
Ibunya kaget mendengar suara Barra. Dia tidak menyangka Barra akan menyambutnya di belakang pintu seperti saat ini.
"Barra kenapa kamu belum tidur?" tanya ibunya berusaha bersikap biasa saja.
"Ibu dari mana?" Barra mengulangi pertanyaannya dengan nada yang dingin.
"Ibu tadi ada janji dengan teman ibu," jawab ibunya sedikit gelagapan.
"Teman ibu yang mana?!"
"Adalah ... pokoknya teman ibu!" Ibunya berjalan hendak meninggalkan Barra.
"Bu ... Aku belum selesai bicara!"
"Tapi ibu ngantuk, ibu mau tidur," balas ibunya sambil tetap meneruskan langkah kakinya.
"Kalau ibu tidak mau bicara denganku, maka aku tidak akan membantu ibu melunasi hutang Ibu yang seratus juta," ancam Barra.
"Hutang apa? Ibu tidak punya hutang lain lagi." Ibunya mencoba mengelak.
"Lalu katakan dimana mobil Rania?"
"Aku kan sudah bilang mobil itu aku tinggal di bengkel untuk di servis. Kamu kok ngga percaya sih sama ibumu sendiri? Apa istrimu itu yang coba mempengaruhi kamu? Dengar Barra, aku tahu dia sedang hamil, tapi jangan terlalu memanjakannya. Lihat kan? ... sekarang dia membuat kamu melawan ibu?."
Barra berusaha menahan emosinya. Ibunya ini pintar sekali mencari alasan dan selalu berbelit-belit.
"Bukan Rania yang mengatakannya Bu, tapi Tante Sandy. Tadi dia datang kesini dan meminta uang seratus jutanya dikembalikan!!! Jadi ibu gunakan untuk apa uang itu?!! Dan dimana mobil Rania?!!" Barra mulai membentak ibunya.
Kali ini ibunya tidak berani menjawab.
"Jawab aku Bu!!!" Barra kembali berteriak. Sebelumnya Barra tidak pernah berteriak kepada ibunya.
"Barra, kenapa kamu berteriak seperti itu kepada Ibumu?" Mata ibunya berkaca-kaca.
"Bu ... baru beberapa hari yang lalu aku melunasi hutang ibu yang tiga ratus juta. Sekarang sudah ada lagi yang datang dan menagih seratus juta. Terus uang itu ibu gunakan untuk apa?" tanya Barra dengan suara yang ditekan.
"Aku ini ibumu Barra! Apa kamu keberatan melunasi hutang-hutang ibumu? Aku sudah merawat kamu sejak kecil. Hutang ibu yang segitu tidak ada apa-apanya dibandingkan biaya ibu merawat kamu sejak kecil hingga kamu bisa menghasilkan uang sendiri!"
"Bukannya aku keberatan Bu ... tapi itu uang yang tidak sedikit jumlahnya. Ibu gunakan untuk apa uang itu? Bahkan mobil Rania sampai ibu jadikan jaminan. Apa ibu tidak malu?" Suara Barra mulai melunak.
Ibunya tidak menjawab. Dia hanya menangis sesenggukan seolah dia adalah pihak yang tersakiti disini.
__ADS_1
"Kita bisa bicara baik-baik Bu, ibu tidak perlu mengelak seperti tadi. Kalau ibu membutuhkan uang ibu bisa bilang padaku. Jangan menggunakan barang-barang di rumah untuk dijadikan jaminan hutang ibu. Apalagi mobil Rania. Ibu kan sudah punya mobil sendiri. Lalu dimana sekarang mobil ibu?"
"Ada ... mobil ibu ada kok sama teman ibu. Dia masih di sini jadi masih memerlukan mobil itu. Nanti kalau sudah mau kembali ke kotanya baru mobil ibu dikembalikan." Ibunya kembali mengarang cerita.
"Ibu tidak berbohong kan?"
"Kamu masih tidak percaya sama ibumu?! Kamu sungguh keterlaluan Barra! Bisa-bisanya kamu mencurigai ibumu sendiri!!" Ibunya berlalu pergi meninggalkan Barra dengan marah.
"Ibu ... Aku belum selesai bicara!" teriak Barra tapi ibunya tidak menghiraukannya. Barra berteriak untuk melampiaskan kekesalannya. Setiap kali bicara dengan ibunya pasti berakhir buntu dan ibunya kabur. Tapi Barra tidak bisa memaksa ibunya untuk jujur karena dia pasti akan menangis dan menganggapnya anak yang berani melawan orang tua.
