
"Terus mobil itu sekarang dimana Tante?" tanya Rania panik.
"Ada di rumah Tante."
"Tante sudah coba ngomong sama mertua saya?"
"Sudah, tapi jawabannya nanti-nanti terus. Ini sekarang juga nomornya tidak bisa dihubungi makanya Tante ke sini."
"Gimana? Kamu bisa bantu nggak? Atau sebaiknya Tante tunggu di sini aja sampai Widia pulang?"
"Sebentar ya Tante, saya telfon suami saya dulu."
"Oke ... silahkan ..." jawab perempuan itu.
Rania mengambil handphone nya kemudian menghubungi Barra. Tapi Barra tidak juga mengangkat teleponnya.
"Tidak diangkat ... berarti dia sedang meeting," gumam Rania. Kemudian dia kembali menghampiri perempuan tadi.
"Suami saya sedang meeting, jadi ngga bisa angkat telepon."
"Terus giman dong? Biasanya ibumu itu kalau pergi pulangnya jam berapa sih?"
"Akhir-akhir ini ibu sering pulang malam Tante, jadi ngga pasti juga."
"Ya udah deh, nanti malam aku kesini lagi. Tolong bilang ke Widia nanti kalau dia sudah pulang, Sandy mencarinya."
"Baik Tante."
Rania kembali kembali ke kamarnya. Dia sudah tidak ingin melanjutkan nonton drama Korea kesukaannya. Wajahnya gelisah memikirkan mobil kesayangannya, hasil kerja kerasnya dijadikan jaminan hutang oleh mertuanya. Sementara Barra pulangnya masih lama dan tidak bisa di hubungi karena sedang meeting. Rania jadi bingung sendiri.
Sudah jam sepuluh malam. Baik Barra maupun mertuanya, keduanya sama-sama belum pulang. Rania yang sejak siang tadi gelisah semakin gelisah karena Barra tidak pulang-pulang. Perasaannya tidak enak.
"Bu Rania ngga apa-apa? Dari tadi kelihatan cemas," tanya Mbak Imah yang masih setia menemaninya.
"Kok suamiku belum pulang ya mbak. Baru jam sepuluh sih, biasanya bisa lebih malam lagi kalau lembur. Tapi kok perasaan ku sekarang ngga enak ya?"
"Mungkin itu pengaruh kehamilan ibu saja." Mbak Imah mencoba menenangkan majikannya.
"Semoga aja Mbak. Nanti Mbak Imah nginep sini aja, udah kemalaman kalau mau pulang. Nanti bisa tidur di kamar belakang."
"Baik Bu."
Rania menonton televisi di ruang tengah sementara Mbak Imah yang duduk di sampingnya terlihat sudah mengantuk. Berkali-kali Rania menengok melihat jam yang sekarang sudah menunjukkan hampir jam sebelas.
Kemudian terdengar suara mobil memasuki halaman, barulah Rania tersenyum. Tak berapa lama, Barra masuk.
"Sayang ... Kamu belum tidur?" tanya Barra. Dia berjalan menghampiri Rania kemudian mencium keningnya. Mbak Imah yang tadi duduk sambil ketiduran langsung berdiri begitu mendengar suara Barra.
"Pak ... " ucap Mbak Imah sambil menundukkan kepala.
"Mbak Imah boleh tidur. Suamiku sudah pulang."
__ADS_1
"Baik Bu, saya permisi." Mbak Imah berlalu meninggalkan mereka berdua. Barra segera memeluk Rania dan duduk di sampingnya.
"Anakku tidak rewel?"
"Tidak." Rania tersenyum. Wajahnya tampak bahagia melihat suaminya itu sudah di sampingnya.
"Anak pintar," balas Barra sambil mengelus perut Rania.
"Kamu sudah makan?"
"Sudah tadi, sama teman-teman," jawab Barra sedikit ragu.
"Kamu capek?"
"Mmm ... sedikit. Kenapa memangnya? Kamu ingin minta sesuatu?" Barra balik bertanya.
Sebenarnya Rania menyadari kalau Barra sedang memikirkan sesuatu. Itu terlihat dari sorot matanya.
"Apa ada masalah di kantor?"
"Kenapa bertanya seperti itu?"
"Kamu terlihat sedang memikirkan sesuatu. Seperti ada beban gitu."
"Ngga apa-apa sayangku ... Aku hanya sedikit capek. Itu saja." Barra kembali mencium kening Rania.
"Ayo ke kamar." Barra mengangguk.
"Mau aku gendong?"
"Terima kasih istriku yang cantik, sudah pengertian sama suaminya." Barra mencium bibir Rania.
Kemudian mereka berdua berjalan menaiki tangga.
"Barra ... Ibu belum pulang. Apa dia pamit sama kamu?"
