masuk. Apalagi aku berniat baik dan membawakan hadiah untuk cucumu, siapa namanya? Alicia kalau tidak salah."
Dengan terpaksa Widia menyuruh Rania masuk.
Rania mengamati sekeliling. Tidak ada yang berubah.
"Rumah ini bersih sekali. Apa kamu yang membersihkannya?" sindir Rania. Dia tahu sekarang Widia lah yang melakukannya semua pekerjaan di rumah ini.
"Apa kamu capek?" tanya Rania lagi. Widia tetap tidak menjawab. "Apa sekarang kamu bisa merasakan apa yang aku rasakan dulu? Pemilik rumah tapi hanya dianggap sebagai babu. Begitu bukan?" Rania duduk di sofa ruang tamu.
"Sebenarnya apa mau mu?! Cepat katakan dan pergi dari sini!" Widia terlihat marah.
"Sabar Widia, aku tahu kamu capek. Aku juga merasakannya dulu. Berapa lama kamu menjadi babu di rumah ini? dua bulan? tiga bulan? Satu tahun? Aku bahkan lima tahun kalian anggap babu!" Rania tertawa sarkas.
__ADS_1
"Cepat pergi dari sini!" teriak Widia.
"Tunggu sebentar, aku belum bertemu cucumu."
"Ada apa bu? Kenapa berteriak?" tanya Imah yang muncul sambil menggendong anak Hanna. Bayi mungil itu sudah berusia kurang lebih satu tahun sekarang.
"Mbak Imah?" Sapa Rania.
"Bu Rania, apa kabar Bu?" tanya Imah.
"Apa itu anak Hanna? Bawalah ke sini mbak Imah. Aku ingin berkenalan dengannya."
"Jangan sentuh cucuku!" teriak Widia.
"Tenang saja ... Aku tidak akan menyakiti nya. Aku juga tidak berniat menggendongnya. Kamu lihat sendiri kan aku juga sedang hamil?" ucap Rania santai.
Imah menuruti kata-kata Rania dan membawa anak dalam gendongannya mendekati Hanna.
"Hai Alicia, aku membawa hadiah untukmu," ucap Rania sambil menyerahkan tas berisi hadiah nya kepada Mbak Imah. Tadi dia sempat meminta sopir untuk berhenti di toko perlengkapan bayi untuk sekedar membawakan hadiah untuk Alicia meskipun dia belum tahu apa-apa.
"Dimana ibunya?" tanya Rania.
"Bu Hanna tadi bilang mau ke salon untuk perawatan."
Pasti Affandi masih memberinya uang. Barra sudah tidak miliki gaji bulanan. Tidak mungkin mereka bisa menggaji Imah karena uang hasil kos dan kontrakan pasti tidak cukup untuk biaya hidup Rania sendiri.
"Tolong bawa hadiah ini masuk mbak Imah, aku ingin bicara sebentar dengan Bu Widia."
"Baik Bu Rania."
Rania kembali duduk.
"Aku perhatikan Alicia tidak mirip dengan ayahnya. Aku jadi ragu cucumu itu benar-benar anak Barra."
"Apa yang kamu bicarakan?! Tentu saja dia anak Barra. Kamu hanya iri saja karena kamu kehilangan bayimu waktu itu!"
"Kamu tidak menyesal sudah membuat ku kehilangan bayiku?"
__ADS_1
"Untuk apa menyesal? Itu kan salah mu sendiri?!"
Rania tertawa getir melihat Widia tidak menyesal atas yang sudah dia lakukan padanya sedikitpun. "Apa hatimu terbuat dari batu?"