Balasan Untuk Suamiku

Balasan Untuk Suamiku
Tidak Berubah


__ADS_3

Hanna dan Herra masih berdebat mengenai masalah yang sedang mereka hadapi. Baik Hanna maupun Herra, mereka menyalahkan satu sama lain. Pertengkaran mereka semakin sengit hingga mereka tidak sadar alat berat sudah berjajar di depan rumah mereka.


Suara bel berhasil menghentikan pertengkaran ibu dan anak tersebut.


"Siapa lagi itu?!" Hanna melangkah dengan kesal menuju pintu depan.


"Ada perlu apa?!" tanyanya kasar kepada orang yang berada di balik pintu.


"Anda harus segera keluar dari rumah ini karena rumah ini akan segera kami robohkan!"


"Apa maksudmu?!! Siapa kalian?!"


* * *


Hanna menggendong Alicia dan terduduk lemas di pinggir jalan. Dia menyaksikan anak buah Malik merobohkan rumah Barra dengan alat berat. Sementara Herra tidak bisa berbuat apa-apa karena dia hanya menumpang di sana. Hanna sudah berusaha mencegah orang-orang itu tapi dia tidak berhasil. Akhirnya mereka menyeretnya keluar dari rumah itu. Hanna dan Herra hanya bisa membawa sedikit dari barang-barang yang mereka miliki dan beberapa tas baju milik Alicia.


Hanna menangis, berteriak, dan mengumpat apapun yang bisa dia lakukan untuk mengeluarkan semua emosi di dadanya. Harinya begitu berat akhir-akhir ini.


Sebelumnya dia dihajar oleh Barra, setelah itu dia menghadapi orang-orang yang menyita rumahnya. Sekarang dia harus berhadapan dengan orang-orang yang menghancurkan rumah Barra. Kenapa harus dia yang menemui itu semua? Dimana Barra, dimana Widia? Bukankah mereka punya andil yang sama dalam menyakiti Rania?


"Bagaimana ini Hanna? Kita akan tinggal dimana sekarang?"


Hanna tidak menjawab, matanya terus menatap dinding rumah Barra yang satu persatu mulai roboh.


"Hanna ....!!! Kenapa kamu diam saja?! Cepat hubungi Barra dan beri tahu dia!" teriak Herra.


"Tidak ada gunanya, dia tidak akan bisa menghentikan mereka," jawab Hanna putus asa. "Lihat ... sekarang hanya ini yang kita miliki." Hanna menunjuk beberapa koper berisi pakaian di depannya. Ini mengingatkannya pada malam ketika Barra mengusir Rania keluar dari rumah. Dia melemparkan koper-koper rania keluar setelah itu Barra mendorong tubuh Rania hingga dia tersungkur dan jatuh. Sama persis seperti yang tadi dia alami.

__ADS_1


"Jadi begini rasanya?" gumam Hanna sambil melamun.


"Hanna ...! Cepat telepon Barra!!! Setidaknya dia harus tahu apa yang terjadi pada rumahnya!" teriak Herra lagi.


Hanna bangun dari lamunannya dan mengikuti kata-kata Mama nya. Setelah sejak dirinya dihajar Barra, dia menolak untuk menghubunginya terlebih dahulu. Tapi akhirnya dia harus memberi tahu Barra apa yang sedang terjadi di rumah mereka.


Tak berselang lama Barra sudah berdiri diantara mereka. Dia mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi begitu Hanna memberi tahunya. Mata Barra melotot tidak percaya melihat pemandangan di depannya. Rumah yang dulu dia banggakan sekarang tinggal puing-puingnya saja.


Barra mendatangi salah satu orang diantara mereka yang sepertinya yang bertugas memberikan instruksi. Tanpa basa basi Barra langsung memukuli orang itu hingga terjatuh.


"Apa-apaan ini?! Kenapa kalian menghancurkan rumahku?!" tanya Barra sambil mencengkram kerah baju orang itu.


"Saya hanya menjalankan perintah. Apa sebabnya bukan urusan saya!" jawab orang itu tanpa rasa takut meski Barra sudah memukulinya.


"Siapa yang memberikan perintah? Rumah ini sepenuhnya adalah milikku! Tidak ada yang berhak selain aku, apalagi merobohkannya!!!"


"Sebaiknya anda tanyakan langsung kepada Tuan Malik Hammani soal itu. Beliau yang memberi perintah kepada saya!"


