Balasan Untuk Suamiku

Balasan Untuk Suamiku
Kotor


__ADS_3

Akhirnya ponsel Hanna berdering. Dengan ragu dia mengangkat telepon itu.


"Halo ... " ucapnya pelan.


"Temui aku di tempat biasa, besok malam."


"Jam berapa?"


"Jam 9 Malam. Bawakan aku uang. Yang kemarin sudah habis." Barra menutup teleponnya sebelum Hanna sempat menjawab.


Dengan kesal Hanna melemparkan ponselnya. Hidupnya terasa salah, tidak berjalan seperti yang dia bayangkan.


Tadinya dia pikir menikah hanyalah sebuah status. Begitu mendapatkan ayah bagi anaknya maka masalah nya selesai. Tapi ternyata justru masalah lain datang mengikuti. Barulah dia sadar, ternyata kehidupan rumah tangga tidak segampang yang dia pikirkan.


"Aku harus bagaimana?!"


* * *


Malam yang sudah ditentukan ...


Hanna sudah bersiap-siap. Hatinya berdebar-debar karena malam ini dia membuat keputusan yang sangat penting. Dia persiapkan lagi hatinya. Ini bahkan lebih mendebarkan dibandingkan waktu dia akan menikah dulu.


Mobil Hanna sudah terparkir di ujung jalan raya. Selanjutnya dia berjalan kaki menyusuri gang sempit dan kotor yang pernah dia lewati waktu itu. Tak lupa dia mengenakan pakaian serba tertutup dan juga masker untuk menutupi wajahnya.


Hanna berhenti di tempat dimana terakhir kali dia dan Barra bertemu. Dia menengok ke kiri dan kanan untuk mencari keberadaan Barra. Ada beberapa orang lagi di gang tersebut, sepertinya gelandangan yang sedang mencari tempat untuk bermalam.


Setelah menunggu beberapa menit akhirnya ada yang memanggil namanya.


"Hanna ..."


Hanna kaget melihat Barra muncul dari sampingnya.


"Ya Tuhan Barra, lihat penampilan mu!" ucap Hanna tidak percaya. Wajah Barra sudah dipenuhi jambang. Bajunya kumal dan tubuhnya sedikit bau.

__ADS_1


"Hanna ... lihat tubuhmu. Semakin berisi." Barra menatap Hanna penuh nafsu. Sudah lama dia tidak menyentuh wanita membuat naluri lelakinya timbul.


Barra menarik tangan Hanna dan membawanya pergi dari tempat itu. Mereka menyusuri gang sempit itu tapi berlawanan dengan arah kedatangan Hanna tadi.


"Kamu ingin membawaku kemana?" tanya Hanna.


"Ikut saja," jawab Barra sambil terus menarik tangan Hanna hingga dia memasuki penginapan tempat selama ini dia menginap.


"Barra!! Mau apa kita ke sini?" tanya Hanna sudah mulai ketakutan. Tapi Barra diam dan terus menarik tangannya dan membawanya masuk ke dalam kamarnya.


Barra mengunci pintu kamar.


"Apa yang ingin kamu lakukan?" Hanna melihat sekeliling kamar itu. Kamar ini sangat kotor dan dia merasa jijik berada di dalamnya.


"Kamar ini jorok sekali. Untuk untuk apa kamu membawa ku kesini?"


"Aku tinggal di sini selama ini." Barra mendekatkan tubuhnya ke Hanna.


"Aku sangat merindukanmu Hanna. Dan lihat tubuhmu, kenapa jadi sangat berisi seperti ini?" tanya Barra penuh nafsu.


"Jangan lakukan ini Barra. Aku tidak mau!"


"Kenapa sayang? Apa kamu tidak merindukan aku?" Barra terus mendesaknya.


"Barra menjauh lah dariku! Aku jijik dengan kamar ini. Aku jijik denganmu. Lihat tubuhmu kotor dan bau! Jangan sentuh aku!" teriak Hanna sambil berusaha mendorong Barra.


Barra tidak peduli. Dia berusaha mencium bibir Hanna meski Hanna terus menolaknya. Akhirnya Barra memaksanya. Barra menarik tubuh Hanna dan menjatuhkannya ke kasur tipis di dalam kamar itu.


Kemudian dia menindih tubuh Hanna dan memegang tangannya agar Hanna tidak bisa memberontak. Dia terus menciumi bibir Hanna dengan paksa sementara Hanna berusaha sekuat tenaga untuk melepaskan diri dari Barra. Hanna tidak bisa berteriak karena bibirnya sudah dikunci oleh bibir Barra.