Barra terduduk lesu di sofa di ruang tengah. Dia kembali melamun, entah apa yang memenuhi pikirannya.
"Barra ... " Terdengar suara Rania memanggilnya.
Barra langsung berdiri dan mencari sumber suara Rania. Rupanya dia sudah berdiri di ujung tangga.
"Ran ... kenapa kamu bangun?"
"Aku mendengar suara kamu berteriak tadi. Aku pikir aku sedang mimpi, lalu aku buka mata kamu tidak ada di sampingku. Kenapa kamu ada di sini?"
"Aku nggak bisa tidur. Makanya aku di sini. Sudah ... ayo kita kembali ke kamar."
Pagi harinya...
Tapi Barra tidak menjawab. Dia sedang menatap dirinya sendiri di cermin tapi tatapannya terlihat kosong.
"Barra ... Kamu mendengarkan aku?"
"Eh ... iya ... Apa sayang. Nanti kamu ingin dibelikan apa?"
"Tuh kan ... Kamu tidak mendengarkan aku dari tadi," balas Rania cemberut.
"Iya ... Maaf aku sedang memikirkan pekerjaan jadi tidak fokus." Barra merangkul kan tangannya ke pinggang Rania yang masih langsing sambil diciuminya bibir istrinya itu.
"Sudah, ayo kita sarapan."
"Tadi kamu bicara apa?"
"Pokoknya aku ingin mobilku kembali. Itu saja intinya."
"Tentu saja Nyonya Danendra, permintaan mu pasti aku kabulkan," balas Barra sambil kembali mencium bibirnya.
__ADS_1
"Ayo kita turun."
Saat sampai di meja makan ibunya belum ada di sana.
"Ibu tidak ikut sarapan Bi?" tanya Barra pada Bi Yani yang sedang menghidangkan sarapan di meja makan.
"Tadi sudah saya panggil Pak. Tapi Ibu tidak menjawab, sepertinya masih tidur."
"Ya sudah." Bi Yani mengangguk. Dia segera kembali ke dapur setelah itu.
"Memangnya ibu sudah pulang?" tanya Rania.
"Iya ... tadi jam dua pagi."
"Dari mana ibu jam segitu baru pulang?" Rania sampai terheran-heran.
"Entahlah. Sulit sekali bicara dengan ibu. Jawabannya selalu berputar-putar dan selalu saja ada alasannya."
"Mungkin kamu perlu mencari tahu apa kegiatan ibu di luar. Ini sudah empat ratus juta Barra."
"Kamu benar. Mungkin aku bertanya kepada teman-teman ibu, apa yang dilakukanya di luar."
"Asal kamu tahu Barra, ibu juga sering minta uang padaku. Bahkan hampir semua uang yang kamu berikan diminta oleh ibu." Akhirnya Rania berani cerita kepada Barra soal ini.
"Ran ... Apa kamu serius?"
"Apa aku pernah bohong padamu?"
Barra mendesah. "Maafkan aku ... sampai tidak menyadari itu. Aku terlalu sibuk bekerja hingga tidak tahu apa-apa soal ibu."
"Nanti aku transfer lagi sebagai ganti uang yang sudah diminta oleh ibu selama ini."
"Aku tidak mempermasalahkan itu Barra. Aku hanya ingin kamu tahu saja. Aku tidak mau ibu semakin terjerumus hutang yang semakin banyak. Kamu tahu kan sekarang ini banyak sekali penipuan, judi online, investasi bodong atau hal-hal merugikan semacam itu. Aku takut ibu terjerat salah satunya. Bukannya berpikiran buruk tentang ibu. Tapi itu mungkin saja. Hutang ibu jumlahnya lumayan banyak Barra. Pasti ada alasannya untuk apa ibu hutang sebanyak itu."
"Kamu benar. Aku akan menyelidikinya." Barra bicara sambil terus mengunyah sarapannya. "Nanti kamu mau dibelikan apa?"
"Nanti kamu tidak lembur?" tanya Rania.
"Sepertinya tidak."
"Tapi aku tidak ingin apa-apa sekarang. Nanti aku beritahu kalau aku menginginkan sesuatu."
__ADS_1
Barra sudah selesai makan. "Baiklah. Aku berangkat dulu ya ... " pamitnya sembari mencium kening Rania. "Jangan nakal di perut Mama ya nak." Barra juga membubuhkan ciuman di perut Rania yang belum begitu tampak berubah.