Tadinya dia sempat berniat untuk minta maaf kepada Malik dan Rania atas apa yang telah dia lakukan pada Rania. Mungkin dia bisa membuang harga dirinya dan meminta maaf kepada mereka berdua. Meskipun dia tahu Rania bukanlah orang yang mudah memaafkan, tapi dia adalah wanita yang mudah tersentuh hatinya. Jadi mungkin ada kesempatan baginya untuk lepas dari tuntutan dan dia bisa merawat ibunya di rumah.


Tapi setelah melihat rumahnya hancur tinggal puing-puing seperti ini, Barra lupa akan niatnya semula. Dia kembali dikuasai emosinya.


"Aku akan menghajarmu laki-laki sialan! Memangnya kamu pikir siapa dirimu?!" Barra mengepalkan tangannya geram.


"Jadi orang-orang waktu itu adalah suruhanmu?! Tidak perlu repot-repot, aku yang akan mendatangi mu!" geram Barra.


Barra tetaplah Barra, egonya selalu di kedepankan. Dia benar-benar tidak bisa belajar dari pengalaman dan tidak bisa mengambil hikmah atas apa yang sudah dia lalui. Harusnya dia bisa berpikir jika semua ini karena ulahnya sendiri. Jika dia tidak memulai semuanya pasti Malik tidak akan membalasnya sedemikian rupa sehingga dia kehilangan semua yang dia miliki seperti sekarang ini.

__ADS_1


Tapi bukan Barra namanya jika bisa mengedepankan pikiran dari pada emosi.


"Barra, kamu mau kemana?!" tanya Hanna yang melihat Barra melangkah pergi. Tapi dia tidak mendengarkan pertanyaan Hanna.


"Barra...!!! tunggu!!!" cegah Hanna. "Kamu mau kemana?!"


"Minggir dari hadapan ku! Aku akan menemui laki-laki itu! Dia tidak berhak berbuat seperti ini padaku!"


"Apa yang kamu lakukan sampai membuat Malik sangat marah seperti ini?! Dia juga memenjarakan Papa dan menarik semua harta yang papa miliki?! Katakan apa yang sudah kamu lakukan?!"


"Apa maksudmu?!"


"Kamu pasti tahu maksudku!!!" Hanna berteriak. Lalu dia menceritakan apa yang dia alamiah setelah dia pergi secara diam-diam dari rumah waktu itu. Juga hasil perbincangan Mama dan papanya di penjara. Semua yang terjadi berkaitan dengan dirinya dan Barra.


Barra menatap wajah Hanna tidak percaya. Mereka sama-sama tidak mengetahui apa yang terjadi pada diri masing-masing.


Hanna tidak tahu jika sebelum melakukan kekerasan padanya, Barra terlebih dahulu menganiaya Rania dan setelah itu sembunyi di kantor Papa nya. Sementara itu Barra tidak tahu jika selama dia di rumah sakit menunggu ibunya, banyak hal juga terjadi pada Hanna.


Hanna sudah kehilangan semuanya. Papanya dipenjara dan hartanya disita oleh perusahaan. Hangus sudah harapan Barra untuk melanjutkan pengobatan ibunya karena sekarang mertuanya sudah tidak punya apa-apa. Dan bukannya membuatnya bisa berintrospeksi, Barra justru semakin emosi.


"Kenapa kamu tidak segera memberi tahu aku?! Harusnya kamu segera menelfon ku!!!"


"Aku panik Barra. Aku harus menyelamatkan barang-barang yang kita punya sebelum mereka merobohkannya! Memangnya kamu dimana selama beberapa hari ini?! Kenapa kamu tidak pulang? Jangan menyalahkan aku! Salahkan dirimu sendiri!! Kalau saja kamu tidak membuat masalah dengan mantan istri mu itu, pasti ini semua tidak akan terjadi! Malik tidak akan marah seperti ini! Kamu yang harus disalahkan atas semua ini!"


"Malik!!! Malik!!! Malik!!! Aku muak mendengar namanya!!!"


Niat Barra semakin menggebu untuk menemui Malik dan menghajarnya.

__ADS_1


Barra berjalan menuju mobilnya.


"Berhenti Barra! Kamu hanya akan membuat semuanya semakin buruk!!!" Barra tidak mendengarkan kata-kata Hanna. "Barra, kamu tidak akan menang melawan dia!" teriak Hanna yang sepertinya sia-sia.


__ADS_2