Dengan paksa dia melucuti semua pakaian Hanna meski Hanna sudah mempertahankan pakaiannya.


"Kenapa kamu tidak mau Hanna? Bukankah aku ini suamimu? Aku sangat merindukan tubuhmu. Apalagi dengan ukuran mu yang sekarang. Pasti sangat nikmat." Bisik Barra di telinga Hanna tapi tidak dijawab oleh Hanna karena salah satu tangan Barra menutup mulutnya agar tidak berteriak.

__ADS_1


Hanna hanya menggelengkan kepalanya memohon dengan tatapan matanya yang mulai pasrah agar Barra tidak melakukannya.


Tapi Barra mengacuhkannya. Dia terus menjelajahi tubuh Hanna dengan bibirnya sementara salah satu tangannya menutup mulut Hanna dan tangan lainnya memegangi kedua tangan Hanna dalam satu cengkraman.


Barra melepaskan tangannya dari mulut Hanna setelah kejantanannya berhasil masuk ke tubuh Hanna.


"Tidak perlu berteriak atau menangis. Aku ini suamimu," ucap Barra sambil mendorong tubuhnya maju mundur di atas tubuh Hanna.


Hanna tidak membalas kata-kata Barra. Dia juga tidak berteriak meski Barra sudah melepaskan tangannya dari mulutnya. Hanna hanya menatap laki-laki itu dengan tatapan penuh kebencian karena sudah memaksanya melakukan hubungan suami istri, meski dia adalah suaminya.


Dulu dia akan senang hati jika barra mengajaknya berhubungan badan. Dia bahkan bersedia membuka kakinya lebar-lebar meski Barra tidak memintanya. Tentu saja karena dulu Barra masih terlihat tampan dan berkharisma. Tapi sekarang melihat penampilan Barra saja dia sudah jijik. Belum lagi kamar kotor yang dia gunakan untuk bergumul dengan Barra saat ini. Hanna benar-benar merasa jijik dengan dirinya sendiri.


Barra mengenakan kembali pakaian kumalnya setelah melampiaskan kebutuhan biologisnya kepada Hanna. Sementara Hanna juga mengenakan kembali pakaiannya dengan perasaan yang sangat marah. Berulang kali dia mengusap-usap tubuhnya karena merasa kotor dan jijik.


"Bagaimana kabar si kecil?" tanya Barra sambil mengancingkan bajunya.


Hanna tidak menjawab. Biasanya dia akan dengan senang menjawab jika Barra menanyakan anaknya. Dengan amarah bergemuruh di dadanya Hanna berusaha secepat mungkin mengenakan pakaiannya. Dia ingin segera keluar dari kamar terkutuk ini.


"Kenapa tidak menjawab? Kamu marah padaku? Aku rindu anak kita." Barra sambil mendekati Hanna lagi.


Dengan kasar Hanna mendorong tubuh Barra. Dia segera mengambil tasnya dan berlari meninggalkan Barra.


"Hanna tunggu!! Beri aku uang!" teriak Barra sambil berusaha mengejarnya.


Hanna berlari secepat mungkin hingga dia berhasil masuk ke mobilnya. Segera dia nyalakan mobilnya dan tancap gas sebelum Barra bisa menyusulnya ke mobil. Barra hanya bisa mengepalkan tangannya kesal karena Hanna tidak memberinya uang.


Sementara itu, setelah mengendarai mobil cukup jauh Hanna berhenti di tepi jalan. Dia matikan mesin mobilnya kemudian menangis sejadi-jadinya. Dia merasa sudah dilecehkan meski Barra adalah suaminya. Ini seperti pemerkosaan menurutnya.


Dia memang sering bercinta dengan mantan-mantan pacarnya dulu, sebelum menikah dengan Barra. Tapi tidak pernah dengan paksaan. Atau mungkin saat dia mabuk jadi dia tidak sadar dan tentu saja karena dia terbangun di hotel berbintang jadi entah siapa yang melakukannya dia tidak masalah. Baru kali ini dia melakukan hubungan badan dan merasa "kotor" setelah melakukannya.


Dia kembali teringat kejadian yang baru saja dia alami. Dia usap lagi tubuhnya seolah usapan itu akan menghilangkan bekas sentuhan Barra dari kulitnya.


Setelah itu dia mengusap air matanya dan mengambil handphone dari dalam tasnya.

__ADS_1


"Halo ..."


"Kantor polisi? Saya ingin melaporkan ... "


__ADS_2