Barra menghentikan langkahnya mendengar pertanyaan Rania.
"Ibu belum pulang?" Rania mengangguk.
"Aku merasa ada yang aneh dengan Ibu. Kemarin hutang tiga ratus juta itu juga tidak mau mengaku uangnya digunakan untuk apa. Terus kamu juga bilang kalau ibu sekarang jarang di rumah. Aneh nggak sih?"
"Tapi hutang itu sudah kamu lunasi kan?"
"Sudah, masalah itu sudah beres." Barra melanjutkan langkahnya, sementara Rania mengekor di belakangnya.
"Aku mandi dulu," ucap Barra setelah mereka memasuki kamar.
"Akan ku siapkan baju ganti."
"Tidak usah. Kamu duduk saja di sini dan tunggu aku selesai mandi. Atau kamu mau ikut mandi bersamaku?" goda Barra.
__ADS_1
Rania mendengus. "Nggak mau!"
Barra sudah keluar dari kamar mandi. Dia melihat Rania sedang duduk di kasur dengan wajah yang murung. Segera di dekatinya istrinya itu.
"Kenapa murung seperti itu? Ada masalah?"
"Aku ingin bicara tapi kamu jangan marah," ucap Rania hati-hati.
"Bicara apa? Katakan saja," ucap Barra sambil menciumi perut Rania.
"Tadi ada teman ibu datang. Dia bilang ibu punya hutang padanya seratus juta."
"Apa?? Hutang lagi??" Barra tidak percaya.
"Bukan itu saja ... ibu menjadikan mobilku sebagai jaminannya."
"Apa?? Kamu nggak salah bicara?"
Rania menggeleng pelan. "Kalau tidak salah namanya Bu Sandy. Dia ingin uangnya dikembalikan. Tapi ibu tidak bisa dihubungi."
Barra kelihatan menahan emosi. Dia segera mengambil ponselnya dan mencoba menghubungi ibunya. Sambil mondar-mandir dia terus mencoba menelfon ibunya, tapi tidak pernah tersambung.
Dengan kesal Barra membantu handphonenya ke kasur.
"Apa-apaan ibu ini. Kenapa hutang terus? Buat apa sih uang itu?!!"
Barra berjalan menuju balkon. Dia terlihat kesal sekali. Rania tidak berusaha menyusulnya. Dia sendiri kesal memikirkan tingkah mertuanya.
Setelah beberapa lama, Barra kembali masuk ke kamar. Dia terlihat sudah lebih tenang.
"Sayang ... kenapa kamu nggak tidur? Aku pikir kamu sudah tertidur."
"Aku ingin mobilku kembali," jawab Rania sambil menunduk. "Itu hasil jerih payahku dulu sewaktu masih bekerja."
"Tentu saja sayang ... Nanti aku urus itu. Kalau tidak aku akan membelikan kamu yang baru."
"Nggak mau!!! Aku mau mobilku yang dulu." Mata Rania sudah berkaca-kaca.
"Iya ... iya ... nanti aku urus itu. Kamu tenang saja ya ..."
Rania mengangguk.
"Ya sudah. Kita tidur sekarang."
Hampir jam satu malam. Barra masih belum bisa tidur. Sepertinya dia sedang memikirkan sesuatu yang sangat sulit. Diliriknya Rania yang kini sudah terlelap di sampingnya. Barra beranjak dari tempat tidur dan berjalan menuju balkon lagi.
Di ambilnya nafas dalam-dalam. Dipandanginya langit malam dari balkon kamarnya. Entah apa yang memenuhi pikirannya saat ini hingga dia tidak bisa memejamkan matanya sedetikpun. Jika masalah hutang ibunya, itu bukanlah sesuatu yang berat. Walaupun tidak kaya raya, tapi Barra memiliki cukup uang untuk melunasi hutang itu. Atau sekedar membelikan mobil baru untuk Rania, itu bukanlah hal yang sulit untuknya.
Sebuah mobil yang berhenti di depan rumahnya membuyarkan lamunan Barra. Diawasinya mobil itu dari tempatnya berdiri. Tak berselang lama ibunya turun dari mobil tersebut. Barra menoleh ke dalam kamar untuk melihat jam.
"Jam dua ...," gumamnya. Dia segera masuk kedalam rumah dan menghadang ibunya di depan pintu.
__ADS_1
Ibunya membuka pintu menggunakan kunci cadangan. Masing-masing penghuni rumah ini terbiasa membawa kunci cadangan saat mereka meninggalkan rumah. Jadi mereka tidak perlu berteriak-teriak minta dibukakan pintu saat mereka pulang.
"Ibu dari mana jam segini baru pulang?" tanya Barra begitu pintu terbuka.